Tag-Archive for » bali hotel «

Wednesday, September 02nd, 2009 | Author: Arif Haliman

Alhamdulillah..Hore..horeee..horeeee! Sepertinya hari ini adalah hari yang tepat untuk kembali menulis di blogku tercinta ini. Blog dengan titel From Bali with Love yang saya gawangi ini hanya mampu menghasilkan 2 postingan untuk bulan Agustus kemarin. Bali seorang blogger, produktivitas menulis seperti ini tidak pantas untuk ditiru apalagi diteladani. Hal ini sungguh diluar batas perikeblogeran :) . 2 biji posting saja dalam 1 bulan? Semoga lain bulan tidak lagi deh.

Saya pribadi sebenarnya kaget juga kok hanya bisa menghasilkan 2 tulisan untuk bulan Agustus kemarin? Padahal saya berharap blog ini seapes-apesnya kalau bisa minimal 5 buah tulisan dalam satu bulan. Saya menargetkannya minimal 10 tulisan. Syukur-syukur bisa lebih. Namun untuk bulan Agustus kemarin sepertinya saya memang benar-benar tidak mampu meningkatkan kuantitas tulisan saya. Sebagai bahan pembelajaran kedepan, ada baiknya saya menuliskan beberapa hal yang membuat aktivitas ngeblog saya menjadi tersendat.

Pertama (dan ini juga yang utama) sepertinya waktu saya banyak tersita untuk menghadapi high season di Bali kemarin. Seperti diketahui, pulau Bali sangat ramai dikunjungi wisatawan luar negeri pada bulan Juli-Agustus disetiap tahunnya. Dan alhamdulillah seperti biasanya, bisnis rental car Bali saya juga menuai dampaknya: terjadi lonjakan konfirmasi reservasi 2 kali lipat dari biasanya.

Terutama untuk bulan Juli, data para peminjam mobil melalui website saya lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Agustus. Tapi meskipun bulan Juli sangatlah ramai, faktanya saya masih mampu untuk membuat tulisan minimal 10 buah di bulan itu. Sedangkan untuk bulan Agustus, meskipun juga sangat ramai, saya hanya mampu menghasilkan 2 buah tulisan. Artinya apa? Diawal-awal kesibukan (Juli) tenaga saya masih terjaga. Namun dipertengahan dan diakhir kesibukan (Agustus) tenaga saya melorot tajam. Akibatnya bisa diduga, sisa-sisa tenaga untuk menulis menjadi sirna tak berbekas :) Hal ini bisa juga disebabkan oleh kebosanan yang sudah menumpuk karena selama 2 bulan penuh fokus memaksimalkan reservasi website sewa mobil di Bali saya.

Yang kedua, ini juga yang menyebabkan produktivitas menulis saya menjadi tersendat. Hal ini ada hubungannya dengan postingan saya terdahulu yaitu mengenai cita-cita beranjak menjadi produsen busana muslim dan tidak lagi sekedar menjadi penjual. Ya saudara-saudara, dipertengahan bulan Agustus kemarin saya sudah mulai memproduksi baju muslim sendiri!

Sejak awal proses pembuatan sampai sekarang, karena ini adalah pengalaman pertama, saya harus rela pontang-panting antara toko kain, pihak tekstil, tukang jahit dan keluyuran ke pasar untukseperti misalnya sekedar menanyakan harga kancing baju, dan warna apa saja yang tersedia. Keluar masuk beberapa toko kain untuk menemukan harga terendah adalah tantangan tersendiri. Hasilnya, dari seluruh rangkaian proses ini, ada beberapa tahapan yang sempat meleset sehingga membuat saya sempat olahraga jantung, kuatir tidak bisa memenuhi harapan pemesan saya.

