Mundur Selangkah Untuk Melompat Lebih Jauh

Well, pada akhirnya saya harus realistis. Realistis bahwa sebuah keinginan besar saya harus dipendam dulu. Keinginan atau cita-cita yang menurut saya sangat bombastis itu harus di reset. Keinginan yang tidak kebanyakan orang bisa gampang mewujudkannya itu, harus saya masukkan kotak dulu. Disimpan rapat, dan kuncinya – kalau perlu – harus orang lain yang menyimpannya tanpa saya tahu dimana disembunyikan. Ini demi agar saya tidak tergoda untuk kembali memikirkan keinginan itu, dan tetap fokus dengan keadaan sekarang.

Keinginan besar itu adalah: Bisa bekerja remotely full time di Jawa, tapi bisnis tetap berada di Bali. Apakah itu mungkin? 100 % mungkin! Yang membuatnya mungkin adalah karena bisnis saya murni 100% berbasis online. Salah satu keunikan dari usaha berbasis online adalah, biasanya masalah tempat dan waktu bisa diabaikan. Kita bisa melakukan kegiatan bisnis dimana dan kapan saja. Asalkan koneksi internet tetap tersambung, uang insyaAllah tetap bisa mengalir masuk 🙂

Pernah, Lebaran tahun 2007 kemarin, saya sampai 1 bulan pulang kampung meninggalkan Bali, dan bermukim (baca: menumpang di rumah ortu dan mertua) di Mojokerto, Jawa Timur. Pertanyaannya, apakah dalam 1 bulan itu saya tidak bekerja? Salah. Saya tetap bisa bekerja, dan tetap bisa menghasilkan uang. Layaknya usaha berbasis online lainnya, usaha car rental Bali saya tidaklah perlu ditunggui sehari semalam seperti toko di pinggir jalan. Usaha jenis online hanya mengandalkan komunikasi lewat email, chat dan henpon. Asalkan kita tetap bisa online dan ada sinyal telpon, bisnis tetap jalan. Jadi, untuk hal ini tidak menjadi masalah.

Bagaimana dengan usaha penjualan busana muslim saya? Terus terang, untuk yang ini ada beberapa kendala, tidak melulu mudah dikerjakan secara remote, salah satu contoh kendalanya adalah terbentur masalah lokasi. Seperti diketahui, beberapa produsen baju muslim tertentu, seperti SIK Clothing, mensyaratkan ketentuan proteksi wilayah. Sehingga mau tidak mau, istri saya sebagai distributor wilayah Bali, harus tetap berdomisili di Bali, kalau tidak ingin keanggotaan kita dicabut.

Terakhir, yang paling menyurutkan langkah saya untuk membesut cita-cita itu adalah, adanya usaha mandi bola yang baru saja saya dirikan. Ini adalah mainan saya terbaru. Review singkatnya bisa dilihat disini. Nih usaha betul-betul 100% offline, yang sebagaimana kebanyakan bisnis offline lainnya, masalah tempat dan waktu adalah hal utama. Artinya, usaha ini menuntut kehadiran fisik saya. Setidaknya, insyaAllah sampai setidaknya usaha ini sudah bisa berjalan stabil, seiring bergulirnya waktu.

Omong-omong, darimana saya bisa mendapatkan ide untuk mewujudkan cara hidup seperti yang saya inginkan itu? Inspirasi utamanya datang dari mantan bos saya. Saya dulu sempat bekerja di sebuah perusahaan semacam web hosting di Kuta. Itu berkisar antara tahun 2003-2007 (4 tahun). Pemilik bisnis ini adalah seorang bule dari Selandia Baru. Saya sangat akrab dengan bos saya ini. Untuk segala urusan mengenai aktivitas seluruh website perusahaan dan klien, hampir semuanya diserahkan kesaya. Termasuk juga apabila ada pertemuan (meeting) dengan klien yang hampir rata-rata semuanya juga bule, saya pasti ikut terlibat didalamnya.

Nah, bos saya ini punya kehidupan lumayan unik. Seringnya dia tinggal di 4 negara, yaitu Jepang, USA (Hawaii), Australia dan Indonesia (Bali). Ini tak lepas dari jabatannya sebagai Managing Director di sebuah perusahaan telekomunikasi internasional asal Amerika. Jabatan Managing Director ini semacam ketuanya para Manager. Jadi semua manager harus melapor kepadanya. Dan itu yang membuatnya harus sering-sering keliling dunia untuk memantau semuanya. Dari semua bule yang pernah saya hadapi, saya harus akui, bule ini adalah bule terbaik yang saya kenal.

Di Bali, secara pribadi dia sekalian mendirikan perusahaan web hosting yang didalamnya saya sebagai IT Programmernya. Diluar negeri sana pula, kabarnya dia juga punya bisnis ‘kecil-kecilan’ lainnya. Selama 4 tahun itu pula saya amati, nih orang kok bisa-bisanya hidup keliling dunia tapi perusahaannya bisa tetap bisa berjalan di Bali, tanpa adanya pengawasan secara fisik oleh pemiliknya. Bisnis jalan, pemiliknya juga bisa jalan-jalan. Luar biasa, bukan? Dan ajaibnya, sekarang pun, setelah 3 tahun saya telah hengkang dari sana untuk menjalankan bisnis sendiri, tuh perusahaan masih juga berjalan, dan sekarang malah sudah berlari, artinya semakin maju.

Dari pengalaman inilah saya berkesimpulan secara sederhana, pemilik usaha (seorang bule) yang berada diluar Indonesia saja masih bisa menjalankan bisnisnya yang berada di Bali, apalagi kalau pemiliknya asli orang Indonesia kayak saya, dan berada di pulau Jawa! Semestinya lebih gampang lagi!!

Untuk menggambarkan memang mudah, untuk mencapai Bali, hanya diperlukan 30 menit penerbangan dari Surabaya.

Namun, saya sadar sekali, walaupun keinginan saya tersebut harus tertunda dulu, saya yakin ini adalah bagian dari skenarion yang Diatas. Saya hanya harus bisa menyukurinya dan menjalaninya dengan fokus penuh. Apapun yang terjadi, semuanya wajib disyukuri. Bisa jadi saya memang belum siap untuk itu. Pasti ada hikmah yang diberikan kepada saya.

Mundur dulu selangkah, untuk kemudian melompat lebih jauh. Atau malah, saya sudah maju selangkah lagi, untuk kemudian melompat lebih jauh lagi?? Amin!

Arif Haliman – Owner Busana Muslim Bali

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)