Persepsi atau Cara Memandang Kita

Seringkah kita menarik napas panjang, dan sembari menahan udara kehidupan itu di rongga dada, senyum lebar tersembul dimulut menandakan kita sangat bersyukur atas segala nikmat kasih sayang tuhan yang begitu besar. Semakin sering kita melakukan hal itu maka ucapkanlah syukur Alhamdulillah karena kita masih ingat bahwa Allah Swt senantiasa sayang dan menjaga kita. Ingatlah bahwa begitu banyak manusia yang seringkali lupa bahwa segala sesuatu yang telah diraihnya menafikkan sama sekali peran tuhan dalam kehidupannya.

Detik ini, dimanapun kita sedang berada di sebuah titik status sosial kita, kekayaan kita, kondisi keluarga kita, kualitas ibadah kita dan lain sebagainya, hendaknya selalu dijadikan pelajaran dan musahabah untuk diambil pelajaran dan hikmahnya. Nikmati dan syukuri segala hasil pencapaian itu terlepas dari apakah itu sudah sesuai dengan tujuan kita atau belum. Karena dengan menikmati dan mensyukurinya sepenuh hati maka hakekatnya tujuan itu sudah teraih. Ingatlah bahwa terutama bukan hasil yang akan membuat hati menjadi puas, namun proses yang menyertainya.

Seringkali saya flash back atau melakukan kilas balik perjalanan hidup ini dengan merenung dan berusaha mengambil pelajarannya. Bagi saya kegiatan seperti sangat mengasyikkan dan banyak pelajaran yang bisa diambil.

Salah satu hal favorit saya untuk di flash back adalah mengenai persepsi atau pandangan yang dihubungkan dengan kemandirian. Persepsi yang saya maksudkan disini adalah bagaimana cara kita memandang sesuatu dari sudut pandang kita dan orang lain. Contoh sederhana dan merupakan awal saya bermain persepsi bisa saya awali dari kehidupan saya jaman sekolah menengah tingkat pertama (SMP). Pada tahun itu pas saya masih di SMP, seperti mungkin layaknya jaman sekarang, marak terjadi apa yang disebut uang sogok. Seorang murid yang mestinya tidak mungkin masuk sekolah favorit karena nilainya letoy, ternyata bisa masuk juga. Bukan sulap bukan sihir, asumsi paling masuk akal adalah memang uang yang berbicara disini.

Nah, kebetulan teman satu komplek ada yang melakukan praktek kayak gini. Nilai kelulusan SD ancur-ancuran, namun bisa masuk SMP favorit. Sementara teman lain yang juga satu komplek secara nilai akademis dan kemampuan otak lebih mumpuni, justru harus masuk SMP yang sedang-sedang saja.

Yang saya renungkan adalah: Enak mana sih, sekolah di SMP favorit pakai jalur hitam, dengan sekolah di SMP biasa aja tapi jalur putih? Pas saya tanya langsung kepada keduanya, si jalur hitam dengan bangganya jawab No problem! Dan si jalur putih juga jawab No Problem! Nah, bagi saya dengan jawaban seperti ini yang diberikan, saat ini saya sering tersenyum, kalau itu dihubungkan dengan kemandirian, tentu si jalur putih jauh akan lebih mandiri, dalam segalanya.

Permasalahan atau kejadian seperti ini mungkin adalah hal sepele. Namun buat saya hal sepele seperti ini selalu berkelebatan di kepala setiap waktu, yang membuat saya menjadi memikirkannya. Hal sepele seperti ini juga yang ternyata pada akhirnya, membuat saya detik ini dalam hal mencari nafkah, dari seorang web programmer menjadi orang yang mandiri sebagai wirausahawan dan tidak lagi menjadi karyawan.

