Tag-Archive for » denpasar «

Wednesday, November 11th, 2009 | Author: Arif Haliman
Mejeng dulu sebelum turun ke lokasi air terjun

Gitgit Waterfal Bali. Dalam bahasa Indonesia artinya Air Terjun Gitgit Bali. Sesuai namanya, ini adalah sebuah tempat wisata yang mengandalkan air terjun sebagai obyek utamanya. Air terjun ini berlokasi di desa Gitgit, sekitar 2 jam perjalanan mobil dari kota Denpasar. Gitgit sudah masuk wilayah Singaraja, kurang lebih hanya sekitar 15 menit perjalanan mobil menuju pusat kota Singaraja. Kalau kamu berwisata ke Pulau Bali, pastikan tempat ini menjadi salah satu obyek wisata yang akan kamu kunjungi.

Saya merekomendasikan kamu untuk mengunjunginya, karena saya baru saja mengunjungi tempat wisata air terjun Gitgit ini hari minggu, 3 hari yang lalu. Sebetulnya, sudah agak lama saya bersama istri mencari waktu yang tepat di hari libur minggu untuk bisa berwisata ke tempat ini. Namun ada saja halangan. Mulai pingin males-malesan saja dirumah hari minggu, ada acara undangan teman, atau (seringnya) pas mobil sedang tidak ada dirumah, alias sedang dipinjam oleh tamu saya.

Penasaran saja, 8 tahun sudah bermukim di Bali namun belum satupun melihat yang namanya air terjun di Bali :) Jadinya, alhamdulillah hari minggu kemarin kita berkesempatan untuk mengunjunginya. Bagi kamu yang sering ke tempat wisata Bedugul yang terkenal cantik itu, kamu tinggal 30 menit saja perjalanan untuk sampai di Gitgit. Secara garis besar, karena saya tinggal di Denpasar, rute yang saya ambil untuk menuju Gitgit adalah Denpasar - Tabanan - Baturiti (Bedugul) - Gitgit. Total perjalanan adalah 2 jam pakai mobil.

Foto sambil basah kuyup kena cipratan air tejun..

Foto sambil basah kuyup kena cipratan air terjun..

Selepas dari Bedugul, kamu akan melewati kawasan hutan selama kurang lebih 30 menit itu. Hutan ini sudah masuk di wilayah kota Singaraja. Salah satu keasyikan melintasi hutan ini adalah, kita disuguhi pemandangan danau (sori gak tahu namanya) yang terbentang di bawah sono. Indah sekali. Apalagi kalau pas suasana agak mendung, siluetnya itu lho yang bikin kesengsem.

Satu lagi keasyikan adalah mengamati kawanan monyet yang berdiri disepanjang pinggir jalan. Kalau kamu bermobil dengan anak kecil, dijamin dia akan senang sekali karena mungkin terheran-heran kok bisa-bisanya monyet-monyet itu mejeng di pinggir jalan. Begitu juga dengan anak saya Tika, dia gak henti-hentinya tertawa dan kegirangan demi melihat kawanan monyet itu. Kalau ingin lebih asyik lagi, kita bisa berhenti dan mendekati para monyet itu. Sepertinya mereka jinak-jinak saja, karena saya melihat banyak juga turis (terutama bule) yang sibuk potret sana potret sini kawanan monyet ini dari jarak dekat.

Tapi khusus buat supir, jangan terlalu keasyikan ya. Tepat konsentrasi dengan setir, karena ingat, ini adalah kawasan hutan yang jalannya selalu berkelok-kelok, naik turun, dan licin kalau pas lagi hujan.

Sesampainya di Gitgit, untuk mencapai obyek wisatanya, diperlukan perjuangan yang lumayan berat. Bagi kamu yang kurang berolahraga jalan kaki, sebaiknya kamu menyesalinya :) Dari tempat parkir mobil, kita harus turun menyusuri jalanan setapak sepanjang lebih kurang 500 meter. Di sepanjang jalanan setapak ini, kita akan menjumpai banyak pedagang cinderamata standar seperti patung, kalung, kaos, aromaterapi Bali, dsb. Kalau kamu sebelumnya sudah capek berwisata ketempat lainnya, siap-siap saja kaki akan merasa super pegal. Sesekali berhenti dan istirahat sangat disarankan untuk menghilangkan sedikit pegal. Tapi, biasanya, setelah sampai di lokasi air terjunnya, kemungkinan pegal tadi akan berangsur-angsur hilang.

Tepat di lokasi air terjun, kita akan disuguhi sebuah pemandangan indah berupa air terjun dengan ketinggian sekitar 40 meter. Hawanya yang sangat sejuk ditambah suasana hutan yang bagaimanaaaa gitcu, bisa mengganti bayaran atas capeknya mencapai lokasi ini. Dibawah air terjun, terdapat kolam dengan diameter sekitar 4 meter. Disini asyik untuk dipakai berendam. Tidak ketinggalan batu-batu cadas yang mengelilingi sekitar air terjun ini. Dengan latar belakang sungai kecil yang mengalir jauh, berfoto di antara batu-batu besar ini bisa jadi akan menjadi foto favorit kamu sepanjang masa :)

Tidak lupa ritual makan bakso kalau ke Bedugul :)

Oh ya, kalau tadi saya bilang menuruni jalan menuju lokasi air terjun lumayan berat, sekarang kalau balik menaiki jalan menuju atas lebih berat lagi :) Napas makin ngos-ngosan. Oleh karena itu, saya sarankan, banyak-banyak olahraga kaki ya? Seperti saya nih yang gemar bersepeda hehehe..

