Tag-Archive for » Bali «

Monday, February 15th, 2010 | Author: Arif Haliman

Well, pada akhirnya saya harus realistis. Realistis bahwa sebuah keinginan besar saya harus dipendam dulu. Keinginan atau cita-cita yang menurut saya sangat bombastis itu harus di reset. Keinginan yang tidak kebanyakan orang bisa gampang mewujudkannya itu, harus saya masukkan kotak dulu. Disimpan rapat, dan kuncinya - kalau perlu - harus orang lain yang menyimpannya tanpa saya tahu dimana disembunyikan. Ini demi agar saya tidak tergoda untuk kembali memikirkan keinginan itu, dan tetap fokus dengan keadaan sekarang.

Keinginan besar itu adalah: Bisa bekerja remotely full time di Jawa, tapi bisnis tetap berada di Bali. Apakah itu mungkin? 100 % mungkin! Yang membuatnya mungkin adalah karena bisnis saya murni 100% berbasis online. Salah satu keunikan dari usaha berbasis online adalah, biasanya masalah tempat dan waktu bisa diabaikan. Kita bisa melakukan kegiatan bisnis dimana dan kapan saja. Asalkan koneksi internet tetap tersambung, uang insyaAllah tetap bisa mengalir masuk :)

Pernah, Lebaran tahun 2007 kemarin, saya sampai 1 bulan pulang kampung meninggalkan Bali, dan bermukim (baca: menumpang di rumah ortu dan mertua) di Mojokerto, Jawa Timur. Pertanyaannya, apakah dalam 1 bulan itu saya tidak bekerja? Salah. Saya tetap bisa bekerja, dan tetap bisa menghasilkan uang. Layaknya usaha berbasis online lainnya, usaha car rental Bali saya tidaklah perlu ditunggui sehari semalam seperti toko di pinggir jalan. Usaha jenis online hanya mengandalkan komunikasi lewat email, chat dan henpon. Asalkan kita tetap bisa online dan ada sinyal telpon, bisnis tetap jalan. Jadi, untuk hal ini tidak menjadi masalah.

Bagaimana dengan usaha penjualan busana muslim saya? Terus terang, untuk yang ini ada beberapa kendala, tidak melulu mudah dikerjakan secara remote, salah satu contoh kendalanya adalah terbentur masalah lokasi. Seperti diketahui, beberapa produsen baju muslim tertentu, seperti SIK Clothing, mensyaratkan ketentuan proteksi wilayah. Sehingga mau tidak mau, istri saya sebagai distributor wilayah Bali, harus tetap berdomisili di Bali, kalau tidak ingin keanggotaan kita dicabut.

Terakhir, yang paling menyurutkan langkah saya untuk membesut cita-cita itu adalah, adanya usaha mandi bola yang baru saja saya dirikan. Ini adalah mainan saya terbaru. Review singkatnya bisa dilihat disini. Nih usaha betul-betul 100% offline, yang sebagaimana kebanyakan bisnis offline lainnya, masalah tempat dan waktu adalah hal utama. Artinya, usaha ini menuntut kehadiran fisik saya. Setidaknya, insyaAllah sampai setidaknya usaha ini sudah bisa berjalan stabil, seiring bergulirnya waktu.

Omong-omong, darimana saya bisa mendapatkan ide untuk mewujudkan cara hidup seperti yang saya inginkan itu? Inspirasi utamanya datang dari mantan bos saya. Saya dulu sempat bekerja di sebuah perusahaan semacam web hosting di Kuta. Itu berkisar antara tahun 2003-2007 (4 tahun). Pemilik bisnis ini adalah seorang bule dari Selandia Baru. Saya sangat akrab dengan bos saya ini. Untuk segala urusan mengenai aktivitas seluruh website perusahaan dan klien, hampir semuanya diserahkan kesaya. Termasuk juga apabila ada pertemuan (meeting) dengan klien yang hampir rata-rata semuanya juga bule, saya pasti ikut terlibat didalamnya.

Nah, bos saya ini punya kehidupan lumayan unik. Seringnya dia tinggal di 4 negara, yaitu Jepang, USA (Hawaii), Australia dan Indonesia (Bali). Ini tak lepas dari jabatannya sebagai Managing Director di sebuah perusahaan telekomunikasi internasional asal Amerika. Jabatan Managing Director ini semacam ketuanya para Manager. Jadi semua manager harus melapor kepadanya. Dan itu yang membuatnya harus sering-sering keliling dunia untuk memantau semuanya. Dari semua bule yang pernah saya hadapi, saya harus akui, bule ini adalah bule terbaik yang saya kenal.

Di Bali, secara pribadi dia sekalian mendirikan perusahaan web hosting yang didalamnya saya sebagai IT Programmernya. Diluar negeri sana pula, kabarnya dia juga punya bisnis ‘kecil-kecilan’ lainnya. Selama 4 tahun itu pula saya amati, nih orang kok bisa-bisanya hidup keliling dunia tapi perusahaannya bisa tetap bisa berjalan di Bali, tanpa adanya pengawasan secara fisik oleh pemiliknya. Bisnis jalan, pemiliknya juga bisa jalan-jalan. Luar biasa, bukan? Dan ajaibnya, sekarang pun, setelah 3 tahun saya telah hengkang dari sana untuk menjalankan bisnis sendiri, tuh perusahaan masih juga berjalan, dan sekarang malah sudah berlari, artinya semakin maju.

Dari pengalaman inilah saya berkesimpulan secara sederhana, pemilik usaha (seorang bule) yang berada diluar Indonesia saja masih bisa menjalankan bisnisnya yang berada di Bali, apalagi kalau pemiliknya asli orang Indonesia kayak saya, dan berada di pulau Jawa! Semestinya lebih gampang lagi!!

Untuk menggambarkan memang mudah, untuk mencapai Bali, hanya diperlukan 30 menit penerbangan dari Surabaya.

Namun, saya sadar sekali, walaupun keinginan saya tersebut harus tertunda dulu, saya yakin ini adalah bagian dari skenarion yang Diatas. Saya hanya harus bisa menyukurinya dan menjalaninya dengan fokus penuh. Apapun yang terjadi, semuanya wajib disyukuri. Bisa jadi saya memang belum siap untuk itu. Pasti ada hikmah yang diberikan kepada saya.

