Tag-Archive for » Bisnis «

Saturday, February 13th, 2010 | Author: Arif Haliman

Dari sekian banyak jenis pekerjaan di masyarakat, berdagang (wiraswasta, atau memiliki usaha sendiri) adalah salah satu profesi yang sangat diapresiasi dalam Islam. Dengan berdagang atau berwiraswasta, insyaAllah diri kita akan menjadi mulia. Tentunya dengan catatan bahwa usaha atau bisnis yang kita jalankan itu bernilai ibadah, mengharap ridho Allah SWT semata. Dengan menjadi seorang pemilik usaha dan bukan karyawan, kita bisa membuka lapangan pekerjaan baru di masyarakat. Hal ini menjadikan kita kuat tidak hanya (insyaAllah) dari sisi ide dan finansial, namun juga kemandirian. Rasulullah sendiri pernah menjadi seorang pedagang di jamannya.

Sebuah hadits shahih berujar, muslim yang kuat lebih disukai daripada muslim yang lemah.

Seorang pemilik usaha akan dituntut untuk terus berinovasi dalam memajukan bisnisnya. Ini menjadikan akal pikirannya akan senantiasa fresh karena terus bermunculan ide-ide baru. Yang menarik, pelaksanaan ide-ide itu bisa diwujudkan sesuka kita, tanpa ada yang merintangi atau membatasi. Jauh daripada itu, kegairahan serta semangat yang meluap-luap itu seringnya akan berhasil diwujudkannya dalam hidup keseharian dalam bentuk aksi dan karya nyata, karena keyakinannya sangat tinggi.

Seseorang yang sedang dirasuki semangat wirausaha yang super tinggi, rasa percaya dirinya sangat besar, serta tahan banting dan cemooh. Apalagi hanya sekedar gunjingan kanan kiri, rasanya yang seperti itu bakalan lewat. Anjing mengonggong kafilah berlalu.

Ada sebuah hadits yang menjadi pelecut semangat bagi seseorang untuk segera beralih dari seorang karyawan menjadi usahawan: 9 dari 10 pintu rejeki adalah berdagang. Coba bayangkan, luar biasa bukan? Walaupun sebagian ulama menganggap kedudukan hadits ini tidak begitu kuat, namun setidaknya pesan moral yang dikandungnya sangatlah tinggi.

Berdagang disini bisa berarti berdagang apa saja. Berdagang barang, jasa, ide, dan sebagainya. Yang jelas, penekanan utamanya adalah kita sendiri yang memegang kelangsungan hidup usaha itu, alias sebagai pemilik (owner). Dengan menjadi pemilik sebuah usaha, maka kita bisa dikatakan telah membantu negara dengan salah satu contohnya membantu membuka lapangan kerja. Kita bisa memperkerjakan mereka dan menggajinya. Bukanlah ini adalah hal mulia? Tangan diatas (memberi gaji) selalu lebih baik daripada tangan dibawah (menerima gaji).

Oleh karena itu, dilihat dari derajat kemuliaan, bisa jadi seorang tukang bakso kemuliaannya lebih tinggi dari seorang menejer perusahaan, misalnya. Apa pasal? Tukang bakso itu bisa menggaji karyawannya tiap bulan (misal, tukang cuci piringnya), sementara menejer itu hanya mampu menerima gaji tiap bulan. Karenanya penting bagi kita untuk senantiasa jangan gede rumongso (GR), bahwa bekerja di sebuah gedung jangkung mewah yang senantias ber air-conditioning sebagai karyawan berdasi. Tetaplah rendah hati dan jangan sombong. Karena bisa jadi, lewat ilustrasi contoh diatas, pedagang asongan di pintu pagar gedung kantor Anda jauh lebih mulia.

Hanya saja, hadits diatas janganlah dianggap sebagai harga mati bahwa berdagang adalah yang terbaik. Ingat, ada hadits ‘pembanding’ Rasulullah yang mengatakan “Kalau sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahli, maka tunggulah kehancurannya.”.

Menjalankan sebuah bisnis (misalnya baju muslim, sewa mobil di Bali atau usaha mandi bola) memerlukan keahlian tersendiri. Memerlukan kesabaran, kompetensi serta keberanian dalam menanggung resiko.