Atau, untuk mengobati pegal-pegal karena harus balik lagi keatas, mungkin ritual saya berikut bisa kami contoh. Apa ritual itu? Kalau melewati Bedugul, hukumnya wajib untuk berhenti dulu dan makan bakso! Asli dijamin kamu bakal ketagihan. Ya iyalah, kapan lagi bisa makan bakso hangat dengan pemandangan danau yang indah??

Wa kak kak kak…

Category: Bali, Pribadi  | Tags: , ,  | 3 Comments
Sunday, November 01st, 2009 | Author: Arif Haliman

Pasca Lebaran kemarin saya baru saja membelisebuah sepeda gunung Polygon. Seri yang saya pilih adalah Premier 3.0. Dengan warna dominan gelap (hitam muda dan abu-abu) di seluruh bodi sepeda termasuk velg bannya, saya merasa cocok dengan tampilan sepeda ini. Saya membelinya seharga 2.300.000 Rupiah. Dan sudah beberapa hari terakhir, sepeda ini telah menjadi tungganggan favorit saya.

Hampir saban pagi disaat embun dan udara kota Denpasar masih bersih, hampir bisa dipastikan saya bersama sepeda saya ini terlihat menyusuri daerah sekitaran Pemogan dan Taman Pancing. Tidak lain tidak bukan adalah untuk berolahraga. Bersepeda selama 30 menit saya jamin sudah bikin keringat kamu bermunculan, walaupun di pagi hari. Setelan favorit saya untuk roda depan adalah gigi 2 (3 paling berat) dan roda belakang adalah gigi 6 (7 paling berat). Kadang juga saya turunkan ke 5 atau malah 4, kalau medannya menanjak dan napas sudah ngos-ngosan :)

Bersepeda adalah kegiatan yang sangat menyenangkan, terutama kalau dilakukan pada pagi hari yang masih udara masih segar dan relatif sepi lalu lintas. Kegiatan ini bisa membuat pikiran ringan, otot-otot terutama sekitar kaki bergerak aktif, dan juga menyehatkan jantung. Otot bahu juga berpotensi menjadi kekar. Tidak lupa, kita bisa berlatih mengatur pernapasan secara efektif dan efisian. Kesemuanya itu, ujung-ujungnya, membuat aktifitas kegiatan kita sehari-hari dipenuhi optimisme dan semangat tinggi.

Sebenarnya, bersepeda sudah sangat saya dambakan sejak dulu. Hanya susah sekali menemukan sebuah momentum yang tepat untuk mewujudkannya. Apalagi sebelumnya, berjalan kaki atau joging yang juga salah satu kegiatan favorit saya masih nyaman untuk dilakukan. Sampai pada akhirnya, setelah kegiatan joging ini sudah mulai semakin berkurang, akhirnya datang juga momentum atau keinginan kuat untuk segera memiliki sepeda.

Sejujurnya, dibanding bersepeda dengan joging, saya masih fanatik joging. Olahraga berjalan kaki ini (apalagi dilakukan tanpa memakai alas kaki), adalah olahraga termurah namun dengan efek sangat dahsyat. Salah satunya, joging yang dilakukan pada pagi hari secara rutin bisa membuat pekerja kantoran tidak lagi menguap tanda mengantuk pas sedang bekerja di kantor. Ini saya buktikan sendiri sewaktu dahulu masih menjadi karyawan. Joging hampir selalu saya lakukan saban pagi yang foto lokasinya bisa dilihat disini dan disini. Kantuk hilang, dan semangat kerja membara. Suer!

Namun lambat laun dengan pertimbangan kalau setiap hari harus pergi ke lapangan Puputan Renon Denpasar untuk berolahraga, rasanya berat juga. Akhirnya kegiatan joging ini saya lakukan disekitaran rumah. Hanya saja, saya harus realistis. FYI, di Bali ini kan banyak sekali anjing berkeliaran. Nah, yang bikin ngeri adalah pas lagi enak-enaknya jalan kaki, tuh para anjing juga ikut mengejar dibelakang kita! Dikejar saja sudah ngeri, gimana kalau kita berhasil digigitnya?? Dengan semakin merebaknya wabah rabies dari yang diakibatkan gigitan anjing, saya harus berpikir ulang untuk meneruskan kegiatan ini secara kontinu. Itulah salah satu momentum yang membuat saya untuk beralih ke bersepeda dan hanya sesekali olahraga jalan kaki.

Eniwe, kegunaan lain dari bersepeda, setidaknya bagi saya, bisa menghemat BBM. Saya bisa pergi ke minimarket atau sekedar beli martabak di pasar senggol dekat rumah, bisa hanya dengan bersepeda. Janjian ketemu teman untuk bersua tak jauh dari rumah, bisa dengan bersepeda. Bahkan tidak jarang, aktifitas mengantar mobil untuk tamu saya di sekitaran Kuta, tidak lupa saya angkut juga Polygon saya dibelakang mobil, agar balik pulangnya tidak usah dijemput istri, tapi bisa dengan bersepeda.

Seperti halnya hari minggu pagi tadi. Ada salah satu tamu rental car Bali saya mengembalikan mobil di airport pukul 08.00. Ya sudah, sejak pukul 06.30 saya sudah mulai berangkat menuju bandara Ngurah Rai Bali dengan naik sepeda. Enaknya apa? Badan sehat, tidak perlu bayar loket masuk sepeda motor, dan bisa bikin bule pelanggan saya itu menepuk-nepuk bahu saya tanda salut: ‘How come you ride the bike to collect the car here in the airport? But it is totally good for you!

