Tag-Archive for » indonesia «

Sunday, August 16th, 2009 | Author: Arif Haliman

Besok adalah ulang tahun negara Republik Indonesia tercinta. Ulang tahun yang ke 64 di tahun 2009 ini. Ulang tahun yang apabila disamakan dengan umur rata-rata manusia sekarang, usia ini sudah sangatlah renta. Sebuah usia yang semestinya sudah sangat arif bijaksana didalam menyikapi semua hal yang menerpa kehidupannya.

Sebagai warga negara Indonesia, saya sejujurnya harus mengakui bahwa saya belumlah menjadi warga negara yang baik, terutama status saya sebagai penuduk kota Denpasar ini. Satu saja contohnya adalah saya belumlah taat dalam membayar pajak. Motor bebek saya masih bernomor polisi ‘S’ (Mojokerto), dan bukannya ‘DK’ (Denpasar). Jadinya hasil pajak motor tersebut belum masuk di kas kota Denpasar.

Sebagai pelaku bisnis online sewa mobil di Bali dan penjualan baju muslim, saya juga hampir-hampir tidak pernah sepeser pun dalam membayar pajak. Dan mungkin juga masih ada beberapa contoh buruk yang lain, yang memberi saya rapor merah dalam rangka menjadi warga negara yang baik.

Sekedar catatan, khusus untuk bisnis online yang saya jalankan, saya kok memang tidak melihat adanya celah bagi saya untuk membayar pajak. Maaf lho ya, tolong saya dikoreksi karena saya masih minim informasi mengenai pajak ini :)

Karena online, saya memang tidak perlu menyewa / membuka toko di pinggir jalan. Karena berpartner dengan rekan lain yang sudah mempunyai usaha yang resmi terdaftar, saya tidak perlu lagi mendaftar ijin usaha baru. Karena saya sudah membayar zakat 2,5% dari setiap pendapatan saya, maka saya tidak perlu membayar pajak (ops, maaf kalau ada yang kurang berkenan dengan statemen terakhir saya :) ).

Dikaitkan dengan kegiatan bisnis (online) saya, sebagai warga kota Denpasar pada khususnya, dan sebagai warga negara Indonesia pada umumnya, setidaknya saya masih bersyukur bahwa saya tidaklah terlalu buruk untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan kota Denpasar ini. Saya inginnya berbuat banyak untuk kota dimana saya tinggal. Semacam give and take lah, masak saya tidak pernah memberi sama sekali padahal saya sudah menerima banyak sekali. Apa kata dunia???

Untuk kegiatan bisnis penjualan baju muslim online yang saya geluti, diskala lokal kota Denpasar, setidaknya saya sudah ikut meramaikan lalu lintas jasa kurir / kargo baik untuk tujuan domestik maupun luar negeri. Sekedar informasi, saya dan istri hampir tiap hari harus pergi ke Tiki dan Kantor Pos untuk mengirim paket ke pelanggan-pelanggan kami di seluruh Indonesia, dan kawasan ASEAN. Sementara untuk skala nasional, saya tentunya sudah ikut meramaikan kegiatan perdagangan garmen atau tekstil di Indonesia (yang memang sudah sangat produktif) berikut dengan segala pernak-perniknya. Istri saya hampir tiap hari melakukan order barang ke pusat (seringnya di Jakarta, Bandung dan Surabaya) untuk dikirim ketempat kami di Denpasar, dan kemudian kami kirimkan lagi ke para pelanggan.

Untuk kegiatan bisnis rental car Bali saya, bisa dikatakan sedikit banyak saya sudah ikut menggairahkan dunia pariwisata di Bali, khususnya dibidang transportasi. Secara tidak langsung saya ikut meramaikan bisnis penjualan mobil, baik baru atau bekas, melalui dealer atau showroom. Secara langsung saya bisa berbahagia bisa memberi pekerjaan kepada beberapa rekan-rekan yang berprofesi sebagai driver untuk mengantar tamu-tamu saya berlibur di Bali.