Waktu saya masih di perguruan tinggi hal ini masih jadi pikiran saya. Saya saat itu disamping berstatus sebagai mahasiswa jurusan Manajemen Informatika di sebuah PTN di Malang, juga seorang instruktur software komputer di sebuah LBB di kota yang sama. Pekerjaan ini adalah profesional, dalam arti 8 jam per hari dan bergaji bulanan. Nah, seperti umumnya mahasiswa + pekerja, biasanya nilai kuliah menjadi ancur-ancuran karena memang sering TA (titip absen 🙂 ). Ada teman yang 100% murni mahasiswa: pagi siang sore malam kuliah melulu kerjanya. Dan memang nilainya paling top. Persepsi saya kali ini adalah: Enak mana sih, menjadi mahasiswa dengan nilai tertinggi, atau menjadi mahasiswa dengan nilai biasa (perlu diketahui, nilai akademik saya pas kuliah sangat tidak biasa, alias jeblok) namun dengan pengalaman kerja dan penguasaan materi kuliah yaitu berbagai software komputer diatas rata-rata para mahasiswa murni itu?

Waktu saya sudah lulus kuliah dan masuk dunia kerja, masih segar dalam ingatan saya dahulu dari omong-omongan kecil dengan teman satu kos di Denpasar. Teman saya ini begitu bangga dengan pekerjaannya di sebuah bank pemerintah yang bonafit dengan penampilan parlente. Dia nampak sangat antusias bercerita mengenai ritme kerja, suasana kantor, kawan sekantor dan fasilitas yang bisa digunakannya. Perlu untuk diketahui, teman kos saya ini tidak sedang sombong. Saya tahu persis dia tidak sedang menyombongkan diri. Dia hanya sedang antusias dan gembira mendapatkan waktu dan kesempatan untuk bercerita kepada saya tentang keadaannya. Dan itu saya rasa sangat wajar. Saya hanya bisa mangut-mangut dan sesekali menimpalinya untuk menunjukkan kalau saya perhatian dengan ceritanya.

Nah, berikutnya adalah seperti biasanya pikiran saya kembali bermain persepsi: Enak mana sih, kerja di bank dengan kesan wah dan fasilitas komplit, dengan kita punya usaha sendiri dengan fasilitas dan omzet secukupnya?

Pertanyaan itu terus saja bergelayut dihati beberapa waktu selanjutnya. Perlu diketahui, sejak saat itu selalu saya benamkan dalam hati bahwa atas pertanyaan itu saya memilih jawaban yang kedua. Status saya yang saat itu masih menjadi karyawan (seorang web programmer di sebuah perusahaan milik bule) tidak menyurutkan keinginan saya untuk bisa mewujudkan jawaban yang kedua diatas.

Terbersit pikiran sangat mustahil saya bisa mewujudkannya. Justifikasi umum seperti tidak ada bakat dan tampang usahawan (emangnya tampang usahawan bisa ditentukan ??), keluarga mayoritas adalah karyawan, sudah enak jadi karyawan senantisa mengganggu. Namun memang betul jalan hidup seseorang tidak ada yang bisa memperkirakan, apalagi menentukan. Yang terjadi pada pada saya saat ini adalah, saya memang bekerja dirumah saja, dengan sebuah kamar kecil berukuran 4 x 3 meter. Saya memang tidak dikelilingi dengan berbagai fasilitas dan omzet yang sangat wah, namun setidaknya sebagai usahawan saya memiliki kemandirian dan kemerdekaan untuk menggodok dan menjalankan ide-ide saya dengan leluasa. Menjadi karyawan? Well, I have been there. And you may believe or not, it is not always easy to show and execute your ideas at anytime, and place.

Jadi, sudah sangat bersyukur dan menikmati apapun dan dimanapun posisi kamu sekarang? YAHHHHHH..!! Kalau saya, insyaAllah sudah!

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

[…] juga tetaplah bersyukur jadi apapun kamu saat ini. Tetap bersyukur walaupun bidang kerja sekarang berbeda dengan studi kamu dulu. Bagi yang sekarang […]

Leave a comment

(required)

(required)