Saya baru saja punya bisnis baru. Bisnis ini jauh dari hiruk pikuk bisnis berbasis online dengan teknik SEO, SERP, Google, Yahoo, Analytics, Page Ranking, dsb yang menyertainya, dimana selama ini saya telah dan sedang menggelutinya untuk bisnis baju muslim dan sewa mobil di Bali saya. Bisnis baru ini ramai dengan hiruk pikuk seliweran kendaraan bermotor, jeritan anak kecil, pendaran sinar matahari dan sedikit cipratan air hujan ketika sedang deras-derasnya. Bisnis apa gerangan yang sedang saya lakoni? MANDI BOLA.
Ya, sudah (alhamdulillah) 10 hari ini saya bersama istri buka usaha baru berbasis offline. Nama yang saya usung adalah Arena Bermain Mandi Bola Kidz Ballz. Sengaja memakai huruf ‘Z’ dan bukan ‘S’ karena saya dulunya (dan mungkin masih) adalah penggemar komik Dragon Ballz
Lokasinya berada dipinggir jalan dekat tempat tinggal saya di Denpasar, daerah Pemogan, tepatnya di pasar senggol. Menurut saya, kawasan pasar senggol seperti ini adalah contoh tempat yang ideal untuk membuka usaha dalam bentuk toko dipinggir jalan. Tidak saja pasar senggol, daerah ini juga terdapat juga beberapa minimarket, warung makan, warung internet, konter pulsa, pedagang martabak, pedagang mainan anak-anak, dsb. Pokoknya, kawasan ini sangatlah ramai.
Para bapak, ibu, dan anak-anak mereka seakan berkumpul jadi satu ditempat ini dengan berbagai keperluannya. Belum lagi dengan hilir mudik lalu lintas kendaraan di sepanjang jalan, lengkaplah sudah kawasan ini menyandang predikat pasar senggol plus plus
Dari sekian banyak jenis manusia yang beredar disini setiap harinya, para calon pelanggan potensial saya adalah dari jenis anak-anak yang imut itu.
Lantas, apakah dengan kondisi kawasan seperti diatas, usaha mandi bola saya profitnya meledak? Hehehe..ternyata kagak! Atau, agar terdengar tetap optimis, belum! Bagaimanapun, tetaplah alhamdulillah. Ternyata, dari target minimal 30 anak per hari yang main disini, ternyata setelah di rata-rata hanya 12 anak saja. Dari sekian banyak kekurangan yang ada ditempat mandi bola ini, kekurangan terbesarnya adalah display kurang menarik.
Saya bersama istri mengambil kesimpulan seperti itu setelah saya mengambil gambar (menjepret) tempat ini dari berbagai sudut. Sudut-sudut yang dimaksud adalah, sudut pintu masuk toko, sudut tempat parkir, sudut seberang jalan dan sudut pintu keluar minimarket Karunia Dewata. Terutama dilihat dari sudut pintu keluar Karunia Dewata yang menjadi target paling potensial saya, image tempat mandi bola saya terlihat seperti gabungan gudang kosong dan anak pengemis tidur didalamnya. Sepi, kurang greget, dan tidak gemerlap.
Selain itu, para pengendara bermotor yang lalu lalang didepan toko saya, jarang yang berkesempatan untuk menengok ketempat saya. Sebabnya, karena tidak ada sign dipinggir jalan. Diawal-awal ini, saya agak kesulitan untuk memasang sign disana, terutama karena lahannya sudah sulit. Mudah-mudahan kedepannya akan lebih mudah. Untunglah, saya menyadari adanya berbagai kekurangan ini. Jadi langkah selanjutnya untuk perbaikan sudah ada didalam kepala. Tinggal dieksekusi.
Saya bukanlah orang yang berkesenian. Membuat display yang ciamik bukanlah bakat dan keahlian saya. Namun, setidaknya, dengan tekad menjulang tinggi ke angkasa sana, mau tak mau saya harus tetap mempelajarinya dan menjadi sedikit lebih ahli. Saya berkeinginan untuk memasang neon box diatas spanduk mandi bola saya. Selain itu juga neon box lagi didalam ruangan dengan berbagai macam tulisan yang menarik. Saya juga akan menurunkan sedikit posisi gambar kartun Donald Bebek, Dora, Spiderman dan konco-konconya ini dari tembok. Memutar posisi kolam bola dan slurutannya (perosotan ?) Harapannya, bahkan dari kejauhan seberang jalan, mata anak-anak yang imut itu akan langsung menangkap pesan yang coba saya lontarkan dari tempat ini: Ayo, bermain bola disini ya? Asyik lho..Hore! Begitulah.
Kalau ilmu Marketing Mix datang dengan 4P-nya, above of all, kayaknya Promotion adalah kekurangan saya. Saya merasa Place (pasar senggol Pemogan), Price (3500 rupiah per anak) dan Product (satu-satunya di Denpasar untuk mandi bola kelas pinggir jalan) sudah sangatlah sempurna. Namun, terkendala dengan pembagian waktu yang luar biasa sejak dari pengadaan perlengkapan mandi bola, dekorasi ruangan, mengatur para tukang, sampai urusan tetek bengek kayak pembuatan karcis masuk, saya malah melupakan yang namanya Promotion ini. Promosi yang saya maksud disini adalah seperti pembuatan brosur kemudian menempelkannya di pinggir-pinggir jalan. Saya baru menyadari pentingnya hal ini setelah bisnis ini jalan beberapa hari.
Tapi, saya semakin menyadari, sebetulnya 4P itu masih bisa kita koreksi. Ada lagi satu P yang tidak kalah pentingnya, yaitu Pray. Dengan doa, hati dan pikiran kita menjadi tenang. Kalau ramai, kita bersyukur dan tidak jumawa. Kalau sepi, juga tetap bersyukur dan tidak putus asa. Kita semua harus segera menghubungi Mr. Maslow, agar 4P diganti menjadi 5P
Saat ini, sepi atau ramai, saya menikmati menjalankan usaha ini. InsyaAllah semoga hari-hari kedepan tetap diberi ketetapan oleh Allah SWT untuk terus menikmatinya. Bisnis konvensional seperti ini, yang membuka stand toko dipinggir jalan, adalah betul-betul hal yang baru buat saya. Perlu strategi dan pendekatan baru. Saya tinggalkan dulu konsep SEO dan SERP yang menyertai keseharian dalam bisnis online saya.
Untuk berhasil di bisnis ini, wajah dengan senyuman lebar sampai mendekati kuping adalah lebih utama.
Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali
