Archive for the Category » Pribadi «

Wednesday, March 03rd, 2010 | Author: Arif Haliman

Coming Up! Setelah tengok kiri tengok kanan, akhirnya saya bersama istri memutuskan untuk menjadi Agen Resmi Ukhti wilayah Bali. Apakah Ukhti? Ini adalah merek baju dari bahan kaos untuk muslimah dan anak-anak. Sejenis dengan SIK Clothing dimana saya juga telah menjadi Distributor resminya untuk wilayah Bali. Lantas, mengapa sebelum bergabung bersama Ukhti harus tengok kiri tengok kanan? Yah, sederhananya, tengok kiri adalah melihat potensi pasar, dan tengok kanan adalah berdoa kepada Allah SWT :)

Potensi pasar, dalam arti kesempatan saya untuk bisa berhasil memasarkan merek Ukhti, insyaAllah terbuka lebar. Kompetisi untuk merebut hati calon pembeli Ukhti mungkin memang akan seketat dengan menarik pembeli SIK Clothing (Sedayu Ikhlas Kreasi). SIK memang muncul lebih dulu daripada Ukhti, mungkin itu sebagai faktor utama mengapa kelihatannya SIK masih menjadi primadona kaos muslimah dibanding dengan Ukthi, dimata para pembeli.

Namun, yang membuat potensi pasar Ukhti insyaAllah akan besar bagi saya adalah, dibanding dengan SIK, saya pribadi berpendapat Ukhti lebih bagus dalam disain. Meskipun sebagai pendatang belakangan, namun bisa dibilang Ukhti tampil lebih fresh dan variatif. Ukhti dalam memasarkan kaos muslimahnya, tidak hanya menyasar pemakai dewasa seperti yang dilakukan SIK, namun juga anak-anak.

Selain itu, new comer, asalkan bagus dan menarik, biasanya akan langsung bisa menarik perhatian calon pembeli. Mereka biasanya memang memerlukan sesuatu yang baru, sebagai alternatif dari produk-produk yang sudah ada. Dan yang paling penting, sesuatu yang baru juga bisa membuat penjualnya (yaitu saya) juga mendapat suntikan semangat baru :) Yang namanya bekerja, dalam hal ini jualan kaos, kalau sudah niat dan bersemangat, biasanya berbagai kemudahan dan kelancaran akan didapat. Law of Attraction kata Rhonda Byrne lewat The Secret nya. Hukum Ketertarikan kata orang Indonesia, atau above off all, “Aku menurut sangkaan hamba Ku”, firman Allah SWT.

Jadi, sederhananya, saya tinggal merasa dan berpikir bahwa usaha saya memasarkan Ukhti busana muslim akan berhasil, dan insyaAllah memang keberhasilan itu akan nyata adanya. Thoughts influence chance.

Terakhir, yang membuat lega, waktu yang diperlukan untuk menjadi Agen Resmi kaos muslimah Ukhti ini,  cairnya persetujuan sangatlah cepat: 1 jam saja! Mungkin ini tandanya jodoh :) Dibandingkan sewaktu melamar ke SIK untuk menjadi Distributor wilayah Bali, waktu yang diperlukan berdarah-darah: satu setengah tahun!

Penambahan merek baru di website http://www.muslimbusana.com milik saya ini akan semakin menambah kesemarakan produk baju muslim yang kami tawarkan. Keuntungan bagi pembeli adalah, adanya tambahan alternatif busana muslim yang bisa mereka pilih. Khusus untuk kategori kaos muslimah, dengan adanya penambahan Ukti busana muslim, total akan ada 3 merek produk kaos muslimah, setelah Sik Clothing dan Qirani.

InsyaAllah bisa membawa tambahan semangat dan keberkahan baru. Amin.

Saturday, February 27th, 2010 | Author: Arif Haliman

Majalah SWA edisi terbaru (No. 04/XXVI/18 Feb-3Mar 2010) menurunkan artikel utama yang sangat menarik. Kolom Sajian Utama yang menjadi andalan disetiap edisinya kali ini membahas mengenai Digitalpreneur. Digitalpreneur adalah sebutan untuk pemilik usaha atau pemilik ide yang berkecimpung dalam dunia usaha berbasis 100% teknologi informasi. Digitalpreneur - seiring dengan maraknya kehidupan berinternet di Indonesia - memang sedang mewabah akhir-akhir ini. Untuk pengertian yang lebih sederhana, saya lebih suka menyebutnya Netpreneur. Dan saya, sebagai salah satu netpreneurs di Indonesia, merasa antusias untuk mengetahui sepak terjang mereka.

Ternyata, mereka yang berkecimpung dibisnis ini benar-benar luar biasa. Melebihi perkiraan saya selama ini. Bisa dikatakan, model bisnis (berikut produk bisnis) yang mereka usung sangat inspriratif. Selintas, kita menjadi lupa bahwa ini adalah Indonesia, dan bukan Amerika. Bahwa mereka ini adalah orang-orang Indonesia asli, dan bukan alien luar negeri. Seakan baru terbangun, pikiran saya tiba-tiba menyeruak ke permukaan, sadar bahwa karya teknologi informasi yang diusung anak negeri ini berpotensi akan (dan malah beberapa sudah) berkelas internasional!

Seperti sudah diketahui, banyak provider jasa internet yang berlomba menawarkan paket internet murah. Alhasil, kunjungan ke situs-situs yang bertebaran di internet semakin terbuka lebar. Ditunjang dengan kemunculan fenomenal Facebook, Twitter dan situs jejaring sosial lainnya, seakan usaha warnet yang dulu sempat saya perkirakan akan kembang-kempis, ternyata keliru. Umumnya, usaha warnet sekarang ini tetap eksis dan tampaknya bakalan tetap berjaya.

Tahu Kaskus.us ? Ini adalah situs komunitas asli bikinan anak negeri. Saat ini anggotanya lebih dari 1,3 juta orang! Dengan sekitar 50 buah perusahaan yang mengiklankan diri disana, bisa dibayangkan berapa penghasilan Andrew Darwin cs, yang memulai membangun situs ini dari sekedar hobi. Terilhami dari ini, lahir juga situs Koprol.com, yang menggabungan semua fungsi yang ada di Facebook, Twitter dan Plurk. Ada juga FUPEI (Friends Uniting Program Especially Indonesian), situs pertemanan asli Indonesia. Anggotanya bertambah sekitar 300 orang per hari. Tidak lupa kita sebut juga Beoscope, replikasi sejenis YouTube, namun karya asli Indonesia.

Disamping itu, perkembangan gadget juga luar biasa. Berbanding lurus dengan tingkat penggunanya yang juga semakin meningkat. BlackBerry, iPhone, dan smartphones lain yang semakin friendly terhubung ke internet adalah bukti konkret yang semakin memuluskan langkah pelaku bisnis industri berbasis online. Berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh situs berbasis komunitas atau pertemanan dengan bekerjasama dengan vendor smartphones, turut menambah kesemarakan bisnis ini. Sekedar mengingatkan, pengguna Facebook di Indonesia menempati urutan kedua pertumbuhan tercepat setelah Amerika.

