Archive for the Category » Opini «

Saturday, February 13th, 2010 | Author: Arif Haliman

Dari sekian banyak jenis pekerjaan di masyarakat, berdagang (wiraswasta, atau memiliki usaha sendiri) adalah salah satu profesi yang sangat diapresiasi dalam Islam. Dengan berdagang atau berwiraswasta, insyaAllah diri kita akan menjadi mulia. Tentunya dengan catatan bahwa usaha atau bisnis yang kita jalankan itu bernilai ibadah, mengharap ridho Allah SWT semata. Dengan menjadi seorang pemilik usaha dan bukan karyawan, kita bisa membuka lapangan pekerjaan baru di masyarakat. Hal ini menjadikan kita kuat tidak hanya (insyaAllah) dari sisi ide dan finansial, namun juga kemandirian. Rasulullah sendiri pernah menjadi seorang pedagang di jamannya.

Sebuah hadits shahih berujar, muslim yang kuat lebih disukai daripada muslim yang lemah.

Seorang pemilik usaha akan dituntut untuk terus berinovasi dalam memajukan bisnisnya. Ini menjadikan akal pikirannya akan senantiasa fresh karena terus bermunculan ide-ide baru. Yang menarik, pelaksanaan ide-ide itu bisa diwujudkan sesuka kita, tanpa ada yang merintangi atau membatasi. Jauh daripada itu, kegairahan serta semangat yang meluap-luap itu seringnya akan berhasil diwujudkannya dalam hidup keseharian dalam bentuk aksi dan karya nyata, karena keyakinannya sangat tinggi.

Seseorang yang sedang dirasuki semangat wirausaha yang super tinggi, rasa percaya dirinya sangat besar, serta tahan banting dan cemooh. Apalagi hanya sekedar gunjingan kanan kiri, rasanya yang seperti itu bakalan lewat. Anjing mengonggong kafilah berlalu.

Ada sebuah hadits yang menjadi pelecut semangat bagi seseorang untuk segera beralih dari seorang karyawan menjadi usahawan: 9 dari 10 pintu rejeki adalah berdagang. Coba bayangkan, luar biasa bukan? Walaupun sebagian ulama menganggap kedudukan hadits ini tidak begitu kuat, namun setidaknya pesan moral yang dikandungnya sangatlah tinggi.

Berdagang disini bisa berarti berdagang apa saja. Berdagang barang, jasa, ide, dan sebagainya. Yang jelas, penekanan utamanya adalah kita sendiri yang memegang kelangsungan hidup usaha itu, alias sebagai pemilik (owner). Dengan menjadi pemilik sebuah usaha, maka kita bisa dikatakan telah membantu negara dengan salah satu contohnya membantu membuka lapangan kerja. Kita bisa memperkerjakan mereka dan menggajinya. Bukanlah ini adalah hal mulia? Tangan diatas (memberi gaji) selalu lebih baik daripada tangan dibawah (menerima gaji).

Oleh karena itu, dilihat dari derajat kemuliaan, bisa jadi seorang tukang bakso kemuliaannya lebih tinggi dari seorang menejer perusahaan, misalnya. Apa pasal? Tukang bakso itu bisa menggaji karyawannya tiap bulan (misal, tukang cuci piringnya), sementara menejer itu hanya mampu menerima gaji tiap bulan. Karenanya penting bagi kita untuk senantiasa jangan gede rumongso (GR), bahwa bekerja di sebuah gedung jangkung mewah yang senantias ber air-conditioning sebagai karyawan berdasi. Tetaplah rendah hati dan jangan sombong. Karena bisa jadi, lewat ilustrasi contoh diatas, pedagang asongan di pintu pagar gedung kantor Anda jauh lebih mulia.

Hanya saja, hadits diatas janganlah dianggap sebagai harga mati bahwa berdagang adalah yang terbaik. Ingat, ada hadits ‘pembanding’ Rasulullah yang mengatakan “Kalau sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahli, maka tunggulah kehancurannya.”.

Menjalankan sebuah bisnis (misalnya baju muslim, sewa mobil di Bali atau usaha mandi bola) memerlukan keahlian tersendiri. Memerlukan kesabaran, kompetensi serta keberanian dalam menanggung resiko.

Seorang karyawan yang kurang sabar dalam memupuk kekayaan materi, tidak bisa dipaksa untuk menjadi pengusaha yang ulet. Pikirannya biasanya sangat cetek (dangkal) : jadi karyawan saja biar akhir bulan nanti langsung dapat gaji. Seorang pengusaha tidak bisa berpikir seperti itu. Pikiran seorang pengusaha jauh melampaui hitungan hari atau bulan. Hitungannya sudah tahunan, dan kadang malah tidak berujung. Raksasa rokok Sampoerna misalnya, boleh jadi pendirinya sudah meninggal dunia, tapi penerusnya tetap berhasil menjaga pemikiran empunya sehingga usahanya masih terus bercokol hingga sekarang.