Baju yang saya produksi ini emang belum merek saya sendiri, tapi setidaknya saya terlibat didalamnya sejak cikal bakal baju ini masih dalam bentuk kain meteran sampai insyaAllah baju ini bisa dipakai dibadan. Baju ini adalah baju muslim semi gamis pesanan orang Singapura. Perihal dia bisa mengontak saya adalah karena dia menemukan website Muslim Busana saya, dan akhirnya datang ke Bali untuk sekalian kopi darat. Singkat cerita, kami berdua setuju agar saya sebagai supplier baju-baju muslim pesanan dia. Artinya, disini saya menjadi produsen. Baju muslim pesanan ini sampai sekarang belum jadi, tapi insyaAllah semoga awal minggu depan semuanya sudah kelar dan bisa segera saya kirimkan ke Singapura.

Yang ketiga, atau yang terakhir, sepertinya aktivitas saya untuk lebih mengoptimalkan website Hotel Bali saya juga tidak kalah menyita waktunya. Semangat baru di BaliHotelBooking.com ini yang dimulai awal bulan Juli kemarin masih terasa hingga sekarang, dan itu menuntut konsekuensi tinggi. Hasilnya memang sangat lumayan. Trafik naik, peringkat di search engine juga (sempat) naik, beberapa reservasi confirmed, dan yang tidak kalah penting, pundi-pundi Google Adsense saya dari chanel website Bali hotel booking ini semakin bertambah naik :) .

Well, akhirnya, di September Ceria ini, mohon doa restu agar produktivitas menulis saya di blog ini tetap terjaga, minimal 10 buah tulisan disetiap bulannya. Amin :)

Sunday, July 05th, 2009 | Author: Arif Haliman

Ya, saya merasakan adanya semangat baru di website Bali hotel saya yaitu BaliHotelBooking.com. Semangat baru ini timbul karena akhirnya kelar juga merampungkan database hotel Bali dari pihak ketiga (Travelocity) dan kemudian menghubungkannya di website Bali hotel saya ini. Dengan adanya database dari Travelocity ini, faktor yang paling enak bagi saya adalah, bahwa hampir semuanya - mulai dari urusan kontak hotel sampai tagihan kartu kredit - ditangani oleh pihak Travelocity.

Mengapa hal ini kemungkinan bisa terjadi ? Sebabnya pihak Travelocity menyediakan sebuah booking engine yang didalam sistem ini memungkinkan para calon tamu untuk melakukan cek secara langsung (real time) apakah kamar di hotel X yang mereka inginkan pada periode tertentu sedang tersedia (available) atau tidak. Kalau akan tersedia maka silakan isi data kartu kredit dan submit form onlinenya. Kalau tidak, ya silakan cari kamar hotel lain yang mungkin tersedia pada periode yang sama. Pendeknya, calon tamu bisa langsung mendapatkan instant confirmation atau konfirmasi langsung secara pasti apakan kamarnya tersedia atau tidak. Cool, huh?

Sekedar informasi, website Bali hotel booking milik saya ini sudah sangat lama mangkrak alias menganggur. Memang disana sebelumnya terlihat seakan-akan ‘hidup’ dan menerima reservasi dengan normal. Padahal sebetulnya tidak. Kalau ada email booking biasanya saya biarkan saja. Lha gimana mau mem-follow up email itu kalau kontrak rate dari hotel saja tidak punya? Akhirnya ya gitu deh, sejak awal pembuatannya tahun 2005 sampai sekarang website mengenai hotel di Bali ini seperti hidup segan mati tak mau :) .

Nah, akhirnya sejak awal Juli 2009 ini, terinspirasi oleh sebuah website papan atas di Google yang juga mengenai Bali hotel, akhirnya saya rampung juga menemukan cara bagaimana agar website tentang Bali Hotel ini kalau ada email masuk, terus akan ada yang merespon balik ke tamunya, syukur-syukur kemudian tamunya melakukan konfirmasi, dan uang komisi akhirnya kudapat :) . Travelocity adalah jawabnya. Hip..hip..hurraaa!

