Differentiation Sebuah Produk

Thursday, November 5, 2009 10:59
Posted in category Bisnis, Pribadi

Saya baru saja membeli bukunya Hermawan Kartajaya On Differentiation. Sebetulnya buku ini sudah masuk kategori jadul. Cetakannya pertamanya saja tahun 2004. Saya juga sudah sering berulangkali melihat buku ini terongok di toko buku macam Gramedia, Gunung Agung maupun Togamas, tapi selama itu pula saya masih enggan untuk membelinya. Baru beberapa hari yang lalu saya tergerak untuk mengambil buku ini bersama buku-buku yang lain dan membawanya ke kasir. Kecuali, – yang menurut saya beberapa contoh kasus sudah tidak relevan – over all, saya merasa masih ada beberapa relevansi untuk kasus saya sendiri.

Hal yang malatarbelakangi saya membeli buku yang termasuk dalam Seri 9 Elemen Marketing ini, pertama-tama karena pengarangnya yang memang orang hebat. Hermawan Kartajaya sejak tahun 2002 menjabat Presiden Asosiasi Perdagangan Dunia. Dia juga pendiri MarkPlus & Co yang terkenal itu.  Kedua karena saya memang ingin memperdalam sebuah bidang bisnis yang berkenaan dengan ‘Tampil Beda’ atau Differentiation ini.

Impian saya yang ingin memproduksi baju muslim dengan membawa merek sendiri belumlah sirna :) Malah akhir-akhir ini imipian itu semakin menjadi-jadi. Diskusi yang lebih intens dengan istri, mendatangi tukang sablon, tukang celup, tukang jahit dan sebagainya untuk meminta petunjuk sudah dilakukan. Hal ini sesuai tekad saya bulan Ramadhan kemarin, bahwa saya berkeinginan kuat insyaAllah diberi kemudahan dan kelancaran urusan untuk sudah bisa memproduksi sendiri busana muslimah wanita ini setidaknya sebelum tahun 2009 berakhir. Amin :)

Dalam kaitannya dengan buku On Differentiation yang saya beli ini, saya ingin busana muslim yang saya produksi nanti setidaknya sesuai dengan bahasan buku itu: Different. Atau lain dengan yang lain. Out of the box. Get it from the crowd. Dan entah nama lain apa lagi. Entah menitik beratkan pada apanya, yang jelas nanti pokoknya harus lain. Harus sesuatu yang ketika dilempar dipasar, calon konsumen langsung berkomentar: “Wah, ini lain, nih!”.

Padahal sebetulnya produknya ya sama saja, yaitu baju muslim, yang sudah seabreg bertebaran di bumi Indonesia ini, entah itu merek yang sudah lama terkenal, atau yang baru saja lahir.

Terus mengapa kok harus lain? Karena kalau tidak lain dengan yang lain, saya yakin kagak bakalan laku, alias gatot penjualannya. Lantas, apakah kalau sudah different, apalah nanti memang laku? Pertanyaan bagus. Jawabannya: Tidak. Namun setidaknya saya sudah melewati tahapan pertama yaitu menghindari semakin bertumpuknya produk yang sama, menyasar pasar yang sama, metode pemasaran yang sama, dan persamaan-persamaan lain yang notabene calon pelanggan enggan meliriknya. Nah, yang seperti ini yang sebisa mungkin saya hindari.

Dalam buku On Differentiation ini, Hermawan memberikan banyak contoh kasus. Diantaranya mengapa ayam goreng McDonalds yang jelas-jelas tidak lebih enak dari ayam goreng KFC, Wendys atau bahkan Suharti, masih saja diserbu pembeli kalau mereka masuk gerai McD. Mengapa juga rokok Sampoerna A Mild selalu dan terus menjadi market leader atau pemimpin pasar rokok ditengah persaingan sangat ketat produk rokok lama maupun baru? Dan bagaimana Steve Jobs sang pendiri Apple yang ditendang keluar perusahaan, namun akhirnya bisa balik lagi dan melejitkan jauh lebih tinggi lagi nama Apple di industri komputer?

Oh iya satu lagi yang sedang membuat saya bersemangat: Ada order kedua dari repeat customer Singapura untuk memproduksi baju lagi dibulan ini. Kuantitinya bertambah, lho. Bertambah sibuk nih untuk urusan yang berkaitan dengan produksi baju. Jadinya, klop dah!

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply