Tag-Archive for » produsen busana muslim «

Thursday, January 07th, 2010 | Author: Arif Haliman

Alhamdulillah, sudah terhitung kurang lebih dua bulan ini, kami (saya beserta istri) berhasil meningkatkan status dari Penjual biasa menjadi Agen Resmi. Agen Resmi untuk produk dan merek apa? Untuk produk busana kaos muslimah SIK Clothing. Website busana muslim kami, yang beralamat http://www.muslimbusana.com sudah sekitar dua tahun ini berjalan. Selama itu pula kami sudah mulai menjual produk SIK Clothing, dengan status ’sekedar penjual’. Dengan meningkatnya status menjadi Agen Resmi, kesempatan ini sudah selayaknya harus kami syukuri.

Butuh kesabaran dan perjuangan ekstra untuk bisa mendapatkan status ini. Kami sudah mengusahakannya sejak sekitar satu setengah tahun yang lalu. Dan selama itu pula gatot alias gagal total. Sebab kegagalan bermacam-macam, dari sekedar kehilangan momentum alias sedang malas berjualan, selalu tersedotnya dana untuk pembelian merek lain, sampai tidak sabarnya menunggu daftar tunggu (waiting list) yang luar biasa panjang. Maklum, merek kaos muslimah ini memang saya rasa paling moncer diantara merek lain yang sejenis. Bahkan, dalam satu kali kesempatan, pihak produsen SIK Clothing memberitahu, bahwa permohonan kami akan diproses setelah mereka memproses lebih dari 30 orang diatas saya, apakah layak atau tidak menjadi Agen Resmi. Dan, bisa ditebak, saya langsung pesimis dengan penantian maha panjang itu. Pikir saya, daripada H2C (harap-harap cemas) menanti kepastian dari pihak SIK yang berpotensi menambah jumlah uban, lebih baik fokus melanjutkan dagangan merek lain, seperti Manet, Toyusi, Qirani, dll.

Mungkin karena pikiran sudah lama di set bahwa, harus bisa jadi Agen Resmi SIK Clothing, yang ditunggu-tunggu dan pernah dilupakan itu akhirnya datang juga. Pasca Lebaran bulan Oktober kemarin, kami iseng-iseng menelpon lagi produsen SIK Clothing, menanyakan kembali perihal apakah kami bisa melamar menjadi Agen Resmi, tak disangka jawaban mereka sungguh cepat: Bisa!

Wah, ini kabar gembira. Bayangkan, berulang kali sebelumnya menelpon minta menjadi Agen Resmi dan selalu saja gatot, nah ini dengan sekali telpon pasca Lebaran kok langsung dapat. Pucuk dicinta ulam tiba. Top to love fish coming (*halah*). Akhirnya, ya gitu deh, singkat cerita sejak awal Desember 2009 kemarin atas nama istri saya, resmi menjadi Agen Resmi SIK Clothing. Oiya, tambahan informasi, kami adalah pemegang wilayah Bali. Artinya, mestinya tidak ada Agen Resmi lainnya selain kami di pulau Bali ini. Jadi, wahai para muslimin Bali, kalo perlu belanja busana muslim kaos, utamanya merek SIK CLothing, belanjanya di tempat kami ya? :) Diskonnya sampai dengan 25% lho!

Sekedar informasi tambahan, produk SIK Clothing adalah busana muslimah dari bahan kaos, termasuk untuk produk gamisnya. Bahan kaosnya terasa nyaman dipakai karena berbahan Combed, bukan Carded. Variasi modelnya sangat banyak (lebih dari 50 model pilihan). Termasuk juga pilihan warna yang tersedia juga banyak. Jadi, begitu banyak pilihan kira-kira mana yang paling cocok untuk kamu.

Produk SIK Clothing bisa dipakai untuk berbagai acara, seperti semi formal, kuliah, atau sekedar main kerumah teman. Namanya juga kaos, jadinya sangat fleksibel.

OK, kunjungi website baju kaos muslimah ini, dan dapatkan diskonnnya!

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Thursday, November 05th, 2009 | Author: Arif Haliman

Saya baru saja membeli bukunya Hermawan Kartajaya On Differentiation. Sebetulnya buku ini sudah masuk kategori jadul. Cetakannya pertamanya saja tahun 2004. Saya juga sudah sering berulangkali melihat buku ini terongok di toko buku macam Gramedia, Gunung Agung maupun Togamas, tapi selama itu pula saya masih enggan untuk membelinya. Baru beberapa hari yang lalu saya tergerak untuk mengambil buku ini bersama buku-buku yang lain dan membawanya ke kasir. Kecuali, - yang menurut saya beberapa contoh kasus sudah tidak relevan - over all, saya merasa masih ada beberapa relevansi untuk kasus saya sendiri.