Dengan adanya database hotel dengan fasilitas konfirmasi ketersediaan kamar live ini, saya berharap untuk bisa mengembangkan diri untuk terjun ke dunia bisnis pariwisata khususnya di Bali. Syukur alhamdulilah Bali sudah pulih lagi dari hantaman bom 2 kali berturut-turut sebelumnya. Indikasi bahwa pariwisata Bali sudah pulih kembali adalah jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang tertinggi pada peak season akhir tahun 2008 yang lalu. Dan sepertinya masih stabil untuk memasuki separuh tahun 2009 ini. Kunjungan wisatawannya tertinggi melebihi masa sebelum adanya bom Bali, atau bahkan malah sejak adanya pulau Bali hehe.. :)

Saya bisa merasakan dan melihat secara langsung indikasi masih stabilnya kunjungan wisatawan luar negeri ke Bali pada paruh 2009 ini. Tidak lain tidak bukan website Bali car rental saya pada high season Juli-Agustus ini Alhamdulillah sedang kebanjiran tamu :) . Banyak tempat-tempat menarik di Bali juga membludak pengunjungnya. Walaupun sempat terganggu dengan adanya kejadian suspect flu babi yang menimpa beberapa turis asing yang bisa lolos masuk Bali, insyaAllah semuanya bisa segera teratasi sehingga Bali tetap ramai dikunjungi tidak hanya oleh turis manca namun juga turis lokal.

Sunday, June 14th, 2009 | Author: Arif Haliman

Menyambung tulisan saya sebelumnya mengenai Bali Mendekati High Season, kali ini saya akan menulis mengenai betapa akan ramainya pulau Bali diserbu tidak hanya oleh para wisatawan domestik namun juga mancanegara. Ditulisan sebelumnya yang bercerita dari sisi wisatawan domestik, kali ini saya akan bercerita dari sisi wisatawan mancanegara, atau sebutan kerennya: Bule hehe..

Secara pribadi, saya menginformasikan bahwa Bali akan kembali ramai di high season Juli sampai Agustus tahun ini. Indikasinya adalah jumlah email booking Bali car rental saya berikut konfirmasinya melonjak tinggi (sekitar 2,5 kali lipat) dari kondisi normal atau low season pertengahan Januari sampai Juni. Untuk bulan Juni ini yang masih sampai di pertengahan bulan, pendapatan kotor website Bali car rental saya sudah mencapai target. Syukur Alhamdulillah… Harapan saya sampai dengan akhir Juni ini pendapatan itu masih bisa membumbung tinggi ;)

Saya yakin kondisi ini tidak hanya saya saja yang mengalaminya. Para kompetitor saya (mari kita sebut saja: rekan, agar konotasinya tidak berupa persaingan, namun kerjasama) pasti juga merasakan hal yang sama, yaitu email booking mereka meningkat, dan mestinya, juga konfirmasinya.

Kalau untuk bulan Juni saja sudah sangat terasa kenaikan tamu yang didapat, bulan Juli dan Agustus insyaAllah akan lebih besar lagi. Bisa dibilang bulan Juni ini masih berupa pemanasan. Ibaratnya motor di pagi hari yang perlu dipanasi. Kalau sudah cukup panas mesinnya, maka motor itu akan langsung tancap gas. Kalau sudah masuk Juli, dan juga Agustus, maka inilah masa-masa yang disebut high season di Bali: Masa ramai-ramainya Bali penuh sesak oleh kunjungan wisatawan domestik maupun bule.

Bisnis Bali car rental saya yang 90% menyasar para tamu dari luar negeri, tetap didominasi oleh tamu dari negara Eropa dan Asia. Menyusul kemudian adalah Australia. Warga negara Eropa yang paling banyak memakai jasa sewa mobil di Bali saya kebanyakan dari Jerman, Inggris, Spanyol, Perancis. Dari Asia yang terbanyak berasal dari Singapura, Malaysia, Thailand. Sisa 10% adalah peminjam mobil dari dalam negeri sendiri, utamanya mereka yang berasal dari Jakarta. Jadinya, lokal dan bule campur aduk jadi satu nantinya di Bali!