Mundur dulu selangkah, untuk kemudian melompat lebih jauh. Atau malah, saya sudah maju selangkah lagi, untuk kemudian melompat lebih jauh lagi?? Amin!

Category: Pribadi  | Tags:  | Leave a Comment
Friday, January 22nd, 2010 | Author: Arif Haliman

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya keinginan itu terwujud juga, alhamdulillah. Saya malah masih kadang menganggapnya sebagai sebuah keajaiban. Hal ini berkaitan dengan keinginan saya sejak dulu yang ingin menjadi produsen busana muslim dan meningkatkan ’status’ dari tidak hanya berprofesi sebagai penjual busana muslim, namun bisa juga menjadi produsennya. Produsen busana muslim adalah orang yang memproduksi sendiri baju muslim tersebut. Dan, dari sekian banyak produsen dengan membawa merek busana muslim mereka sendiri dari seluruh pelosok nusantara ini, saya adalah salah satunya :)

Merek busana muslim produksi saya adalah Sunrise. Bisa juga disebut Sunrise Bali. Sengaja saya tidak menamakannya dengan kebanyakan nama-nama merek baju yang bernuansa Islam, seperti (mungkin) Raffa, Marwah, Majidah, dll. Saya menginginkan sebuah nama yang out of the box dari semua itu. Sebuah nama yang ringan, sangat familiar dan berkesan sangat disukai orang. Top of that, nama ini haruslah bernuansa Pulau Dewata Bali, karena domisili saya ada di Bali. Jadilah kemudian, Sunrise, nama yang kemudian saya ambil. Sunrise adalah gamis berbahan kaos Combed. Harapan saya adalah bahwa merek yang saya usung ini akan membawa keberkahan dan kesuksesan, dengan keunggulan utama kenyamanan. Setidaknya, ini sudah mewujudkan mimpi saya yang sejak dulu memang ingin sekali menjadi produsen busana muslim ;)

Singkat cerita, setelah semua proses dilalui, dan hasil akhirnya adalah berwujud sebuah baju muslim, langkah berikutnya adalah memasarkannya. Bagaimana saya memasarkannya? Tepat! Tentu saja saya memajangnya di website busana muslim milik saya. Penasaran dengan website saya yang menjual berbagai macam baju muslim ini? Silakan diintip di http://www.muslimbusana.com ya?

Saya, alhamdulillah, yakin sekali bahwa kalau memajang Sunrise di situs ini, pasti akan laku. Parameternya sederhana: Situs ini dikunjungi orang rata-rata 600 kunjungan perhari. Untuk sebuah situs yang khusus menjual busana muslim, ini adalah sebuah jumlah kunjungan yang jauh diatas lumayan, alias tinggi. Dengan rata-rata belasan order perhari (baik itu lewat email, chatting, sms ataupun telpon), untuk tahap awal ini, saya sudah cukup puas (alhamdulillah) untuk bisa mengambil pasar ceruk (niche) di website http://www.muslimbusana.com ini.

Hasil awal dari strategi mengambil pasar ceruk ini cukup berhasil. Terbukti dari 2 model perdana yang saya luncurkan, hanya dalam waktu 1 minggu kedua baju ini langsung terbeli. Saya sangat mensyukurinya. Ini bisa menambah kepercayaan diri saya dan tim. Ternyata, dibalik ‘gemerlapnya’ merek-merek populer yang sudah bersinar duluan (seperti SIK Clothing, Qirani, Shabrina), Sunrise masih bisa mencuri perhatian para pengunjung website kami.

Dengan menerapkan konsep ini, saya baru saja ngeh dan baru begitu mantap mengerti, mengapa para hypermarket kayak (dulu) Alfa atau Carrefour, diantara tumpukan produk yang mereka jual, terselip juga produk mereka sendiri. Maksudnya, produk itu bermerek Alfa, atau Carrefour. Seperti misalnya kapas putih. Bukanlah di Carrefour kita bisa menemukan sebuah produk kapas putih diantara produk-produk sejenis dengan merek lain? Dengan memproduksi dan menjual sendiri kapas putih itu, keuntungan mereka pastilah jauh lebih tinggi daripada keuntungan yang bisa diambil dari menjual kapas putih merek lain. Hal ini tentunya juga bisa diterapkan untuk produk yang lain, selain kapas putih.

Dan, sekali lagi untuk tahap awal, sepertinya saya akan menjalankan strategi ini terlebih dahulu. Bermain di ceruk, dengan berharap produksi berjalan kontinu, walaupun dengan kuantiti yang tidak (belum) tinggi. Dengan adanya program Sale & Gratisan Setiap Hari, saya tidak segan-segan memajang Sunrise di bagian ini. Bagi saya, menambah kepercayaan diri sangatlah penting, walaupun harus dengan memangkas harga. Namun, tentunya keuntungan masih tetap ada. Pikir-pikir, memang dari ke 4 perpaduan pemasaran yang ada yaitu Product, Place, Price, Promotion, setidaknya dalam kasus saya, price atau harga adalah yang paling enak dipermainkan. Gimana pokoknya segera laku hehe :)

Okay, semoga masih tetap terus semangat mengembangkan Sunrise. Kedepan, saya insyaAllah akan bertambah sibuk. Apa pasal? Ehm, saya berancang-ancang untuk mencoba peruntungan di dunia offline. Yeap, tidak lagi hanya berbisnis online yang mengandalkan website dan internet sebagai placenya, tapi juga bisnis konvensional yang mengandalkan pasar senggol. Nah!

Thursday, December 03rd, 2009 | Author: Arif Haliman

Sudah kurang lebih 3 bulan ini saya memiliki mainan baru: Yup, GPS (Global Positioning System). Sistem pemetaan secara global ini saya beli sebagai value added (nilai tambah) layanan sewa mobil di Bali via website milik saya. Sebagai value added, ditilik dari sisi ROI atau return of investment, ternyata fungsinya sudah melebihi itu. Peta digital ini sepertinya malah bisa digunakan sebagai bisnis sampingan :)

Sebenarnya, sudah sekitar awal tahun ini saya sangat tertarik dan berkeinginan untuk membeli barang ajaib ini. Pasalnya, beberapa email yang masuk untuk booking rencal car di Bali melalui website saya, beberapa diantaranya mananyakan apakah kami bisa juga menyediakan layanan unit GPS. Karena tidak memilikinya, waktu itu saya selalu beralasan dengan asal menjawab: Acually, the best GPS is the locals you meet on the street hehe..