Beragam aplikasi bikinan anak negeri mulai bertebaran. Aplikasi XL Mall adalah toko maya untuk pelanggan BlackBerry besutan Kemal Arsjad. Melalui XL Mall, pelanggan bisa membeli berbagai aplikasi seperti RBT, wallpaper, dsb. Dengan lisensi langsung dari RIM (Research in Motion), pemilik BlackBerry, Kemal mendapat kepercayaan penuh untuk mengembangkan aplikasi ini.

Aplikasi-aplikasi lain juga banyak. Sebut saja yang berkenaan dengan SMS reminder, SMS banking, dsb, yang kesemuanya itu berhubungan langsung secara realtime. Tidak ketinggalan juga game dan animasi. Nusantara Online adalah salah satunya. Presiden SBY bahkan merasa perlu untuk menyebut nama ini dalam sebuah kesempatan. Lalu ada juga Kendro Hendra dengan bendeta InTouch. Orang ini sudah terkenal tidak hanya didalam negeri, namun juga diluar negeri. Ketenarannya berkat keberhasilannya menciptakan sebuah device yang dibenamkan di Nokia Communicator. Device ini digunakan oleh Nokia untuk semua jajaran Communicatornya diseluruh dunia, dan itu adalah karya orang Indonesia.

Masih banyak lagi sebetulnya yang bisa diungkapkan mengenai sepak terjang pelaku netpreneurs. Apakah yang masih kelas ecek-ecek atau yang sudah high end. Bagi saya, lepas dari kelas teri atau kakap, pesan utamanya adalah seberapa tinggi pengaruh mereka kepada saya. Minimal, saya harus mendapat semangat mereka. Bahwa jalan yang saya pilih untuk terus menggeluti bisnis online (seperti penjualan busana muslim dan Car rental Bali) benar-benar terus bermasa depan cerah.

Mereka sudah membuktikannya. Saya juga sudah membuktikannya. Kamu juga mau ikut bergabung?

Arif - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | Tags: ,  | Leave a Comment
Wednesday, February 17th, 2010 | Author: Arif Haliman

Apakah memang begitu sulit mempertahankan pelanggan loyal? Relatif. Namun, kalau pertanyaan ini diajukan ke tukang jahit baju dan tukang label baju langganan saya, jawabannya adalah: Iya, memang sulit! Setidaknya, ini kalau pelanggan loyal mereka tersebut adalah saya. Ini berkaitan dengan kekecewaan saya yang mendalam kepada kinerja mereka baru-baru ini. Kepada repeat customer (pelanggan loyal) saja mereka bisa melakukan ini, apalagi kepada pelanggan baru?

Tapi, seperti halnya berbagai pengalaman bisnis lain yang saya alami, apakah itu menyenangkan atau menjengkelkan, saya selalu menerimanya dengan senyum-senyum saja. Jengkel dan dongkol, itu pasti. Tapi biasanya hanya sebentar. Saya menganggapnya sebagai vitamin untuk saya agar semakin kuat dan tahan banting. Menurut saya, justru dengan mengalami kejadian yang tidak mengenakkan itu kita akan banyak mendapatkan pengalaman, dan benar-benar akan semakin terasah dalam menjalankan sebuah usaha.

Kejadian tidak menyenangkan yang baru saja saya alami itu adalah, penjahit sontoloyo ini tidak bisa menepati waktu penyelesaian. Kalau alasannya masuk akal mungkin saya masih bisa terima. Tapi, alasan yang diajukan sungguh menggelikan. Dan itu mereka lakukan pada saat otak saya sedang peak season, alias banyak pikiran. Saya pada dasarnya adalah orang yang gak banyak omong, dan enak diajak kerjasama. Saya biasanya ‘ape kate loe’, tapi tentunya tetap ada modifikasi dari saya. Dalam hal ini, kalau saya minta selesai dalam 7 hari, tapi penjahit menyanggupi 10 hari, saya OK. 15 hari pun saya fine, sebagai tindakan antisipasi ‘expect the un-expected’ yang memang kerap muncul secara ajaib dalam dunia bisnis.

Tapi, kalau ternyata itu kemudian selesai dalam 20 hari, saya menjadi sangat tidak nyaman. Dan parahnya, waktu 20 hari itu hanya selesai 25%nya saja! Secara ajaib, setali tiga uang, penjahit label baju saya juga sama saja. Malah setingkat lebih parah. Setelah waktu 3 minggu yang dijanjikan, doi bilang : “Maaf pak, contoh label yang dibawa bapak kemarin hilang, jadinya belum saya kerjakan sama sekali.” Gubrak kuadrat! Dobel sontoloyo!! Astaghfirullah..istighfar..istighfar..Bagaimana bisa dua penjahit yang sama sekali tidak pernah berhubungan ini berkomplot serempak merongrong saya ? :)

Sekali lagi saya orangnya tidak banyak omong. Ape kate loe. Protes dengan banyak omong disertai omelan bukanlah gaya saya. Saya pakai cara lain yang menurut saya lebih elegan. Yaitu, diam saja, sambil bersumpah gak akan balik lagi! Apalagi naga-naganya bakalan gak ada kompensasi atas kerugian yang saya alami. Ya sudah, tanpa banyak ba bi bu, perhatian segera saya alihkan untuk segera mencari penjahit baju dan penjahit label baju baru.

Saya tersenyum geli. Sebab, malam 2 hari sebelumnya saya membeli buku berjudul Loyal for Life: Cara Membuat Puas Pelanggang yang Kecewa dalam 60 Detik karangan John Tschohl. Saya lega secepatnya telah mempraktekkan ilmu ini. Besok sorenya, ada kejadian salah satu pelanggan sewa mobil Bali saya kehilangan kunci mobil sewaktu dia sun bathing atau mandi matahari (berjemur) di pantai Kuta. Dia lalu menelpon saya dan bilang kecewa karena kuncinya hilang dan dia harus lekas pergi. Kecewanya bukan kepada saya selaku pemilik mobil, tapi kepada dirinya sendiri. Tahu situasinya demikian, saya berusaha untuk membuatnya puas kembali. Saya segera menyanggupi (kurang dari 60 detik) untuk saat ini juga meluncur ke Pantai Kuta dengan membawa kunci serep. Saya dan tamu saya sama-sama puas.

Nah, yang terjadi dengan kedua penjahit ini kebalikan dari apa yang saya baca dari buku tersebut. Alih-alih merayu saya agar tidak gondok, mereka seakan dengan enteng melepaskan saya. Sudah tidak ada kompensasi buat saya, tapi hanya berusaha membuat saya menjadi puas kembali dalam waktu 1- 3 minggu lagi, baju dan label akan siap semua.

