Hari Pertama Masuk TK

Hari ini adalah pertama kali bagi anak saya masuk sekolah TK (Taman Kanak-Kanak). Hari ini juga dia baru pertama kalinya memakai yang namanya seragam. Bawahan biru dengan atasan putih. Warna yang senada untuk jilbab yang dipakainya. Dia terlihat cantik, seperti biasanya dengan pakaian apapun yang dia kenakan. Nama TKnya adalah TK Ya-Bunayya di daerah Pemogan, Denpasar.

Namanya Tika. Sekarang umurnya 4 tahun 3 bulan. Dan selama umur itu pula saya benar-benar bersyukur masih diberi kepercayaan oleh Allah SWT untuk tetap bisa bersama dan mendampinginya. Alhamdulillah, masih tetap diberi kesehatan untuk bisa bermain dan menatapnya sepanjang hari. Teringat beberapa anak yang belum genap seumur Tika, bahkan sudah harus kehilangan tatapan mata ayahnya, karena ayahnya sudah dipanggil Yang Maha Esa.

Ibu dan anak bersiap berangkat sekolah

Ibu dan anak bersiap berangkat sekolah

Tidak terasa yang dulu anak-anak, sekarang sudah punya anak 🙂 Rasanya masih tidak percaya bahwa saya bisa juga punya anak 😉 Bukannya apa-apa, mengingat dulu sebegitu culun dan gobloknya, kok sekarang jadi makin culun aja hehehe…Masih segar dalam ingatan saya, mengenai debut pertama saya dalam menjalani pendidikan formal, yaitu di TK. Jarak sekolah yang hanya 30 meter itu, tidak membuat saya semangat ’45 untuk segera berangkat. Ada-ada saja alasan untuk bisa sedikit lemot dan ogah-ogahan. Kakak saya bahkan sampai harus nendang bokong saya berulangkali agar lekas berangkat. Saya yang sangat imut waktu itu, dengan bersungut-sungut mau tidak mau harus berangkat juga akhirnya. Dengan bonongen di jidat (tahu bonongen? Itu benjolan item sebesar kira-kira 2x telur puyuh penyakit khas anak kecil waktu itu), plus kaleng air minum dan kotak kue yang super besar, saya lebih mirip alien dari Neptunus yang kelaparan daripada cowok imut yang sedang berangkat ke TK.

Namun sebelumnya, pagi itu, saya sudah harus menerima berbagai macam ‘teror’ dari orang tua, terutama ibu, untuk segera bangun dan mandi pagi. Waktu itu, pukul 6 atau 7 pagi adalah masa-masa masih melungker di kasur dengan iler mengalir kemana-mana. Sudah gitu, enaknya, kadang-kadang masih dibelai juga dengan lembut. Kondisi senyaman itu sudah saya jalani selama 4 tahun, tepatnya sejak lahir ceprot dari perut ibu. Dan sebagaimana anak-anak lainnya seumuran cendol, segala gangguan sekecil apapun membawa potensi hilangnya kenyamanan.  Oleh karena itu, bisa dibayangkan bagaimana dongkolnya hati ini menerima segala macam teror, sepagi itu.

Tetapi, setelah lebih 25 tahun kemudian, teror yang sama itu jugalah yang saya layangkan ke anak saya pagi ini (Hu..hu.ampun ibu.. bapak, kenapa dulu saya kok merasa dongkol, ya?). Bahu-membahu bersama istri saya (yang lagi hamil 2 bulan), Tika yang masih tertidur pulas dengan iler masih menetes dan udel menyembul dari bali baju tidurnya, kami teror juga tanpa ampun.

Pertama adalah menggoncang-goncangkan badannya berulangkali secara brutal. Setelah itu saya kitik-kitik kakinya. Tidak mempan dan masih melungker, saya kitik-kitik pinggangnya, more brutal. Biasanya, tahapan seperti itu sudah bisa membuatnya bereaksi: Tendangan kaki ke muka atau badan saya. Saya yang sudah hapal arah tendangannya, masih bisa ngeles, walaupun muka saya nyaris pesek, hehehe.. Beberapa waktu saya teruskan ktik-kitik pinggangnya, biasanya dia sudah mampu membuka matanya.

Pada tahapan ini, matanya biasanya sudah bisa ketap-ketip, dan bisa diajak omong. Ya sudah, lalu saya ajak bercanda yang respon selanjutnya adalah senyum-senyum. Untuk membuat senyumnya lebih mengembang, saya ingatkan bahwa kamu harus berangkat sekolah pagi ini dengan memberi gambaran sedikit suasana sekolah yang sangat menyenangkan itu. Bahwa disana nanti akan bertemu banyak teman-teman dan ibu guru. Diajari baris-berbaris. Saya ajari kalau ditanya ibu guru namanya siapa? Jawab dengan keras: “Tika!”. Kalau ditanya lagi siapa yang suka bangun pagi? Jawab dengan keras: “Tika!!”. Kalau ada lagi siapa yang sudah tidak nangisan? Jawab dengan keras: “Tika!!!”. Semua ajaran itu diserapnya dengan baik, sambil tidak lupa untuk acung tangan tinggi-tinggi sembari menjawab.

Selanjutnya dia sudah bisa gulung-gulung di kasur. Walaupun masih belum bangkit, tapi ini sudah pertanda baik. Artinya, dia sudah siap menerima teror berikutnya yang tak kalah brutal. Ujug-ujug datang sang istri tercinta, tanpa ba-bi-bu langsung menarik seprei kasur. Alhasil, tarikan itu mau tak mau membuat Tika harus bergulingan sampai ke pinggir kasur. Di posisi seperti itu, mudah bagi kita kemudian untuk bisa segera menangkapnya dan membawanya ke kamar mandi 🙂

Fase baru sedang dimasuki oleh anak saya. Fase baru pula kami sebagai orang tua dalam mendampingi anak masuk masa sekolah.

Selamat menikmati hari-hari sekolah, ya nak! InsyaAllah semakin bertambah cantik dan pintar.

Semoga tetap Engkau berikan pertolongan dan barokah, ya Allah..

Wassalam,

Arif Haliman – Owner Busana Muslim Bali

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

[…] shalat berjamaah di masjid. Bagi saya, ini adalah kesempatan untuk mengajak anak saya bernama Tika yang baru masuk TK, untuk mengenal masjid. Biasanya shalat Dzuhur saya selalu mengajak dia, dan alhamdulillah anak […]

waduuuh ceritanya sama banget ma keseharian yg saya alami pak arif,…terimakasih sudah mengingatkan betapa indahnya rutinitas itu,….

Leave a comment

(required)

(required)