Pesan yang ingin saya sampaikan disini adalah mengajak kita semua untuk sejenak saja merenung. Bahwa besok adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 64. Pada tahun 2009 ini usia negara Indonesia sedang menuju masa pendewasaan setelah melalui berbagai peristiwa yang luar biasa sebelumnya. Sebagai warga negara yang baik, hendaknya kita berusaha untuk selalu memberi kontribusi nyata kepada pembangunan negara ini untuk menuju sebuah negara yang insyaAllah semakin Religius, Mandiri & Bermartabat.

Merdeka!

Friday, July 17th, 2009 | Author: Arif Haliman

Lagi Indonesia kembali berduka. Bom laknat itu kembali menyalak dengan keras, menghantam langsung di pusat kawasan bisnis paling prestisius di Jakarta, kawasan Mega Kuningan. Kali ini yang menjadi sasarannya adalah Hotel Ritz Carlton dan JW MArriot. Khusus untuk JW Marriot, ini adalah yang kedua kalinya sejak 6 tahun yang lalu juga dihantam sebuah bom.

Indonesia sudah bosan dengan semua kegiatan bom ini. Saya pribadi dan saya yakin juga berjuta-juta rakyat Indonesia lainnya sudah sangat bosan dengan kejadian seperti ini. Saya merasa feeling empty. Tidak punya perasaan apa-apa. Bukannya tidak bersimpati atau berempati, namun I just can’t speak anything. Sekali lagi: feeling empty. Masyarakat Indonesia yang sudah stres ini akan semakin stres kedepannya.

Banyak sekali yang melatarbelakangi kejadian pengeboman terbaru ini. Dari unsur dalam negeri, adanya pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil pilpres yang lalu berikut dengan pernak-perniknya. Bisa juga kawanan Noordin M Top menggeliat kembali. Atau muncul kelompok-kelompok baru lagi (entah atas nama agama, ideologi, kekuasaan, dsb) yang mencoba membuat semakin keruh langit Indonesia.

Dari unsur luar negeri sebetulnya juga banyak yang bisa dicurigai. Konspirasi global internasional bukannya tidak mungkin dilakukan untuk membuat negara Indonesia semakin terpuruk. Skenario jahat ini berupaya untuk membuat Indonesia tidak bisa membangun negaranya. Karena apabila Indonesia bisa membangun dengan gemilang dan kemudian berjaya, bisa dipastikan kekuatan Indonesia semakin berlipat dan pada akhirnya sulit untuk dicokok lagi hidungnya. Oleh karena itu, Indonesia harus dibuat selalu dalam keadaan terhuyung-huyung dan gampang jatuh. Kamu pasti sudah tahu siapa negara (Barat) yang paling terpukul apabila Indonesia semakin menjadi super power? Investasi minyak mereka di Indonesia pasti bakalan kena tendang!

Ingatlah bahwa Indonesia sebetulnya adalah negara yang super kaya. Apa yang ada di dunia ini yang tidak ada di Indonesia? Kalaulah kondisi sekarang kita masih carut-marut, itu salah satunya tak lepas dari bobroknya perilaku para penentu kebijaksanaan negeri ini yang masih menempatkan kepentingan pribadi dan golongan diatas kepentingan negara.

Ingatlah bahwa ada skenario untuk menjadikan Indonesia mirip dengan Iran. Proses pemilihan umum disana yang sudah berjalan dengan lancar dan fair seperti di Indonesia , masih saja diobok-obok oleh provokasi luar negeri (Barat) yang gilirannya kekacauan masih berlangsung hingga detik ini di Iran.

Kali ini jangan terburu-buru menuduh kelompok Islam sebagai pelakunya. Terlalu bodoh dan mengampangkan kalau hanya bisa menuduh pelakunya orang Islam. Kalaupun ternyata nanti memang ada unsur kelompok Islam didalamnya, jangan gampang menafsirkannya secara sederhana. Contoh-contoh seperti Amrozi, Imam Samudera cs atau kejadian 9/11 hanyalah fenomena gunung es. Tapi siapa yang berdiam di kaki gunung sebagai otak, sejatinya belumlah terungkap dengan jelas. Banyak sekali literatur yang menjelaskan semua itu. Jangan terkejut kalau pelakunya, kalau sudah terungkap, ternyata sangat jauh dari apa yang sering kita dengar selama ini.