Ini sudah sangat telat. Ibarat ilalang yang sudah meninggi yang telat dicabut, ini sama telatnya membuat saya terpuaskan kembali.

Selamat! Anda berdua baru saja kehilangan pelanggan potensial kayak saya. Cukup sudah kerjasama ini berakhir sampai sini.

Category: Pribadi  | Tags:  | Leave a Comment
Monday, February 15th, 2010 | Author: Arif Haliman

Well, pada akhirnya saya harus realistis. Realistis bahwa sebuah keinginan besar saya harus dipendam dulu. Keinginan atau cita-cita yang menurut saya sangat bombastis itu harus di reset. Keinginan yang tidak kebanyakan orang bisa gampang mewujudkannya itu, harus saya masukkan kotak dulu. Disimpan rapat, dan kuncinya - kalau perlu - harus orang lain yang menyimpannya tanpa saya tahu dimana disembunyikan. Ini demi agar saya tidak tergoda untuk kembali memikirkan keinginan itu, dan tetap fokus dengan keadaan sekarang.

Keinginan besar itu adalah: Bisa bekerja remotely full time di Jawa, tapi bisnis tetap berada di Bali. Apakah itu mungkin? 100 % mungkin! Yang membuatnya mungkin adalah karena bisnis saya murni 100% berbasis online. Salah satu keunikan dari usaha berbasis online adalah, biasanya masalah tempat dan waktu bisa diabaikan. Kita bisa melakukan kegiatan bisnis dimana dan kapan saja. Asalkan koneksi internet tetap tersambung, uang insyaAllah tetap bisa mengalir masuk :)

Pernah, Lebaran tahun 2007 kemarin, saya sampai 1 bulan pulang kampung meninggalkan Bali, dan bermukim (baca: menumpang di rumah ortu dan mertua) di Mojokerto, Jawa Timur. Pertanyaannya, apakah dalam 1 bulan itu saya tidak bekerja? Salah. Saya tetap bisa bekerja, dan tetap bisa menghasilkan uang. Layaknya usaha berbasis online lainnya, usaha car rental Bali saya tidaklah perlu ditunggui sehari semalam seperti toko di pinggir jalan. Usaha jenis online hanya mengandalkan komunikasi lewat email, chat dan henpon. Asalkan kita tetap bisa online dan ada sinyal telpon, bisnis tetap jalan. Jadi, untuk hal ini tidak menjadi masalah.

Bagaimana dengan usaha penjualan busana muslim saya? Terus terang, untuk yang ini ada beberapa kendala, tidak melulu mudah dikerjakan secara remote, salah satu contoh kendalanya adalah terbentur masalah lokasi. Seperti diketahui, beberapa produsen baju muslim tertentu, seperti SIK Clothing, mensyaratkan ketentuan proteksi wilayah. Sehingga mau tidak mau, istri saya sebagai distributor wilayah Bali, harus tetap berdomisili di Bali, kalau tidak ingin keanggotaan kita dicabut.

Terakhir, yang paling menyurutkan langkah saya untuk membesut cita-cita itu adalah, adanya usaha mandi bola yang baru saja saya dirikan. Ini adalah mainan saya terbaru. Review singkatnya bisa dilihat disini. Nih usaha betul-betul 100% offline, yang sebagaimana kebanyakan bisnis offline lainnya, masalah tempat dan waktu adalah hal utama. Artinya, usaha ini menuntut kehadiran fisik saya. Setidaknya, insyaAllah sampai setidaknya usaha ini sudah bisa berjalan stabil, seiring bergulirnya waktu.

Omong-omong, darimana saya bisa mendapatkan ide untuk mewujudkan cara hidup seperti yang saya inginkan itu? Inspirasi utamanya datang dari mantan bos saya. Saya dulu sempat bekerja di sebuah perusahaan semacam web hosting di Kuta. Itu berkisar antara tahun 2003-2007 (4 tahun). Pemilik bisnis ini adalah seorang bule dari Selandia Baru. Saya sangat akrab dengan bos saya ini. Untuk segala urusan mengenai aktivitas seluruh website perusahaan dan klien, hampir semuanya diserahkan kesaya. Termasuk juga apabila ada pertemuan (meeting) dengan klien yang hampir rata-rata semuanya juga bule, saya pasti ikut terlibat didalamnya.

Nah, bos saya ini punya kehidupan lumayan unik. Seringnya dia tinggal di 4 negara, yaitu Jepang, USA (Hawaii), Australia dan Indonesia (Bali). Ini tak lepas dari jabatannya sebagai Managing Director di sebuah perusahaan telekomunikasi internasional asal Amerika. Jabatan Managing Director ini semacam ketuanya para Manager. Jadi semua manager harus melapor kepadanya. Dan itu yang membuatnya harus sering-sering keliling dunia untuk memantau semuanya. Dari semua bule yang pernah saya hadapi, saya harus akui, bule ini adalah bule terbaik yang saya kenal.

Di Bali, secara pribadi dia sekalian mendirikan perusahaan web hosting yang didalamnya saya sebagai IT Programmernya. Diluar negeri sana pula, kabarnya dia juga punya bisnis ‘kecil-kecilan’ lainnya. Selama 4 tahun itu pula saya amati, nih orang kok bisa-bisanya hidup keliling dunia tapi perusahaannya bisa tetap bisa berjalan di Bali, tanpa adanya pengawasan secara fisik oleh pemiliknya. Bisnis jalan, pemiliknya juga bisa jalan-jalan. Luar biasa, bukan? Dan ajaibnya, sekarang pun, setelah 3 tahun saya telah hengkang dari sana untuk menjalankan bisnis sendiri, tuh perusahaan masih juga berjalan, dan sekarang malah sudah berlari, artinya semakin maju.

Dari pengalaman inilah saya berkesimpulan secara sederhana, pemilik usaha (seorang bule) yang berada diluar Indonesia saja masih bisa menjalankan bisnisnya yang berada di Bali, apalagi kalau pemiliknya asli orang Indonesia kayak saya, dan berada di pulau Jawa! Semestinya lebih gampang lagi!!

Untuk menggambarkan memang mudah, untuk mencapai Bali, hanya diperlukan 30 menit penerbangan dari Surabaya.

Namun, saya sadar sekali, walaupun keinginan saya tersebut harus tertunda dulu, saya yakin ini adalah bagian dari skenarion yang Diatas. Saya hanya harus bisa menyukurinya dan menjalaninya dengan fokus penuh. Apapun yang terjadi, semuanya wajib disyukuri. Bisa jadi saya memang belum siap untuk itu. Pasti ada hikmah yang diberikan kepada saya.

Mundur dulu selangkah, untuk kemudian melompat lebih jauh. Atau malah, saya sudah maju selangkah lagi, untuk kemudian melompat lebih jauh lagi?? Amin!