Demikian juga mengenai kompetensi. Tidak semua orang bisa segera menjadi ahli, misalnya, dalam hal menawarkan sesuatu. Jika perdagangan identik dengan menawarkan sesuatu (offering), seorang yang berlatar belakang pekerjaan di belakang meja (akuntan, kasir, teller, dsb) kadangkala sangat sulit disuruh menawarkan sebuah produk. Jangan memaksa seseorang untuk menangani sebuah urusan, kalau dia sekiranya memang tidak atau belum ahli menanganinya.

Keberanian? Menjadi usahawan sudah pasti butuh keberanian. Keberanian menanggung rugi, menjadi melarat, dimaki orang, diremehkan dan dicemooh orang, adalah bagian dari resiko keseharian seorang pemilik usaha. Di Indonesia masih banyak warganya yang penakut. Dengan indikasi sangat sedikit yang berprofesi sebagai usahawan dan cukup merasa nyaman menjadi karyawan.

Oleh karena itu, kita harus bijaksana. Menjadi usahawan bukanlah keharusan. Menjadi usahawan adalah pilihan. Namun, ini adalah sebuah pilihan yang memang betul-betul sangat dianjurkan untuk dipilih. Sebuah pilihan yang insyaAllah apabila kita kuat mewujudkannya, maka kemuliaan jauh lebih tinggi yang akan kita raih.

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Bisnis, Islam, Opini  | Tags:  | Leave a Comment
Friday, January 29th, 2010 | Author: Arif Haliman

Saat ini, terbuka kesempatan lebar untuk menjadi seorang TKI atau Tenaga Kerja Indonesia. Namun, TKI jenis ini berbeda dari yang kebanyakan. Untuk menjadi tipe TKI yang saya maksud, tidak perlu harus melalui berbagai aturan yang ruwet, njelimet dan sering bikin kebelet. Seperti diketahui, keruwetan itu tidak saja terjadi ditingkat birokrasi pemerintahan, namun juga ditingkat PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia). Apalagi ternyata kalau PJTKI itu adalah yang palsu, dijamin semua jenis keruwetan yang saya sebut tadi, akan bernilai kuadrat.

Nah, agar terhindar dari berbagai macam keruwetan seperti diatas, segeralah beralih menjadi apa yang saya sebut dengan TKI Maya. Jenis tenaga kerja Indonesia model ini saya yakin jumlahnya sekarang sangat bejibun. Hal ini berbanding lurus dengan dengan semakin berkembangnya dunia internet di Indonesia. Dari sekian banyak warga negara Indonesia yang berprofesi seperti ini, saya adalah salah satunya :)

TKI konvensional yang bekerja diluar negeri seringkali disebut sebagai pahlawan devisa. Ini adalah sebutan yang sangat mulia. Betapa tidak? Triliunan rupiah tiap tahun bisa mereka ‘larikan’ ke Indonesia, sebagai upah yang diterima selama bekerja disana. Terlepas dari berbagai sunatan upah yang kerap dilakukan oleh agen atau cukong mereka yang begitu kurang ajar, mereka memang benar-benar pantas menyandang sebutan pahlawan itu: Pahlawan Devisa.

Saya tidak mau ketinggalan oleh mereka. Saya juga ingin sekali mendapatkan sebutan mulia itu. Yaitu, Pahlawan Devisa. Ini, bolehlah disebut, sebagai salah satu perwujudan rasa cinta tanah air dan bangsa saya kepada Indonesia tercinta. Dan itu telah saya lakoni. Lantas, apakah untuk mendapatkan sebutan itu, saya harus bekerja di luar negeri, seperti Malaysia, misalnya? No-no-no. Nehi! Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada para TKI konvensional, saya lebih memilih cara yang lebih smart dan elegan: Memasang iklan Google Adsense :) .

Dengan memasang iklan Google Adsense di berbagai situs milik saya, apabila ada pengunjung yang melakukan klik di iklan tersebut, maka saya akan mendapatkan beberapa sen, atau dolar. Semakin banyak klik, semakin banyak dolar yang akan dibayarkan kepada saya. Dolar-dolar itu berasal dari Amerika (Google asalnya memang Amerika), dan dikirimkan kepada saya di Indonesia. Itu artinya adalah devisa. Devisa sangat penting bagi negara, baik sebagai dana cadangan atau stabilisator nilai mata uang dalam negeri. Pengertian gampangnya, dikaitkan dengan naik turunnya nilai rupiah, ini bisa membuat nilai rupiah semakin naik terhadap dolar :)