Marilah berharap kepada Presiden SBY, jangan mudah menerima uluran tangan negara-negara Amerika, Australia dan Inggris dengan maksud membantu penyelidikan pengeboman ini. Ingatlah bahwa mereka ini adalah provokator sejati dengan Yahudi Israel dibelakangnya. Entah siapa pelakunya, apakah orang muslim atau bukan, di dunia ini merekalah yang paling ahli dalam hal menungganggi sebuah peristiwa. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa tidak ada makan siang gratis. Sekali mereka bisa masuk, artinya kedaulatan negara ini akan semakin terampas. Kata orang Jawa, dikei ati ngerogoh rempelo. Sudah dikasih ini, kemudian akan minta ini itu ini itu ini dan seterusnya.

Sekali ini saja Pak SBY, andalkan kemampuan dalam negeri. Percaya pada kemampuan diri sendiri. Perkuat konsolidasi. Perkuat komitmen. Utamakan persatuan bangsa secara rasional. Mungkin memang betul dengan mengandalkan dalam negeri kita tetap babak belur. Tapi dengan meminta bantuan luar negeri, kita akan babak belur kuadrat!

Pahit memang diawal dengan membawa prinsip mandiri, namun akan manis dikemudian hari demi tegaknya kembali kedaulatan bangsa dan negara Indonesia.

Category: Umum  | Tags: , ,  | Leave a Comment
Wednesday, July 15th, 2009 | Author: Arif Haliman

Tidak bisa disembunyikan lagi betapa memang masyarakat kita sekarang ini sedang stres semua. Rakyat Indonesia sedang sakit, dan sakit stres ini sedang berada dipuncaknya saat-saat sekarang. Entah sampai kapan penyakit khas orang kota ini (tapi kabarnya orang desa pun juga tak luput juga ya?) menemukan obatnya dan kemudian bisa segera reda. Kalau tidak juga segera reda, saya kuatir bangsa Indonesia akan semakin redup sinarnya dan kemudian hilang sama sekali.

Stres bisa menjadi sangat berbahaya. Walaupun jenis penyakit ini tidak mematikan secara langsung layaknya penyakit yang sedang ngetren yaitu flu babi, namun efeknya lebih menyakitkan. Efek mematikannya dilakukan secara halus, sistematis perlahan-lahan, namun pasti. Kata mematikan disini tidak melulu dalam artian mati nyawa, namun juga bisa diartikan mungkin mati kreativitas, mati semangat, mati perekonomian, dsb.

Malangnya di negara Indonesia tercinta ini, orang yang sedang dilanda stres, justru menjadi bulan-bulanan beberapa orang yang kebetulan mempunyai kemampuan berpikir lebih. Orang model gini begitu teganya menjadikan para laskar stres itu sebagai obyek keuntungan yang biasanya dalam bentuk materi. Saya hanya ingin mengatakan mengenai begitu maraknya iklan ramal-meramal via SMS, khususnya di televisi.

Pelototi saja iklan-iklan mereka disana. Terutama yang mengandalkan strategi pendaftaran melalui SMS. Mulai nenek-nenek nggak takut neraka macam Mama Lorek, lelaki gombal awut-awutan model Ki Joko Bodo Sekali, dan oknum ustadz bersorban peramal jodoh. Dan masih banyak lagi kayak Deddy Karburator dan Tomy Rapel. Dengan entengnya mereka katakan bisa menentukan kesuksesan karir, jodoh ataupun peruntungan kita. Gedubrarrrkkk!! Tobat neeekk..tobat maaass….Yang bisa menentukan segalanya itu hanya Allah SWT! Bukan lewat dagelan komat-kamit mulut dan kibasan ngawur tangan sampeyan..

Para stresser ini mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa keuntungan para produser iklan dan bintang iklannya itu begitu meraksasa. Meraup keuntungan lewat napas ngos-ngosan para laskar stres yang kagak tahu ape-ape. Dengan ongkos SMS premium rata-rata 2.000 rupiah, kalau yang terjaring adalah 10.000, sudah berapa duit tuh? Lha kalau lebih dari 10.000 peserta ?? Ya lebih besar lagi duitnya. Apakah mungkin? Ya 100% mungkin bro! Pakai ilmu probalilitas model apa aja ya masuk aja. Ini adalah negara Indonesia dengan jumlah penduduk yang minta ampun besarnya. Mulai dari anak SD sampai kakek-nenek semua menenteng henpon. Dan asyiknya, bagi para produser ini, kebanyakan memang rada-rada bodoh sehingga gampang dikibulin untuk ikutan acara kayak gini. Ditambah masyarakat kita sedang stres dengan kondisi negara ini, acara ngibulnya menjadi semakin gampang. Banyak orang yang putus asa, sih!