Kedengaran seperti jawaban ngeles dari ketidakmampuan menjawab yang sesungguhnya. Namun bisa juga benar karena jurus itulah yang selalu saya pakai kalau berada di sebuah tempat yang saya sama sekali gak ngerti dimana. Terlepas dari itu, saban kali ada calon penyewa yang menanyakannya, jawaban seperti itulah yang selalu saya berikan. Beberapa tamu mengamininya, namun lebih dari itu kemudian malah tidak membalas sama sekali email saya, menguap entah kamana. Akhirnya, sambil senantiasa berdoa kepada Yang Kuasa agar diberi kelonggaran modal dan terutama alokasi waktu, akhirnya sejak 3 bulan terakhir ini saya bisa juga memilikinya hehe :)

Sampai dengan saat ini, saya sudah memiliki 2 unit GPS yang keduanya saya rentalkan bersamaan dengan mobil sewaan saya. Saya membelinya dengan harga per unit Rp 2.050.000. Namun, untuk pembelian berikutnya, saya mendapatkan potongan harga menjadi Rp 1.800.000 karena penjualnya sedang promosi. Kalau kamu berminat membeli unit GPS secara online, saya sarankan untuk membelinya di PusatGPS.com . Layanannya ok, cepat serta tanggap terhadap keinginan konsumen. Base camp mereka ada di kota Malang Jawa Timur, namun di Bali sini sepertinya juga ada cabang mereka.

Setahu saja sampai saat ini, mereka menjual berbagai unit GPS dengan harga yang relatif paling murah. Dengan 4 buah software atau perangkat lunak yang sudah terinstal di masing-masing unit, GPS ini sudah melebihi dari yang diharapkan. Ke 4 perangkat lunak tersebut adalah Garmin, iGo, MioMap dan Amigo.

Membawa benda ini selamat berkendara (mobil) memberi sensasi tersendiri. Kita akan disuguhi informasi yang sangat akurat mengenai contohnya, berapa meter / kilometer lagi harus belok kanan, di belokan mana kita harus berputar, berapa lama perkiraan kita akan tiba di tempat tujuan, dsb. Tidak kurang informasi seperti berapa meter / kilometer lagi pompa bensin berada, atau tempat makan, rumah sakit serta tempat menarik lain akan terpampang dilayar monitor. Bagi yang suka kencing selama berkendara jauh, seperti perjalanan antar kota atau pulau, mengetahui dimana posisi-posisi pompa bensin secara tepat yang selalu menawarkan toilet gratis dijamin akan membantu sekali ;)

Pokoknya dengan membawa benda ini, dijamin kita akan sampai ditempat tujuan, walaupun bahkan kita belum pernah sekalipun mengunjungi tempat itu, atau belum pernah berkendara di kota / tempat itu. Tidak perlu kuatir tersesat. Peta jalan terhampar dengan jelas di layar monitor dan bersifat dinamis. Peta kertas mah bisanya diem aja. Kalaupun misalnya kita salah arah (mungkin grogi harusnya belok di tikungan pertama, tapi kita malah lurus saja), gambar peta akan di re-calculated atau dipetakan ulang secara otomatis. Itulah makanya, para turis di Bali, terutama yang menyewa mobil dan menyetir sendiri lewat Bali car rental website saya, GPS ini menjadi favorit mereka.

Seringnya saya dengar komentar mereka mengenai GPS adalah: It makes your life easier..

Thursday, November 26th, 2009 | Author: Arif Haliman

Iseng buka-buka Yahoo UK & Ireland, saya menemukan sebuah artikel yang berjudul 10 cheap country to visit now yang membahas mengenai kamana sebaiknya para calon pelancong negara Inggris dan juga negara Eropa lainnya saat ini. Penyaranan tempat melancong (holiday destination) ini lebih didasarkan kepada negara-negara tempat tujuan wisata yang berharga murah. Tapi tentu saja tidak sekedar murah, namun tetap memberikan pengalaman berlibur yang menyenangkan mengingat bagaimanapun juga tempat wisata dinegara-negara tersebut tidaklah ‘murahan’.

Kenapa kok negara-negara tersebut masuk kategori murah? Tidak lain tidak bukan karena saat ini menurut situs Yahoo! UK Travel, mata uang negara-negara tersebut sedang mengalami penurunan nilai terhadap Euro ataupun Dolar. Ditengah masih berlangsungnya krisis global dimana Amerika paling parah dalam menanggungnya dan Eropa yang masih perkasa menghadapinya, jelas masuk akal kalau para pemilik euro dan dolar bisa plesir berwisata ke suatu negara yang mata uangnya masih jatuh secara jauh lebih murah.

Ke 10 negara murah yang disarankan untuk dikunjungi itu pertama adalah Meksiko dengan Cancun-nya yang sangat menawan. Penerbangan ke Meksiko sekarang ini sedang sangat murahnya. Alhasil, kesempatan bagi warga Eropa untuk berwisata menikmati pemandangan pantai yang eksotis dan olahraga air kelas dunia menjadi terbuka lebar.

Negara ke 2 adalah Islandia. Kebekuan finansial secara berkala disana menyebabkan ekonomi sulit. Karenanya, berwisata di air panas alami dan baluran pemandangan lava disana akan sangat menarik karena segalanya murah. Negara ke 3 adalah Turki. Negeri mayoritas Muslim yang masih berusaha terus bergabung dengan Uni Eropa ini tergolong lebih murah dibanding negara Eropa lainnya. Tapi itu diprediksi tidak berlangsung lama karena pesatnya pembangunan disana. Istambul menawarkan berbagai keeksotisan dunia bagi para pengunjungnya.

