Menindaklanjuti keinginan saya tempo hari lewat postingan berjudul Kepingin Jadi Produsen Busana Muslim, poin yang terbilang penting menurut saya sudah saya lakoni. Poin itu adalah menemukan penjahit baju yang mampu melakukan hal jahit-menjahit seperti contoh beberapa merek kaos busana muslim yang saya bawa dan tunjukkan kepadanya.
Beberapa merek kaos busana muslim yang saya tunjukkan ke calon penjahit saya itu adalah SIK Clothing, Qirani dan Os_Moes. Begitu melihat contoh baju yang saya bawa, suami istri penjahit itu langsung bilang: ‘Oh bisa!’. Hehe..alhamdulillah kalau begitu, jadinya saya tidak perlu banyak cing cong lagi untuk menjelaskan. Kemudian saya lanjutkan dengan bagaimana dengan bahan dasar kaosnya, mereka menyarankan saya untuk cari sendiri saja di sekitaran kota Denpasar ada beberapa toko grosir yang menjual bahan kaos kiloan kayak jenis combat. Namun untuk pembelian lebih dari ratusan kilo saya disarankan untuk membelinya dari Jawa, atau Bandung karena untuk pembelian bisa dapat lebih murah kalau langsung membeli dari Bandung, misalnya.
Bahan yang bersifat aksesoris lainnya seperti resleting, kancing, dan apalagi motif bordiran harus saya sendiri yang membawa. Khusus untuk bordiran sepertinya untuk tahap awal saya tidak ingin membuatnya. Maunya saya motif biasa aja dulu, maksudnya yang tanpa bordiran agar tidak ribet. Saya ingin yang sederhana dulu seperti misalnya bermain garis, agar tidak berat diawal-awal perjalanan. Kalau nanti respon pasar bagus, barulah saya ingin mengeluarkan corak atau model lain yang lebih njelimet.
Bagaimana dengan ongkos jahit? Ongkos jahit plus benang yang disediakan oleh dia, dibilang olehnya itu nanti saja setelah saya sudah mengumpulkan semua informasi perihal bahan plus tetek bengeknya. Penjelasannya, kalau saya sudah mendapat harga rata-rata per pieces setelah saya belanja bahan kaos, resleting, kancing, dsb. Dari harga rata-rata itu dia akan sebutkan berapa ongkos jahitnya. Ya sudahlah, saya terima saja saran dia itu. Menurut saya peribadi itu ada benarnya juga. Soalnya, rasanya akan lebih susah menggabungkan harga kesemua komponen diluar ongkos jahit itu daripada harga ongkos jahit itu sendiri.
Oiya, poin mendatangi penjahit ini saya catat sebagai kesuksesan besar. Mengapa begitu? Sampai saat ini saya masih agak heran juga, tumben kok bisa-bisanya diri ini bisa sampai ketempat para tukang jahit
Itu bukan Arif gitcu loh
Hehe..Jangan kaget, saya ini tipikal orang yang gak bisa kedubrakan (halah, boso opo iki ???) . Kedubrakan (istilah saya sendiri lho) artinya bekerja kayak para profesional, yang cak cek, bret-bret, cepet selesai, plus disertai acara keluyuran / outdoor. Nah, model bekerja gini yang biasanya tidak saya sukai.
Sekedar contoh, model ‘bekerja’ kayak menyervis sepeda motor itu tidak saya senangi. Contoh lain adalah membetulkan antena TV rusak. Membawa TV dan DVD rusak ke tukang servis agak bisa berfungsi kembali juga ‘bukan gue gitu loh’. Nah, pekerjaan yang kayak gini ini entah mengapa susah sekali menyuruh tangan kaki ini untuk bertindak. Mungkin, kalau saja istri saya bisa nyetir mobil, sudah barang tentu dia akan saya suruh juga untuk servis mobil kami ke bengkel, dan bukan saya lagi..Hehe..alangkah asyiknya
Yah, anyway, back to topic, pokoknya, alon-alon asal kelakon aja deh. Pelan-pelan tapi pasti. Yang jelas, saya berharap sekali sebelum peakseason Lebaran tahun 2009 ini kaos busana muslim produksi saya sudah bisa launching. InsyaAllah..Amin.