Hehe..belum tahu dia ;)

Category: Pribadi  | Tags: , , ,  | 3 Comments
Monday, October 19th, 2009 | Author: Arif Haliman

Sebagai donatur tetap dan juga simpatisan Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar Bali, 2 hari yang lalu saya mendapat undangan dari mereka, yang dalam rangka mempererat ukhuwah Islamiyah dan tali silaturahmi, mengadakan Kajian Islam dengan narasumber DR. Adian Husaini, MA yang acaranya diadakan sore tadi di pondok pesantren. Pak Adian (demikian saya biasa menyebutnya) bisa dibilang adalah tokoh nasional dengan sederet jabatan yang berhubungan dengan dakwah Islam, termasuk diantaranya sebagai dosen dan anggota MUI Pusat. Satu hal yang menjadi spesialisasi beliau adalah komitmen dan kehandalannya dalam menolak ideologi Sipilis (sekularisme, plularisme dan liberalisme).

Dan demi bisa bertemu langsung dengan tokoh yang tulisannya kerap saya sambangi di Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini di Hidayatullah, jadilah ba’da shalat Ashar sore tadi saya alhamdulillah bisa menghadiri undangan itu.

Kajian Islam mengenai bahayanya SIPILIS sore tadi disampaikan oleh Pak Adian dengan santai dan humor segar. Ini membuyarkan angan saya (yang belum pernah bertemu dengannya) bahwa dia adalah orang yang bawaannya serius. Dia membuka kajian sore itu dengan mengatakan bahwa MUI dalam rakernasnya pada tahun 2005 lalu sudah mengeluarkan fatwa haram mengenai paham SIPILIS. Paham ini begitu merusak akidah dan tauhid yang dikandung oleh ajaran Islam.

Namun dalam kenyataannya, para penentang fatwa haram ini kerap bersuara lantang dengan menuduh MUI melanggar hak asasi manusia dan oleh karena itu harus dibubarkan. Masih menurut Pak Adian, paham SIPILIS ini tidak saja menjadi persoalan dalam tubuh masyarakat muslim, namun juga hinggap di tubuh masyarakat Kristen. Vatikan saja juga merasa perlu mengeluarkan semacam fatwa untuk menolak paham ini yang juga sedang deras melanda orang Kristen.

Pengusung ideologi ini bisa dibagi menjadi 3 level. Yang pertama adalah level produsen. Mereka adalah pengedar asli yang berasal dari Barat. Lewat yayasan-yayasan yang didirikan, mereka berupaya mengekspor virus ini ke negara yang menjadi target virus, dalam hal ini misalnya Indonesia. Level kedua adalah distributor. Mereka adalah para civitas akademika di perguruan-perguruan tinggi yang membawa label agama, yang entah sadar atau tidak, dalam setiap disertasi maupun statemennya selalu mengandung unsur SIPILIS. Level yang terakhir adalah asongan atau pengecer. JIL atau Jaringan Islam Liberal adalah salah satunya.

Kajian sore hari itu terasa sangat gayeng dan santai, namun sarat ilmu. Dipaparkannya beberapa problem serius yang hinggap di tubuh umat Kristen dan Yahudi adalah salah satunya. Betapa mereka sebenarnya masih kerap berantem mengenai ’sekedar’ siapa nama tuhan mereka sebetulnya. Kalau dalam Islam jelas nama tuhan adalah Allah SWT, di Kristen maupun Yahudi kerap kali terjadi kebingungan dan multi tafsir atas beberapa nama tuhan yang tersedia.

Juga disebutkan beberapa alasan mengapa Yahudi selalu saja mencak-mencak kepada Islam. Dengan beberapa alasan yang disertakannya, Pak Adian mengatakan bahwa memang hanya Islam saja satu-satunya agama di dunia ini yang berani secara terang-terangan mengungkap segala kebobrokan Yahudi. Umat nabi Musa yang membangkang itu bisa kita sebut dengan sebutan ‘tengik’ karena gemar sekali membantah perintah nabi Musa sebagai pemimpin mereka.

Sebenarnya banyak sekali bahasan yang dikaji dalam kajian Islam sore tadi yang dihadiri sekitar 200 an jamaah, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Tentu saja semuanya berkaitan dengan paham yang memang sangat kontroversial seperti sekularisme, plularisme dan liberalisme ini. Adalah tugas kita untuk senantiasa waspada dan kritis, untuk selalu membentengi akidah dan tauhid kita hanya bersandar kepada Al-Quran dan sunah Rasulillah SAW.

Category: Islam, Pribadi  | Tags: , ,  | Leave a Comment
Wednesday, June 03rd, 2009 | Author: Arif Haliman

Hmmm..Sudah lama juga gak update blogku tercinta ini. Sekitar kurang lebih 20 harian ya sejak postingan terakhir tangga 15 Mei. Ya beginilah kalau ada acara mudik ke kampung halaman Mojokerto. Hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan internet menjadi terbengkalai, salah satunya acara ngeblog yang menjadi hobiku. Namun, kegiatan membalas email utamanya untuk para tamu bisnis Bali car rental sedapat mungkin masih aku sempat-sempatkan. Kan sudah ada Sony Ericsson Xperia X1, masak balas email saja gak bisa ?? Hehe..