Afrika Selatan adalah negara ke 4. Depresiasi mata uang Rand terhadap British Sterling membuka kesempatan buat para pelancong pergi kesana. Kruger National Park adalah andalannya diantara berbagai wisata alam lainnya. Meskipun penerbangan masih tergolong mahal, namun akomodasi termasuk hotel dan villa sedang murah-murahnya. Negara ke 5 yaitu Bulgaria. Persiapan mata uangnya yang akan bergabung dengan zona Eropa membuatnya segera membuat mahal harga-harga lainnya. Sebelum masa itu datang (tahun 2012), Bulgaria yang termasuk kategori murah sekarang, sebaiknya secepatnya untuk dikunjungi untuk menikmati wisata pegunungan yang maha tinggi menembus langit.

Berikutnya, atau negara ke 6 adalah Mesir. Sudah tidak perlu dijelaskan lagi betapa indahnya negeri Mesir ini. Pantai-pantai berpasir putih dan tempat-tempat peninggalan sejarah adalah andalannya. Jangan lupakan juga tentang olahraga air seperti scuba diving atau snorkelling disana. Tunisia menjadi negara ke 7 dengan harga akomodasi dan makanan yang sangat murah sehingga menarik untuk dikunjungi. Disana banyak menawarkan pemandangan matahari terbit dan tenggelam yang spektakuler. Juga layanan spa yang memanjakan, dsb.

Yang ke ke 8 adalah Kroasia. Banyak menawarkan hotel skala tingi yang berharga murah untuk ditinggali. Disarankan untuk berkunjung di sekitaran April - Mei, atau September - Oktober. Negara ke 9 adalah Thailand. Yup, kita tahu dari berbagai berita bahwa sedang terjadi gejolak yang kontinu disana. Politik yang tidak stabil menyebabkan ekonomi tersendat sehingga menyebabkan nilai mata uang Baht turun. Thailand banyak menawarkan wisata seperti halnya Bali dengan keindahan alam dan budaya unik masyarakatnya. Namun dari semua hal yang ada, Bangkok dan Pattaya adalah dua tempat yang harus dikunjungi.

Bagaimana dengan negara ke 10? Tidak ada. Warga Eropa hanya disarankan untuk membuka mata lebar-lebar lewat berbagai informasi yang ada, siapa tahu ada tempat atau negara lain yang murah untuk dikunjungi.

Menyikapi artikel Yahoo ini, saya hanya berkomentar, syukur Alhamdulilah Indonesia, termasuk Bali didalamnya, tidak masuk negara atau tempat tujuan wisata yang murah. Bukannya apa-apa, ini menunjukkan bahwa Bali masih berkelas. Bali masih menunjukkan kelasnya sebagai tempat wisata yang tidak murahan. Dampak dari ini adalah, saya dan para pelaku pariwisata di Bali pada khususnya, bisa dibilang kesejahteraan hidupnya berpeluang tetap terjaga. Karena kita masih bisa menjual produk-produk wisata kita dengan harga tinggi, yang artinya pendapatan atau income kita juga akan tetap tinggi. Situs Bali car rental saya yang sempat menurun di masa low season Oktober-November sekarang ini, alhamdulillah sudah mulai bergairah kembali menyambut peak season Desember.

Fokus kita tentang pariwisata Bali seharusnya adalah: Dengan tetap mempertahankan kelasnya yang bernilai lebih ini. Tidak murahan yang berakibat murahan, dan tidak mahalan yang berakibat dijauhi turis.

Category: Opini  | Tags: ,  | Leave a Comment
Monday, November 23rd, 2009 | Author: Arif Haliman

Hari Rabu minggu kemarin, tepatnya tanggal 18 November, diadakan sebuah acara dengan mengambil judul Bincang Bisnis dan Silaturahim Pengusaha Muslim Bali. Dalam acara ini saya ikut ambil bagian sebagai peserta yang duduk manis mendengarkan para narasumber berbicara membagi ilmu bisnis yang dilandasi dengan semangat spiritualitas keislaman yang kental. Dengan mengambil tempat di rumah makan de Surau Bali di Jl. Mahendradatta Denpasar, acara yang terbilang langka ini menurut saya patut diacungi jempol.

Memang bobot materi yang disampaikan dalam acara gratis tanpa tiket masuk ini tidaklah segegap-gempita acara seminar Andri Wongso di Bali yang juga saya ikuti akhir tahun kemarin, namun sekali lagi saya tetap menyebutnya langka. Yang membuatnya langka adalah bahwa acara ini bertemakan bisnis dengan seluruh peserta pengusaha muslim di Bali. Seminar bertema bisnis adalah sudah biasa. Hal mengenai pengusaha juga sudah jamak. Tapi acara kumpul-kumpul antar pengusaha muslim di Bali dimana umat muslim adalah minoritas disini? Ini baru luar biasa!

Begitulah, tak kenal maka tak sayang. Akhirnya saya bisa bertatap muka dengan pemilik salah satu website populer di bidang properti House of Bali. Beliau adalah Pak Zaenal Sania. Saudagar dari Sulawesi ini sudah lama malang melintang di Pulau Dewata dengan berbagai bisnis yang dijalankannya. Dari berbagai macam bidang usahanya, yang paling membuatnya ‘jadi orang’ menurut saya adalah bidang properti ini. Dalam acara ini Pak Zainal bertindak sebagai narasumber. Dengan moderator Pak Alim Mahdi Direktur DSM Bali (Dompet Sosial Madani Bali), acara bincang dan silaturahim pengusaha muslim Bali ini berlangsung gayeng. Apalagi ditambah dengan acara peluncuran produk terbaru Telkomsel yaitu T-Cash.

Pak Zainal banyak berbagi cerita mengenai bagaimana memulai usaha dan menjaganya supaya tetap survive. Menurut beliau, tidak hanya dari sisi teknis penguasaan bidang bisnis yang wajib kita kuasai, namun juga dari sisi non-teknis seperti restu dan dukungan mutlak 2 wanita. Siapa mereka? Mereka adalah ibu dan istri kita.

Selain itu adalah pentingnya untuk berkomunitas. Dalam menjalankan bisnis, apabila kita seorang diri dalam menjalankannya, maka otomatis yang berdoa agar bisnis kita lancar dan penuh barokah adalah diri kita sendiri dan keluarga kita. Namun bagaimana kalau bisnis ini dijalankan secara bersama-sama dalam sebuah komunitas? Maka tentu saja yang berdoa adalah semua anggota komunitas bisnis tersebut, berikut anggota keluarga mereka. Dengan demikian, keberhasilan bisnis kita akan lebih nyata.