Seperti yang baru saja saya lakukan tadi pagi. Sebuah cek (dalam bentuk Western Union) langsung bisa saya cairkan di Kantor Pos, setelah malam sebelumnya saya tahu bahwa Google telah mengirimkan ‘upah’ saya untuk bulan ini, karena telah melebihi nilai minimal pencairan, yaitu USD 100. Jumlahnya tidak banyak, hanya USD 114,67 (pas saya cairkan tadi, saya terima dalam bentuk Rupiah, Rp 1.048.000). Saya terima utuh, tanpa potongan, dan saat itu juga. Untuk jadi TKI konvensional, sunatan atau penundaan upah jamak terjadi. Kasihan sekali mereka itu. Oleh karena itu, segeralah beralih menjadi TKI maya :) . Kalau dirata-rata, tiap 2,5 bulan sekali alhamdulillah saya pasti menerima ‘upah’ itu dari Google. Jumlahnya berkisar sejumlah diatas. Alhamdulillah, walaupun sedikit, bagaimanapun juga, gelar Pahlawan Devisa itu telah saya sandang. Cihuy..!!! Duh bangganya ;) ;) .

Sekali lagi, saya yakin, apa yang saya lakukan ini juga telah banyak dilakukan oleh warga negara Indonesia yang lain. Banyak dari mereka yang juga mencoba peruntungan di Google Adsense, dan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi TKI maya, TKI yang menghasilkan devisa. Kalau dolar yang saya hasilkan begitu kecil, semestinya tidak menjadi masalah, apalagi ini hanyalah pendapatan sampingan. Namun, bagaimana kalau jumlah pendapatan Adsense saya yang sekecil itu, dikalikan dengan ratusan atau ribuan TKI maya lainnya? Jumlahnya akan membuat kita geleng-geleng kepala.

Sebetulnya, untuk menjadi TKI maya tidak hanya dari Google Adsense. Begitu banyak hal-hal lain yang bisa kita lakukan. Misalnya melakukan bisnis online. Apa yang bisa dibisniskan? Apa saja. Beragam produk dan jasa bisa dipasarkan dengan mudah lewat internet. Hanya untuk membuat kamu lebih mudah mengerti, saya contohkan, seperti yang telah saya lakukan dengan berbisnis busana muslim dan Bali car rental.

Untuk busana muslim, kurang lebih sekitar 5% pembelinya berasal dari luar negeri kayak Malaysia, Singapura, Amerika. Sebuah jumlah yang kecil. Namun lumayanlah, daripada tidak menyumbang devisa sama sekali untuk negara :) . Untuk rental car Bali, kurang lebih 90% pelanggan saya berasal dari luar negeri. Artinya, devisa yang saya hasilkan, syukur alhamdulillah, lebih besar dari bisnis busana muslim tadi.

Namun, sekali lagi, tidak penting apakah kecil atau besar devisa yang mampu kita hasilkan untuk negara. Karena walaupun kecil jumlah yang bisa kita hasilkan, namun kalau itu dilakukan oleh ratusan atau ribuan warga negara lainnya, jumlahnya akan sangat besar. Yang terpenting adalah, tiap individu dari kita semua, sedapat mungkin bisa menghasilkan devisa bagi Indonesia.

HIDUP TKI MAYA!

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Tuesday, January 05th, 2010 | Author: Arif Haliman

Saya adalah orang yang cenderung suka berhemat. Tidak peduli kondisi keuangan sedang bagus atau jelek, berhemat adalah motto saya. Bahkan mungkin bagi beberapa orang, kehematan saya ini diartikan sebagai tindakan pelit.  Itu sah-sah saja, dan tidak menjadi masalah bagi saya. Baru menjadi masalah apabila orang itu kemudian menimpuk saya pakai batu, misalnya, sebagai ekses dari ‘kepelitan’ saya :) . Namun bagi saya, hemat juga bisa berarti minimalis. Hemat, juga bisa berarti kaya. Pernah dengar ungkapan Hemat Pangkal Kaya, bukan? Bagi saya yang seorang pengusaha, hemat adalah suatu keharusan.

Mengenai hemat ini, dalam kontek kehidupan sehari-hari, saya memaknainya sebagai sebuah gaya hidup. Hemat untuk saya bukanlah (syukur alhamdulillah) sebuah perjuangan berdarah-darah karena terpaksa oleh keadaan kemiskinan, tapi lebih kepada gaya hidup. Gaya hidup bukanlah sebuah hal eksklusif yang terkadang sulit untuk dimaknai dan diterapkan. Gaya hidup adalah sesuatu yang bisa diterapkan dengan mudah dan menyenangkan sehari-hari. Dan apabila kita bisa kontinu dan konsekuen dengan gaya hidup yang kita yakini itu, bisa dipastikan kita akan merasa bahagia.