Ya, anyway, saya ingin memberikan sedikit catatan singkat dan ringan dari acara mudik kedua saya tahun ini (yang pertama bulan Januari kemarin). Seperti biasanya saya berangkat dari Denpasar pada malam hari ba’da Isya sekitar pukul 8 malam. Sampai Mojokerto pukul 8 pagi, jadinya perjalanan saya tempuh selama 12 jam. Dengan memakai Toyota Avanza baru saya yang sudah ber VVTI, doi menghabiskan bensin sekitar 3/4 nya dari full tank, atau sekitar Rp 140.000 an (30 liter). Lumayan irit dan menghemat uang bensin. Sekedar informasi, diperjalanan kemarin itu penumpang hanya 3 orang yaitu saya, istri dan si bayi Tika saya. Di baris paling belakang (yang dilipat) penuh dengan muatan barang dagangan saya dan istri saya, yaitu baju muslim dan tas Bali. Mengapa kok bawa barang dagangan segala? Ya kalau ada pembeli yang memesan via online atau orang-orang di Mojokerto, bisa tetap kita layani dong. Itulah enaknya bisnis online: Anytime, Anywhere.

Yang perlu dicatat selama perjalanan pulang dari Denpasar menuju Mojokerto adalah, disepanjang jalan, baik itu didaerah Bali atau sudah masuk Jawa Timur, jalan-jalan utamanya sedang diperbaiki dan diperhalus. Jadinya walaupun disana-sini banyak material dan traktor disepanjang kanan-kiri jalan, jalan yang saya lalui sangatlah nyaman. Terutama disisi Jawa Timur, sepertinya bisa saya bilang ada peingkatan 50% jalanan utama sudah sangat ciamik!

Apakah ini sebagai realisasi atas janji-janji Pakde Karwo kalau dia terpilih menjadi gubernur Jatim? Bagi saya tidak penting. Apapun penyebabnya, yang penting adalah jalanan berangsur-angsur membaik sehingga nyaman dan aman untuk dilalui. Saya yakin menjelang mudik Lebaran tahun ini, insyaAllah jalanan utama tersebut bisa rampung 100% sehingga para mudikers bisa lebih lega dalam berkendara.

Pulang kampung atau mudik kayak gini bagi saya sebetulnya tidak terlalu istimewa. Biasa-biasa aja. Soalnya keseringan mudik. Bisa-bisa 3-4 kali dalam setahun saya selalu pulang kampung? Kok sesering itu? Lha iya, prinsip saya selagi kesempatan dan kemudahan itu datang, sikat saja bleh! Hehe..maksudnya, nih kebetulan saya Alhamdulillah selalu punya banyak waktu luang, dan juga sedikit sangu untuk pulang kampung. Jadinya apa salahnya untuk sesering mungkin bisa melakukan silaturahmi dengan orang tua, mertua, tetangga-tetangga dan saudara-saudara di kampung.

Lama-lama nih kota Mojokerto tercinta semakin oke saja. Saya mengamati pembangunan semakin gencar dilakukan. Jalanan banyak yang diperlebar dan pusat-pusat perdagangan banyak dibangun. Saya melihat dulu daerah yang sepertinya akan selamanya para jin dan setan berdiam disitu, nyatanya bisa juga mereka diusir, kemudian tempat itu diperindah dan ditingkatkan fungsinya untuk kepentingan umum.

Lihat saja sepanjang daerah protokol Jl. Mojopahit, semakin ok bukan? Ai..ai..ada juga Kentucky Fried Chicken dekat Alun-Alun Kota. Atau coba tengok juga daerah sub-urban Mojosari. Semakin bersih, atraktif dan lihatlah terminal angkutannya: Terminal Mojokerto saja bisa jadi kalah dari segi kemegahan dan kebersihan!

Ayo…Maju terus Mojokerto!

Sunday, May 03rd, 2009 | Author: Arif Haliman

Kalau kamu seorang muslim dan hendak berwisata ke Pulau Dewata Bali, ada baiknya untuk mengetahui keberadaan masjid-masjid yang ada di Bali agar kamu tetap bisa menjalankan ibadah wajib ini pas kamu berada disini. Agar liburan dapat, ibadah wajib juga dapat. Namun walaupun begitu, tentunya kamu tahu kalau pulau Bali didiami mayoritas penduduk beragama Hindu. Oleh sebab itu tidak perlu heran tempat ibadah yang terbanyak adalah pura. Tempat ibadah umat lain seperti Islam dengan masjidnya, tentu ada, namun dengan jumlah yang relatif lebih sedikit.

Berikut adalah 3 masjid (besar) yang bisa dijadikan bahan pengetahuan baik sebagai kamu seorang turis, atau penduduk tetap pulau Bali seperti saya. Ketiganya berlokasi di tempat yang strategis. Namun maaf belum bisa mempersembahkan gambar berupa jepretan foto karena seringnya kelupaan bawa kamera. Hehe alesan.. ;) .

Masjid Nurul Huda
Bagi para penduduk tetap kota Denpasar yang beragama muslim dan memiliki aktifitas pekerjaan atau keseharian disekitar bandara internasional Ngurah Rai Bali, masjid Nurul Huda merupakan tempat yang strategis. Dengan hanya berjarak 1 kilometer dari bandara tersibuk di Indonesia ini, masjid ini kerap menjadi jujugan para jamaah.

Bagi para pelancong dari luar Bali, masjid ini juga bisa menjadi tempat ibadah dan istirahat yang lumayan. Kalau misalnya kamu baru saja landing, dan waktu shalat sudah masuk, menunaikan shalat di masjid ini bisa jadi bahan pertimbangan.