Category: Pribadi  | Tags:  | Leave a Comment
Friday, January 29th, 2010 | Author: Arif Haliman

Saat ini, terbuka kesempatan lebar untuk menjadi seorang TKI atau Tenaga Kerja Indonesia. Namun, TKI jenis ini berbeda dari yang kebanyakan. Untuk menjadi tipe TKI yang saya maksud, tidak perlu harus melalui berbagai aturan yang ruwet, njelimet dan sering bikin kebelet. Seperti diketahui, keruwetan itu tidak saja terjadi ditingkat birokrasi pemerintahan, namun juga ditingkat PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia). Apalagi ternyata kalau PJTKI itu adalah yang palsu, dijamin semua jenis keruwetan yang saya sebut tadi, akan bernilai kuadrat.

Nah, agar terhindar dari berbagai macam keruwetan seperti diatas, segeralah beralih menjadi apa yang saya sebut dengan TKI Maya. Jenis tenaga kerja Indonesia model ini saya yakin jumlahnya sekarang sangat bejibun. Hal ini berbanding lurus dengan dengan semakin berkembangnya dunia internet di Indonesia. Dari sekian banyak warga negara Indonesia yang berprofesi seperti ini, saya adalah salah satunya :)

TKI konvensional yang bekerja diluar negeri seringkali disebut sebagai pahlawan devisa. Ini adalah sebutan yang sangat mulia. Betapa tidak? Triliunan rupiah tiap tahun bisa mereka ‘larikan’ ke Indonesia, sebagai upah yang diterima selama bekerja disana. Terlepas dari berbagai sunatan upah yang kerap dilakukan oleh agen atau cukong mereka yang begitu kurang ajar, mereka memang benar-benar pantas menyandang sebutan pahlawan itu: Pahlawan Devisa.

Saya tidak mau ketinggalan oleh mereka. Saya juga ingin sekali mendapatkan sebutan mulia itu. Yaitu, Pahlawan Devisa. Ini, bolehlah disebut, sebagai salah satu perwujudan rasa cinta tanah air dan bangsa saya kepada Indonesia tercinta. Dan itu telah saya lakoni. Lantas, apakah untuk mendapatkan sebutan itu, saya harus bekerja di luar negeri, seperti Malaysia, misalnya? No-no-no. Nehi! Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada para TKI konvensional, saya lebih memilih cara yang lebih smart dan elegan: Memasang iklan Google Adsense :) .

Dengan memasang iklan Google Adsense di berbagai situs milik saya, apabila ada pengunjung yang melakukan klik di iklan tersebut, maka saya akan mendapatkan beberapa sen, atau dolar. Semakin banyak klik, semakin banyak dolar yang akan dibayarkan kepada saya. Dolar-dolar itu berasal dari Amerika (Google asalnya memang Amerika), dan dikirimkan kepada saya di Indonesia. Itu artinya adalah devisa. Devisa sangat penting bagi negara, baik sebagai dana cadangan atau stabilisator nilai mata uang dalam negeri. Pengertian gampangnya, dikaitkan dengan naik turunnya nilai rupiah, ini bisa membuat nilai rupiah semakin naik terhadap dolar :)

Seperti yang baru saja saya lakukan tadi pagi. Sebuah cek (dalam bentuk Western Union) langsung bisa saya cairkan di Kantor Pos, setelah malam sebelumnya saya tahu bahwa Google telah mengirimkan ‘upah’ saya untuk bulan ini, karena telah melebihi nilai minimal pencairan, yaitu USD 100. Jumlahnya tidak banyak, hanya USD 114,67 (pas saya cairkan tadi, saya terima dalam bentuk Rupiah, Rp 1.048.000). Saya terima utuh, tanpa potongan, dan saat itu juga. Untuk jadi TKI konvensional, sunatan atau penundaan upah jamak terjadi. Kasihan sekali mereka itu. Oleh karena itu, segeralah beralih menjadi TKI maya :) . Kalau dirata-rata, tiap 2,5 bulan sekali alhamdulillah saya pasti menerima ‘upah’ itu dari Google. Jumlahnya berkisar sejumlah diatas. Alhamdulillah, walaupun sedikit, bagaimanapun juga, gelar Pahlawan Devisa itu telah saya sandang. Cihuy..!!! Duh bangganya ;) ;) .

Sekali lagi, saya yakin, apa yang saya lakukan ini juga telah banyak dilakukan oleh warga negara Indonesia yang lain. Banyak dari mereka yang juga mencoba peruntungan di Google Adsense, dan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi TKI maya, TKI yang menghasilkan devisa. Kalau dolar yang saya hasilkan begitu kecil, semestinya tidak menjadi masalah, apalagi ini hanyalah pendapatan sampingan. Namun, bagaimana kalau jumlah pendapatan Adsense saya yang sekecil itu, dikalikan dengan ratusan atau ribuan TKI maya lainnya? Jumlahnya akan membuat kita geleng-geleng kepala.

Sebetulnya, untuk menjadi TKI maya tidak hanya dari Google Adsense. Begitu banyak hal-hal lain yang bisa kita lakukan. Misalnya melakukan bisnis online. Apa yang bisa dibisniskan? Apa saja. Beragam produk dan jasa bisa dipasarkan dengan mudah lewat internet. Hanya untuk membuat kamu lebih mudah mengerti, saya contohkan, seperti yang telah saya lakukan dengan berbisnis busana muslim dan Bali car rental.

Untuk busana muslim, kurang lebih sekitar 5% pembelinya berasal dari luar negeri kayak Malaysia, Singapura, Amerika. Sebuah jumlah yang kecil. Namun lumayanlah, daripada tidak menyumbang devisa sama sekali untuk negara :) . Untuk rental car Bali, kurang lebih 90% pelanggan saya berasal dari luar negeri. Artinya, devisa yang saya hasilkan, syukur alhamdulillah, lebih besar dari bisnis busana muslim tadi.

Namun, sekali lagi, tidak penting apakah kecil atau besar devisa yang mampu kita hasilkan untuk negara. Karena walaupun kecil jumlah yang bisa kita hasilkan, namun kalau itu dilakukan oleh ratusan atau ribuan warga negara lainnya, jumlahnya akan sangat besar. Yang terpenting adalah, tiap individu dari kita semua, sedapat mungkin bisa menghasilkan devisa bagi Indonesia.

HIDUP TKI MAYA!

