Datang lagi hari raya bagi kaum muslim yaitu Idul Adha 1429 H atau bertepatan dengan 2008 M. Buat saya hari raya yang juga dikenal dengan nama hari raya Kurban atau hari raya Haji kali ini agak terasa istimewa soalnya bertepatan dengan baru saja pindahan rumah 5 hari sebelumnya di kontrakan baru daerah Pemogan. Jadinya agar lebih praktis, saya yang Alhamdulillah kembali diberi kemampuan Allah untuk berkurban, kambing kurban saya serahkan ke pondok Hidayatullah dekat tempat tinggal saya. Sebelumnya kambing kurban saya serahkan ke sebuah pondok yang ada di Kampung Islam Kepaon Denpasar.
Selain itu ini adalah pertama kalinya setelah sejak tiga tahun menikah, bisa berhari raya Kurban di Bali komplit bersama istri dan anak. Kita melaksanakan shalat Idul Adha di Masjid Agung Sudirman, salah satu masjid di Bali yang masuk kategori berjamaah besar.
Omong-omong, apakah kamu juga mampu berkurban tahun ini? Ditengah situasi krisis global dunia yang dipicu oleh Amerika dan membawa imbas sangat parah di Eropa sedangkan Indonesia juga kena getahnya, rasa-rasanya ingin berkurban kali ini terasa berat. Apalagi demi mengetahui nilai tukar rupiah yang bertengger di level 12.000 membuat situasi bertambah mengkhawatirkan. Segala bentuk pengeluaran harus benar-benar diseleksi dengan ketat karena harga segala kebutuhan merangkak naik. Namun apakah kita benar-benar telah berhemat dan selektif dalam berbelanja?
Berkurban adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat besar nilainya. Kemuliaannya sangat tinggi karena membawa pesan kepedulian dan simpati terhadap sesama yang kurang mampu. Kalau tahun ini misalnya kita tidak mampu berkurban, coba dipikirkan kembali apakah benar-benar tidak mampu?
Salah satu contoh kecil adalah sebagai berikut. Taruhlah kita adalah seorang perokok. Perokok berat. Perokok berat yang perhari mampu menghabiskan 1 bungkus rokok. Anggap harga 1 bungkus rokok Rp 5.000. Dalam satu bulan kita telah membakar uang Rp 5.000 x 30 hari = Rp 150.000. Dalam satu tahun artinya kita telah membakar uang Rp 150.000 x 12 bulan = Rp 1.800.000
Nah, baru tersadarkah kamu dengan contoh kecil ini kalau misalnya kamu bilang tidak mampu berkurban yang katakanlah harga kambing setahun ini Rp 1.000.000, sedangkan kamu merokok setahun bisa habis Rp 1.800.000, apakah kamu masih bersikeras tidak mampu ?
Dengan kamu menghabiskan Rp 1.800.000 untuk merokok sendiri, atau menghabiskan Rp 1.000.000 untuk berkurban seekor kambing, mana yang lebih bernilai dan mulia? Semua sudah tahu jawabnya. Nah, mulai sekarang tanamkan dipikiran masing-masing bahwa berkurban di hari raya Idul Adha tidaklah seberat yang dibayangkan, Kalau kita mau introspeksi ternyata masih banyak pos-pos pengeluaran yang bisa kita tekan dalam satu tahun, dan dialihkan untuk berkurban kambing misalnya.
Selain berhenti atau mengurangi merokok, mungkin kamu bisa mengurangi jadwal makan diluar dengan menggantinya lebih sering makan dirumah. Juga bisa mengurangi berlangganan koran atau majalah dan hanya cukup akses internet atau nonton tv. Mungkin juga bisa mengurangi jumlah baju yang kita beli per bulan atau per tahun, dsb.
Semoga tulisan ini bisa membawa pencerahan, dan insyaAllah kemudahan untuk mampu berkurban pada tahun mendatang akan semakin mudah.
