Indonesia Dikepung China: Antara Turis Dan Pekerja Ilegal

Hampir di seluruh Indonesia, baik pulau Jawa maupun luar Jawa, seperti sudah dikepung orang China. Yang dimaksud bukan China lokal warga negara Indonesia, tapi China langsung dari negara RRC (Tiongkok). Ini sulit disangkal. Terlalu banyak media yang memberitakannya, bahkan beberapa media yang selama ini pro pemerintah.

Tak hanya media, banyak pejabat tinggi yang juga mengeluarkan statemen tentang membanjirnya TKA dari China, dihampir semua area dan industri yang ada.

Pun, Mojokertoku tercinta, sebuah kota dan kebupaten kecil dekat Surabaya itu, sudah ramai di media tentang adanya TKA ilegal dari China di Mojokerto. Profesinya sebagai sopir perusahaan dan tenaga kasar.

Duhai..walaupun saya sudah tak domisili di Mojokerto selama 15 tahun, tapi yakin kalaulah sekadar profesi kayak gitu, sampai kiamat orang-orang lokal di sana masih bisa dan masih akan berebut melakukan pekerjaan itu. Tak perlu sampai impor. Apalagi diantara pekerja impor itu, banyak yang berstatus ilegal

Tapi, justru presiden RI sendiri yang menyanggah berita semacam itu. Dengan mengatakan bahwa orang China yang membanjiri Indonesia itu sebetulnya adalah turis. Pertanyaannya: turis China berkunjung ke Mojokerto? Apa yang dilihat disana? Tak ada destinasi lain apa? Bali, Yogya, Manado pasti lebih menarik daripada sekedar Mojokerto.

Dan sebelum sampean mempercayai sepenuhnya, ada baiknya kita lihat janji-janji presiden Jokowi dulu ketika berkampanye. Berapa biji yang sudah terealisasi?

Nah, silakan sekarang diambil keputusan untuk percaya atau tidak.

Just to mention a few; keluyuran di bandara Halim, landing di domestik untuk flight dari China, bejibun narkoba dari China melalui salah satunya material tiang pancang, menanam bibit beracun cabai dan tanaman lain, TKA dgn skil ecek-ecek (satpam, sopir, tukang las, dsb), punya KTP dan KK tapi tak bisa bahasa Indonesia..

Heeelllooooooowwww? Masih mau menunggu kasus-kasus berikutnya lagi…?

Terlalu banyak kasusnya yang membikin geli kalau itu dilakukan oleh sekedar turis.

Mungkin sampean berkomentar; sabar, kan masih 2 tahun. Sabar dari Hongkong? Setahun yang lalu komentar kayak gini juga yang dilontarkan. Toh nyatanya, tahun ini pun komentarnya masih sama.

Bagaimana kira-kira komentar tahun depan? Dan siapa yang berani jamin tahun ke 4 dan dan ke 5 komentarnya masih sama seperti itu, atau akan berubah?

Tapi memang, kita harus adil dalam meneropong. Di Bali, memang benar bahwa jumlah turis dari China sudah nomor 1 dari segi jumlah, menggeser Australia yang sebelumnya permanen selama puluhan tahun.

Artinya, itu rejeki juga buat Bali. Saya pribadi juga menikmatinya, berupa banyak solo traveler China (pelancong pribadi 2 – 5 orang) yang meminjam kendaraan pribadi kepada saya. Tapi, apakah betul 100% seperti itu sepenuhnya?

Saya adalah pelaku pariwisata di Bali. Hampir tiap hari bisa dibilang hilir mudik di bandara. Untuk group traveler (pelancong rombongan yang diatur oleh biro perjalanan), yang saya lihat ketika menjemput tamu di kedatangan international, terutama pesawat yang membawa turis China, para penjemputnya (kebanyakan sekaligus guide) juga orang China.

Saya amati lebih dekat, jelas mereka bukan orang China lokal dari Bali, atau mungkin dari Jakarta atau daerah lain di Indonesia.

Wajah dan warna kulit putihnya (dan bicaranya) yang paling menandakan bahwa mereka bukan China lokal.

