Pelajaran Dari Pasar

Sangatlah menarik menjadi bagian dari sebuah kehidupan pasar. Disini, salah satunya, kita bisa belajar mengenai berbagai macam usaha yang dijalankan seseorang, lengkap dengan segala romantikanya. Tidak hanya itu, di pasar, peluang kita untuk lebih memahami dan merasakan kehidupan akan semakin terasah. Banyak sekali yang bisa diamati dan dijadikan bahan renungan.

Entah itu mengenai bisnis, komunikasi antar manusia, pemahaman sifat seseorang, sampai dengan gotong royong. Di pasar, seakan kita bisa senantiasa mengucap syukur kepada Allah SWT, apapun dan bagaimanapun kondisi kita sekarang ini.

Seperti telah saya beritakan, saya mempunyai usaha mandi bola di Denpasar. Mandi bola kelas pasar, atau pinggir jalan. Bukan usaha mandi bola yang jamak terdapat di sebuah mall, atau supermarket. Salah satu misi saya membuka usaha ini adalah, saya ingin mengetahui bagaimana sih rasanya mempunyai bisnis konvensional, atau bisnis offline, seperti yang kebanyakan dilakukan orang. Sebelumnya, bisnis yang saya jalankan selalu bersinggunggan dengan dunia online, salah satu contohnya adalah Bali car rental online.

Bagi kebanyakan orang, bisnis online seperti ini masih dirasa ‘diatas langit’. Sulit dimengerti, dan kadang dianggap mengada-ada. Bila bertemu saya, orang-orang konvensional seperti ini buru-buru langsung menanyakan dimana kantornya, dan produksi barangnya dimana. Tidak ditanya dulu usaha apa yang saya jalankan. Pokoknya, dipikiran mereka, bisnis itu melulu pastilah ada barang dan kantor.

Saya jawab, kantor tidak ada, juga tidak ada barang. Dan saya juga seringnya hanya nongkrong dirumah. Kalau pas dunianya orang itu sempit, tak jarang dia sudah keburu malas berbicara dengan saya, dengan berpikir saya pasti seorang alien. Hare gene dapat uang dari nongkrong..??

Dipikirnya saya nggedabrus (omong doang). Saya selalu kerepotan menghadapi orang tipe begini. Biasanya, saya langsung ngeloyor pergi juga. No reken. Karena, kalau saya lanjutkan omongan bahwa saya Alhamdulillah bisa menghasilkan devisa lebih dari 1 Milyar per tahun untuk negara, saya bisa celaka. Dikiranya saya pasti mbahnya alien 😉 Kalau sudah begitu, saya akan diburu untuk dimusnahkan, hehe..

Kembali kesoal pasar, ini mirip miniatur kehidupan. Tadi saya bilang, bahwa kita akan selalu bisa mengucap syukur. Ada tetangga kanan kiri saya yang betul-betul menggantungkan hidupnya pada usaha yang dijalankannya. Sehingga, apabila dagangannya sepi, mungkin gundah hatinya. Kalau mandi bola saya sedang sepi? Saya tidak begitu resah, karena saya tidak menggantungkan hidup saya disini. Kalau warung sebelah masih menyisakan nasi dan lauk pauk yang banyak sebelum tutup, tentunya menjadi risau. Kalau saya, tidak ada yang perlu saya risaukan: bola-bola imut saya tidak akan ‘basi’ buat esok hari.

Juga, hati saya tidaklah ‘panas’ apabila ada orang masuk ke toko X, sementara toko X itu menjual dagangan yang sama dengan toko saya. Apalagi, orang tadi jadi membeli sesuatu di toko X tadi. ‘Panas’ mungkin akan semakin memanas. Hal yang seperti ini tidaklah masuk hitungan saya, karena alhamdulillah usaha mandi bola saya ini, adalah satu-satunya yang ada.