Maka, di high season ini, pelaku wisata di Bali lah yang akan sangat sumringah. Mereka seakan tidak merasa kesulitan untuk menjual apa yang menjadi barang jualannya. Bagi pemilik hotel, tingkat hunian kamar pastilah penuh. Bagi pemilik jasa sewa mobil Bali pastinya armada mobil mereka banyak yang beroperasi. Bagi pengelola restoran dan kafe, tentu juga tidak ketinggalan. Bagaimana dengan Joger Bali ? Aduh, yang ini dari dulu sampai sekarang kayaknya gak pernah sepi deh! :)

Menurut pengamatan saya, selama insyaAllah tidak ada kajadian aneh-aneh kayak Bali bombing kemarin, sepertinya tahun 2009 ini Bali betul-betul akan kembali ke performa terbaiknya. Setelah sebelumnya akhir tahun 2008 sudah mencapai titik tertinggi untuk kunjungan turisnya dibanding tahun-tahun sebelumnya, sepertinya tahun 2009 ini jumlah kunjungan akan meningkat. Para pelaku pariwisata di Bali insyaAllah bisa tetap tersenyum lebar menyambut tahun-tahun wisata berikutnya.

Bagaimana dengan persiapanku sendiri menyambut kondisi yang kian kondusif ini ? Well, website Bali Hotel saya sepertinya harus segera di tune up untuk segera bisa beraksi penuh mulai tahun ini. InsyaAllah!

Thursday, November 27th, 2008 | Author: Arif Haliman

Rusuh politik sedang merambah negara Thailand. Negeri Gajah Putih ini sedang meradang karena kondisi negaranya sedang dilanda carut-marut politik yang tak kunjung henti. Seperti biasanya, kerusuhan politik selalu berimbas ke kerusuhan lain seperti demo anarkis, blokade gedung pemerintahan dan fasilitas umum, dan sebagainya. Seperti dilaporkan Jawa Pos, rusuh politik di Thailand ini dipicu oleh ketidakpuasan rakyat terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Somchai Wongsawat yang notabene adik ipar mantan PM Thaksin Shinawatra, dan menuntutnya mundur. PM ini ditengarai banyak melakukan korupsi seperti yang dilakukan oleh kakak iparnya.

Sekarang ini banyak turis mancanegara yang berniat bulat eksodus dari Thailand. Namun apa daya niat itu sulit dilakukan karena 2 bandar udara terbesar di bandara dikuasai para demonstran. Semua penerbangan dari dan ke Thailand semuanya dibatalkan. Bisa dibayangkan betapa makin uring-uringannya para turis itu. Hal ini mirip dengan kejadian bom Bali pertama tahun 2002 lalu. Saat itu banyak sekali turis manca yang berniat sesegera mungkin meninggalkan Bali karena sangat ketakutan. Gelombang eksodusnya sama, namun penyebabnya berbeda. Tidak ada demonstran di bandar udara Ngurah Rai Bali sehingga arus eksodus tetap lancar dan terlayani. Hal ini sedikit banyak bisa melegakan para turis itu.

Nah, apa hubungan antara konflik Thailand dengan Bali? Erat sekali saudara-suudara! Hal ini terutama terkait dengan pariwisata Bali. Seperti yang sudah diketahui bahwa Thailand dan Bali bersaing ketat dalam hal pariwisata. Thailand dengan Phuket dan Bali dengan Kuta seolah 2 orang sprinter yang saling kejar agar kunjungan turisnya selalu unggul. Dengan adanya konflik disana, para turis tentunya akan mikir ngapain juga liburan ketempat perang kayak gitu? Mending juga pergi ke Bali aja ahh..begitu kira-kira pikiran mereka. Dan disinilah momentum ini akan bertemu: Peak Season new year yang memang selalu penuh + tambahan turis yang batal ke Thailand namun memilih old and new di Bali. Hasilnya ? Peak Season Plus ! :) Okupansi Bali hotel dan Bali car rental kemungkinan akan mengalami lonjakan permintaan yang lebih tinggi.