Saya juga jadi tahu para peserta yang berlatar belakang pengusaha ini dengan bidang usaha mereka. Dimulai dari garmen, textile, hardware komputer sampai distro busana muslim. Rata-rata mereka kayaknya sudah kelas kakap, seperti pak Ekky Cules dari Kencana Tekstil Bali. Untuk yang dari kelas ecek-ecek kayak saya sepertinya juga ada banyak.

Tapi terlepas dari kelas kakap ataupun kelas ecek-ecek, yang terpenting bagi saya waktu itu (dan saya yakin juga bagi kebanyakan peserta) adalah silaturahim dan partisipasi dalam sebuah acara yang terbilang langka tersebut di Bali.

Category: Pribadi, Umum  | Tags: ,  | Leave a Comment
Wednesday, November 11th, 2009 | Author: Arif Haliman
Mejeng dulu sebelum turun ke lokasi air terjun

Gitgit Waterfal Bali. Dalam bahasa Indonesia artinya Air Terjun Gitgit Bali. Sesuai namanya, ini adalah sebuah tempat wisata yang mengandalkan air terjun sebagai obyek utamanya. Air terjun ini berlokasi di desa Gitgit, sekitar 2 jam perjalanan mobil dari kota Denpasar. Gitgit sudah masuk wilayah Singaraja, kurang lebih hanya sekitar 15 menit perjalanan mobil menuju pusat kota Singaraja. Kalau kamu berwisata ke Pulau Bali, pastikan tempat ini menjadi salah satu obyek wisata yang akan kamu kunjungi.

Saya merekomendasikan kamu untuk mengunjunginya, karena saya baru saja mengunjungi tempat wisata air terjun Gitgit ini hari minggu, 3 hari yang lalu. Sebetulnya, sudah agak lama saya bersama istri mencari waktu yang tepat di hari libur minggu untuk bisa berwisata ke tempat ini. Namun ada saja halangan. Mulai pingin males-malesan saja dirumah hari minggu, ada acara undangan teman, atau (seringnya) pas mobil sedang tidak ada dirumah, alias sedang dipinjam oleh tamu saya.

Penasaran saja, 8 tahun sudah bermukim di Bali namun belum satupun melihat yang namanya air terjun di Bali :) Jadinya, alhamdulillah hari minggu kemarin kita berkesempatan untuk mengunjunginya. Bagi kamu yang sering ke tempat wisata Bedugul yang terkenal cantik itu, kamu tinggal 30 menit saja perjalanan untuk sampai di Gitgit. Secara garis besar, karena saya tinggal di Denpasar, rute yang saya ambil untuk menuju Gitgit adalah Denpasar - Tabanan - Baturiti (Bedugul) - Gitgit. Total perjalanan adalah 2 jam pakai mobil.

Foto sambil basah kuyup kena cipratan air tejun..

Foto sambil basah kuyup kena cipratan air terjun..

Selepas dari Bedugul, kamu akan melewati kawasan hutan selama kurang lebih 30 menit itu. Hutan ini sudah masuk di wilayah kota Singaraja. Salah satu keasyikan melintasi hutan ini adalah, kita disuguhi pemandangan danau (sori gak tahu namanya) yang terbentang di bawah sono. Indah sekali. Apalagi kalau pas suasana agak mendung, siluetnya itu lho yang bikin kesengsem.

Satu lagi keasyikan adalah mengamati kawanan monyet yang berdiri disepanjang pinggir jalan. Kalau kamu bermobil dengan anak kecil, dijamin dia akan senang sekali karena mungkin terheran-heran kok bisa-bisanya monyet-monyet itu mejeng di pinggir jalan. Begitu juga dengan anak saya Tika, dia gak henti-hentinya tertawa dan kegirangan demi melihat kawanan monyet itu. Kalau ingin lebih asyik lagi, kita bisa berhenti dan mendekati para monyet itu. Sepertinya mereka jinak-jinak saja, karena saya melihat banyak juga turis (terutama bule) yang sibuk potret sana potret sini kawanan monyet ini dari jarak dekat.

Tapi khusus buat supir, jangan terlalu keasyikan ya. Tepat konsentrasi dengan setir, karena ingat, ini adalah kawasan hutan yang jalannya selalu berkelok-kelok, naik turun, dan licin kalau pas lagi hujan.

Sesampainya di Gitgit, untuk mencapai obyek wisatanya, diperlukan perjuangan yang lumayan berat. Bagi kamu yang kurang berolahraga jalan kaki, sebaiknya kamu menyesalinya :) Dari tempat parkir mobil, kita harus turun menyusuri jalanan setapak sepanjang lebih kurang 500 meter. Di sepanjang jalanan setapak ini, kita akan menjumpai banyak pedagang cinderamata standar seperti patung, kalung, kaos, aromaterapi Bali, dsb. Kalau kamu sebelumnya sudah capek berwisata ketempat lainnya, siap-siap saja kaki akan merasa super pegal. Sesekali berhenti dan istirahat sangat disarankan untuk menghilangkan sedikit pegal. Tapi, biasanya, setelah sampai di lokasi air terjunnya, kemungkinan pegal tadi akan berangsur-angsur hilang.

Tepat di lokasi air terjun, kita akan disuguhi sebuah pemandangan indah berupa air terjun dengan ketinggian sekitar 40 meter. Hawanya yang sangat sejuk ditambah suasana hutan yang bagaimanaaaa gitcu, bisa mengganti bayaran atas capeknya mencapai lokasi ini. Dibawah air terjun, terdapat kolam dengan diameter sekitar 4 meter. Disini asyik untuk dipakai berendam. Tidak ketinggalan batu-batu cadas yang mengelilingi sekitar air terjun ini. Dengan latar belakang sungai kecil yang mengalir jauh, berfoto di antara batu-batu besar ini bisa jadi akan menjadi foto favorit kamu sepanjang masa :)

Tidak lupa ritual makan bakso kalau ke Bedugul :)

Oh ya, kalau tadi saya bilang menuruni jalan menuju lokasi air terjun lumayan berat, sekarang kalau balik menaiki jalan menuju atas lebih berat lagi :) Napas makin ngos-ngosan. Oleh karena itu, saya sarankan, banyak-banyak olahraga kaki ya? Seperti saya nih yang gemar bersepeda hehehe..