Saya juga sering memanfaatkan masjid ini kalau pas mengantar mobil Bali car rental saya, baik sebelum atau sesudah menjemput tamu saya.

Sebenarnya ada lagi musholla (sori, saya lupa namanya) yang lebih dekat lagi ke bandara. Lokasi persisnya pas dipintu keluar bandara. Mushola ini sebetulnya lebih strategis, namun karena tidak sebesar yang namanya masjid, mungkin lebih nyaman kalau sekalian saja datang ke masjid bandara Bali, Nurul Huda.

Sebenarnya lagi ada masjid (masjid lupa lagi namanya, kebanyakan lupa sih ;) ) yang tidak kalah megahnya dengan masjid Nurul Huda. Lokasinya dari Nurul Huda terus saja menuju by pass Ngurah Rai. Di Kampung Bugis. Ini juga masjid yang oke punya untuk menunaikan shalat kalau pas kamu berada disekitar bandara.

Masjid Agung Sudirman
Ini bisa dibilang masjid jami’ kota Denpasar. Tahu artinya jami’ kan? Kalau di Jawa, masjid jami’ biasanya sebagai landmark tempat ibadah (masjid) sebuah kota yang letaknya berada dipusat keramaian kota, atau alun-alaun.

Nah, majid Agung Sudirman ini bisa dibilang kayak gitu. Lokasinya tepat di jantung kota Denpasar. Ini adalah masjid teramai didatangi para jamaah seperti pas shalat Tarawih, utamanya hari-hari pertama bulan Ramadhan. Asli jadi lupa kalau ini Bali! Itu karena saking banyaknya jamaah tumplek blek berbondong-bondong menuju ke masjid Agung Sudirman dan semuanya rata-rata memakai pakaian muslim yang bagus.

Masjid ini kerap didatangi oleh para penceramah kondang kayak Aa Gym, Arifin Ilham, Hari Mukti, dsb untuk memberikan khotbah. Pssst..pas dulu Aa Gym khotbah safari Ramadhan, saya sontak menjadi terkenal seantero Indonesia beberapa saat ;) . Apa pasal? Kamera tipi sempat ngesyut saya sekitar 5 detik pas sedang khusyuk berdoa di sesi berdoa. Beberapa saat setelah acara pengajian selesai saya banjir sms dari teman-teman yang masih ingat saya. Hehe..ada yang bilang: ‘Walah, raimu mlebu tivi!’ (bahasa Jawa..Bahasa Indonesianya: ‘Walah, wajahmu masuk tivi!’). Hehe..

Disebut masjid Agung Sudirman karena lokasinya berada di kawasan Jalan Sudirman kota Denpasar. Suasana masjidnya sangat asyik dan nyaman. Saya sama anak dan istri kerap berkunjung ke masjid ini untuk shalat berjamaah.

Masjid An-nur.
Masjid ini juga tidak kalah strategis lokasinya. Berada dikawasan Jalan Teuku Umar Denpasar. Kalau lagi ada shalat Jumat jalan raya ini harus ditutup dan lalu-lintas dialihkan ke jalan lain karena saking sesaknya jamaah.

Saya alhamdulilah insyaAllah menjadi peserta pengajian rutin tiap selasa dan rabu malam di masjid ini. Acaranya ba’da maghrib sampai Isya’ dan kemudian diteruskan dengan shalat Isya’ berjamaah.

Itu saja dulu beberapa masjid yang bisa saya informasikan. Sebetulnya masih banyak lagi masjid yang bisa diinformasikan disini, seperti masjid di hotel Sanur Paradise Plaza, masjid di Kampung Islam, masjid di Kampung Jawa, masjid di daerah Marlboro, dsb. Mungkin insyaAllah lain waktu.

Oh ya, terakhir, khusus pas waktu kamu berwisata ke Tanah Lot, disana juga ada mushola kecil (memang mushola ada yang besar??). Biasanya sangat berguna untuk melakukan shalat Ashar dan Maghrib. Soalnya kan pergi ke Tanah Lot jamaknya waktu-waktu sekitar sore hari untuk melihat sunset.

Saturday, April 18th, 2009 | Author: Arif Haliman

Menindaklanjuti keinginan saya tempo hari lewat postingan berjudul Kepingin Jadi Produsen Busana Muslim, poin yang terbilang penting menurut saya sudah saya lakoni. Poin itu adalah menemukan penjahit baju yang mampu melakukan hal jahit-menjahit seperti contoh beberapa merek kaos busana muslim yang saya bawa dan tunjukkan kepadanya.

Beberapa merek kaos busana muslim yang saya tunjukkan ke calon penjahit saya itu adalah SIK Clothing, Qirani dan Os_Moes. Begitu melihat contoh baju yang saya bawa, suami istri penjahit itu langsung bilang: ‘Oh bisa!’. Hehe..alhamdulillah kalau begitu, jadinya saya tidak perlu banyak cing cong lagi untuk menjelaskan. Kemudian saya lanjutkan dengan bagaimana dengan bahan dasar kaosnya, mereka menyarankan saya untuk cari sendiri saja di sekitaran kota Denpasar ada beberapa toko grosir yang menjual bahan kaos kiloan kayak jenis combat. Namun untuk pembelian lebih dari ratusan kilo saya disarankan untuk membelinya dari Jawa, atau Bandung karena untuk pembelian bisa dapat lebih murah kalau langsung membeli dari Bandung, misalnya.

