Tag-Archive for » qirani «

Wednesday, April 29th, 2009 | Author: Arif Haliman

Datang lagi kulakan busana muslim SIK Clothing hari ini. Tidak begitu banyak untuk ukuran kami. Namun seperti biasanya apabila datang kiriman dalam jumlah ratusan seperti yang terlihat pada gambar disamping, saya dan istri akan sangat sibuk. Terutama untuk order dalam jumlah besar (grosir), hal seperti ini bisa menyita waktu kami seharian. Tersitanya waktu untuk menangani order grosir seperti ini membawa kesibukan yang bermacam-macam, seperti melakukan packing termasuk menjahitnya, melakukan pengelompokan berdasarkan kode barang, mencetak invoice, dll. Pokoknya zuper zibuk dah :) .

Belum lagi keusilan anak balita kami (si Tika) yang kerap ‘mencuri’ peralatan jahit-menjahit, spidol, solasi, pulpen, dsb. Nih anak hobi sekali membawa lari alat-alat tersebut justru disaat kita hendak memakainya. Tampaknya dia bahagia sekali bisa dengan sukses menggoda kami berdua seperti itu ;) . Dan dia bisa tertawa dengan sangat puasnya apabila saya atau istri sudah mulai mengejar dia untuk merebut kembali peralatan itu :) . Dan biasanya pula, karena istri jauh lebih sibuk daripada saya dan tingkat stresnya lebih tinggi, menggunakan senjata terakhir kalau anak ini susah ditangkap: Cubit!

Tapi sesibuk dan semenderitanya (*halah*) kami untuk menangani urusan order seperti itu, tetap saja bahagia. Ya iyalah, masak barang laku dan terima uang gak bahagia :) . Sibuk model gini adalah Problem. Namun kebanyakan orang yang berkecimpung dalam bisnis, menamakannya Happy Problem! Sebuah masalah, namun masalah ini bisa mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan.

Biasanya apabila paket datang pada siang hari atau sebelum jam makan siang, kami akan bisa mengepaknya sejak paket tersebut datang, dan langsung ngacir ke kantor pos untuk dikirim lewat sana. Kebetulan orang yang mengorder secara grosir kaos busana muslim SIK Clothing ini dari Malaysia, sehingga harus dikirim via pos (EMS International) yang lebih cepat, murah dan reliable dibanding jasa pengiriman paket keluar negeri oleh perusahaan lain.

Ngomong-ngomong mengenai produk busana muslim dengan bahan dasar kaos, sepertinya merek SIK Clothing setidaknya sampai saat ini menduduki peringkat pertama dalam hal penjualan. Saya kurang begitu tahu dengan website-website lain yang juga menjual busana muslim kaos ini, namun yang terjadi di website website jualan baju muslim saya, untuk bahan kaos SIK Clothing masih menduduki peringkat pertama.

Sebetulnya ada merek lain yang berbahan kaos seperti Qirani dan OsMoes. Dan walaupun dari segi penjualan kedua merek ini juga semakin menunjukkan peningkatan permintaan, namun masih kalah oleh SIK Clothing. Pengamatan selintas saya sepertinya SIK Clothing lebih banyak pilihan model dan warna. Disamping itu harga ecerannya yang relatif lebih murah daripada Qirani, OsMoes maupun Shabrina lebih memiliki daya tarik kepada para pembelinya. Memang untuk urusan bahan, Qirani dan OsMoes lebih baik dan lebih nyaman dipakai, oleh sebab itu kemungkinan harganya relatif diatas SIK Clothing.

Terus bagaimana dengan impian saya kedepan yaitu menjadi produsen busana muslim merek sendiri? Hehe..Ditunggu ya..Alasannya masih sibuk urusan lain nih ;) .

Saturday, April 18th, 2009 | Author: Arif Haliman

Menindaklanjuti keinginan saya tempo hari lewat postingan berjudul Kepingin Jadi Produsen Busana Muslim, poin yang terbilang penting menurut saya sudah saya lakoni. Poin itu adalah menemukan penjahit baju yang mampu melakukan hal jahit-menjahit seperti contoh beberapa merek kaos busana muslim yang saya bawa dan tunjukkan kepadanya.

