Hutang Saya Sedang Banyak

Saya sedang banyak hutang. Eits, tunggu dulu, bukan hutang uang, tapi hutang membaca. Hutang membaca? Iya, hutang membaca. Maksud saya, di rumah sedang menunggu saya 5 buah judul buku baru yang kesemuanya masih belum saya khatamkan. Ini adalah hal yang mengherankan. Sebelumnya, belum pernah saya sampai berhutang membaca sebanyak ini. Paling banter biasanya hanya 2 buah judul buku. Kalau sekarang sudah sampai hitungan 5, berarti ada yang menjadi penyebab utama.

Saya gemar sekali membaca buku. Oleh karena itu, dalam setiap kesempatan putar-putar kota DenpasarBali bersama istri dan anak, saya selalu menyempatkan diri untuk masuk ke toko buku. Kalau dibuatkan semacam visiting list atau daftar kunjungan kalau saya sedang ada acara keluar rumah, toko buku ada di urutan ketiga. Sebelumnya yaitu masjid, lalu airport,  kemudian tempat makan 🙂 Khusus untuk tempat makan (tidak peduli kelas warteg hingga lalapan lele, atau kelas KFC hingga Papa Ron’s Pizza), sebisa mungkin tidak terlalu sering. Lebih menyehatkan makan di rumah saja daripada nongkrong ditempat makan kayak gitu. Suer!

Sekedar informasi, di Denpasar terdapat toko buku besar seperti Gramedia, Gunung Agung dan Toga Mas. Gramedia disini ada 2 buah, satu di Duta Plaza Denpasar, dan satunya lagi di Bali Galeria Kuta, lebih kurang 5 menit perjalanan mobil ke arah Airport Ngurah Rai Bali. Kalau ingin melihat koleksi buku yang lebih komplet, Gramedia Bali Galeria Kuta adalah pilihannya.

Untuk toko buku Gunung Agung, di Denpasar juga ada 2 buah. Satu di pertokoan LIBI Plaza Denpasar, dan satunya lagi di Mall Bali Ramayana. Untuk toko buku Toga Mas, hanya ada satu buah di daerah sekitaran Jl. Hayam Wuruk Denpasar. Untuk kamu yang hobi diskon dan berstatus mahasiswa, lebih baik datang ke toko buku ini. Program diskonnya berjalan secara kontinu, dan ini yang menjadi daya tarik mereka, disamping sampul gratis buku yang kita beli.

Kembali ke topik, selidik punya selidik, ternyata penyumbang terbesar menumpuknya hutang membaca buku, karena adanya hiburan baru di rumah saya. Seperti saya tulis disini, kegiatan baru ini lumayan menyita waktu saya untuk membaca buku. Mohon maklum, seperti hal baru lainnya, tentunya ini akan mencuri perhatian kita. Rutinitas kita akan sedikit berjalan berbeda. Dan tergantung dari seberapa lama perhatian kita akan tercuri oleh hal baru tadi, biasanya kehidupan normal akan berangsur-angsur pulih 😉

Televisi berlangganan seperti ini sungguh mengasyikkan. Selain membaca buku, saya juga hobi nonton film. Dalam periode waktu tertentu, saya biasanya selalu menyewa film-film mutakhir di Zinemax atau Video Ezy. Nah, berbicara tentang adanya Indovision di rumah, yang tentunya lengkap dengan saluran film-film HBO (Home Box Office), bisa dibayangkan apa jadinya. Ya, alokasi waktu membaca saya (biasanya siang hari sebelum tidur siang dan malam hari sebelum tidur malam), berubah menjadi alokasi waktu untuk mononton film 😉

Bahan bacaan di rumah bagi saya adalah kewajiban. Tidak enak rasanya kalau tidak ada buku yang bisa dibaca. Rutinitas keseharian seakan ada yang hilang kalau tidak ada acara baca buku. Alhamdulillah, hobi ini banyak membawa kebaikan. Saya mulai menyukainya sejak di bangku sekolah dasar. Pada waktu itu, bacaan yang mendominasi adalah komik-komik seperti Doraemon, Dragon Ballz, Trio Detektif, Empat Sekawan, Lucky Luke, Tin Tin, Smurf, dan sebangsanya. Dan, hobi membaca ini jugalah penyebab saya sudah harus berkacamata sejak kelas 2 SMP.

Kebiasaan membaca akhirnya membuat saya gemar menulis. Pada usia sekolah dasar, satu dua cerita pendek (cerpen) saya pernah dimuat di majalah mingguan anak-anak Mentari Putera Harapan (kayaknya sudah almarhum). Begitu juga untuk kolom humor. Saya rajin mengirimkan humor ke majalah itu via kartu pos. Kalau cerpen, harus diketik pakai mesin ketik dan dimasukkan kedalam amplop. Honor yang diterima seingat saya sungguh lumayan: Rp 20.000 per cerpen, dan Rp 2.000 per humor.

Di majalah Mentari, ada satu tokoh Hamindalid Si Penyihir Jenaka yang sangat saya sukai. Semua anak yang membaca majalah ini pasti menyukai dia. Ketenarannya waktu itu, mungkin hanya bisa disejajarkan dengan tokoh Bobo, atau Paman Gembul di majalah Bobo Sahabat Anak (Majalah Bobo masih eksis sampai sekarang).

Jaman saya SD, belum ada teknologi digital secanggih sekarang ini. Kalaupun ada, pasti hanya segelintir orang yang sudah menikmatinya. Komputer saya belum punya, apalagi flash disk! Kalau ada, mungkin cerpen saya di majalah itu masih ada di komputer atau flash disk saya hiks.. 🙁 Hu..hu..hu..jadi rindu masa kecil.. 😉

Sekarang ini, sedang menunggu judul 5 buah buku yang harus segera dituntaskan:

1) One-way Ticket To Heaven : 5 Rahasia Meraih Sukses Sejati di Dunia dan Akhirat by Ateng Kusnadi

2) Strategi Sukses Para CEO Dunia by BusinessWeek

3) Aku Beriman, Maka Aku Bertanya by Prof. Jeffrey Lang

4) 50 Great Business Ideas from Indonesia by M. Ma’ruf

5) Lupus ABG: Suster Ngepoot! by Hilman dan Boim Lebon.

Ayo, hajar !

Arif Haliman – Owner Busana Muslim Bali

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

xixixixi.. tak pikir utang duit mas, tersindir aku jadinya :).. Btw nama dan hobbynya koq sama, Laptop dan buku. ada apa ya dengan nama Arif??

mas…majalah mentari masih ada lho! hahaha…ngomong2 saya juga suka tuh sama hamindalid..,sekarang namanya ubah jadi hamimud

Hah! Masak?? Saya kok tidak pernah tahu ya? Apa karena saya sedemikian kupernya di Denpasar ini???

Hamimud???? Nama apa pula ini, kok jelek!?

Leave a comment

(required)

(required)