Salah satu contoh kecil, bersepeda adalah salah satu kegemaran saya (Pengakuan: Sori, sudah 2 minggu terakhir ini kagak bersepeda. Pasca badan meriang 2 minggu kemarin, penyakit malas bersepeda belum hengkang dari diri saya, asli sulit sekali mengusirnya!). Dari kegemaran ini, saya menjadikannya sebagai gaya hidup. Disaat banyak orang menggeber sepeda motor atau mobilnya untuk pergi ke pasar atau toko dekat rumah, misalnya, saya lebih suka mengayuh sepeda saya. Saya merasa lebih puas apabila melakukannya dengan bersepeda daripada bermotor seperti itu. Saya bisa bergaya dalam hidup saya, salah satunya saya wujudkan dalam bentuk suka bersepeda.

Menjelang Lebaran, biasanya semua terutama wanita, sibuk sekali dalam berbelanja baju busana muslim khusus untuk menyambut Lebaran. Saya agak lupa kapan terakhir saya mimilih sendiri baju muslim Lebaran saya. Kalau toh saya akhirnya memakai baju baru Lebaran, tidak lain tidak bukan itu karena tiba-tiba istri saya menyodorkannya. Saya tidak minta, tapi memang istri saya saja yang baik hati menjadikannya ada. Karena memang kalau dia tidak melakukan itu, saya bakalan tetap berbahagia dengan baju muslim Lebaran entah yang tahun kapan ;)

Kembali ke masalah hemat, sebetulnya hal ini tidak jauh beda dengan hal bersepeda. Tergantung orang bagaimana memaknainya, bagi saya, sekali lagi, berhemat adalah gaya hidup. Sekali lagi, hemat bisa berarti minimalis. Tidak berlebihan. Dan ditengah-tengah semakin capeknya kita dalam hiruk-pikuk kehidupan yang semakin kompleks belakangan ini dengan berbagai temanya, rasa-rasanya dengan hidup tenang, hemat, dan minimalis bisa menjadi penawar yang sejuk untuk menjaga kondisi tubuh dan jiwa kita.

Dalam menerapkan pola hemat, jangan dibayangkan terlalu berat dan muluk bahwa kita harus bisa melakukannya dalam skala global. Bahwa kita harus bisa change the world. Tidak, tidak. Jangan seperti itu. Lakukan saja dalam skala pribadi dulu. Misalnya, dalam contoh pribadi saya, suka bersepeda karena tidak ingin lapizan ozon semakin menipis oleh asap kendaraan kita. Janganlah dahulu berpikir sejauh itu. Cukup pikirkan, tubuh akan keringatan sehingga sehat. Itu saja. Contoh lain, mengurangi menonton televisi atau bahkan meniadakannya, bukan karena PLN sedang dalam kesulitan serius, tapi karena ingin menambah porsi waktu membaca buku.

Banyak sekali yang bisa kita hemat dalam keseharian. Kadangkala kita sering melakukan pemborosan, karena edukasi membabi-buta yang dilakukan oleh gencarnya iklan, terutama iklan di televisi. Saya berpesan hati-hatilah kepada mereka. Tidak selamanya yang diedukasikan kepada kita sebagai calon konsumen mereka, betul-betul baik untuk kita. Ingat, sekali lagi mereka beriklan sekedar agar produk mereka laku. Berikut adalah beberapa yang bisa saya contohkan:

- Anjuran keramas setiap hari. Apakah perlu? Saya membuktikannya tidak perlu. Dua hari sekali cukup bagi saya.
- Anjuran menggosok gigi dengan odol dua kali sehari. Yang penting bukan odolnya, tapi kerajinan kita dalam menyikat gigi, meskipun tanpa odol.
- Menghisap rokok agar terlihat macho, perkasa, dan jantan. Walah..ini sih gak usah diterangkan lagi. Intinya, orang merokok dalah goblok!
- Minum vitamin tambahan dan penambah tenaga. Faktanya, nih suplemen sering memaksa organ jantung untuk bekerja teramat keras yang gilirannya justru menyebabkan semacam gagal jantung.
- Dll.

Sekali lagi, banyak sekali yang bisa kita hemat dalam keseharian. Mungkin bisa penggunaan pulsa henpon, uang transportasi kerja, uang bulanan kuliah, dsb. Mungkin juga berhemat dalam membeli barang-barang baru, sekiranya barang lama atau rusak masih bisa digunakan lagi. Atau, mengurangi konsumsi rokok dan acara makan malam diluar rumah, dari seminggu 2 kali, menjadi seminggu 1 kali saja.

Intinya, berhematlah dalam segala hal yang kamu bisa. Karena: Hemat Pangkal Kaya!