Bahan yang bersifat aksesoris lainnya seperti resleting, kancing, dan apalagi motif bordiran harus saya sendiri yang membawa. Khusus untuk bordiran sepertinya untuk tahap awal saya tidak ingin membuatnya. Maunya saya motif biasa aja dulu, maksudnya yang tanpa bordiran agar tidak ribet. Saya ingin yang sederhana dulu seperti misalnya bermain garis, agar tidak berat diawal-awal perjalanan. Kalau nanti respon pasar bagus, barulah saya ingin mengeluarkan corak atau model lain yang lebih njelimet.

Bagaimana dengan ongkos jahit? Ongkos jahit plus benang yang disediakan oleh dia, dibilang olehnya itu nanti saja setelah saya sudah mengumpulkan semua informasi perihal bahan plus tetek bengeknya. Penjelasannya, kalau saya sudah mendapat harga rata-rata per pieces setelah saya belanja bahan kaos, resleting, kancing, dsb. Dari harga rata-rata itu dia akan sebutkan berapa ongkos jahitnya. Ya sudahlah, saya terima saja saran dia itu. Menurut saya peribadi itu ada benarnya juga. Soalnya, rasanya akan lebih susah menggabungkan harga kesemua komponen diluar ongkos jahit itu daripada harga ongkos jahit itu sendiri.

Oiya, poin mendatangi penjahit ini saya catat sebagai kesuksesan besar. Mengapa begitu? Sampai saat ini saya masih agak heran juga, tumben kok bisa-bisanya diri ini bisa sampai ketempat para tukang jahit :) Itu bukan Arif gitcu loh :)

Hehe..Jangan kaget, saya ini tipikal orang yang gak bisa kedubrakan (halah, boso opo iki ???) . Kedubrakan (istilah saya sendiri lho) artinya bekerja kayak para profesional, yang cak cek, bret-bret, cepet selesai, plus disertai acara keluyuran / outdoor. Nah, model bekerja gini yang biasanya tidak saya sukai.

Sekedar contoh, model ‘bekerja’ kayak menyervis sepeda motor itu tidak saya senangi. Contoh lain adalah membetulkan antena TV rusak. Membawa TV dan DVD rusak ke tukang servis agak bisa berfungsi kembali juga ‘bukan gue gitu loh’. Nah, pekerjaan yang kayak gini ini entah mengapa susah sekali menyuruh tangan kaki ini untuk bertindak. Mungkin, kalau saja istri saya bisa nyetir mobil, sudah barang tentu dia akan saya suruh juga untuk servis mobil kami ke bengkel, dan bukan saya lagi..Hehe..alangkah asyiknya ;)

Yah, anyway, back to topic, pokoknya, alon-alon asal kelakon aja deh. Pelan-pelan tapi pasti. Yang jelas, saya berharap sekali sebelum peakseason Lebaran tahun 2009 ini kaos busana muslim produksi saya sudah bisa launching. InsyaAllah..Amin.

Thursday, March 05th, 2009 | Author: Arif Haliman

Salah satu dari sekian banyak enaknya berbisnis busana muslim online adalah, seperti bisnis-bisnis yang bersifat online lainnya, yaitu tidak perlu tempat secara fisik untuk memajang barang dagangan kita sedemikian rupa untuk menarik minat pembeli. Barang dagangan tinggal dipasang saja di halaman-halaman website kita dan pembeli tinggal memilih langsung disana. Tapi bagaimana kalau bisnis busana muslim digarap secara offline?

Well, saya pribadi terus terang kurang atau belum berpengalaman mengenai hal ini. Disamping memang niat sejak awal ingin berjualan busana muslim hanya lewat media internet dan tidak buka toko dipinggir jalan atau dirumah, juga karena sebetulnya saya tidak begitu jago dalam hal bargaining atau tawar menawar dalam hal perdagangan. Jadi bisa kamu bayangkan, model orang kayak saya ini pastilah kurang cocok bila harus membuka sebuah usaha yang memerlukan kegiatan face to face atau bertatap muka langsung dengan pembeli.

Namun bukan berarti karena saya bersama istri berjualan hanya secara online terus tidak ada yang datang secara langsung mendatangi toko kami (eh, rumah kontrakan ding, bukan toko ;) ) di Denpasar Bali. Tidak, tidak seperti itu. Tetap saja ada satu dua orang yang langsung datang kerumah untuk berbelanja. Darimana mereka bisa tahu kami? Karena kami sebelumnya belum perah menyebarkan brosur di Denpasar, dan tidakĀ  pernah memasang iklan dimanapun sebelumnya, maka besar kemungkinan bahwa mereka tahunya langsung dari internet. Dan mereka membenarkan sewaktu saya tanyakan darimana mereka bisa tahu kami. Umumnya para pembeli yang langsung datang kerumah adalah mereka yang tinggal di Denpasar juga. Jadinya gampang saja untuk menemukan tempat kami.

Nah, berawal dari adanya satu dua pembeli yang langsung datang kerumah, kami punya ide bagaimana kalau sekalian mencetak brosur dan dibagi-bagikan disekitar kota Denpasar? Saya yang awalnya kurang begitu berkenan akhirnya jadi juga mewujudkan hal itu soalnya brosur yang bikin bukan saya, tapi istri saya. Jadinya saya tidak perlu repot-repot he he.. ;)

Perlu diketahui bahwa niatan awal saya berjualan busana muslim online ini sangatlah sederhana. Yaitu bagaimana caranya agar istri tetap bekerja, namun tidak perlu kerja diluar, atau ikut orang. Ya akhirnya jadilah website busana muslim ini. Dalam perkembangannya syukur alhamdulillah, kalau diukur dengan tingkat kesibukan dan pendapatan ibu-ibu lainnya yang bekerja diluaran, istri bisa dibilang tidak kalah dengan mereka, bahkan mungkin lebih :)

Kembali ke brosur diatas, ya begitulah, setelah brosur jadi, kita sebar-sebarkanlah brosur sederhana itu kesana kemari. Karena kita gemar berjamaah dimasjid, seringnya kita selipkan brosur itu di kaca depan mobil para jamaah :) Rencananya juga akan kita titipkan di warung-warung langganan kita. Beberapa warung sudah kita ajak omong, ada yang sukses mau, ada yang gatot (gagal total) :) . Kita happy saja melakukannya. Tidak ada target atau paksaan.