Friday, January 22nd, 2010 | Author: Arif Haliman

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya keinginan itu terwujud juga, alhamdulillah. Saya malah masih kadang menganggapnya sebagai sebuah keajaiban. Hal ini berkaitan dengan keinginan saya sejak dulu yang ingin menjadi produsen busana muslim dan meningkatkan ’status’ dari tidak hanya berprofesi sebagai penjual busana muslim, namun bisa juga menjadi produsennya. Produsen busana muslim adalah orang yang memproduksi sendiri baju muslim tersebut. Dan, dari sekian banyak produsen dengan membawa merek busana muslim mereka sendiri dari seluruh pelosok nusantara ini, saya adalah salah satunya :)

Merek busana muslim produksi saya adalah Sunrise. Bisa juga disebut Sunrise Bali. Sengaja saya tidak menamakannya dengan kebanyakan nama-nama merek baju yang bernuansa Islam, seperti (mungkin) Raffa, Marwah, Majidah, dll. Saya menginginkan sebuah nama yang out of the box dari semua itu. Sebuah nama yang ringan, sangat familiar dan berkesan sangat disukai orang. Top of that, nama ini haruslah bernuansa Pulau Dewata Bali, karena domisili saya ada di Bali. Jadilah kemudian, Sunrise, nama yang kemudian saya ambil. Sunrise adalah gamis berbahan kaos Combed. Harapan saya adalah bahwa merek yang saya usung ini akan membawa keberkahan dan kesuksesan, dengan keunggulan utama kenyamanan. Setidaknya, ini sudah mewujudkan mimpi saya yang sejak dulu memang ingin sekali menjadi produsen busana muslim ;)

Singkat cerita, setelah semua proses dilalui, dan hasil akhirnya adalah berwujud sebuah baju muslim, langkah berikutnya adalah memasarkannya. Bagaimana saya memasarkannya? Tepat! Tentu saja saya memajangnya di website busana muslim milik saya. Penasaran dengan website saya yang menjual berbagai macam baju muslim ini? Silakan diintip di http://www.muslimbusana.com ya?

Saya, alhamdulillah, yakin sekali bahwa kalau memajang Sunrise di situs ini, pasti akan laku. Parameternya sederhana: Situs ini dikunjungi orang rata-rata 600 kunjungan perhari. Untuk sebuah situs yang khusus menjual busana muslim, ini adalah sebuah jumlah kunjungan yang jauh diatas lumayan, alias tinggi. Dengan rata-rata belasan order perhari (baik itu lewat email, chatting, sms ataupun telpon), untuk tahap awal ini, saya sudah cukup puas (alhamdulillah) untuk bisa mengambil pasar ceruk (niche) di website http://www.muslimbusana.com ini.

Hasil awal dari strategi mengambil pasar ceruk ini cukup berhasil. Terbukti dari 2 model perdana yang saya luncurkan, hanya dalam waktu 1 minggu kedua baju ini langsung terbeli. Saya sangat mensyukurinya. Ini bisa menambah kepercayaan diri saya dan tim. Ternyata, dibalik ‘gemerlapnya’ merek-merek populer yang sudah bersinar duluan (seperti SIK Clothing, Qirani, Shabrina), Sunrise masih bisa mencuri perhatian para pengunjung website kami.

Dengan menerapkan konsep ini, saya baru saja ngeh dan baru begitu mantap mengerti, mengapa para hypermarket kayak (dulu) Alfa atau Carrefour, diantara tumpukan produk yang mereka jual, terselip juga produk mereka sendiri. Maksudnya, produk itu bermerek Alfa, atau Carrefour. Seperti misalnya kapas putih. Bukanlah di Carrefour kita bisa menemukan sebuah produk kapas putih diantara produk-produk sejenis dengan merek lain? Dengan memproduksi dan menjual sendiri kapas putih itu, keuntungan mereka pastilah jauh lebih tinggi daripada keuntungan yang bisa diambil dari menjual kapas putih merek lain. Hal ini tentunya juga bisa diterapkan untuk produk yang lain, selain kapas putih.

Dan, sekali lagi untuk tahap awal, sepertinya saya akan menjalankan strategi ini terlebih dahulu. Bermain di ceruk, dengan berharap produksi berjalan kontinu, walaupun dengan kuantiti yang tidak (belum) tinggi. Dengan adanya program Sale & Gratisan Setiap Hari, saya tidak segan-segan memajang Sunrise di bagian ini. Bagi saya, menambah kepercayaan diri sangatlah penting, walaupun harus dengan memangkas harga. Namun, tentunya keuntungan masih tetap ada. Pikir-pikir, memang dari ke 4 perpaduan pemasaran yang ada yaitu Product, Place, Price, Promotion, setidaknya dalam kasus saya, price atau harga adalah yang paling enak dipermainkan. Gimana pokoknya segera laku hehe :)

Okay, semoga masih tetap terus semangat mengembangkan Sunrise. Kedepan, saya insyaAllah akan bertambah sibuk. Apa pasal? Ehm, saya berancang-ancang untuk mencoba peruntungan di dunia offline. Yeap, tidak lagi hanya berbisnis online yang mengandalkan website dan internet sebagai placenya, tapi juga bisnis konvensional yang mengandalkan pasar senggol. Nah!

Tuesday, January 05th, 2010 | Author: Arif Haliman

Saya adalah orang yang cenderung suka berhemat. Tidak peduli kondisi keuangan sedang bagus atau jelek, berhemat adalah motto saya. Bahkan mungkin bagi beberapa orang, kehematan saya ini diartikan sebagai tindakan pelit.  Itu sah-sah saja, dan tidak menjadi masalah bagi saya. Baru menjadi masalah apabila orang itu kemudian menimpuk saya pakai batu, misalnya, sebagai ekses dari ‘kepelitan’ saya :) . Namun bagi saya, hemat juga bisa berarti minimalis. Hemat, juga bisa berarti kaya. Pernah dengar ungkapan Hemat Pangkal Kaya, bukan? Bagi saya yang seorang pengusaha, hemat adalah suatu keharusan.

Mengenai hemat ini, dalam kontek kehidupan sehari-hari, saya memaknainya sebagai sebuah gaya hidup. Hemat untuk saya bukanlah (syukur alhamdulillah) sebuah perjuangan berdarah-darah karena terpaksa oleh keadaan kemiskinan, tapi lebih kepada gaya hidup. Gaya hidup bukanlah sebuah hal eksklusif yang terkadang sulit untuk dimaknai dan diterapkan. Gaya hidup adalah sesuatu yang bisa diterapkan dengan mudah dan menyenangkan sehari-hari. Dan apabila kita bisa kontinu dan konsekuen dengan gaya hidup yang kita yakini itu, bisa dipastikan kita akan merasa bahagia.

Salah satu contoh kecil, bersepeda adalah salah satu kegemaran saya (Pengakuan: Sori, sudah 2 minggu terakhir ini kagak bersepeda. Pasca badan meriang 2 minggu kemarin, penyakit malas bersepeda belum hengkang dari diri saya, asli sulit sekali mengusirnya!). Dari kegemaran ini, saya menjadikannya sebagai gaya hidup. Disaat banyak orang menggeber sepeda motor atau mobilnya untuk pergi ke pasar atau toko dekat rumah, misalnya, saya lebih suka mengayuh sepeda saya. Saya merasa lebih puas apabila melakukannya dengan bersepeda daripada bermotor seperti itu. Saya bisa bergaya dalam hidup saya, salah satunya saya wujudkan dalam bentuk suka bersepeda.