Seorang karyawan yang kurang sabar dalam memupuk kekayaan materi, tidak bisa dipaksa untuk menjadi pengusaha yang ulet. Pikirannya biasanya sangat cetek (dangkal) : jadi karyawan saja biar akhir bulan nanti langsung dapat gaji. Seorang pengusaha tidak bisa berpikir seperti itu. Pikiran seorang pengusaha jauh melampaui hitungan hari atau bulan. Hitungannya sudah tahunan, dan kadang malah tidak berujung. Raksasa rokok Sampoerna misalnya, boleh jadi pendirinya sudah meninggal dunia, tapi penerusnya tetap berhasil menjaga pemikiran empunya sehingga usahanya masih terus bercokol hingga sekarang.

Demikian juga mengenai kompetensi. Tidak semua orang bisa segera menjadi ahli, misalnya, dalam hal menawarkan sesuatu. Jika perdagangan identik dengan menawarkan sesuatu (offering), seorang yang berlatar belakang pekerjaan di belakang meja (akuntan, kasir, teller, dsb) kadangkala sangat sulit disuruh menawarkan sebuah produk. Jangan memaksa seseorang untuk menangani sebuah urusan, kalau dia sekiranya memang tidak atau belum ahli menanganinya.

Keberanian? Menjadi usahawan sudah pasti butuh keberanian. Keberanian menanggung rugi, menjadi melarat, dimaki orang, diremehkan dan dicemooh orang, adalah bagian dari resiko keseharian seorang pemilik usaha. Di Indonesia masih banyak warganya yang penakut. Dengan indikasi sangat sedikit yang berprofesi sebagai usahawan dan cukup merasa nyaman menjadi karyawan.

Oleh karena itu, kita harus bijaksana. Menjadi usahawan bukanlah keharusan. Menjadi usahawan adalah pilihan. Namun, ini adalah sebuah pilihan yang memang betul-betul sangat dianjurkan untuk dipilih. Sebuah pilihan yang insyaAllah apabila kita kuat mewujudkannya, maka kemuliaan jauh lebih tinggi yang akan kita raih.

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Bisnis, Islam, Opini  | Tags:  | Leave a Comment
Sunday, December 14th, 2008 | Author: Arif Haliman

Majalah SwaSembada edisi 4-17 Desember 2008 mengangkat tema mengenai sepak terjang para pemasar handal (Marketer 2.0) di Indonesia dan sesekali mengambil subyek person maupun cerita dari luar negeri. Mengapa diberi embel-embel 2.0 ? Hal ini untuk semakin menegaskan bahwa era baru sekarang ini berikut tantangannya harus dihadapi dengan lebih kreatif oleh para marketer.

Seperti yang diketahui, era 2.0 di dunia web telah hadir yang ditandai dengan semakin interaktifnya sebuah website dengan adanya partisipasi dua arah antara pemilik/pengelola website dengan pengunjungnya. Fenomena blog dan komunitas sosial seperti Facebook dan Friendster telah merevolusi dunia web setelah masa satu arah web 1.0.

Nah, dengan menambahkan tema 2.0, Swa semakin memberi penegasan bahwa saat ini marketer perlu lebih menitikberatkan jaring pemasarannya dengan lebih semakin dekat dan aktif dalam menjaring konsumen sambil terus membangun komunitas yang loyal baik offline maupun online.

Saya sungguh tertarik dengan bahasannya. Kamu tentu sudah maklum, tidak bisa dipungkiri bahwa dunia internet sudah semakin semarak dengan hadirnya komunitas-komunitas yang didalamnya bisa saling mempengaruhi satu sama lain. Katakanlah ada sebuah anggota komunitas yang bercerita mengenai pengalaman buruknya dengan produk tertentu, dan kemudian dia memberitahukan itu ke komunitasnya, hampir bisa dipastikan disitu akan ramai orang membicarakan kejelekan produk tersebut. Memang tentu saja akan ada yang tidak setuju, namun tetap saja berita itu sudah menyebar, terlepas benar atau tidak. Ingat, pengguna internet terus semakin tumbuh. Dan kalau kejelekan sebuah produk akan terekspose disana, alamat produk itu akan ditanggapi miring oleh masyarakat (online).

