Stop Merokok Right Now!

Merokok? Bagi sebagian orang ini adalah kebutuhan. Bagi sebagian yang lain adalah gaya hidup. Bagi saya? Suer, kalaulah beli sebungkus rokok, tuh rokok akan habis dalam waktu 3 bulan kedepan. Artinya apa? Suangat juarang sekali saya merokok. Hehe..kasihan para produsen rokok punya pelanggan kayak saya.

Untuk kamu yang tidak merokok, saya ucapkan Selamat! Jaman sekarang ini kalau ada yang tidak merokok maka pasti hebatlah dia. Ingatlah saudara-saudara, setiap waktu dan tempat kita selalu dikepung oleh yang namanya (promosi) rokok. Lewat iklan di televisi, internet, koran dsb. Sekeliling kita baik di kantor, warung atau di jalanan selalu terlihat pemandangan orang merokok. Seorang perokok lewat iklan-iklan yang ditampilkan adalah orang yang sehat, tegas, macho dan petualang. Kesan yang pokoknya ciamik dah. Nah, dengan segala kepungan edan ini dan kamu masih bisa tidak merokok? GREAT!

Sebetulnya kalau pake logika goblok-goblokan saja semua sudah tahu. Kalau para atlit adalah ukuran orang yang sehat, lalu apakah ada atlit yang gemar merokok? Apalagi sampai habis 1 atau 2 bungkus per hari! Pun kalau toh masih ada atlit yang nekat merokok tuh atlit pastinya goblok, gak pernah cetak rekor atau atlit gadungan hehe 🙂

Masih ingat tentang demo pendukung rokok beberapa waktu lalu yang memprotes fatwa MUI bahwa merokok itu haram? Walaupun saya pribadi lebih condong mengatakan bahwa merokok itu hukumnya Makruh, namun saya bisa memaklumi sikap MUI yang langsung mengatakan bahwa rokok itu haram. Beberapa hal yang membuat kita geregetan terhadap orang merokok adalah:

1. Mengandung nikotin yang menyebabkan kecanduan
Sudah ngerti kan bahaya orang kecanduan? Yang namanya kecanduan, apakah kecanduan ganja, main internet, main cewek atau judi, selalu saja membuat orang berbuat nekat.

2. Membakar uang
Lha, uang kok dibakar! Orang yang berbuat kayak gitu mestinya sudah edan. Terutama kalau perokok adalah pas orang miskin, terus mau diberi makan apa anak dan istrinya?

3. Membodohi masyarakat
Yang ada dipikiran para pendukung merokok adalah, kalau rokok semakin dilarang, maka yang terjadi adalah:

1. Tenaga kerja di pabrik rokok semakin berkurang.
2. Petani tembakau semakin merugi.

Selalu hal-hal seperti ini yang didengungkan. Tidakkah juga dipikir bahwa dengan semakin dibebaskannya orang merokok, kelompok lain yang mengalami kerugian lebih besar yang tampak di depan mata adalah:

1. Para tukang becak, kuli bangunan, supir angkot, dsb.
2. Para pegawai rendahan (negeri / swasta).
3. Wanita dan anak-anak (termasuk bayi) yang menjadi perokok pasiv.

Dari penjelasan singkat ini saja silakan diambil perbandingan. Lebih banyak mana jumlah buruh rokok + petani tembakau dengan para wong cilik (supir, kuli, tukang, pengangguran) + pegawai rendahan negeri / swasta? Dengan mengambil sampel untuk Indonesia, terlebih lagi dunia, tentunya jauh lebih banyak jumlah kelompok kedua. Lantas mengapa pemerintah terkesan lebih suka ‘menyelamatkan’ kelompok pertama yang notabene jauh lebih sedikit? Bisa ditebak muara akhirnya adalah besarnya sektor penerimaan pajak dari cukai rokok dan tembakau. Itu saja sebetulnya. Hanya kearifan dan nurani pemerintah diharapkan lebih terbuka dalam menyikapi hal ini. Bahwa faktor kemanusiaan harus lebih utama dari sekedar faktor pajak.

Singkatnya, sebisa mungkin Stop Merokok dah! Kalau sudah kebablasan, kelakuan ini sama jeleknya kayak kalau kamu menggunakan kartu kredit.

Arif Haliman

http://www.muslimbusana.com – Toko Busana Muslim Online di Bali

Busana Muslim Berkualitas

Save

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

No comments yet.

Sorry, the comment form is closed at this time.