Menjelang Lebaran, biasanya semua terutama wanita, sibuk sekali dalam berbelanja baju busana muslim khusus untuk menyambut Lebaran. Saya agak lupa kapan terakhir saya mimilih sendiri baju muslim Lebaran saya. Kalau toh saya akhirnya memakai baju baru Lebaran, tidak lain tidak bukan itu karena tiba-tiba istri saya menyodorkannya. Saya tidak minta, tapi memang istri saya saja yang baik hati menjadikannya ada. Karena memang kalau dia tidak melakukan itu, saya bakalan tetap berbahagia dengan baju muslim Lebaran entah yang tahun kapan ;)

Kembali ke masalah hemat, sebetulnya hal ini tidak jauh beda dengan hal bersepeda. Tergantung orang bagaimana memaknainya, bagi saya, sekali lagi, berhemat adalah gaya hidup. Sekali lagi, hemat bisa berarti minimalis. Tidak berlebihan. Dan ditengah-tengah semakin capeknya kita dalam hiruk-pikuk kehidupan yang semakin kompleks belakangan ini dengan berbagai temanya, rasa-rasanya dengan hidup tenang, hemat, dan minimalis bisa menjadi penawar yang sejuk untuk menjaga kondisi tubuh dan jiwa kita.

Dalam menerapkan pola hemat, jangan dibayangkan terlalu berat dan muluk bahwa kita harus bisa melakukannya dalam skala global. Bahwa kita harus bisa change the world. Tidak, tidak. Jangan seperti itu. Lakukan saja dalam skala pribadi dulu. Misalnya, dalam contoh pribadi saya, suka bersepeda karena tidak ingin lapizan ozon semakin menipis oleh asap kendaraan kita. Janganlah dahulu berpikir sejauh itu. Cukup pikirkan, tubuh akan keringatan sehingga sehat. Itu saja. Contoh lain, mengurangi menonton televisi atau bahkan meniadakannya, bukan karena PLN sedang dalam kesulitan serius, tapi karena ingin menambah porsi waktu membaca buku.

Banyak sekali yang bisa kita hemat dalam keseharian. Kadangkala kita sering melakukan pemborosan, karena edukasi membabi-buta yang dilakukan oleh gencarnya iklan, terutama iklan di televisi. Saya berpesan hati-hatilah kepada mereka. Tidak selamanya yang diedukasikan kepada kita sebagai calon konsumen mereka, betul-betul baik untuk kita. Ingat, sekali lagi mereka beriklan sekedar agar produk mereka laku. Berikut adalah beberapa yang bisa saya contohkan:

- Anjuran keramas setiap hari. Apakah perlu? Saya membuktikannya tidak perlu. Dua hari sekali cukup bagi saya.
- Anjuran menggosok gigi dengan odol dua kali sehari. Yang penting bukan odolnya, tapi kerajinan kita dalam menyikat gigi, meskipun tanpa odol.
- Menghisap rokok agar terlihat macho, perkasa, dan jantan. Walah..ini sih gak usah diterangkan lagi. Intinya, orang merokok dalah goblok!
- Minum vitamin tambahan dan penambah tenaga. Faktanya, nih suplemen sering memaksa organ jantung untuk bekerja teramat keras yang gilirannya justru menyebabkan semacam gagal jantung.
- Dll.

Sekali lagi, banyak sekali yang bisa kita hemat dalam keseharian. Mungkin bisa penggunaan pulsa henpon, uang transportasi kerja, uang bulanan kuliah, dsb. Mungkin juga berhemat dalam membeli barang-barang baru, sekiranya barang lama atau rusak masih bisa digunakan lagi. Atau, mengurangi konsumsi rokok dan acara makan malam diluar rumah, dari seminggu 2 kali, menjadi seminggu 1 kali saja.

Intinya, berhematlah dalam segala hal yang kamu bisa. Karena: Hemat Pangkal Kaya!

Monday, January 04th, 2010 | Author: Arif Haliman

Alhamdulillah saya baru saja beli henpon baru. Bukan henpon kelas wahid ala almarhum Sony Ericsson Xperia X1 kepunyaan saya dulu, tapi henpon kelas menengah. Henpon ini besutan LG (Life’s Good). Serinya adalah GW300. Harga per hari ini adalah Rp 1.450.000. Setelah Sony Ericsson seri G502 milik saya yang sekarang hidupnya sedang tersenggal-senggal (doi sering ngadat dan kacau operasinya), perhatian saya segera beralih  ke henpon LG ini. Sekali lagi ini bukanlah henpon kelas wahid, tapi setidaknya saat ini bagi saya, sudah mencukupi.

Dalam hati sebetulnya saya kepingin sekali beli iPhone. Yang namanya iPhone ini, berdasarkan review dan testimonial yang saya baca serta sekelebat iklan yang saya lihat, memang betuk-betuk ciamik. Dibandingkan dengan iPhone, yang namanya BlackBerry ataupun Nokia seri berapapun akan lewat. Terutama tampilan antar mukanya  (interface) itu yang memesona. Tapi kayaknya keinginan ini harus disimpan dulu. Harus bijaksana. Saat ini ada beberapa prioritas yang harus dikedepankan. Tapi keinginan itu tidak saya hilangkan, namun saya simpan. Dan menurut konsep law of attraction dan quantum ikhlas yang saya baca, iPhone itu pasti akan tertarik mendekat dan datang kepada saya :)

Kenapa saya memilih LG GW300? Yang terpenting bagi saya hanya ada 4 alasan. Ini pun harus bisa menunjang bisnis saya. Bagi kamu yang akan mau membeli henpon baru, dan masih bingung menentukan pilihan, jawaban saya berikut mungkin bisa sekaligus menjadi buying guide atau panduan membeli kamu.

1) Sudah memakai keypad QWERTY.
Bagi saya ini penting sekali. SMS dan email adalah keseharian saya dengan frekuensi yang tinggi. Email kadangkala harus saya ketik di henpon, terutama pas sedang berada diluar rumah, sementara perlu menjawab email saat itu juga. Dibanding tombol henpon biasa, tombol QWERTY bisa membuat acara mengetik kita 3 kali lebih cepat.

2) SMSnya sudah Threaded View.
Tahu maksud  threaded view? Itu, tampilan sms yang mirip chatting. Jadi,setiap sms yang masuk akan dikelompokkan berdasarkan per orang yang memakai nomor yang sama, dalam satu window / jendela. Ini membantu sekali apabila ingin secara cepat mengetahui apa saja sih yang telah kita bicarakan dengan si X, misalnya.

