Tag-Archive for » hasyim asyari «

Wednesday, December 30th, 2009 | Author: Arif Haliman

KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur malam ini telah berpulang. Dia wafat sekitar pukul 20.00 WIB di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo) Jakarta. Setelah sebelumnya lama berjibaku dengan berbagai macam penyakit yang menyerangnya (diawali oleh diabetes yang berakibat komplikasi berbagai penyakit ganas lainnya), kiai haji asal NU (Nahdlatul Ulama) tersebut akhirnya menyerah terhadap ketentuan ilahi di usia 69 tahun. Dia akan dimakamkan di kampung halamannya Jombang Jawa Timur, sebuah kota kabupaten kecil, sekitar hanya 30 menit perjalanan mobil dari kota saya tercinta Mojokerto.

Mantan Presiden RI ke 4 itu meninggalkan seorang istri dan 4 orang anak. Dia adalah cucu KH. Hasyim Asyari, pendiri organisasi massa Islam terbesar di dunia yang berada di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama. Gus Dur yang asli Jombang Jawa Timur itu mendapatkan banyak sebutan di masyarakat, beberapa diantaranya adalah guru bangsa, cendekiawan muslim, pejuang demokrasi, dan seabreg sebutan lainnya. Gus Dur tidak hanya populer dikalangan muslim khususnya warga Nahdliyin, namun juga sangat populer dikalangan luar muslim. Gus Dur dianggap sebagai penolong bagi mereka yang minoritas di republik Indonesia tercinta.

Terutama di Indonesia, semasa hidupnya Gus Dur sangatlah kontroversial. Bisa saya bilang dilihat dari kuantitas (dan mungkin juga kualitas) kontroversi yang ditimbulkannya, tidak ada orang di Indonesia ini yang menyamainya. Saya tidak akan menyebutkan semuanya, namun salah satu yang menurut saya termasuk bombastis adalah keinginannya untuk membubarkan DPR (ini dalam tataran negara) dan pendapatnya sapaan Assalamu’alaikum Wr Wb sebaiknya diganti dengan Selamat pagi, Selamat siang, dan seterusnya saja (ini dalam tataran agama). Apa itu tidak gendheng, namanya?

Banyak orang menganggap dia adalah orang hebat. Yang termasuk disini adalah barisan orang-orang sekuler, nasionalis, pengusung demokrasi dan orang-orang diluar muslim. Ada juga yang menganggap dia tidak lebih sekedar antek Israel di Indonesia, dengan pola pemikiran sekulerisme, liberalisme dan pluralisme yang kerap diusungnya. Barisan ini adalah para muslimin konservatif yang menentang pemikiran bahwa semua agama adalah sama.

Berbagai tindakan kontroversial yang kerap dilontarkannya itu, sebagian menganggap itu adalah efek dari serangan stroke yang pernah menimpanya, sehingga pemikirannya sering dianggap tidak beres. Baik kawan maupun lawannya memang seringkali dibuat geleng-geleng kepala dengan sepak terjangnya. Sukar untuk ditebak dan ditentang. Gayanya yang terkesan seenak udele dewe dan tanpa beban menjadi ciri khasnya.

Lepas dari kesemuanya itu, Gus Dur semasa hidupnya memang pantas untuk dikenang. Lepas dari kita suka atau benci dengan tindakan dan pemikirannya, Gus Dur memang pantas untuk dihargai. Segala hal kontroversial yang pernah menghinggapinya, yang pernah menimbulkan luka bagi sebagian orang, hendaknya untuk diberikan pintu maaf. Karena bagaimanapun juga dia sudah tiada. Dia memang sudah tiada secara fisik, namun pemikirannya dalam masyarakat tidak serta-merta juga ikut binasa.

Satu hal yang masih saya kenang dan membekas bagi saya adalah mengenai humornya. Sudah jamak diketahui bahwa Dus Dur adalah raja humor. Salah satu humor darinya itu adalah berupa tebakan. Yaitu, apa persamaan wanita hamil dan ilalang yang tinggi? Jawabannya sungguh menggelitik dan menyerempet mesum: Karena telat dicabut! Mengerti, kan?

Akhirnya, selamat jalan Gus. Kepada Allah SWT jugalah engkau kembali kini. Ungkapanmu ‘Gitu Aja Kok Repot’ pasti akan selalu diingat orang.

eXTReMe Tracker