Orang-orang kayak gini memang sudah kebablasan. Kalau asalnya memang asal ngomong, tukang sulap, mentalis, ilusionis, atau mungkin memang asli penyihir, ya sudah dibuat sekedar pertunjukkan, atau disimpan sajalah untuk diri sendiri, minimal kalangan internal. Jangan kemudian ‘mengembangkan diri’ dengan ngawurnya mengatakan mampu menentukan atau menerawang bagaimana hidup kita kelak.

Semoga saja kita semua masih diberi kewarasan berpikir untuk ignore saja kepada model penumpukan kekayaan secara ngawur oleh oknum-oknum penghibur ini. Semoga saja Allah SWT masih menguatkan akal sehat kita untuk tidak percaya kepada mereka. Hanya orang-orang stres yang tidak mempunyai rencana dalam hidupnya saja yang pasti akan segera mendaftar menjadi pasien mereka. Hanya mereka yang gampang putus asa saja yang gampang mengamini mereka.

Memang kondisi negara kita sedang awut-awutan, entah kapan fajar cerah akan kembali ke langit Indonesia. Tidak juga elit politik, namun juga masyarakat bawah sama saja berantakannya. Namun, dalam jiwa pribadi masing-masing, hendaknya akal sehat dan semangat bekerja jangan pernah padam. Hanya usaha cerdas dan ketakwaan kita kepada Tuhan sajalah yang mampu menyelamatkan dan menjaga kita. Menjadi mandiri dan percaya dirilah atas kemampuan masing-masing! Karena salah satu cara untuk mengangkat kembali martabat bangsa ini adalah dengan menjadi orang yang mandiri. Menjadikan tangan kita diatas, dan tidak tangan yang dibawah.

Sekali lagi, Mandiri dan Percaya diri sendiri, Bro! Dan tentu jangan lupa selalu berdoa kepada yang Di Atas!

Category: Motivasi, Opini  | Tags: ,  | One Comment
Thursday, May 14th, 2009 | Author: Arif Haliman

Marketing atau pemasaran sekarang ini tidak bisa dijalankan secara konvensional. Beberapa hal yang menyebabkan paradigma berpikir mengenai bagaimana menjalankan strategi marketing secara revolusioner (dan tidak lagi konvensional) adalah adanya fakta betapa krisis global sekarang ini begitu memukul perekonomian tidak hanya negara maju namun juga negara berkembang. Disamping alasan-alasan yang lain seperti kian ketatnya persaingan antar marketer atau pemasar dengan produk yang dipasarkannya, yang tidak bisa dipungkiri adalah kian kristisnya para calon konsumen dalam mengapresiasi sebuah produk.

Menyikapi fenomena seperti ini dan ditengah-tengah maraknya buku seputar pemasaran yang bermunculan, Ippho Santoso, No. 1 Creative Marketer in Indonesia melempar sebuah gagasan revolusioner mengenai bagaimana caranya meledakkan profit dengan kreatifitas dan otak kanan. Mengapa harus menggunakan otak kanan? Iphho berkeyakinan bahwa otak kanan yang sangat imajinatif dan inspiratif itu mampu membawa perubahan yang hebat dalam setiap gerak kehidupan, dalam hal ini adalah pemasaran.

Otak kanan yang sejatinya lebih dahsyat dibanding otak kiri (dalam hal kreatifitas, dsb) ini sering diabaikan dan dilalaikan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi yang diunggul-unggulkan selalu saja otak kiri yang berkaitan dengan hal cenderung bersifat logis (tidak intuitif), kuantitatif (tidak kualitatif), realistis (tidak imajinatif), terencana / cautious (tidak impulsive). Mungkin hanya pendidikan taman kanak-kanak yang memberi porsi pengembangan otak kanan.