Hal yang malatarbelakangi saya membeli buku yang termasuk dalam Seri 9 Elemen Marketing ini, pertama-tama karena pengarangnya yang memang orang hebat. Hermawan Kartajaya sejak tahun 2002 menjabat Presiden Asosiasi Perdagangan Dunia. Dia juga pendiri MarkPlus & Co yang terkenal itu.  Kedua karena saya memang ingin memperdalam sebuah bidang bisnis yang berkenaan dengan ‘Tampil Beda’ atau Differentiation ini.

Impian saya yang ingin memproduksi baju muslim dengan membawa merek sendiri belumlah sirna :) Malah akhir-akhir ini imipian itu semakin menjadi-jadi. Diskusi yang lebih intens dengan istri, mendatangi tukang sablon, tukang celup, tukang jahit dan sebagainya untuk meminta petunjuk sudah dilakukan. Hal ini sesuai tekad saya bulan Ramadhan kemarin, bahwa saya berkeinginan kuat insyaAllah diberi kemudahan dan kelancaran urusan untuk sudah bisa memproduksi sendiri busana muslimah wanita ini setidaknya sebelum tahun 2009 berakhir. Amin :)

Dalam kaitannya dengan buku On Differentiation yang saya beli ini, saya ingin busana muslim yang saya produksi nanti setidaknya sesuai dengan bahasan buku itu: Different. Atau lain dengan yang lain. Out of the box. Get it from the crowd. Dan entah nama lain apa lagi. Entah menitik beratkan pada apanya, yang jelas nanti pokoknya harus lain. Harus sesuatu yang ketika dilempar dipasar, calon konsumen langsung berkomentar: “Wah, ini lain, nih!”.

Padahal sebetulnya produknya ya sama saja, yaitu baju muslim, yang sudah seabreg bertebaran di bumi Indonesia ini, entah itu merek yang sudah lama terkenal, atau yang baru saja lahir.

Terus mengapa kok harus lain? Karena kalau tidak lain dengan yang lain, saya yakin kagak bakalan laku, alias gatot penjualannya. Lantas, apakah kalau sudah different, apalah nanti memang laku? Pertanyaan bagus. Jawabannya: Tidak. Namun setidaknya saya sudah melewati tahapan pertama yaitu menghindari semakin bertumpuknya produk yang sama, menyasar pasar yang sama, metode pemasaran yang sama, dan persamaan-persamaan lain yang notabene calon pelanggan enggan meliriknya. Nah, yang seperti ini yang sebisa mungkin saya hindari.

Dalam buku On Differentiation ini, Hermawan memberikan banyak contoh kasus. Diantaranya mengapa ayam goreng McDonalds yang jelas-jelas tidak lebih enak dari ayam goreng KFC, Wendys atau bahkan Suharti, masih saja diserbu pembeli kalau mereka masuk gerai McD. Mengapa juga rokok Sampoerna A Mild selalu dan terus menjadi market leader atau pemimpin pasar rokok ditengah persaingan sangat ketat produk rokok lama maupun baru? Dan bagaimana Steve Jobs sang pendiri Apple yang ditendang keluar perusahaan, namun akhirnya bisa balik lagi dan melejitkan jauh lebih tinggi lagi nama Apple di industri komputer?

Oh iya satu lagi yang sedang membuat saya bersemangat: Ada order kedua dari repeat customer Singapura untuk memproduksi baju lagi dibulan ini. Kuantitinya bertambah, lho. Bertambah sibuk nih untuk urusan yang berkaitan dengan produksi baju. Jadinya, klop dah!

Wednesday, September 02nd, 2009 | Author: Arif Haliman

Alhamdulillah..Hore..horeee..horeeee! Sepertinya hari ini adalah hari yang tepat untuk kembali menulis di blogku tercinta ini. Blog dengan titel From Bali with Love yang saya gawangi ini hanya mampu menghasilkan 2 postingan untuk bulan Agustus kemarin. Bali seorang blogger, produktivitas menulis seperti ini tidak pantas untuk ditiru apalagi diteladani. Hal ini sungguh diluar batas perikeblogeran :) . 2 biji posting saja dalam 1 bulan? Semoga lain bulan tidak lagi deh.

Saya pribadi sebenarnya kaget juga kok hanya bisa menghasilkan 2 tulisan untuk bulan Agustus kemarin? Padahal saya berharap blog ini seapes-apesnya kalau bisa minimal 5 buah tulisan dalam satu bulan. Saya menargetkannya minimal 10 tulisan. Syukur-syukur bisa lebih. Namun untuk bulan Agustus kemarin sepertinya saya memang benar-benar tidak mampu meningkatkan kuantitas tulisan saya. Sebagai bahan pembelajaran kedepan, ada baiknya saya menuliskan beberapa hal yang membuat aktivitas ngeblog saya menjadi tersendat.

