Lagi Indonesia Berduka
Friday, July 17, 2009 22:57Lagi Indonesia kembali berduka. Bom laknat itu kembali menyalak dengan keras, menghantam langsung di pusat kawasan bisnis paling prestisius di Jakarta, kawasan Mega Kuningan. Kali ini yang menjadi sasarannya adalah Hotel Ritz Carlton dan JW MArriot. Khusus untuk JW Marriot, ini adalah yang kedua kalinya sejak 6 tahun yang lalu juga dihantam sebuah bom.
Indonesia sudah bosan dengan semua kegiatan bom ini. Saya pribadi dan saya yakin juga berjuta-juta rakyat Indonesia lainnya sudah sangat bosan dengan kejadian seperti ini. Saya merasa feeling empty. Tidak punya perasaan apa-apa. Bukannya tidak bersimpati atau berempati, namun I just can’t speak anything. Sekali lagi: feeling empty. Masyarakat Indonesia yang sudah stres ini akan semakin stres kedepannya.
Banyak sekali yang melatarbelakangi kejadian pengeboman terbaru ini. Dari unsur dalam negeri, adanya pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil pilpres yang lalu berikut dengan pernak-perniknya. Bisa juga kawanan Noordin M Top menggeliat kembali. Atau muncul kelompok-kelompok baru lagi (entah atas nama agama, ideologi, kekuasaan, dsb) yang mencoba membuat semakin keruh langit Indonesia.
Dari unsur luar negeri sebetulnya juga banyak yang bisa dicurigai. Konspirasi global internasional bukannya tidak mungkin dilakukan untuk membuat negara Indonesia semakin terpuruk. Skenario jahat ini berupaya untuk membuat Indonesia tidak bisa membangun negaranya. Karena apabila Indonesia bisa membangun dengan gemilang dan kemudian berjaya, bisa dipastikan kekuatan Indonesia semakin berlipat dan pada akhirnya sulit untuk dicokok lagi hidungnya. Oleh karena itu, Indonesia harus dibuat selalu dalam keadaan terhuyung-huyung dan gampang jatuh. Kamu pasti sudah tahu siapa negara (Barat) yang paling terpukul apabila Indonesia semakin menjadi super power? Investasi minyak mereka di Indonesia pasti bakalan kena tendang!
Ingatlah bahwa Indonesia sebetulnya adalah negara yang super kaya. Apa yang ada di dunia ini yang tidak ada di Indonesia? Kalaulah kondisi sekarang kita masih carut-marut, itu salah satunya tak lepas dari bobroknya perilaku para penentu kebijaksanaan negeri ini yang masih menempatkan kepentingan pribadi dan golongan diatas kepentingan negara.
Ingatlah bahwa ada skenario untuk menjadikan Indonesia mirip dengan Iran. Proses pemilihan umum disana yang sudah berjalan dengan lancar dan fair seperti di Indonesia , masih saja diobok-obok oleh provokasi luar negeri (Barat) yang gilirannya kekacauan masih berlangsung hingga detik ini di Iran.
Kali ini jangan terburu-buru menuduh kelompok Islam sebagai pelakunya. Terlalu bodoh dan mengampangkan kalau hanya bisa menuduh pelakunya orang Islam. Kalaupun ternyata nanti memang ada unsur kelompok Islam didalamnya, jangan gampang menafsirkannya secara sederhana. Contoh-contoh seperti Amrozi, Imam Samudera cs atau kejadian 9/11 hanyalah fenomena gunung es. Tapi siapa yang berdiam di kaki gunung sebagai otak, sejatinya belumlah terungkap dengan jelas. Banyak sekali literatur yang menjelaskan semua itu. Jangan terkejut kalau pelakunya, kalau sudah terungkap, ternyata sangat jauh dari apa yang sering kita dengar selama ini.
Marilah berharap kepada Presiden SBY, jangan mudah menerima uluran tangan negara-negara Amerika, Australia dan Inggris dengan maksud membantu penyelidikan pengeboman ini. Ingatlah bahwa mereka ini adalah provokator sejati dengan Yahudi Israel dibelakangnya. Entah siapa pelakunya, apakah orang muslim atau bukan, di dunia ini merekalah yang paling ahli dalam hal menungganggi sebuah peristiwa. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa tidak ada makan siang gratis. Sekali mereka bisa masuk, artinya kedaulatan negara ini akan semakin terampas. Kata orang Jawa, dikei ati ngerogoh rempelo. Sudah dikasih ini, kemudian akan minta ini itu ini itu ini dan seterusnya.
Sekali ini saja Pak SBY, andalkan kemampuan dalam negeri. Percaya pada kemampuan diri sendiri. Perkuat konsolidasi. Perkuat komitmen. Utamakan persatuan bangsa secara rasional. Mungkin memang betul dengan mengandalkan dalam negeri kita tetap babak belur. Tapi dengan meminta bantuan luar negeri, kita akan babak belur kuadrat!
Pahit memang diawal dengan membawa prinsip mandiri, namun akan manis dikemudian hari demi tegaknya kembali kedaulatan bangsa dan negara Indonesia.