Buku Marketing is Bullshit..ini adalah trilogi dari 2 buku sebelumnya yaitu 10 Jurus Terlarang dan 13 Wasiat Terlarang. Untuk melengkapi semua jurus jitu oleh Ippho Santosa yang tidak hanya berbicara otak kanan dalam Pemasaran (Marketing is Bullshit..), disarankan pembaca untuk melengkapi koleksi 2 buku lainnya yaitu 10 Jurus Terlarang yang mengupas otak kanan dalam Persaingan dan 13 Wasit Terlarang yang mengupas otak kanan dalam Kehidupan.

Dalam buku Marketing is Bullshit.. ini, Ippho menawarkan 88 trik kreatif senilai 180 juta yang mampu meledakkan profit bisnis dalam waktu enam bulan. Ippho mencoba memberi penyadaran kepada para marketer, enterpreneur dan networker bahwa pemasaran itu adalah omong kosong tanpa kreatifitas. Dengan bersandar kepada otak kanan yang sudah default berisi segala hal mengenai kreatifitas, sudah selayaknya para pemasar harus mengoptimalkan kemampuan otak kanannya. Dahsyat dengan otak kanan!

Judul Buku: Marketing is Bullshit..
Pengarang: Ippho Santosa
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Halaman: 179

Wednesday, March 11th, 2009 | Author: Arif Haliman

Tadi malam sekitar sekitar pukul 21.00 WITA saya tidak sengaja menonton televisi. Dibilang tidak sengaja karena saya memang jarang menonton acara di televisi. Mungkin hanya sekitar 15-30 menit selepas maghrib, karena biasanya makan malam sambil nyalakan televisi. Namun tadi saya (bersama istri) sempat-sempatkan untuk memelototi sebuah acara di TV One yaitu Debat Publik dengan tema, kalau tidak salah, Penerapan Ekonomi Syariah. Acara ini sudah berjalan beberapa menit dan saya hanya mengikuti debat yang dilakukan oleh 2 kontestan terkahir. Saya tidak tahu nama kontestan masing-masing, namun kontestan terakhir dari kubu pro penerapan ekonomi syariah Islam adalah Muhammad Syafii Antonio.

Saya memang sudah lama sangat tertarik, atau kalau tidak dibilang kagum kepada sosok manusia langka Indonesia ini. Pakar segala macam bentuk ilmu ekonomi dunia terutama ekonomi syariah Islam ini sangat piawai dalam memaparkan pengetahuannya. Gaya dan intonasi suaranya yang sangat tenang disertai senyum namun mendalam dalam pemaparan membuat lawan bicaranya yang kontra ekonomi syariah itu seperti kehilangan kemampuan menyanggahnya. Usahanya dalam menyakinkan pentingnya ekonomi syariah sebagai alternatif dari solusi ekonomi kapitalis yang sekarang ini sedang sekarat di berbagai belahan dunia sangatlah komplet. Tidak hanya dari sisi pengalaman dan pengamatan mendetil bahwa diluar negeri seperti Inggris, Jerman, Perancis bahkan Amerika sendiri mulai membuka pintu lebar-lebar untuk masuknya ekonomi syariah, juga dari sisi religi. Beliau bahkan sempat menyitir salah satu ayat dari Bible yang kurang lebih menyatakan bahwa Bible sendiri juga sangat membenci yang namanya riba (mengambil keuntungan sangat berlebih dari yang seharusnya).

Umum sudah diketahui bahwa orang Kristen di Indonesia mati-matian berusaha membendung adanya perundang-undangan yang membawa label Islam. Diantaranya adalah wacana diundangkannya sistem perekonomian Islam di Indonesia. Mereka bersikeras mengapa harus membawa-bawa jargon syariah yang notabene Islam? Mereka orang-orang Kristen itu sebetulnya sangatlah takut apabila memang gelombang penerapan hukum-hukum yang membawa unsur Islam dilibatkan dalam hukum negara. Saya pribadi bisa saja balik bertanya: Lha, mengapa harus takut?

Kapitalisme yang sangat digembar-gemborkan barat (Kristen dan Yahudi) sekarang ini sedang sekarat. Lihat saja Amerika. Siapa yang menyangka bahwa bumerang itu sekarang sudah balik mengenai wajahnya sendiri. Dengan keserakahan dan kerakusan sistem kapitalis, Amerika sebagai lokomotif kapitalis sekarang sedang dihadapkan pada sebuah kondisi sedang bergejolak. Berbagai krisis sedang melanda disana mulai dari krisis keuangan, moral, lapangan pekerjaan sampai pendidikan, dsb.