Atau, untuk mengobati pegal-pegal karena harus balik lagi keatas, mungkin ritual saya berikut bisa kami contoh. Apa ritual itu? Kalau melewati Bedugul, hukumnya wajib untuk berhenti dulu dan makan bakso! Asli dijamin kamu bakal ketagihan. Ya iyalah, kapan lagi bisa makan bakso hangat dengan pemandangan danau yang indah??

Wa kak kak kak…

Category: Bali, Pribadi  | Tags: , ,  | 3 Comments
Sunday, November 01st, 2009 | Author: Arif Haliman

Pasca Lebaran kemarin saya baru saja membelisebuah sepeda gunung Polygon. Seri yang saya pilih adalah Premier 3.0. Dengan warna dominan gelap (hitam muda dan abu-abu) di seluruh bodi sepeda termasuk velg bannya, saya merasa cocok dengan tampilan sepeda ini. Saya membelinya seharga 2.300.000 Rupiah. Dan sudah beberapa hari terakhir, sepeda ini telah menjadi tungganggan favorit saya.

Hampir saban pagi disaat embun dan udara kota Denpasar masih bersih, hampir bisa dipastikan saya bersama sepeda saya ini terlihat menyusuri daerah sekitaran Pemogan dan Taman Pancing. Tidak lain tidak bukan adalah untuk berolahraga. Bersepeda selama 30 menit saya jamin sudah bikin keringat kamu bermunculan, walaupun di pagi hari. Setelan favorit saya untuk roda depan adalah gigi 2 (3 paling berat) dan roda belakang adalah gigi 6 (7 paling berat). Kadang juga saya turunkan ke 5 atau malah 4, kalau medannya menanjak dan napas sudah ngos-ngosan :)

Bersepeda adalah kegiatan yang sangat menyenangkan, terutama kalau dilakukan pada pagi hari yang masih udara masih segar dan relatif sepi lalu lintas. Kegiatan ini bisa membuat pikiran ringan, otot-otot terutama sekitar kaki bergerak aktif, dan juga menyehatkan jantung. Otot bahu juga berpotensi menjadi kekar. Tidak lupa, kita bisa berlatih mengatur pernapasan secara efektif dan efisian. Kesemuanya itu, ujung-ujungnya, membuat aktifitas kegiatan kita sehari-hari dipenuhi optimisme dan semangat tinggi.

Sebenarnya, bersepeda sudah sangat saya dambakan sejak dulu. Hanya susah sekali menemukan sebuah momentum yang tepat untuk mewujudkannya. Apalagi sebelumnya, berjalan kaki atau joging yang juga salah satu kegiatan favorit saya masih nyaman untuk dilakukan. Sampai pada akhirnya, setelah kegiatan joging ini sudah mulai semakin berkurang, akhirnya datang juga momentum atau keinginan kuat untuk segera memiliki sepeda.

Sejujurnya, dibanding bersepeda dengan joging, saya masih fanatik joging. Olahraga berjalan kaki ini (apalagi dilakukan tanpa memakai alas kaki), adalah olahraga termurah namun dengan efek sangat dahsyat. Salah satunya, joging yang dilakukan pada pagi hari secara rutin bisa membuat pekerja kantoran tidak lagi menguap tanda mengantuk pas sedang bekerja di kantor. Ini saya buktikan sendiri sewaktu dahulu masih menjadi karyawan. Joging hampir selalu saya lakukan saban pagi yang foto lokasinya bisa dilihat disini dan disini. Kantuk hilang, dan semangat kerja membara. Suer!

Namun lambat laun dengan pertimbangan kalau setiap hari harus pergi ke lapangan Puputan Renon Denpasar untuk berolahraga, rasanya berat juga. Akhirnya kegiatan joging ini saya lakukan disekitaran rumah. Hanya saja, saya harus realistis. FYI, di Bali ini kan banyak sekali anjing berkeliaran. Nah, yang bikin ngeri adalah pas lagi enak-enaknya jalan kaki, tuh para anjing juga ikut mengejar dibelakang kita! Dikejar saja sudah ngeri, gimana kalau kita berhasil digigitnya?? Dengan semakin merebaknya wabah rabies dari yang diakibatkan gigitan anjing, saya harus berpikir ulang untuk meneruskan kegiatan ini secara kontinu. Itulah salah satu momentum yang membuat saya untuk beralih ke bersepeda dan hanya sesekali olahraga jalan kaki.

Eniwe, kegunaan lain dari bersepeda, setidaknya bagi saya, bisa menghemat BBM. Saya bisa pergi ke minimarket atau sekedar beli martabak di pasar senggol dekat rumah, bisa hanya dengan bersepeda. Janjian ketemu teman untuk bersua tak jauh dari rumah, bisa dengan bersepeda. Bahkan tidak jarang, aktifitas mengantar mobil untuk tamu saya di sekitaran Kuta, tidak lupa saya angkut juga Polygon saya dibelakang mobil, agar balik pulangnya tidak usah dijemput istri, tapi bisa dengan bersepeda.

Seperti halnya hari minggu pagi tadi. Ada salah satu tamu rental car Bali saya mengembalikan mobil di airport pukul 08.00. Ya sudah, sejak pukul 06.30 saya sudah mulai berangkat menuju bandara Ngurah Rai Bali dengan naik sepeda. Enaknya apa? Badan sehat, tidak perlu bayar loket masuk sepeda motor, dan bisa bikin bule pelanggan saya itu menepuk-nepuk bahu saya tanda salut: ‘How come you ride the bike to collect the car here in the airport? But it is totally good for you!

Hehe..belum tahu dia ;)

Category: Pribadi  | Tags: , , ,  | 3 Comments
Monday, October 19th, 2009 | Author: Arif Haliman

Sebagai donatur tetap dan juga simpatisan Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar Bali, 2 hari yang lalu saya mendapat undangan dari mereka, yang dalam rangka mempererat ukhuwah Islamiyah dan tali silaturahmi, mengadakan Kajian Islam dengan narasumber DR. Adian Husaini, MA yang acaranya diadakan sore tadi di pondok pesantren. Pak Adian (demikian saya biasa menyebutnya) bisa dibilang adalah tokoh nasional dengan sederet jabatan yang berhubungan dengan dakwah Islam, termasuk diantaranya sebagai dosen dan anggota MUI Pusat. Satu hal yang menjadi spesialisasi beliau adalah komitmen dan kehandalannya dalam menolak ideologi Sipilis (sekularisme, plularisme dan liberalisme).