Yang jelas adalah industri pariwisata di Thailand akan semakin terpukul. Syarat pertama sebuah negara dalam mempromosikan pariwisatanya adalah keamanan dan kenyamanan. Dan inilah yang tidak dimiliki Thailand saat ini. Kita ingat betapa syarat ini juga tidak dimilik Indonesia pasca bom Bali dan pengeboman di berbagai kota di Indonesia lainnya. Jangankan berita pengeboman, kabar eksekusi Amrozi cs saja sudah mampu membuat tempat wisata di Bali menjadi sepi.

Namun tentunya kita berharap apapun konflik yang sedang terjadi di Thailand segera diakhiri saja. Bukannya apa-apa, tentunya solidaritas sesama Asia dan atas nama kemanusiaan harus kita junjung tinggi daripada sekedar urusan bisnis. Bagaimanapun juga bangsa Indonesia pernah dan sering mengalami situasi pahit akibat rusuh seperti ini. Dan itu sangatlah tidak enak.

Okay Thailand, semoga cepat membaik kondisimu. Rukun, aman dan sentosa semoga kembali lagi diatas bumi Thailand. Amin

Friday, November 21st, 2008 | Author: Arif Haliman

Kartu kredit adalah alat pembayaran pengganti uang tunai. Benda yang bentuknya mirip KTP ini untuk beberapa situasi dan kondisi memang sangat powerful alias berguna. Namun beberapa sikon tertentu juga bisa membuat pemegangnya sport jantung dan kapok memilikinya lagi.

Penggunaan kartu kredit pada hakikatnya adalah hutang. Kita membeli sesuatu dengan berhutang terlebih dahulu. Hutang kepada siapa? Tentunya kepada bank penerbit kartu kredit itu. Nah, salah satu resiko (terbesar) dalam memiliki kartu kredit adalah gagal bayar. Atau dengan kata lain kita terlambat membayar tagihan kartu kredit sebelum jatuh tempo. Apabila sudah masuk jatuh tempo maka bisa dipastikan denda akan menanti. Besar denda bervariasi bergantung kebijaksaan bank penerbit kartu kredit, dan berapa lama hutang tersebut mengendap.

Di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bahwa, terutama pemegang kartu oleh kelas menengah (atau malah juga kelas bawah), seringkali penggunaannya ’salah sasaran’. Fungsi utama kartu kredit yang seharusnya adalah pengganti uang tunai dalam pembayaran dengan jumlah besar dan berjarak jauh (misalnya booking Bali Hotel), berganti menjadi alat penghutang yang efektif dan parahnya digunakan untuk berbelanja barang keperluan sekunder dengan transaksi face-to-face.

Kita sering menjumpai orang yang menggunakan kartu kredit untuk sekedar berbelanja kulkas, DVD atau kasur yang harganya relatif terjangkau. Karena terjangkau tentunya lebih bijak melakukan pembayaran dengan uang tunai yang bisa dibawa dalam dompet. Mulanya mungkin dianggap biasa, namun lama kelamaan menjadi terbiasa. Andai saja sekolah anak bisa dibayar dengan kartu kredit, pasti biaya sekolah anaknya juga akan di kredit!

Kebiasaan model begini (kebiasaan berhutang) adalah kebiasaan yang buruk. Sampai pada akhirnya sangat gemar berkartu kredit atau berhutang yang pada waktu tertentu tidak ada kemampuan untuk membayar tagihannya, dan malapetaka itu muncul yaitu telepon bertubi-tubi dari bank yang terus mengejar tagihan tersebut.

Oleh karena itu wahai saudara-saudara sebangsa setanah air, dipikir dulu SERIBU KALI kalau ingin apply kartu kredit. Timbang baik buruknya, membawa manfaat atau mudharat. Tidak usah gengsi tidak punya kartu kredit. Ingat! Bertransaksi dengan kartu kredit adalah hutang. Dan ketidakmampuan membayar hutang sebelum jatuh tempo berisiko dosa besar yaitu riba.

Category: Opini  | Tags: , ,  | Comments off
eXTReMe Tracker