Malam hari ketika tutup, tetangga lain mungkin masih sibuk menghitung uang untuk kulakan besok pagi. Apakah cukup uang buat kulakan? Saya, tidak ada kata kulakan. Begitu dapat uang sepanjang hari itu, uang itu anteng ngendon di brankas 🙂 Kalau tetangga-tetangga lain harus menjaga toko mereka sepanjang hari, dari pagi sampai malam, saya tidak harus seperti itu. Saya cukup buka pagi sampai siang. Lalu tutup untuk bobok siang. Dan buka lagi sore sampai malam. Bahkan, alhamdulillah, saya sudah kebelet mencari karyawan untuk jaga toko saya pada waktu sore-malam hari. Inginnya sekaligus pagi-siang juga. Tapi, itu tidak saya lakukan dulu. Soalnya, saya perlu toko ini dipagi hari, sekaligus sebagai ‘kantor online’ saya 🙂 Makanya, saya selalu bawa laptop sembari jaga toko. Bayangkan: Kerja di ‘kantor’ itu sembari dapat uang dari ruang ‘kantor’ saya untuk anak-anak bisa mandi bola? DOUBLE INCOME! LUAR BIASA!!

Masih banyak contoh peristiwa lain yang bisa mengingatkan saya untuk selalu bersyukur. Diantara semuanya, mungkin yang membuat saya paling bersyukur adalah: Anak saya tidak perlu harus menjalani kehidupan pasar.

Betul, diantara tetangga-tetangga saya ada yang harus membawa serta anak-anak mereka ke pasar. Itu dilakukan karena tidak mungkin meninggalkan mereka di rumah sendirian. Jadilah anak-anak itu diajak hidup disana. Konsekuensi seorang anak dengan banyak bergaul di pasar, pastilah bisa ditebak: Kualitas kehidupan mereka juga hanya akan sekelas pasar. Gambaran tentang pasar adalah kumuh, tidak menarik, terbelakang, dan biasa-biasa saja alias tidak ada hebat-hebatnya. Mereka bergaul dengan anak-anak lingkungan pasar yang kadang tidak jelas. Kadang juga ada yang kasar, dan sukar untuk dibilangi. Mereka nyaris tanpa pendidikan. Bisa dipastikan, peluang kualitas kehidupan anak-anak model begini, bisa ditebak: Sangat suram. Kita tidak menginginkan, Indonesia yang sangat berharga ini akan diwarisi oleh calon generasi penerus pembangun bangsa tanpa pendidikan berkualitas.

Beberapa anak kerap saya lihat bermain saja terus disini, tanpa saya pernah tahu siapa bapaknya. Minimal menjemput mereka untuk pulang saja, itu tidak pernah saya lihat. Mereka bermain diantara dinginnya malam tanpa atap, yang tentu rentan dengan resiko kesehatan.

Ah, kalau sudah begini, malu saya sama Allah SWT. Kerap kali saya masih mengeluh dan merasa capek, padahal saya sudah diberi kenikmatan yang masih banyak orang lain belum merasakannya. Ah, malu kalau masih saja sering lupa bahwa udara ini masih gratis untuk dihirup.

Malu kalau masih harus langsung memotong setiap pendapatan dengan hanya 2,5% untuk zakat atau infaq atau sedekah. Mestinya harus lebih dibesarkan bilangannya. Bertambah malulah kalau memotongnya dari sisa-sisa, setelah dikurangi semua keperluan kita. Sudah begini banyak yang diberi, tapi masih saja pelit.

Aduh, malu juga kalau masih memakai istilah ‘memotong’. Mestinya pakai istilah ‘investasi’. Cocok untuk saya yang seorang pengusaha. Bukankah Allah SWT sudah berfirman, “La in syakartum, la azidannakum.” Kalau kamu bersyukur (lewat banyak berzakat, infaq, sedekah, dsb), maka akan Aku tambah nikmat Ku (bisnis membesar, keluarga sehat dan rukun, dsb).

Ah, malu ya Allah..Ayo, diperbaiki, dah!

Arif Haliman – Owner Busana Muslim Bali

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

memang benar pak…dulu semasa ak duduk di bangku sekolah dasar saya pernah berucap saya tdk menyukai dunia dagang dipasar akn tpi setelah ak lulus sekolah & awal pertama kali ak berkerja yaitu di slh satu toko kawasan th abang, ak mulai menyukai dunia dagang & saat ini ak belajar & melihat2 peluang bisnis apa yg benar2 ak suka & dpt menghasilkan uang tuk bekal keturuna ku, meski pun saat ini ak menerima orderan dri mana pun, bentuk apapun & join bisnis apapun selama itu berkah & halal.

Amin bu..semoga usahanya selalu dibarokahi Allah SWT. Semoga bisa bermanfaat ntuk orang lain.

Leave a comment

(required)

(required)