3) Tersedia Push Email.
Sebetulnya GW300 belum push email. Tapi, doi bisa ditarik secara otomatis tiap sesuai interval waktu yang kita kehendaki. Ini penting buat saya. Seperti sudah saya bilang, frekuensi beremail saya dalam sehari sangatlah tinggi. Dengan adanya teknologi push email ini, kita akan segera tahu bahwa email baru telah datang. Mirip dengan sms. Kita akan segera tahu kalau sms baru ada di inbox kita. Kenapa hal ini berguna buat saya? Dalam bisnis Bali car rental saya, kecepatan membalas email yang masuk adalah salah satu poin penting dimata pelanggan. Istri saya dengan bisnis baju muslim yang dijalankannya, juga kadangkala terbantu dengan adanya push email di henpon Samsung C6620 miliknya.

4) Layarnya Lega TFT 256K
Bagi saya ini juga penting. Ukuran layarnya adalah 320 x 240 pixels, 2.4 inches. Lumayan lega. Terutama untuk menulis email, layar yang selebar ini sangatlah melegakan. Didukung dengan tombol QWERTYnya yang empuk, acara menulis email di layar selega ini bisa menjadi sangat cepat. Oiya, satu lagi kegunaan layar lebar buat saya, saya kadang mencatat hal-hal penting yang disampaikan oleh ustadz atau pembicara dalam sebuah seminar. Jadinya tidak perlu kertas dan pulpen, cukup henpon ini saja :)

Sudah, hanya ini saja keperluan utama saya. Untuk keunggulan yang lain menurut saya juga ada, yaitu sudah dilengkapi microSD. Pas saya beli sudah include yang 2GB. Sangat besar. Cukup buat simpen gambar orang sekampung hehe. Ini juga bisa diupgrade sampai dengan 8GB. Juga sudah dilengkapi aplikasi populer macam Facebook, eBuddy, Twitter, dsb. Mungkin kelemahannya doi belum dilengkapi 3G. Tapi apabila aktivitas browsing internet di henpon bukanlah pilihanmu, tidak adanya 3G menjadi sama sekali bukan masalah.

InsyaAllah, henpon LG GW300 ini sepertinya memang ok. Hemat uang, dengan berbagai teknologi yang diusungnya. Kalau kamu kebelet pingin bergaya BlackBerry namun terbentur dana, LG GW300 ini bisa menjadi penggantinya ;)

Category: Pribadi  | Tags: ,  | Leave a Comment
Saturday, January 02nd, 2010 | Author: Arif Haliman

Melewati tahun 2009 kemarin, rasa syukur tiada terkira saya panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan barokah yang selalu diberikan kepada saya dan keluarga. Tahun 2009 kemarin bisa kami lewati dengan baik. Sangat baik, malah. Baik dari sisi keluarga maupun bisnis. Terutama yang berkaitan dengan bisnis, seperti halnya para pelaku usaha lainnya, tutup tahun berarti melakukan hitungan-hitungan bisnis, seperti apakah tahun 2009 kemarin semakin untung ataukah buntung, dan apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghadapi tahun 2010.

Sekali lagi, saya bersyukur bahwa tahun 2009 kemarin saya melewatinya dengan sangat baik. Bisnis rental car Bali saya yang telah berjalan secara penuh dan profesional dalam 3 tahun terakhir ini, syukur alhamdulillah sudah tembus Rp 1 milyar per tahun 2009 kemarin (kotor). Tepatnya adalah Rp 1,1 milyar. Dari tahun ke tahun alhamdulillah pendapatan kotor ini selalu meningkat. Saya memulai bisnis ini secara penuh dan profesional sejak awal tahun 2007.

Dengan pendapatan sebesar ini, saya masih saja suka terkejut-kejut. Bukannya apa-apa, hare gene, dimana wabah berbisnis via internet sudah semakin marak dan lumrah dilakukan oleh banyak orang, mestinya tidak perlu terkejut sebuah website bisa menghasilkan pendapatan sebesar itu. Maksudnya, sekali lagi, hal ini sudah biasa. Namun, begitulah, internet dan web pages (baik teori maupun praktek) yang sudah menjadi keseharian saya sejak masih dibangku kuliah, tetap saja mampu membuat saya terkagum-kagum, dan terkaget-kaget. Saya bisa menjadi orang yang begitu menghargai dan menjiwai adanya teknologi ini. Dan mungkin orang lain tidaklah sedalam ini bisa merasakan, sekaligus mengambil keuntungan dengan adanya internet :)

Mungkin pengambarannya mirip seorang pelukis kelas wahid. Dalam menilai sebuah obyek lukisan, dia bisa begitu menghayati, mendalami, mengapresiasi sekaligus memberikan komentar terhadap lukisan itu. Dia tumpahkan seluruh isi hatinya dalam sebuah uneg-uneg yang mungkin hanya dia sendiri (dan orang-orang seperti dirinya) yang bisa memahami. Pokoknya diatas langit. Orang awam? Buru-buru bisa mengerti, mungkin malah menganggap sang pelukis sudah gila, alias tidak waras. Begitulah..

Dibisnis ini, saya murni hanya di sewa mobil Bali. Maksudnya, saya tidak melakukan bisnis sampingan yang biasa menyertai bidang bisnis ini. Seperti melayani jasa penginapan atau hotel, jasa aktivitas seperti water sports, cruise, bungi jumping, dan sebagainya itu. Hal ini memang saya sengaja. Saya tidak ingin terlalu bias dan menjadi tidak fokus dengan bisnis utama. Lagipula, perhatian dan stamina saya harus juga terbagi untuk bidang bisnis saya yang lain yang insyaAllah juga semakin berkembang baik, yaitu Busana muslim.

Untuk bisa menghasilkan pendapatan sebesar itu per tahun, jangan dibayangkan saya melakukannya seperti orang kebanyakan. Saya melakukannya tidak terlalu serius, namun juga tidak membuatnya enteng. Saya menjalankan bisnis ini dengan cukup santai, riang, dan mungkin tanpa beban. Mungkin juga karena itu tadi, saya bisa menghayati dan menyenangi teknologi ini. Jadinya semuanya serba menyenangkan.

Berikut penggambaran singkatnya kalau diwujudkan dalam bentuk pertanyaan:

Q: Apa saya perlu kantor?
A: Tidak. Rumah kontrakan (insyaAllah bisa segera beli rumah sendiri ;) ) yang saya tempati ini adalah kantor saya. Tamu saya tidak perlu menemui saya di ‘kantor’ saya untuk urusan rental mobil. Kita bisa langsung bertemu di hotel atau bandara. Lantas, apakah perlu sebuah ruangan khusus nyama ber AC? Hehe, saya hanya menempati sebuah sudut ruangan rumah saya ini, dengan meja komputer disitu yang setelah saya ukur, dimensinya adalah: 80cm X 50 Cm).