Dan demi bisa bertemu langsung dengan tokoh yang tulisannya kerap saya sambangi di Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini di Hidayatullah, jadilah ba’da shalat Ashar sore tadi saya alhamdulillah bisa menghadiri undangan itu.

Kajian Islam mengenai bahayanya SIPILIS sore tadi disampaikan oleh Pak Adian dengan santai dan humor segar. Ini membuyarkan angan saya (yang belum pernah bertemu dengannya) bahwa dia adalah orang yang bawaannya serius. Dia membuka kajian sore itu dengan mengatakan bahwa MUI dalam rakernasnya pada tahun 2005 lalu sudah mengeluarkan fatwa haram mengenai paham SIPILIS. Paham ini begitu merusak akidah dan tauhid yang dikandung oleh ajaran Islam.

Namun dalam kenyataannya, para penentang fatwa haram ini kerap bersuara lantang dengan menuduh MUI melanggar hak asasi manusia dan oleh karena itu harus dibubarkan. Masih menurut Pak Adian, paham SIPILIS ini tidak saja menjadi persoalan dalam tubuh masyarakat muslim, namun juga hinggap di tubuh masyarakat Kristen. Vatikan saja juga merasa perlu mengeluarkan semacam fatwa untuk menolak paham ini yang juga sedang deras melanda orang Kristen.

Pengusung ideologi ini bisa dibagi menjadi 3 level. Yang pertama adalah level produsen. Mereka adalah pengedar asli yang berasal dari Barat. Lewat yayasan-yayasan yang didirikan, mereka berupaya mengekspor virus ini ke negara yang menjadi target virus, dalam hal ini misalnya Indonesia. Level kedua adalah distributor. Mereka adalah para civitas akademika di perguruan-perguruan tinggi yang membawa label agama, yang entah sadar atau tidak, dalam setiap disertasi maupun statemennya selalu mengandung unsur SIPILIS. Level yang terakhir adalah asongan atau pengecer. JIL atau Jaringan Islam Liberal adalah salah satunya.

Kajian sore hari itu terasa sangat gayeng dan santai, namun sarat ilmu. Dipaparkannya beberapa problem serius yang hinggap di tubuh umat Kristen dan Yahudi adalah salah satunya. Betapa mereka sebenarnya masih kerap berantem mengenai ’sekedar’ siapa nama tuhan mereka sebetulnya. Kalau dalam Islam jelas nama tuhan adalah Allah SWT, di Kristen maupun Yahudi kerap kali terjadi kebingungan dan multi tafsir atas beberapa nama tuhan yang tersedia.

Juga disebutkan beberapa alasan mengapa Yahudi selalu saja mencak-mencak kepada Islam. Dengan beberapa alasan yang disertakannya, Pak Adian mengatakan bahwa memang hanya Islam saja satu-satunya agama di dunia ini yang berani secara terang-terangan mengungkap segala kebobrokan Yahudi. Umat nabi Musa yang membangkang itu bisa kita sebut dengan sebutan ‘tengik’ karena gemar sekali membantah perintah nabi Musa sebagai pemimpin mereka.

Sebenarnya banyak sekali bahasan yang dikaji dalam kajian Islam sore tadi yang dihadiri sekitar 200 an jamaah, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Tentu saja semuanya berkaitan dengan paham yang memang sangat kontroversial seperti sekularisme, plularisme dan liberalisme ini. Adalah tugas kita untuk senantiasa waspada dan kritis, untuk selalu membentengi akidah dan tauhid kita hanya bersandar kepada Al-Quran dan sunah Rasulillah SAW.

Category: Islam, Pribadi  | Tags: , ,  | Leave a Comment
Saturday, September 05th, 2009 | Author: Arif Haliman

Hari ini adalah hari ke 15 puasa di bulan Ramadhan 1430 H / 2009 M. Secara fisik, alhamdulillah saya masih mampu berpuasa selama ini tanpa ada hambatan berarti. Cuaca di Bali akhir-akhir ini yang seringnya tidak jelas, kadang panas menyengat namun kadang bisa turun hujan secara tiba-tiba turut menyertai hari-hari berpuasa. Secara mental (dikaitkan dengan suasana atau atmosfer bulan Ramadhan di Bali) juga tidak ada hambatan. Mungkin karena saya sudah terbiasa ber-Ramadhan ria di Bali sehingga sudah paham suasananya.

Seperti diketahui, berpuasa di pulau Bali suasananya mungkin sedikit berbeda dengan misalnya di pulau Jawa. Disini para pedangan (makanan) akan tetap buka seperti hari-hari diluar Ramadhan. Kecuali Warung Pecel Madiun yang berlokasi di Renon Denpasar (yang ramai saban hari dan memang luar biasa enak pecelnya), tutup penuh selama Ramadhan.  Orang-orang, apakah itu lokal atau bule, tetap dengan santainya makan ditempat makan secara terbuka. Cara berpakaian juga begitu, masih tetap open dan tidak merasa risih. Hal ini mungkin bisa dimengerti, karena Bali bukan mayoritas penduduk beragama Islam, dan terlebih orang-orang bule itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Ramadhan.

Beberapa toleransi yang ada di pulau Jawa dan pulau lain yang mayoritas berpenduduk muslim, misalnya beberapa warung makanan tidak secara demonstratif membuka warungnya dan menampakkan segala menu makanan yang gampang dilihat dari luar. Beberapa warung malah akan menutup total dagangan mereka demi kekusyukan beribadah, dan akan buka kembali pasca Lebaran. Cara berpakaian para wanitanya mungkin juga akan sedikit tertutup demi menghormati bulan penuh rahmat ini.

Namun bisa saya sampaikan disini bahwa, di Bali terutama yang basis penduduk muslimnya lumayan besar seperti di kota Denpasar, pada malam hari antara waktu Maghrib dan Isya, pemandangan layaknya di kota Jawa akan terlihat. Apa itu? Berduyun-duyunnya para kakek, nenek, bapak, ibu, remaja, anak kecil dan semua orang muslim menuju masjid atau mushola untuk melaksanakan shalat Tarawih.