Hasilnya bagaimana? Tidak hanya dari segi finansial, namun lebih dari itu adalah silaturahmi yang terjalin diantara kami. Kami jadi banyak bertambah kenalan yang kadang-kadang bikin kaget juga, misalnya ketemunya di halaman masjid, eh ternyata dia rumahnya dibelakang rumah saya. Padahal sebelumnya tidak kenal sama sekali. Dan juga bertemu dengan banyak muslim dan muslimah lainnya dengan latar belakang pekerjaan dan daerah asal. Jadi banyak tahu informasi yang berkembang di kota Denpasar dan kota lain sekitar, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan keislaman. Bahkan ada juga yang datang jauh-jauh dari Baturiti. Tahu Baturiti? Itu adalah daerah sekitar kawasan pariwisata terkenal di Pulau Bali, yaitu Bedugul. Suami istri ini begitu hebat dan bersemangatnya, hingga bisa-bisa seminggu 2 kali datang ke Denpasar untuk mengambil baju ditempat kami. Padahal jarak yang harus ditempuh adalah 1.5 jam perjalanan naik motor. Juga tidak ketinggalan bisa bersilaturahmi dengan para muslimah-muslimah cantik di Telkomsel Denpasar :)

Hemm, berbisnis untuk tujuan menjadi kaya? Think once again..Berbisnis untuk tujuan agar urusan selalu diberi mudah dan lancar olehNya lewat jalur silaturahmi could be another great choice!

Category: Opini, Pribadi  | Tags: , ,  | Leave a Comment
Friday, February 27th, 2009 | Author: Arif Haliman

Wah..wah..Google baru saja bikin saya terkejut. Terkejut tapi dari jenis terkejut yang menyenangkan. Hal ini berkaitan dengan pencairan cek Google Adsense yang makin mudah dan nyaman. Prosesnya secepat kilat (*halah*) dan tanpa ada biaya yang dibebankan kepada kita. Tentunya ini adalah berita yang menggembirakan bagi para Adsenser.

Baru saja beberapa hari yang lalu saya menulis di blog ini bahwa perjuangan para Adsenser makin berat karena biaya mencairkan cek Google Adsense di Citibank naik berlipat-lipat, dan syarat mencairkan lebih ribet karena nama di KTP harus sama persis dengan nama yang tercantum di account Google kita. Namun sejak dikeluarkannya opsi oleh Google bahwa terhitung sejak akhir Januari 2009 kita bisa menerima pembayaran melalui Western Union, segala sesuatunya yang sempat ribet berangsur menjadi normal. Kata orang bule hassle free :)

Hari ini saya telah mencairkan 2 cek Google Adsense secara bersamaan. Kok bisa? Begini ceritanya. Cek kesatu adalah cek yang issued tanggal 24 Desember 2008. Waktu itu masih memakai opsi Standard Check Delivery yang perlu menunggu 1 bulan cek dikirim dari Amerika sono dan sampai dirumah kita, kemudian perlu menunggu selama 1 bulan lagi untuk cek bisa cair setelah kita serahkan di bank (saya biasanya menggunakan jasa Citibank di Denpasar). Jadi saudara-saudara, total waktunya adalah 2 bulan! Weleh-weleh..Dan begitulah, tanggal 23 Februari kemarin mbak dari Citibank nelpon saya kalau ceknya bisa diambil besok di kantor CItibank.

Besok paginya pas saya siap-siap berangkan untuk ambil uangnya di Citibank, disinilah surprise yang saya alami : Ternyata saya sudah dijadwalkan lagi oleh Google untuk menerima cek yang kedua karena pada bulan ini balance saya sudah melewati USD 100, dan dibayarkan melalui Western Union! Wah, saya baru ingat bahwa saya sudah melakukan update tipe pembayaran menggunakan WE beberapa hari setelah ada pengumuman bahwa penerimaan pembayaran bisa melalui WE. Jadinya pas tanggal 24 Februari 2009 (hari ini) sudah melebihi USD 100 lagi, pembayaran itu issued tadi pagi. Setelah mencatar MTCN (Money Transfer Control No.) sebanyak 10 digit, jadilah saya pergi ke kantor pos untuk mengambil uangnya. Hehe..syukur alhamdulillah dapet USD 144.77 atau dapet sekitar Rp 1.690.000 :)

Setelah itu saya meluncur ke Citibank untuk ambil uang cek kesatu. Untuk cek ini nilainya lebih kecil yaitu USD 132.50 atau pas dirupiahkan dapet Rp 1.560.000. Jadinya total hari ini saya dapat Rp 3.250.000.

Menerima pembayaran Google Adsense dengan WE sangatlah praktis. Kita tidak perlu menunggu waktu 2 bulan untuk bisa terima uangnya. Dengan WE seketika itu juga uang Google Adsense bisa langsung kita terima.