Sebaliknya kita sedang menyaksikan bahwa ekonomi syariah tetap tegar tidak terpengaruh oleh krisis finansial global dunia saat ini. Ini dibuktikan dengan tetap eksisnya pendanaan keuangan di bank-bank syariah yang stabil, bahkan meningkat baik di Indonesia maupun luar negeri yang berbendara syariah seperti di Timur Tengah.

Saya pribadi sudah lama sangat tertarik dengan sistem ekonomi syariah. Saya tidak ingin hanya membatasinya hanya dipermasalahan bunga atau ribanya, tetapi lebih dari itu. Namun lepas dari masih adanya beberapa suara miring yang mengatakan bahwa semua bank syariah yang ada di Indonesia masih belum sepenuhnya murni syariah, namun dengan bergabung menjadi nasabah mereka kiranya adalah sebuah langkah yang tepat. Dengan logika sederhana, kalau mau menghindari praktek riba, ya mestinya jangan bergabung dengan sebuah bank konvensional namun dengan sebuah bank syariah. Dalam hal ini saya telah menjadi nasabah Bank Muamalat.

Ibu saya juga saya sarankan memindahkan rekeningnya ke Mandiri Syariah dari sebelumnya di salah satu bank konvensional. Setidaknya ini adalah langkah awal saya untuk mendukung penerapan ekonomi syariah.

Namun jujur untuk beberapa hal saya masih bergabung dengan bank konvensional, bahkan beberapa pendanaan masih saya pergunakan dari mereka. Tapi dalam hati ini selalu bertekat bahwa kedepannya akan semakin menjadi murni syariah, terlebih lagi setelah melihat penampilan Pak Syafii Antonio di televisi tadi.

Lalu apakah bakal sama sekali tanpa kekurangan? Seperti dibilang Pak Syafii, ya tidak dong. Bagaimanapun juga ini adalah produk baru. Sebagai salah satu partisipan, kita semua sebagai orang muslim harus ikut menyukseskannya. Kita berpartisipasi menyosialisasikannya dengan baik, dan mendukungnya dengan sepenuh hati. Faktanya adalah begitu banyak para non-muslim terutama etnis Cina yang menanamkan uangnya di berbagai bank syariah, lha kenapa kita yang jelas-jelas muslim tidak melakukannya?

InsyaAllah barokah atas semua amal usaha Pak Muhammad Syafii Antonio dalam kiprahnya mengawal dan membangun ekonomi syariah Islam di Indonesia tercinta ini..Amin.

Wednesday, December 10th, 2008 | Author: Arif Haliman

Ini adalah sebuah anugerah. Sore hari di pantai Kuta. Memandang matahari tenggelam dengan indahnya. Berada di pantai ini sore hari memang menawarkan sejuta kesan yang mempesona. Ya, sunset di Pantai Kuta adalah hal yang paling ditunggu oleh sejuta manusia.

Ada permainan bola oleh anak negeri. Sesekali bergabung juga satu dua bule untuk bermain. Terlihat layang-layang cantik beterbangan diatas sana. Kejar mengejar beberapa bocah lucu sudah keharusan. Diantara pasir dan buih yang menepi mereka semua bermain gembira.

Ada aneka layanan ibu-ibu pemijat. Yang disaat sepi bisa bertarif hanya 20.000 rupiah dengan pemandangan pijat mengerah langsung ke laut. Ada penjual rujak dan minuman ringan. Ada para beach boys dengan persewaan selancar mereka. Tidak ketinggalan penjaga pantai dengan kacamata hitam yang selalu waspada.

Olala, ada juga yang asyik erat berdua. Berdua didalam air pantai. Berdua dipinggir pantai. Berdua di jalan setapak. Tidak harus pribumi, namun adakalanya pribumi dan bule. Yang satu berkulit gelap, satunya lagi berkulit pucat. Namun, ada juga beberapa kumpulan keluarga asyik bersenda gurau dengan riangnya.