Yang paling masuk akal, mereka orang China dari luar. Dan kalau dihubungkan dengan maraknya penetrasi negara RRC dalam berinvestasi di Indonesia, mereka asalnya dari RRC (Tiongkok).

Pun pemandangan yang sama terlihat di terminal keberangkatan bandara, begitu turun dari bus besar untuk terbang balik ke negaranya, para turis China itu di guide oleh sesama mereka. Beberapa mereka memang pakai pakaian tradisional Bali, tapi mereka bukan orang Bali, atau lokal. Saya yakin, lama-lama sopir bus dan keneknya pun juga akan digantikan oleh mereka.

Ini artinya apa? Benar. Uang mereka mayoritasnya hanya berputar di mereka juga. Orang lokal, apalagi yang main di lapisan bawah, gigit jari.

Kalau mereka makan di restoran, besar kemungkinan mereka mampirnya di restoran milik orang China juga. Ini sudah dikoordinir oleh biro perjalannya. Spa dan aneka aktivitas lain, sebelas duabelas, lah. Kalaulah bukan milik orang China RRC, besar kemungkinan milik orang China Jakarta.

Kalau daerah sampean ada proyek PLTU, seperti banyak berita yang beredar, besar kemungkinan pelaksana proyek berikut seluruh pekerjanya, adalah TKA China. Seperti itu pulalah yang terjadi di pulau Bali.

Adalah di pelabuhan Celukan Bawang Buleleng, sejak setahun lalu hampir 100% pekerjanya tak ada orang lokal. Sampai-sampai pejabat Bali yang berpidato mengaku, ditengah-tengah pidatonya dia baru ngeh bahwa percuma dia ngomong panjang lebar, karena semua pendengarnya adalah orang China yang gak ngerti bahasa Indonesia 🙂

Bagaimana dengan fotografi, atau jasa potret pre wedding? Sama saja. Sudah banyak (terakhir 2 bulan lalu), penyewa mobil saya sendiri dari Tiongkok masih berpakaian gaun dan jas pengantin, belum sempat ganti baju ketika mengembalikan mobil di bandara.

Jangan ditanya fotografernya 🙂 Doi juga tergopoh-gopoh membereskan peralatan potretnya yang komplet, kuatir ketinggalan pesawat.

Sampai sebegitunya. Bahkan untuk keperluan pemotretan pre wedding, mereka lebih suka membawa langsung tukang potretnya dari negara mereka, alih-alih menyewa tenaga lokal disini.

Sampean harus tahu, orang China, dinegara manapun mereka berada, terkenal kuat rasa bersatunya. Mereka lebih senang bekerja sama dengan sesama mereka, daripada dengan orang lokal dinegara manapun itu.

Mungkin ini mirip dengan terkenal bersatunya orang Madura dimanapun mereka merantau di wilayah Indonesia ini, hehe 🙂 Entah gimana dengan daerah sampean, di Bali sini, orang Madura terkenal juga dengan rasa bersatunya. Saling tolong menolong antar sesama mereka. Tak usahlah bicara sekedar bagaimana mereka bantu membantu sesamanya kalau ingin buka warung sate gule Madura..

Kalau sampean pernah jadi turis di Bali, dan berkunjung di pusat turis seperti Kuta, Padma, Legian dan lain sebagainya, mayoritas (walaupun tak semuanya) para penjual cinderamata yang menempati toko-toko dipinggir jalan adalah orang Madura. Sampean bisa mengenalinya dari caranya ngomong. Juga dari cara berpakaiannya (yang wanita berjilbab). Bisa jadi sih mereka orang Lombok, tapi kalau sampean hafal dengan yang namanya logat, tak diragukan lagi mereka adalah orang Madura.

Ini dikonfirmasi oleh teman-teman jama’ah masjid saya. Banyak teman-teman ini yang juga buka toko di daerah turis itu. Jadi mereka tahu persis. Mulai jualan sandal, sarung pantai, jaket kulit, dan macem-macem lainnya. Orang etnis Madura di daerah situ, dalam hal persatuan, tak ada yang bisa mengalahkan mereka, dan mungkin hanya bisa dikalahkan orang etnis China 🙂

Arif Haliman

http://www.muslimbusana.com – Toko Busana Muslim Online di Bali

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)