Pertama (dan ini juga yang utama) sepertinya waktu saya banyak tersita untuk menghadapi high season di Bali kemarin. Seperti diketahui, pulau Bali sangat ramai dikunjungi wisatawan luar negeri pada bulan Juli-Agustus disetiap tahunnya. Dan alhamdulillah seperti biasanya, bisnis rental car Bali saya juga menuai dampaknya: terjadi lonjakan konfirmasi reservasi 2 kali lipat dari biasanya.

Terutama untuk bulan Juli, data para peminjam mobil melalui website saya lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Agustus. Tapi meskipun bulan Juli sangatlah ramai, faktanya saya masih mampu untuk membuat tulisan minimal 10 buah di bulan itu. Sedangkan untuk bulan Agustus, meskipun juga sangat ramai, saya hanya mampu menghasilkan 2 buah tulisan. Artinya apa? Diawal-awal kesibukan (Juli) tenaga saya masih terjaga. Namun dipertengahan dan diakhir kesibukan (Agustus) tenaga saya melorot tajam. Akibatnya bisa diduga, sisa-sisa tenaga untuk menulis menjadi sirna tak berbekas :) Hal ini bisa juga disebabkan oleh kebosanan yang sudah menumpuk karena selama 2 bulan penuh fokus memaksimalkan reservasi website sewa mobil di Bali saya.

Yang kedua, ini juga yang menyebabkan produktivitas menulis saya menjadi tersendat. Hal ini ada hubungannya dengan postingan saya terdahulu yaitu mengenai cita-cita beranjak menjadi produsen busana muslim dan tidak lagi sekedar menjadi penjual. Ya saudara-saudara, dipertengahan bulan Agustus kemarin saya sudah mulai memproduksi baju muslim sendiri!

Sejak awal proses pembuatan sampai sekarang, karena ini adalah pengalaman pertama, saya harus rela pontang-panting antara toko kain, pihak tekstil, tukang jahit dan keluyuran ke pasar untukseperti misalnya sekedar menanyakan harga kancing baju, dan warna apa saja yang tersedia. Keluar masuk beberapa toko kain untuk menemukan harga terendah adalah tantangan tersendiri. Hasilnya, dari seluruh rangkaian proses ini, ada beberapa tahapan yang sempat meleset sehingga membuat saya sempat olahraga jantung, kuatir tidak bisa memenuhi harapan pemesan saya.

Baju yang saya produksi ini emang belum merek saya sendiri, tapi setidaknya saya terlibat didalamnya sejak cikal bakal baju ini masih dalam bentuk kain meteran sampai insyaAllah baju ini bisa dipakai dibadan. Baju ini adalah baju muslim semi gamis pesanan orang Singapura. Perihal dia bisa mengontak saya adalah karena dia menemukan website Muslim Busana saya, dan akhirnya datang ke Bali untuk sekalian kopi darat. Singkat cerita, kami berdua setuju agar saya sebagai supplier baju-baju muslim pesanan dia. Artinya, disini saya menjadi produsen. Baju muslim pesanan ini sampai sekarang belum jadi, tapi insyaAllah semoga awal minggu depan semuanya sudah kelar dan bisa segera saya kirimkan ke Singapura.

Yang ketiga, atau yang terakhir, sepertinya aktivitas saya untuk lebih mengoptimalkan website Hotel Bali saya juga tidak kalah menyita waktunya. Semangat baru di BaliHotelBooking.com ini yang dimulai awal bulan Juli kemarin masih terasa hingga sekarang, dan itu menuntut konsekuensi tinggi. Hasilnya memang sangat lumayan. Trafik naik, peringkat di search engine juga (sempat) naik, beberapa reservasi confirmed, dan yang tidak kalah penting, pundi-pundi Google Adsense saya dari chanel website Bali hotel booking ini semakin bertambah naik :) .

Well, akhirnya, di September Ceria ini, mohon doa restu agar produktivitas menulis saya di blog ini tetap terjaga, minimal 10 buah tulisan disetiap bulannya. Amin :)

Saturday, March 21st, 2009 | Author: Arif Haliman

Ya saudara-saudara, saya ingin bermetamorfosis untuk naik ’status’ berubah dari penjual busana muslim menjadi produsen busana muslim. Mengapa kok ingin menjadi produsen busana muslim? Apa ada yang salah dengan tetap menjadi penjual busana muslim? Apa sudah punya model dan tukang jahitnya? Terus apakah lebih menguntungkan menjadi produsen daripada penjual? Bagaimana dengan model pemasarannya?