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Wednesday, December 30th, 2009 | Author: Arif Haliman

PLN (Perusahaan Listrik Negara) baru saja dipimpin oleh orang baru. Orang baru ini langsung menduduki jabatan tertinggi di tubuh BUMN itu, yaitu Direktur Utama (Dirut). Artinya, seperti halnya di berbagai perusahaan lain, dari sekian banyak jajaran direksi yang ada, kesemuanya akan bertanggung jawab kepada Dirut.

Ditengah berbagai pandangan miring mengenai PLN (terutama dalam beberapa bulan terakhir) karena seringnya terjadi pemadaman listrik diseluruh Indonesia, pergantian ini diharapkan membawa angin segar. Harapan besar itu kini disandarkan kepada Dirut baru tersebut. Siapa dia? Dia adalah Dahlan Iskan. Bagi yang belum tahu, lebih baik segara cari tahu ya. Situs ini http://dahlaniskan.wordpress.com atau http://www.dahlaniskan.info mungkin cocok untuk memulainya.

Bagi saya pribadi, Pak Dahlan pastinya sama sekali tidak kenal saya (emang juga gue siape…). Artinya tidak pernah bertatap muka secara langsung, dalam sebuah seminar, misalnya. Namun walaupun begitu saya sering ‘bertatap muka’ dengannya walaupun dengan sistem satu arah (dia ke saya), yaitu melalui harian Jawa Pos miliknya yang saya sudah mengakrabinya sejak masih sekolah dasar (jaman almarhum ayah saya dulu menjadi pelanggannya) sampai sekarang. Sekedar informasi, di Jawa Pos, Dahlan Iskan menjabat sebagai CEO, dan Jawa Pos ini membawahi sekitar lebih dari 100 perusahaan, sebagian besar merupakan perusahaan yang berbasis media (koran, tabloid, tv, dsb). Lewat Jawa Pos News Network (JPNN), boleh dibilang ini adalah konglomerasi media terbesar di tanah air.

Saya sedikit banyak tahu sepak terjangnya selama ini. Mantan wartawan Tempo ini betul-betul merangkak dari bawah dalam karirnya, sampai menduduki jabatan CEO di Jawa Pos. Dahlan Iskan menurut saya pribadi memang adalah orang yang tepat menjadi pemimpin. Tidak hanya untuk perusahaannya sendiri, namun juga sekarang ini untuk PLN. Sebagai sebuah perusahaan negara yang dituntut untuk bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dibidang kelistrikan, dan sekaligus harus mampu mendulang untung untuk memberikan pemasukan kepada negara, PLN sepertinya belum mampu melakukan itu semua sejak dulu kala. Ada-ada saja penghalangnya. Mulai dari adanya tangan kotor para koruptor dan KKN yang mengerubunginya, sampai ketidakprofesionalan jajaran direksi dalam menjalankan roda perusahaan.

Disinilah peran Dahlan Iskan sangat diharapkan. Latar belakang dan reputasinya sebagai seorang pengusaha bertangan dingin serta bersih dari berita korupsi diharapkan mampu meningkatkan kinerja PLN. Meskipun begitu, sebagian kalangan, seperti Serikat Pekerja PLN yang sempat mendemo dan menolaknya, sempat menyangsikan kesanggupan Pak Dahlan dalam mereposisi PLN. Mereka beragumen Dahlan adalah orang luar PLN dan sama sekali tidak berpengalaman soal listrik. Sebagai orang luar, dikuatirkan dia akan gampang melakukan privatisasi PLN, serta dituduh tidak mahir dalam mengelola kelistrikan. Sebagian lagi mencurigai kedekatannya dengan kalangan Tionghoa, dimana dia akan dirasa akan berat sebelah. Dan berbagai macam keraguan lainnya, yang menurut saya bahkan saya sendiri pun bisa mewakilinya untuk membantah kekuatiran itu.

Menurut saya, over all, Dahlan Iskan sebaiknya memang diberi kesempatan untuk memimpin PLN. Untuk PLN, setidaknya saat ini, bukanlah faktor teknis kelistrikan yang diperlukan pemimpinnya. Disana diperlukan seorang ‘independen’. Orang yang tidak gampang ditekan dan dibodohi siapapun. Faktor terpenting adalah kemampuan leadership dan manajemen yang handal. Lebih jauh, dari segi kelistrikan, Dahlan Iskan bukanlah orang awam.

Dia juga mempunyai semacam perusahaan energi dan gas di Kalimantan Timur. Walaupun sama sekali bukan perusahaan yang berpotensi menyaingi PLN (menurut pengakuannya hanya 1% nya dari kekuatan total PLN), setidaknya dia mempunyai pengetahuan. Dari segi leadership, siapa yang bisa menyangsikannya. Sebelum resmi menyandang jabatan Dirut PLN seminggu yang lalu, dia masih membawahi sekitar 100 perusahaan. Setelah resmi menjadi Dirut PLN, semua jabatan itu dicopotnya. Katanya, kalau mau cari uang, mending tetap memimpin 100 perusahaan itu dan bukannya hanya memimpin 1 macam perusahaan kayak PLN.

