KH. NAWAWI Mojokerto


Kalau sampean orang Mojokerto, atau pernah melintas masuk kedalam Kota Mojokerto, tempat dimana Majapahit (tepatnya di desa Trowulan, 20 menit berkendara), bekas kerajaan terbesar nusantara dulu pernah bercokol, sampean akan menemui salah satu nama jalan disana, yaitu Jl. KH. Nawawi.

Kiai Nawawi Mojokerto

Jl. KH. Nawawi berlokasi dekat dengan kantor pemkot di Jl. Gajahmada, tepatnya di pasar besar Tanjung Anyar, kota Mojokerto.

Sampean tahu, KH. Nawawi ini adalah pejuang di jaman kemerdekaan dulu. Ulama yang bersama-sama dengan santrinya, berperang melawan kafir penjajah.

Wafat di dusun Sumantoro, dekat daerah Kletek, Sidoarjo (yang dilewati jalur bus antar propinsi itu) pada tahun 1946, selang hanya setahun setelah Surabaya dibombardir oleh sekutu (Inggris dan Belanda), yang terkenal dengan peristiwa 10 November 1945 nya itu.

Selain sebagai Kiai, beliau jga komandan Laskar Sabilillah, resimen pejuang kemerdekaan akar rumput, yang sumbernya langsung dari pondok pesantren.

Bersama dengan santri-santrinya, beliau menjadi most wantednya Belanda di area Mojokerto, Sidoarjo dan Gresik, tempat laskar perjuangan itu dulu beroperasi. Hingga pada satu kesempatan, para serdadu londo berhasil mengeroyok sang Kiai hingga wafat, dengan luka tusukan 4 pisau bayonet di leher.

Mengapa bukan dengan tembakan bedil, khas Belanda? Menurut cucunya, ketika membacakan sekilas riwayat KH. Nawawi di acara napak tilas tahun kemarin, Kiai tak mempan peluru. Aneh? Tak usah heran. Karomah Allah Swt kepada hamba yang dicintainya, bisa lebih dari sekedar anti peluru. Wallahua’lam.

Nah, dalam 2 minggu kedepan, tanggal 3-6 Nov 2016, akan ada gawe lumayan besar di kota Mojokerto. Ada serangkaian kegiatan untuk mengenang hari-hari wafat dan perjuangannya KH. Nawawi, seperti pengajian umum, ziarah bersama Walikota, dan puncaknya adalah Napak Tilas sejauh 40km dri Sidoarjo-Mojokerto, mengenang perjalanan malam hari diusungnya jenazah Mbah Nawawi dri Sidoarjo ke Mojokerto, untuk dimakamkan di TPU Losari, desa Terusan.

Sampean umat Islam di Mojokerto, khususnya warga NU, harus banyak berterima kasih kepada beliau. Karena Mbah Nawawi ini adalah pendiri NU pertamakali di Mojokerto, tahun 1928.

Beliau pernah menjadi santrinya Hadratus Syaikh (Tuan Guru Besar) Hasyim Asy’ari di pondok pesantren Tebuireng Jombang, kakeknya Gus Dur itu. Lazim kita tahu, KH. Hasyim Asy’ari adalah pemrakarsa NU tahun 1926 di Jombang, 40 menit perjalanan dri Mojokerto.

Juga pernah nyantri di Syaikhuna (Guru Kami) Kholil di Bangkalan, Madura, yang kalau sampean baca kisah-kisah karomahnya, masya Allah betapa luar biasanya Allah Swt dalam mencintai hambanya yang satu itu. Mbah Kholil sendiri juga guru dari Mbah Hasyim, dan guru dari banyak sekali ulama-ulama masyhur pimpinan pondok pesantren, waktu itu.

Kalau sampean melintas kantor Walikota Mojokerto, tepat di seberangnya, ada pondok pesantren Tarbiyah Tahfidzul Qur’an An-Nawawi. Disanalah tempat yang tepat untuk mencari tahu riwayat lengkap KH. Nawawi beserta anak keturunannya secara pasti.

Juga bisa melalui pondok pesantren Al Multazam pimpinan Gus Makin di desa Kepuhanyar, Kab Mojokerto, ponpes sederhana namun insya Allah berkualitas karena diatas rata-rata, alumninya banyak yang sukses tembus perguruan tinggi ternama negeri ini. Cocok bagi sampean yang ingin anak-anaknya tak hanya paham akhirat (ilmu agama), tpi juga paham dunia (ilmu umum).

Atau lewat IKEBANA (Ikatan Keluarga Besar Bani Nawawi). Ikebana ini juga ada grup WAnya, dimana saya menjadi salah satu anggotanya.

Anyway, kalau sampean ingin berpartisipasi, berikut agendanya, insya Allah:

Tgl : 3 Nop `16 ( Khotmil Qur’an ).
Tgl : 4 Nop `16 ( Ziarah Makam ).
Tgl : 5-6 Nop `16 ( Napak Tilas ).

> Membuat Kolam Ikan Bahan Terpal

< Kawah Ijen