Sehingga dijalanan akan jamak dijumpai orang-orang berjalan kaki, bersepeda motor atau bermobil menuju masjid dengan memakai peci, sarung, mukena, sajadah dan atribut shalat lainnya. Suasana seperti ini khas suasana yang sering saya jumpai di Jawa. Terlebih kalau kita melaksanakan shalat Tarawih di Masjid Agung Sudirman Denpasar, rasa-rasanya ini sudah bukan Denpasar lagi, tapi Mojokerto kota tercinta saya :) .

Satu lagi yang sama dengan suasana Ramadhan di Jawa, adalah maraknya para pedagang takjil (menu awal buka puasa). Hal ini terutama terlihat didaerah sekitar kampus negeri Universitas Udayana Bali sekitaran Jl. Panglima Sudirman Denpasar. Dikampus saya dulu di Universitas Brawijaya Malang, pemandangan seperti ini juga lazim terlihat. Para pedagang dadakan itu adalah mayoritas para mahasiswa. Sepertinya misi utama mereka tidaklah mencari untung materi, namun sekedar ikut menambah semarak dan kegairahan dibulan puasa ini dengan ikut menggelar dagangan berupa makanan kecil sebagai menu awal buka puasa.

Hanya sekedar mengingatkan, yang terpenting dari berpuasa adalah, kualitas ibadah secara maksimal yang bisa kita lakukan. Perbanyak shalat, membaca Al-Quran, sedekah, menahan diri dari semua hal jelek adalah yang utama dibulan puasa Ramadhan ini.

Category: Bali, Umum  | Tags: , ,  | Leave a Comment
Sunday, August 16th, 2009 | Author: Arif Haliman

Besok adalah ulang tahun negara Republik Indonesia tercinta. Ulang tahun yang ke 64 di tahun 2009 ini. Ulang tahun yang apabila disamakan dengan umur rata-rata manusia sekarang, usia ini sudah sangatlah renta. Sebuah usia yang semestinya sudah sangat arif bijaksana didalam menyikapi semua hal yang menerpa kehidupannya.

Sebagai warga negara Indonesia, saya sejujurnya harus mengakui bahwa saya belumlah menjadi warga negara yang baik, terutama status saya sebagai penuduk kota Denpasar ini. Satu saja contohnya adalah saya belumlah taat dalam membayar pajak. Motor bebek saya masih bernomor polisi ‘S’ (Mojokerto), dan bukannya ‘DK’ (Denpasar). Jadinya hasil pajak motor tersebut belum masuk di kas kota Denpasar.

Sebagai pelaku bisnis online sewa mobil di Bali dan penjualan baju muslim, saya juga hampir-hampir tidak pernah sepeser pun dalam membayar pajak. Dan mungkin juga masih ada beberapa contoh buruk yang lain, yang memberi saya rapor merah dalam rangka menjadi warga negara yang baik.

Sekedar catatan, khusus untuk bisnis online yang saya jalankan, saya kok memang tidak melihat adanya celah bagi saya untuk membayar pajak. Maaf lho ya, tolong saya dikoreksi karena saya masih minim informasi mengenai pajak ini :)

Karena online, saya memang tidak perlu menyewa / membuka toko di pinggir jalan. Karena berpartner dengan rekan lain yang sudah mempunyai usaha yang resmi terdaftar, saya tidak perlu lagi mendaftar ijin usaha baru. Karena saya sudah membayar zakat 2,5% dari setiap pendapatan saya, maka saya tidak perlu membayar pajak (ops, maaf kalau ada yang kurang berkenan dengan statemen terakhir saya :) ).

Dikaitkan dengan kegiatan bisnis (online) saya, sebagai warga kota Denpasar pada khususnya, dan sebagai warga negara Indonesia pada umumnya, setidaknya saya masih bersyukur bahwa saya tidaklah terlalu buruk untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan kota Denpasar ini. Saya inginnya berbuat banyak untuk kota dimana saya tinggal. Semacam give and take lah, masak saya tidak pernah memberi sama sekali padahal saya sudah menerima banyak sekali. Apa kata dunia???

Untuk kegiatan bisnis penjualan baju muslim online yang saya geluti, diskala lokal kota Denpasar, setidaknya saya sudah ikut meramaikan lalu lintas jasa kurir / kargo baik untuk tujuan domestik maupun luar negeri. Sekedar informasi, saya dan istri hampir tiap hari harus pergi ke Tiki dan Kantor Pos untuk mengirim paket ke pelanggan-pelanggan kami di seluruh Indonesia, dan kawasan ASEAN. Sementara untuk skala nasional, saya tentunya sudah ikut meramaikan kegiatan perdagangan garmen atau tekstil di Indonesia (yang memang sudah sangat produktif) berikut dengan segala pernak-perniknya. Istri saya hampir tiap hari melakukan order barang ke pusat (seringnya di Jakarta, Bandung dan Surabaya) untuk dikirim ketempat kami di Denpasar, dan kemudian kami kirimkan lagi ke para pelanggan.

Untuk kegiatan bisnis rental car Bali saya, bisa dikatakan sedikit banyak saya sudah ikut menggairahkan dunia pariwisata di Bali, khususnya dibidang transportasi. Secara tidak langsung saya ikut meramaikan bisnis penjualan mobil, baik baru atau bekas, melalui dealer atau showroom. Secara langsung saya bisa berbahagia bisa memberi pekerjaan kepada beberapa rekan-rekan yang berprofesi sebagai driver untuk mengantar tamu-tamu saya berlibur di Bali.

Pesan yang ingin saya sampaikan disini adalah mengajak kita semua untuk sejenak saja merenung. Bahwa besok adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 64. Pada tahun 2009 ini usia negara Indonesia sedang menuju masa pendewasaan setelah melalui berbagai peristiwa yang luar biasa sebelumnya. Sebagai warga negara yang baik, hendaknya kita berusaha untuk selalu memberi kontribusi nyata kepada pembangunan negara ini untuk menuju sebuah negara yang insyaAllah semakin Religius, Mandiri & Bermartabat.

Merdeka!

eXTReMe Tracker