Beberapa merek kaos busana muslim yang saya tunjukkan ke calon penjahit saya itu adalah SIK Clothing, Qirani dan Os_Moes. Begitu melihat contoh baju yang saya bawa, suami istri penjahit itu langsung bilang: ‘Oh bisa!’. Hehe..alhamdulillah kalau begitu, jadinya saya tidak perlu banyak cing cong lagi untuk menjelaskan. Kemudian saya lanjutkan dengan bagaimana dengan bahan dasar kaosnya, mereka menyarankan saya untuk cari sendiri saja di sekitaran kota Denpasar ada beberapa toko grosir yang menjual bahan kaos kiloan kayak jenis combat. Namun untuk pembelian lebih dari ratusan kilo saya disarankan untuk membelinya dari Jawa, atau Bandung karena untuk pembelian bisa dapat lebih murah kalau langsung membeli dari Bandung, misalnya.

Bahan yang bersifat aksesoris lainnya seperti resleting, kancing, dan apalagi motif bordiran harus saya sendiri yang membawa. Khusus untuk bordiran sepertinya untuk tahap awal saya tidak ingin membuatnya. Maunya saya motif biasa aja dulu, maksudnya yang tanpa bordiran agar tidak ribet. Saya ingin yang sederhana dulu seperti misalnya bermain garis, agar tidak berat diawal-awal perjalanan. Kalau nanti respon pasar bagus, barulah saya ingin mengeluarkan corak atau model lain yang lebih njelimet.

Bagaimana dengan ongkos jahit? Ongkos jahit plus benang yang disediakan oleh dia, dibilang olehnya itu nanti saja setelah saya sudah mengumpulkan semua informasi perihal bahan plus tetek bengeknya. Penjelasannya, kalau saya sudah mendapat harga rata-rata per pieces setelah saya belanja bahan kaos, resleting, kancing, dsb. Dari harga rata-rata itu dia akan sebutkan berapa ongkos jahitnya. Ya sudahlah, saya terima saja saran dia itu. Menurut saya peribadi itu ada benarnya juga. Soalnya, rasanya akan lebih susah menggabungkan harga kesemua komponen diluar ongkos jahit itu daripada harga ongkos jahit itu sendiri.

Oiya, poin mendatangi penjahit ini saya catat sebagai kesuksesan besar. Mengapa begitu? Sampai saat ini saya masih agak heran juga, tumben kok bisa-bisanya diri ini bisa sampai ketempat para tukang jahit :) Itu bukan Arif gitcu loh :)

Hehe..Jangan kaget, saya ini tipikal orang yang gak bisa kedubrakan (halah, boso opo iki ???) . Kedubrakan (istilah saya sendiri lho) artinya bekerja kayak para profesional, yang cak cek, bret-bret, cepet selesai, plus disertai acara keluyuran / outdoor. Nah, model bekerja gini yang biasanya tidak saya sukai.

Sekedar contoh, model ‘bekerja’ kayak menyervis sepeda motor itu tidak saya senangi. Contoh lain adalah membetulkan antena TV rusak. Membawa TV dan DVD rusak ke tukang servis agak bisa berfungsi kembali juga ‘bukan gue gitu loh’. Nah, pekerjaan yang kayak gini ini entah mengapa susah sekali menyuruh tangan kaki ini untuk bertindak. Mungkin, kalau saja istri saya bisa nyetir mobil, sudah barang tentu dia akan saya suruh juga untuk servis mobil kami ke bengkel, dan bukan saya lagi..Hehe..alangkah asyiknya ;)

Yah, anyway, back to topic, pokoknya, alon-alon asal kelakon aja deh. Pelan-pelan tapi pasti. Yang jelas, saya berharap sekali sebelum peakseason Lebaran tahun 2009 ini kaos busana muslim produksi saya sudah bisa launching. InsyaAllah..Amin.

eXTReMe Tracker