Q: Apa saya harus menerapkan kerja jam 8 pagi selesai jam 5 sore?
A: Hehe..Tidak. Jam kerjanya seenak udel saya sendiri. Bahkan lokasi kerja juga seenak udel saya sendiri. Asalkan internet tetap ON, henpon tetap ON, my business can be done anytime, anywhere :)

Q: Apakah karyawan saya, misalnya ada 5 orang?
A: Wa ka kak…Kagak! Untuk bisnis Bali car rental saya ini, saya tidak punya karyawan. Bener? Bener! Saya sorangan wae (seorang diri) saja. Mulai mendisain situs, mempopulerkannya ke search engine, kemudian jawab email order, terima telpon, kirim sms, bahkan sampai menemui beberapa tamu, itusaya lakukan sendiri, tanpa karyawan sama sekali.

Q: Apakah saya bayar pajak tinggi?
A: Ehem..ini juga tidak. Berbisnis di internet, ini kalau dibilang ‘enak’, pastilah akan terhindar dari yang namanya pajak hehe. Jadinya uang bayar pajak bisa dialokasikan untuk mengembangkan usaha. Tapi, biarpun tidak pernah bayar pajak, tapi zakat berikut infak dan sedekah jalan terus lho.. :) Pasti! Bahkan saya merasa yakin, bahwa rutinitas inilah yang disertai syukur kepada tuhan membuat bisnis saya tetap terjaga. Tapi, kesannya kok seperti tidak cinta tanah air dan bangsa? Maafkan saya, memang sementara ini hanya mampu mewujudkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa, dengan kemampuan sekedar menarik dana / devisa dari luar negeri masuk ke Indonesia sejumlah tersebut diatas lewat para turis. Semoga saja ini juga bisa dibilang cinta tanah air dan bangsa.

Akhirnya, dengan semangat berbagi pengalaman untuk membuka mata bagi yang belum TAKE ACTION semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi. Ayo, segeralah berbenah. Begitu banyak peluang bisnis (ONLINE atau OFFLINE) yang begitu menjanjikan berseliweran didepan mata.

Tidak usah sedih dengan perilaku para politikus kotor dan koruptor busuk di negeri ini, mereka akan segera lenyap. Tidak usah marah dengan berbagai sinetron yang cengeng dan meracuni, mereka akan segera ditinggalkan. Tak usah gundah dengan kemiskinan negara tercinta ini, kondisi ini akan segera berubah.

Pokoknya terus bekerja dengan baik. Mari kita bangun Indonesia tercinta, lewat jalan kita masing-masing, salah satunya adalah dengan menjadi usahawan yang jujur, unggul dan berguna bagi sesama! Semoga barokah dan rahmat Allah SWT senantiasa mengiringi hidup kita dan keluarga kita untuk tahun-tahun berikutnya. Selamanya. Amin.

Thursday, December 31st, 2009 | Author: Arif Haliman

Tinggal hitungan jam lagi tahun 2009 Masehi akan segera berakhir dan berganti dengan tahun baru 2010. Seperti tahun-tahun biasanya, jika kebanyakan orang merayakan pergantian malam tahun baru dengan sangat hinggar binggarnya, saya bersama keluarga tidaklah begitu. Saya lebih baik melewatkannya dengan biasa saja seperti layaknya malam yang lainnya. Hal ini selalu saya ajarkan kepada istri dan anak untuk tidak perlu ikut ‘bergembira’, apalagi sekedar menyalakan mercon di malam hari yang sering membuat takut dan kaget orang itu.

Momen seperti pergantian tahun, bagi saya, adalah momen terbaik untuk muhasabah, atau melakukan introspeksi diri. Sudah kemana saja, udah ngapain saja, dan sudah sampai mana kualitas pribadi dan keluarga pada titik ini. Apakah ada kemajuan? Atau justru malah kemunduran? Kalau ternyata mengalami kemunduran, atau masih saja jalan ditempat, maka hidup kamu bisa disebut Merugi. Hadist Nabi Muhammad saya tuliskan secara simpel: Jika hari ini lebih baik dari kemarin = BERUNTUNG. Jika hari ini lebih jelek dari kemarin: MERUGI.

Momen pergantian tahun bagi saya, dalam hal ini ditinjau dari posisi saya sebagai seorang usahawan, lebih baik digunakan untuk mensyukuri segala nikmat kebarokahan dan kemudahan didalam menjalankan dan mengembangkan usaha. Dalam pinta dan doa saya berkaitan dengan usaha yang saya jalankan yaitu salah satunya Rental Car Bali, saya senantiasa meminta diberi barokah. Apa itu barokah? Barokah (sering disebut juga berkah) adalah segala hal yang kita miliki (entah besar atau kecil, banyak atau sedikit) namun kesemuanya itu senantiasa membawa kemaslahatan bersama. Artinya, kalau misalnya kita punya uang 1 juta, kita dan orang lain (keluarga atau lingkungan kita) akan ikut merasakan manfaatnya. Kalo kita punya uang 100 juta, bersama-sama kita juga tetap akan merasakan manfaatnya. Singkatnya, barokah adalah kemampuan membawa manfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Lantas, yang seperti apa sesuatu yang tidak barokah? Banyak contohnya. Kita punya uang, tapi sakit senantiasa mendera kita. Kita punya kekayaan, tapi tidak mampu untuk sedekah bahkan dalam jumlah kecil. Kita punya keahlian berdagang, tapi senantiasa gagal. Kita punya istri, namun senantiasa cekcok, kita punya anak, namun senantiasa membuat kita susah, dsb. Dalam kondisi seperti ini, mana bisa kita leluasa membawa manfaat untuk orang lain, kalau untuk diri sendiri saja sudah susah?

Oleh karena itu, sangatlah penting untuk meminta kepada Allah SWT, untuk kita diberi segala sesuatu yang penuh barokah. Barokah itu bisa menenangkan hati dan menentramkan pikiran. Kalu hati serta pikiran senantiasa tenang dan tentram, maka yang kita dapat adalah keikhlasan. Dan percayalah, dengan ikhlas senantiasa bersemayam dalam hati kita, segala hal yang kita inginkan akan mudah dengan sendirinya berduyun-duyun mendatangi kita. Entah itu berupa kekayaan, meningkatnya bisnis, bertambahnya relasi, bertambah baik sikap istri dan anak kita, dan lain sebagainya.

Dalam pergantian tahun baru, janganlah merayakannya dengan gegap gempita. Tengoklah kanan-kiri kita, tetangga-tetangga kita, saudara-saudara kita, masih banyak yang mengalami kesusahan dan penderitaan. Tengoklah kondisi negara Indonesia tercinta ini, sungguh malu kita ditengah-tengah bermacam kekisruhan yang malanda dan tumpukan hutang negara yang makin menggunung, kita masih saja tidak peka. Marilah kita sedikit bersimpati dan berempati, dengan sekedarnya saja didalam menyambut malam tahun baru.

Mari kita siapkan diri menyambut tahun 2010 dengan penuh keyakinan dan optimisme tinggi, untuk kemudian bisa berbuat banyak untuk diri sendiri, keluarga, agama, dan negara Indonesia tercinta.

Category: Pribadi  | Leave a Comment
eXTReMe Tracker