Hebat, bukan? Dalam hal manajemen? Disaat banyak dari kita yang sudah kelimpungan mengelola 1 unit usaha kecil (saya adalah salah satunya hehe..), namun Dahlan bisa mengelola 100 lebih perusahaan kelas propinsi maupun nasional, bahkan internasional seperti investasi yang dilakukannya di Tiongkok. Orangnya sepertinya memang bersih. Sulit mengaitkannya dengan korupsi. Nepotisme? Azrul Ananda adalah anaknya yang menjabat sebagai Wakil Direktur di Jawa Pos. Namun asal mula keterlibatannya di Jawa Pos bukanlah kemauan bapaknya, namun proses alamiah.

Toh mengenai itu (KKN) saya pribadi sangat tidak keberatan, kalau kebetulan disebuah organisasi personalnya ada ikatan keluarga, DENGAN CATATAN: dia sangat capable dalam posisinya itu dan prestasinya sudah jelas. Mengapa tidak?

Sekali lagi untuk mengetahuinya siapa dan bagaimana dia, situs http://dahlaniskan.wordpress.com cocok untuk mengenalnya. Tanya mbah Gugel akan lebih baik lagi. Dari sana kita bisa mengetahui tentang pemikirannya, dan dikaitkan dengan harapan kita akan perbaikan PLN, kita bisa menilai apakah dia akan berhasil atau tidak. Pokoknya, kalau Dahlan Iskan tidak bisa membenahi PLN, maka bisa saya bilang tidak ada lagi yang akan bisa. Oiya, Ada juga buku Ganti Hati (saya sudah memilikinya sejak pertengahan tahun ini) yang berkisah pengalaman nyata Dahlan Iskan dalam melakukan transplantasi organ hatinya. Sangat menggugah khas wartawan ulung.

Jadi, mari kita berharap PLN akan bisa menjadi seperti Bank Mandiri dan Garuda Indonesia, 2 BUMN yang sekarang ini kinerjanya sangat membanggakan berkat tangan dingin jajaran direksi mereka. Semoga PLN juga segera bisa mengejar ketertinggalannya.

Category: Opini  | Tags: , ,  | Leave a Comment
Thursday, November 26th, 2009 | Author: Arif Haliman

Iseng buka-buka Yahoo UK & Ireland, saya menemukan sebuah artikel yang berjudul 10 cheap country to visit now yang membahas mengenai kamana sebaiknya para calon pelancong negara Inggris dan juga negara Eropa lainnya saat ini. Penyaranan tempat melancong (holiday destination) ini lebih didasarkan kepada negara-negara tempat tujuan wisata yang berharga murah. Tapi tentu saja tidak sekedar murah, namun tetap memberikan pengalaman berlibur yang menyenangkan mengingat bagaimanapun juga tempat wisata dinegara-negara tersebut tidaklah ‘murahan’.

Kenapa kok negara-negara tersebut masuk kategori murah? Tidak lain tidak bukan karena saat ini menurut situs Yahoo! UK Travel, mata uang negara-negara tersebut sedang mengalami penurunan nilai terhadap Euro ataupun Dolar. Ditengah masih berlangsungnya krisis global dimana Amerika paling parah dalam menanggungnya dan Eropa yang masih perkasa menghadapinya, jelas masuk akal kalau para pemilik euro dan dolar bisa plesir berwisata ke suatu negara yang mata uangnya masih jatuh secara jauh lebih murah.

Ke 10 negara murah yang disarankan untuk dikunjungi itu pertama adalah Meksiko dengan Cancun-nya yang sangat menawan. Penerbangan ke Meksiko sekarang ini sedang sangat murahnya. Alhasil, kesempatan bagi warga Eropa untuk berwisata menikmati pemandangan pantai yang eksotis dan olahraga air kelas dunia menjadi terbuka lebar.

Negara ke 2 adalah Islandia. Kebekuan finansial secara berkala disana menyebabkan ekonomi sulit. Karenanya, berwisata di air panas alami dan baluran pemandangan lava disana akan sangat menarik karena segalanya murah. Negara ke 3 adalah Turki. Negeri mayoritas Muslim yang masih berusaha terus bergabung dengan Uni Eropa ini tergolong lebih murah dibanding negara Eropa lainnya. Tapi itu diprediksi tidak berlangsung lama karena pesatnya pembangunan disana. Istambul menawarkan berbagai keeksotisan dunia bagi para pengunjungnya.