Pantai Kuta hanyalah salah satu dari sekian banyak pantai yang ada di Bali. Di Bali terdapat pantai-pantai lain yang juga sangat menarik untuk dikunjungi. Seperti Pantai Sanur dan Pantai Nusa Dua. Juga yang baru saja menjadi primadona para wisatawan adalah Pantai Dreamland yang terletak di Uluwatu Jimbaran. Pantainya lebih bersih, ombaknya lebih keras dan lokasinya yang berada ditepi tebing sangat sulit untuk dilupakan. Seperti halnya pantai Kuta, berkunjung ke Bali tanpa mengunjungi Pantai Dreamland serasa belum lengkap.

Kamu pernah ke pantai Kuta di Bali? Kalau sudah maka bersyukurlah. Sebab banyak kawan atau saudaramu sebangsa di Indonesia ini yang masih belum sempat melihat indahnya sunset di Kuta, sementara keinginan mereka sudah ada bahkan pada saat masih di sekolah dasar. Bali adalah Indonesia. Namun mengapa kawan atau saudara kita belum sekalipun pernah mengunjunginya, padahal para pelancong nun jauh disana dari berbagai sudut dunia ini sudah mendatanginya.

Sebagai orang Indonesia, sudah bersyukurlah kamu pernah berkesempatan mengunjunginya?

Category: Bali  | Tags: , ,  | 4 Comments
Friday, November 21st, 2008 | Author: Arif Haliman

Kartu kredit adalah alat pembayaran pengganti uang tunai. Benda yang bentuknya mirip KTP ini untuk beberapa situasi dan kondisi memang sangat powerful alias berguna. Namun beberapa sikon tertentu juga bisa membuat pemegangnya sport jantung dan kapok memilikinya lagi.

Penggunaan kartu kredit pada hakikatnya adalah hutang. Kita membeli sesuatu dengan berhutang terlebih dahulu. Hutang kepada siapa? Tentunya kepada bank penerbit kartu kredit itu. Nah, salah satu resiko (terbesar) dalam memiliki kartu kredit adalah gagal bayar. Atau dengan kata lain kita terlambat membayar tagihan kartu kredit sebelum jatuh tempo. Apabila sudah masuk jatuh tempo maka bisa dipastikan denda akan menanti. Besar denda bervariasi bergantung kebijaksaan bank penerbit kartu kredit, dan berapa lama hutang tersebut mengendap.

Di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bahwa, terutama pemegang kartu oleh kelas menengah (atau malah juga kelas bawah), seringkali penggunaannya ’salah sasaran’. Fungsi utama kartu kredit yang seharusnya adalah pengganti uang tunai dalam pembayaran dengan jumlah besar dan berjarak jauh (misalnya booking Bali Hotel), berganti menjadi alat penghutang yang efektif dan parahnya digunakan untuk berbelanja barang keperluan sekunder dengan transaksi face-to-face.

Kita sering menjumpai orang yang menggunakan kartu kredit untuk sekedar berbelanja kulkas, DVD atau kasur yang harganya relatif terjangkau. Karena terjangkau tentunya lebih bijak melakukan pembayaran dengan uang tunai yang bisa dibawa dalam dompet. Mulanya mungkin dianggap biasa, namun lama kelamaan menjadi terbiasa. Andai saja sekolah anak bisa dibayar dengan kartu kredit, pasti biaya sekolah anaknya juga akan di kredit!

Kebiasaan model begini (kebiasaan berhutang) adalah kebiasaan yang buruk. Sampai pada akhirnya sangat gemar berkartu kredit atau berhutang yang pada waktu tertentu tidak ada kemampuan untuk membayar tagihannya, dan malapetaka itu muncul yaitu telepon bertubi-tubi dari bank yang terus mengejar tagihan tersebut.

Oleh karena itu wahai saudara-saudara sebangsa setanah air, dipikir dulu SERIBU KALI kalau ingin apply kartu kredit. Timbang baik buruknya, membawa manfaat atau mudharat. Tidak usah gengsi tidak punya kartu kredit. Ingat! Bertransaksi dengan kartu kredit adalah hutang. Dan ketidakmampuan membayar hutang sebelum jatuh tempo berisiko dosa besar yaitu riba.

Category: Opini  | Tags: , ,  | Comments off
eXTReMe Tracker