Disinilah pentingnya para pemasar untuk tidak melulu menggarap pasar tradisional (offline). Menggarap pasar online sat sekarang ini sudah merupakan keharusan. Kebutuhan beriklan di media online sudah mendesak. Topik bahasan majalah ini juga menyebutkan beberapa profile Marketer 2.0 yang salah satunya adalah bergabung secara intens dengan komunitas media online dan punya jaringan global. Gunanya apa? Untuk menyebarkan kebaikan produknya, dan atau menangkal berita miring yang menerpa produknya.

Selain membahas mengenai dunia para Marketer, edisi ini juga membahas dan memberi informasi mengenai tren dan peluang usaha yang bisa dilirik, khususnya memasuki tahun baru 2009.

Sedangkan saya, apa usaha yang saya lirik? Sepertinya saya akan tetap fokus di bisnis sewa mobil di Bali sambil mem-forecasting prospek usaha rental mobil tahun 2009. Busana muslim? Pasti insyaAllah juga tetap fokus. Bahkan English version untuk penjualan busana muslim online yang membidik pasar luar negeri sudah siap. Silakan tengok di Muslim Clothes.

Selamat berbisnis!

Category: Bisnis  | Tags:  | Leave a Comment
Thursday, November 27th, 2008 | Author: Arif Haliman

Hari ini kiriman kaos muslimah SIK Clothing datang lagi. Kali ini ‘hanya’ berjumlah 150 pieces dengan berbagai macam model dan ukuran. Ya, pasca Lebaran orang-orang biasanya berbelanja busana muslim yang bersifat kasual alias berbahan kaos namun tetap syar’i. Lain halnya untuk acara Lebaran biasanya para wanita berbelanja busana muslim yang lebih bersifat resmi seperti merek Toyusin atau Manet.

Kaos muslimah SIK Clothing nampaknya masih terdepan dalam urusan penjualan online di bisnis busana muslim saya. Ada merek lain yang juga berbahan kaos yaitu Qirani namun masih belum bisa mengejar SIK dalam hal angka penjualan. Entah apa karena Qirani lebih mahal atau kurang populer dibandingkan SIK, namun yang jelas sebetulnya Qirani juga sangat nyaman dan enak dipakai, begitu kata istri saya. Kalau SIK Clothing sendiri nampaknya dilihat dari segi model disain lebih unggul dan variatif.

Anyway, berbisnis busana muslim secara online di Indonesia sangat menarik. Kamu sekalian mesti mencoba berbisnis busana muslim ini. Secara nasional, perputaran uangnya sangat tinggi mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Apalagi momen-momen menjelang Lebaran, tingkat perputaran uangnya akan jauh lebih tinggi.

Dijaman yang semakin religius ini kebutuhan akan busana muslimah yang syar’i sekaligus trendi apakah itu baju gamis atau blus insyaAllah semakin meningkat. Kalau jaman dulu berbusana muslim masih tampak ndeso dan peminatnya sedikit, jaman sekarang adalah kebalikannya: sangat trendy dan profesional serta cenderung meningkat jumlah pemakainya. Dengan berkeyakinan bahwa berbusana muslim adalah kewajiban dan bukan sekedar simbol, maka sudah sewajarnya kita turut mempopulerkan pemakaian busana muslim.

Di pulau Bali sendiri banyak pendatang dari luar Bali yang notabene muslim. Mereka yang berdomisili disekitar kota Denpasar biasanya langsung datang kerumah dan memilih beberapa potong baju. Saat ini bisnis busana muslim online saya ini sudah melayani pembelian dari seluruh Indonesia dan beberapa negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura dan Brunie. Amerika dan Belgia juga sudah pernah kami layani.

Jadi melihat potensi penjualan busana muslim begitu besar, kenapa tidak kamu coba sekarang ?

Category: Bali, Bisnis  | Tags: ,  | 6 Comments
eXTReMe Tracker