Saya sebenarnya tidaklah asing dengan WE. Karena saya juga kerap menerima pembayaran lewat WE oleh para pembeli busana muslim saya terutama dari luar negeri. Hanya kali ini saya terima pembayaran dari Google lewat WE, tetap saja itu kejutan buat saya. Mungkin nanti kalau sudah beberapa kali lagi sudah tidak terkejut lagi :)

Jadi kesimpulannya, ikut Google Adsense sekarang semakin mudah, terutama dalam hal menerima pembayaran. Saya bukanlah Adsenser sejati yang memasang niat sejal awal cari duit lewat situ. Saya bisa menerima uang dari Google Adsense karena saya hanya ’sambil lalu’ memasang Adsense di website-website saya. Tidak serius. Niat saya hanyalah agar robotnya Google (Googlebot) sering-sering mengunjungi website saya karena memang propertinya dia ada diwebsite saya. Perkara nanti orang sengaja atau tidak sengaja melakukan klik di Adsense saya, itu saya anggap hanya bonus. Dan perkara ternyata tiap rata-rata 2 bulan sekali saya terima minimal USD 100 dari Google, itu saya anggap Allah SWT memang selalu sayang saya ;)

Buat apa easy money Rp 3.250.000 ini rencananya? Well, saya baru saja beli Toyota Avanza baru , dan mempermanisnya dengan beragam aksesoris mobil mungkin keputusan yang tepat. Oh, lupa, istri minta dibelikan semacam lemari atau rak pajangan untuk display produk busana muslim kami dirumah. Hem, setelah juga untuk buat bayar pajak tahunan minggu depan untuk mobil yang lama, kayaknya insyaAllah masih cukup uangnya :)

Category: Pribadi  | Tags: , , ,  | 4 Comments
Wednesday, February 25th, 2009 | Author: Arif Haliman

Alhamdulillah bertambah lagi 1 unit mobil Toyota Avanza di garasi rumahku. Siang tadi setelah penantian panjang selama 4 bulan sejak indent Oktober 2008, mobil ini saya ambil di dealer Agung AutoMall Denpasar. Sekarang dengan 2 armada Toyota Avanza milikku sendiri ditambah dengan puluhan mobil sejenis dari supplierku, sepertinya kami akan bertambah siap menghadapi tahun 2009 ini dalam bisnis Bali car rental. Namun untuk momen Lebaran atau tahun baru, dengan memperhatikan pengalaman tahun-tahun sebelumnya dimana jumlah pelanggan teramat sangat banyak, sepertinya jumlah puluhan armada mobil kami masih juga belum mencukupi :)

Anyway, yang menarik dari lika-liku mendapatkan mobil Toyota Avanza baru adalah proses indentnya yang lumayan lama. Seperti yang telah diketahui bahwa mobil Toyota Avanza adalah merek mobil paling fenomenal dilihat terutama dilihat dari segi penjualan. Mungkin ini adalah satu-satunya merek mobil saat ini yang dijual di Indonesia dengan masa indent yang paling lama. Bayangkan: Saya indent mobil ini sejak Oktober 2008, dan baru hari ini saya bisa menerimanya. Sebetulnya saya juga bisa dibilang agak beruntung mendapatkan di bulan Februari 2009 ini, karena kalau tidak dibantu oleh supplier saya, bisa-bisa mobil tersebut baru akan sampai ketangan saya pada bulan April 2009!

Mengapa saya bisa mendapatkan Avanza ini lebih awal dari yang sudah ditentukan yaitu April 2009? Pertama adalah karena sekarang sedang terjadi krisis finansial global. Krisis global ini membawa dampak turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika dan yen Jepang. Akibatnya apa? Jelas bahwa harga suku cadang mobil buatan Jepang ini menjadi melonjak tajam. Kalau harga suku cadang melonjak tajam otomatis harga unit mobil juga ikutan naik. Nah, dalam kondisi harga mobil naik inilah akhirnya banyak para pengindent yang membatalkan untuk membeli mobil. Jadinya antrian saya yang seharusnya April 2009 menjadi naik di sekitaran Maret 2009.

Apakah saya lega? Mestinya iya, namun ternyata belum. Hal ini karena pihak dealer yaitu Agung AutoMall Denpasar sudah membuat pengumuman bahwa semua pengindent yang akan menerima mobil pada bulan Maret 2009 akan mendapat harga baru, yaitu sekitar Rp 152 juta! Walah, piye ini..Lha wong saya pas indent dulu dapat harga tidak mengikat masih berkisar Rp 137 juta.

Akhirnya supplier saya yang memang kebetulan pada bulan Oktober 2008 kemarin membeli mobil sebanyak 11 unit (termasuk mobil saya), meminta semacam dispensasi ke pihak AutoMall bahwa kalau bisa pihak kami, karena beli dalam jumlah banyak, diusahakan untuk mendapatkan mobil di bulan Februari tahun ini. Nah, singkat cerita, syukur alhamdulillah kok ternyata permohonan ini dikabulkan dan voila!, ke sebelas mobil kami dah ditangan bulan ini :)

Dengan harga OTR (on the road) untuk New Avanza Type G Rp 147.700.000, karena beli banyak, kami dapat diskon lagi sehingga per unit hanya bayar Rp 142.200.000 plus bensin gratis full tank!

Yeap, semangat..semangat..! Tahun 2009 ini semoga semakin lancar dan mudah urusan untuk bisnis sewa mobil di Bali. Amin.

eXTReMe Tracker