Afrika Selatan adalah negara ke 4. Depresiasi mata uang Rand terhadap British Sterling membuka kesempatan buat para pelancong pergi kesana. Kruger National Park adalah andalannya diantara berbagai wisata alam lainnya. Meskipun penerbangan masih tergolong mahal, namun akomodasi termasuk hotel dan villa sedang murah-murahnya. Negara ke 5 yaitu Bulgaria. Persiapan mata uangnya yang akan bergabung dengan zona Eropa membuatnya segera membuat mahal harga-harga lainnya. Sebelum masa itu datang (tahun 2012), Bulgaria yang termasuk kategori murah sekarang, sebaiknya secepatnya untuk dikunjungi untuk menikmati wisata pegunungan yang maha tinggi menembus langit.

Berikutnya, atau negara ke 6 adalah Mesir. Sudah tidak perlu dijelaskan lagi betapa indahnya negeri Mesir ini. Pantai-pantai berpasir putih dan tempat-tempat peninggalan sejarah adalah andalannya. Jangan lupakan juga tentang olahraga air seperti scuba diving atau snorkelling disana. Tunisia menjadi negara ke 7 dengan harga akomodasi dan makanan yang sangat murah sehingga menarik untuk dikunjungi. Disana banyak menawarkan pemandangan matahari terbit dan tenggelam yang spektakuler. Juga layanan spa yang memanjakan, dsb.

Yang ke ke 8 adalah Kroasia. Banyak menawarkan hotel skala tingi yang berharga murah untuk ditinggali. Disarankan untuk berkunjung di sekitaran April - Mei, atau September - Oktober. Negara ke 9 adalah Thailand. Yup, kita tahu dari berbagai berita bahwa sedang terjadi gejolak yang kontinu disana. Politik yang tidak stabil menyebabkan ekonomi tersendat sehingga menyebabkan nilai mata uang Baht turun. Thailand banyak menawarkan wisata seperti halnya Bali dengan keindahan alam dan budaya unik masyarakatnya. Namun dari semua hal yang ada, Bangkok dan Pattaya adalah dua tempat yang harus dikunjungi.

Bagaimana dengan negara ke 10? Tidak ada. Warga Eropa hanya disarankan untuk membuka mata lebar-lebar lewat berbagai informasi yang ada, siapa tahu ada tempat atau negara lain yang murah untuk dikunjungi.

Menyikapi artikel Yahoo ini, saya hanya berkomentar, syukur Alhamdulilah Indonesia, termasuk Bali didalamnya, tidak masuk negara atau tempat tujuan wisata yang murah. Bukannya apa-apa, ini menunjukkan bahwa Bali masih berkelas. Bali masih menunjukkan kelasnya sebagai tempat wisata yang tidak murahan. Dampak dari ini adalah, saya dan para pelaku pariwisata di Bali pada khususnya, bisa dibilang kesejahteraan hidupnya berpeluang tetap terjaga. Karena kita masih bisa menjual produk-produk wisata kita dengan harga tinggi, yang artinya pendapatan atau income kita juga akan tetap tinggi. Situs Bali car rental saya yang sempat menurun di masa low season Oktober-November sekarang ini, alhamdulillah sudah mulai bergairah kembali menyambut peak season Desember.

Fokus kita tentang pariwisata Bali seharusnya adalah: Dengan tetap mempertahankan kelasnya yang bernilai lebih ini. Tidak murahan yang berakibat murahan, dan tidak mahalan yang berakibat dijauhi turis.

Category: Opini  | Tags: ,  | Leave a Comment
Wednesday, July 15th, 2009 | Author: Arif Haliman

Tidak bisa disembunyikan lagi betapa memang masyarakat kita sekarang ini sedang stres semua. Rakyat Indonesia sedang sakit, dan sakit stres ini sedang berada dipuncaknya saat-saat sekarang. Entah sampai kapan penyakit khas orang kota ini (tapi kabarnya orang desa pun juga tak luput juga ya?) menemukan obatnya dan kemudian bisa segera reda. Kalau tidak juga segera reda, saya kuatir bangsa Indonesia akan semakin redup sinarnya dan kemudian hilang sama sekali.

Stres bisa menjadi sangat berbahaya. Walaupun jenis penyakit ini tidak mematikan secara langsung layaknya penyakit yang sedang ngetren yaitu flu babi, namun efeknya lebih menyakitkan. Efek mematikannya dilakukan secara halus, sistematis perlahan-lahan, namun pasti. Kata mematikan disini tidak melulu dalam artian mati nyawa, namun juga bisa diartikan mungkin mati kreativitas, mati semangat, mati perekonomian, dsb.

Malangnya di negara Indonesia tercinta ini, orang yang sedang dilanda stres, justru menjadi bulan-bulanan beberapa orang yang kebetulan mempunyai kemampuan berpikir lebih. Orang model gini begitu teganya menjadikan para laskar stres itu sebagai obyek keuntungan yang biasanya dalam bentuk materi. Saya hanya ingin mengatakan mengenai begitu maraknya iklan ramal-meramal via SMS, khususnya di televisi.

