Dari Bisnis Online ke Bisnis Offline

Perjalanan bisnis saya, mungkin agak sedikit melawan arus tradisional yang lazim terjadi di masyarakat. Melawan arus disini saya kaitkan dengan kebiasaan seseorang, khususnya masyarakat Indonesia, yang didalam menjalankan usaha, biasanya memulainya dengan cara tradisional, seperti buka toko dipinggir jalan, atau buka toko dipasar, atau juga dirumah. Ada juga yang memulai usaha dengan melakukan aktifitas door-to-door, berkeliling kompleks perumahan. Singkatnya, cara tradisional seperti itu adalah non-online (offline). Baru setelah dirasa bisnis offlinenya sudah stabil, mereka kemudian melirik bisnis online.

Apa yang saya lakukan, terutama pada waktu itu (sekitar 7 tahun yang lalu), sekali lagi berlawanan dengan apa yang kebanyakan dilakukan dengan cara-cara diatas. Alih-alih membuka lapak dipinggir jalan dan memasang spanduk, saya membuka lapak Online. Ya, saya membuat website, dan menjual barang dagangan saya diwebsite itu secara online.

Apa yang saya lakukan, erat kaitannya dengan profesi saya waktu itu, yaitu sebagai seorang web programmer disebuah perusahaan milik orang asing (Selandia Baru), yang menjual berbagai barang dan jasa secara online keseluruh dunia. Ya, disitu, saya adalah tukang membuat website. Bukan disainnya (itu tugas web designer), tapi sistemnya, atau alur program. Sebagai manusia yang bisa berpikir untuk selalu menjadi lebih baik, saya melakukan apa yang telah banyak dilakukan oleh orang-orang sukses lainnya: ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Begitulah, melalui proses ATM itu, saya berkata kepada diri saya sendiri, sepertinya saya juga bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh perusahaan saya, yaitu berbisnis online. Akhirnya, saya mengajukan resign kekantor.

Dari sekian lama proses Amati dan Tiru itu sebelumnya, sampailah saya pada proses Modifikasi. Dalam hal ini memodifikasi bidang atau jenis barang dagangan. Dari sekian banyak pilihan, akhirnya jatuh kepada busana muslim. Alasannya, waktu itu tahun 2007, pemain bisnis busana muslim online masih sangat sedikit. Seingat saya, masih dikisaran diangka 700 ratusan berdasarkan SERP (search engine result page) nya Google. Bandingkan dengan hari ini yang sudah mencapai 10 jutaan. Alasan kedua, saya melihat booming perdagangan baju muslim akan makin mengkilat, dengan indikasi semakin maraknya penggunaan busana muslim dikalangan masyarakat.

Alasan terakhir saya memilih berbisnis busana muslim, karena saya sudah bertekat, istri yang juga sudah berjilbab (berbusana muslim) yang sebentar lagi akan kelar kuliahnya alias diwisuda, tidak perlu kesana kemari melamar pekerjaan, tapi langsung bekerja kepada saya. Ya, istri akan saya berdayakan menjadi pegawai saya berjualan busana muslim online 🙂 Cocok, kan ?

Lalu, tibalah masa-masa sulit itu. Apakah itu ? Yaitu awalan merintis bisnis busana muslim online. Mulai dari sulitnya mencari produsen busana muslim dengan merek tertentu, cekaknya kondisi keuangan, minimnya pengalaman berdagang, hingga kemudian ada uang kulakan raib tak berbekas. Kalau bukan dilandasi dengan semangat ingin berubah menjadi lebih baik, pasti sudah saya tutup rintisan bisnis itu, dan kembali melakukan hal yang mudah: melamar kerja.

Disamping masa-masa sulit itu, alhamdulillah, disisi pembuatan websitenya sendiri, saya tidak mengalami kesulitan. Itu yang sampai sekarang sangat saya syukuri. Karena membuat website adalah pekerjaan saya sehari-hari. Membuat website, bagi saya seperti membuat teh manis hangat dipagi hari. Mudah. Persis seperti kata Foke: Serahkan ke Ahlinya. Dan, dalam urusan website, saya memang ahlinya. Ahli membuat website, sekaligus memasarkannya. Oleh karena itu, syukur alhamdulillah, berkat keahlian memasarkan website (melalui teknik SEO – Search Engine Optimization), dalam waktu 3 – 4 bulan, website saya www.MuslimBusana.com langsung menyodok keposisi papan atas Google. Apa artinya kalau website kita punya posisi baik di Google ? Website kita banyak pengunjung sehingga peluang terjadi transaksi akan sangat besar.

Singkat cerita, dari keberhasilan saya berbisnis busana muslim online, saya kemudian melirik bisnis offline, yaitu membuka toko baju muslim dengan mengambil tempat diruang tamu rumah saya. Lalu, bisa menyewa sepetak toko, dan kemudian berlanjut mampu menyewa sebuah ruko. Berikutnya, sudah pasti ingin mampu membeli dan memiliki ruko sendiri dipinggir jalan, Amin 🙂

Begitulah, sekali lagi, berlawanan dengan kebiasaan orang yang memulai bisnis offline dulu baru menjamah online, saya memulainya dari online dulu baru beralih ke offline. Dua-duanya adalah sama baiknya. Bagaimana dengan kamu ? Terserah mau memilih yang mana dulu, semoga bisa menjadi inspirasi dan motivasi.

Arif Haliman

http://www.muslimbusana.com – Toko Busana Muslim di Bali
http://www.baliwebby.com – Sewa Mobil & Motor di Bali

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)