Itu adalah berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk dalam diri ini, dan juga pertanyaan dari istri saya. Kesemua pertanyaan-pertanyaan diatas dan beberapa pertanyaan lainnya sangat erat kaitannya dengan bisa tidaknya saya memulai impian saya ini. Jadi, saya tidak ingin bermimpi tinggi dulu bahwa saya akan berhasil dalam arti merek produk saya nanti disukai pasar atau tidak, namun sementara ini saya membatasi mimpi saya dengan apakah saya bisa memulainya ?

Bagi saya, pertanyaan ‘apakah saya bisa memulainya‘ adalah kata penentu. Saya adalah orang yang simpel. Saya suka kesederhanaan, tidak bertele-tele dan tidak canggih-canggih. Dalam bisnis, dan juga dalam hal apapun, saya paling malas kalau diminta (apalagi disuruh) untuk memikirkan sesuatu yang berat-berat. Bagi saya hal itu malah akan mematikan kreativitas sehingga  menjadi berat untuk bahkan sekedar memulainya. Seperti misalnya beberapa pertanyaan diatas: Dimana mencari tukang jahitnya, dimana mencari bahannya, berapa harga jualnya nanti, segmen pasar mana yang mau dibidik, dsb.

Sekali lagi saya ingin yang simpel. Sederhana. Oleh karena itu sebelum direpotkan untuk menjawab berbagai pertanyaan diatas, saya ingin menguji diri saya dulu dengan pertanyaan mendasar ini: Apakah saya bisa memulainya?

Segala sesuatu itu perlu permulaan. Perlu trigger atau pemicu untuk kemudian hasil picuan itu bisa kita kendalikan nantinya. Mirip dengan orang bikin patung tanah liat dari pot yang berputar. Jangan bermimpi bongkahan tanah liat itu akan menjadi sebuah bentuk patung yang diinginkan apabila pot tersebut tidak pernah berputar. Apabila pot itu sudah diputar, mulailah tangan terampil itu membentuknya, memolesnya, menghaluskannya, bahkan kalau perlu menambah atau membuang sebagian tanah liat agar bentuk terindah yang diinginkan bisa tercapai.

Nah, saya ingin yang seperti itu. Yang penting adalah pemicu. Bagi saya, pemicu itu adalah kegiatan untuk sekedar memulai impian saya ini. Untuk sekedar memulai, saya sudah punya beberapa rencana yang simpel.

Oleh karena saya ingin menjadi produsen busana muslim yang berbahan dasar kaos, maka saya akan mendatangi atau tepatnya mencari tahu dulu dimana saya bisa bertemu dengan para penjahit yang ada di sekitaran Denpasar ini. Saya punya beberapa kenalan yang sepertinya bisa menunjukkan dimana saya bisa menemui para penjahit ini. Dengan membawa beberapa contoh baju busana muslim berbahan dasar kaos dari merek-merek yang sudah beredar duluan, saya sekaligus ingin menguji para penjahit ini apakah memang bisa menjahit seperti baju-baju kaos yang ada di website baju muslim saya.

Entah mengapa kalau langkah memulai saya yang hanya seperti saya sebutkan diatas sudah terlaksana, rasanya impian saya untuk menjadi produsen busana muslim sudah tercapai. Saya sudah bisa merasa sukses. Apakah tidak pusing dengan urusan modal? Nggak tuh. Walaupun memang belum ada alokasi untuk itu, saya yakin kalau hanya masalah modal akan luntur dengan sendirinya. Kamu akan sulit untuk percaya hal ini, kalau belum pernah menjalankan bisnis. Sumpah! Tapi sekali kamu pernah menjalankan bisnis, maka kamu akan percaya bahwa yang namanya modal (materi) itu bukanlah yang utama.

Apa alasan lain saya ingin menjadi produsen dan tidak menjadi penjual? Well, yang ini sepertinya agak personal. Saya seringnya menerima keluh kesah istri yang sering mengeluh sulitnya mendapatkan baju merek A itu karena kita bukan agen besar, sulitnya pemilik merek B yang sulit dihubungi entah kenapa. Beragam keluh kesah itu bermuara ke penjual seperti saya dan istri ini. Muaranya adalah kecapekan. Gimana gak capek pembeli kita berulang kali tanya barang yang diinginkan dengan beberapa diantaranya sangat ngotot tidak mau tahu, namun apa daya kita sebagai penjual belum juga mendapat barangnya. Jadinya dalam kondisi seperti ini, yang ada hanyalah capek.

Oleh karena itu, mindset sedang saya rubah, untuk mewujudkan mimpi menjadi produsen busana muslim (yang mungkin) pertama dari Bali. Why not?

eXTReMe Tracker