Sebagai donatur tetap dan juga simpatisan Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar Bali, 2 hari yang lalu saya mendapat undangan dari mereka, yang dalam rangka mempererat ukhuwah Islamiyah dan tali silaturahmi, mengadakan Kajian Islam dengan narasumber DR. Adian Husaini, MA yang acaranya diadakan sore tadi di pondok pesantren. Pak Adian (demikian saya biasa menyebutnya) bisa dibilang adalah tokoh nasional dengan sederet jabatan yang berhubungan dengan dakwah Islam, termasuk diantaranya sebagai dosen dan anggota MUI Pusat. Satu hal yang menjadi spesialisasi beliau adalah komitmen dan kehandalannya dalam menolak ideologi Sipilis (sekularisme, plularisme dan liberalisme).
Dan demi bisa bertemu langsung dengan tokoh yang tulisannya kerap saya sambangi di Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini di Hidayatullah, jadilah ba’da shalat Ashar sore tadi saya alhamdulillah bisa menghadiri undangan itu.
Kajian Islam mengenai bahayanya SIPILIS sore tadi disampaikan oleh Pak Adian dengan santai dan humor segar. Ini membuyarkan angan saya (yang belum pernah bertemu dengannya) bahwa dia adalah orang yang bawaannya serius. Dia membuka kajian sore itu dengan mengatakan bahwa MUI dalam rakernasnya pada tahun 2005 lalu sudah mengeluarkan fatwa haram mengenai paham SIPILIS. Paham ini begitu merusak akidah dan tauhid yang dikandung oleh ajaran Islam.
Namun dalam kenyataannya, para penentang fatwa haram ini kerap bersuara lantang dengan menuduh MUI melanggar hak asasi manusia dan oleh karena itu harus dibubarkan. Masih menurut Pak Adian, paham SIPILIS ini tidak saja menjadi persoalan dalam tubuh masyarakat muslim, namun juga hinggap di tubuh masyarakat Kristen. Vatikan saja juga merasa perlu mengeluarkan semacam fatwa untuk menolak paham ini yang juga sedang deras melanda orang Kristen.
Pengusung ideologi ini bisa dibagi menjadi 3 level. Yang pertama adalah level produsen. Mereka adalah pengedar asli yang berasal dari Barat. Lewat yayasan-yayasan yang didirikan, mereka berupaya mengekspor virus ini ke negara yang menjadi target virus, dalam hal ini misalnya Indonesia. Level kedua adalah distributor. Mereka adalah para civitas akademika di perguruan-perguruan tinggi yang membawa label agama, yang entah sadar atau tidak, dalam setiap disertasi maupun statemennya selalu mengandung unsur SIPILIS. Level yang terakhir adalah asongan atau pengecer. JIL atau Jaringan Islam Liberal adalah salah satunya.
Kajian sore hari itu terasa sangat gayeng dan santai, namun sarat ilmu. Dipaparkannya beberapa problem serius yang hinggap di tubuh umat Kristen dan Yahudi adalah salah satunya. Betapa mereka sebenarnya masih kerap berantem mengenai ’sekedar’ siapa nama tuhan mereka sebetulnya. Kalau dalam Islam jelas nama tuhan adalah Allah SWT, di Kristen maupun Yahudi kerap kali terjadi kebingungan dan multi tafsir atas beberapa nama tuhan yang tersedia.
Juga disebutkan beberapa alasan mengapa Yahudi selalu saja mencak-mencak kepada Islam. Dengan beberapa alasan yang disertakannya, Pak Adian mengatakan bahwa memang hanya Islam saja satu-satunya agama di dunia ini yang berani secara terang-terangan mengungkap segala kebobrokan Yahudi. Umat nabi Musa yang membangkang itu bisa kita sebut dengan sebutan ‘tengik’ karena gemar sekali membantah perintah nabi Musa sebagai pemimpin mereka.
Sebenarnya banyak sekali bahasan yang dikaji dalam kajian Islam sore tadi yang dihadiri sekitar 200 an jamaah, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Tentu saja semuanya berkaitan dengan paham yang memang sangat kontroversial seperti sekularisme, plularisme dan liberalisme ini. Adalah tugas kita untuk senantiasa waspada dan kritis, untuk selalu membentengi akidah dan tauhid kita hanya bersandar kepada Al-Quran dan sunah Rasulillah SAW.