Pelototi saja iklan-iklan mereka disana. Terutama yang mengandalkan strategi pendaftaran melalui SMS. Mulai nenek-nenek nggak takut neraka macam Mama Lorek, lelaki gombal awut-awutan model Ki Joko Bodo Sekali, dan oknum ustadz bersorban peramal jodoh. Dan masih banyak lagi kayak Deddy Karburator dan Tomy Rapel. Dengan entengnya mereka katakan bisa menentukan kesuksesan karir, jodoh ataupun peruntungan kita. Gedubrarrrkkk!! Tobat neeekk..tobat maaass….Yang bisa menentukan segalanya itu hanya Allah SWT! Bukan lewat dagelan komat-kamit mulut dan kibasan ngawur tangan sampeyan..

Para stresser ini mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa keuntungan para produser iklan dan bintang iklannya itu begitu meraksasa. Meraup keuntungan lewat napas ngos-ngosan para laskar stres yang kagak tahu ape-ape. Dengan ongkos SMS premium rata-rata 2.000 rupiah, kalau yang terjaring adalah 10.000, sudah berapa duit tuh? Lha kalau lebih dari 10.000 peserta ?? Ya lebih besar lagi duitnya. Apakah mungkin? Ya 100% mungkin bro! Pakai ilmu probalilitas model apa aja ya masuk aja. Ini adalah negara Indonesia dengan jumlah penduduk yang minta ampun besarnya. Mulai dari anak SD sampai kakek-nenek semua menenteng henpon. Dan asyiknya, bagi para produser ini, kebanyakan memang rada-rada bodoh sehingga gampang dikibulin untuk ikutan acara kayak gini. Ditambah masyarakat kita sedang stres dengan kondisi negara ini, acara ngibulnya menjadi semakin gampang. Banyak orang yang putus asa, sih!

Orang-orang kayak gini memang sudah kebablasan. Kalau asalnya memang asal ngomong, tukang sulap, mentalis, ilusionis, atau mungkin memang asli penyihir, ya sudah dibuat sekedar pertunjukkan, atau disimpan sajalah untuk diri sendiri, minimal kalangan internal. Jangan kemudian ‘mengembangkan diri’ dengan ngawurnya mengatakan mampu menentukan atau menerawang bagaimana hidup kita kelak.

Semoga saja kita semua masih diberi kewarasan berpikir untuk ignore saja kepada model penumpukan kekayaan secara ngawur oleh oknum-oknum penghibur ini. Semoga saja Allah SWT masih menguatkan akal sehat kita untuk tidak percaya kepada mereka. Hanya orang-orang stres yang tidak mempunyai rencana dalam hidupnya saja yang pasti akan segera mendaftar menjadi pasien mereka. Hanya mereka yang gampang putus asa saja yang gampang mengamini mereka.

Memang kondisi negara kita sedang awut-awutan, entah kapan fajar cerah akan kembali ke langit Indonesia. Tidak juga elit politik, namun juga masyarakat bawah sama saja berantakannya. Namun, dalam jiwa pribadi masing-masing, hendaknya akal sehat dan semangat bekerja jangan pernah padam. Hanya usaha cerdas dan ketakwaan kita kepada Tuhan sajalah yang mampu menyelamatkan dan menjaga kita. Menjadi mandiri dan percaya dirilah atas kemampuan masing-masing! Karena salah satu cara untuk mengangkat kembali martabat bangsa ini adalah dengan menjadi orang yang mandiri. Menjadikan tangan kita diatas, dan tidak tangan yang dibawah.

Sekali lagi, Mandiri dan Percaya diri sendiri, Bro! Dan tentu jangan lupa selalu berdoa kepada yang Di Atas!

Category: Motivasi, Opini  | Tags: ,  | One Comment
Wednesday, July 01st, 2009 | Author: Arif Haliman

Maling bagi sebagian orang adalah sebuah profesi. Bisa sebagai profesi utama, atau mungkin sekedar sampingan. Dari sekian banyak profesi yang menjadi musuh sekaligus momok masyarakat, maling adalah yang paling menjengkelkan. Betapa tidak, pelakunya bisa mengembat barang-barang berharga milik kita, baik sewaktu kita sedang sadar (seperti berdesak-desakan dalam bis), atau sedang tidak sadar (tidur dengan nyenyaknya didalam rumah kita).

Dalam hal ini saya ingin membahas contoh terakhir diatas, yaitu maling rumah. Sekarang ini, para maling dalam menjalankan aksinya sudah tidak pandang bulu. Bulu ketiak atau bulu rambut pun mereka sikat (Walah..sori salah!). Maksudnya, mereka berani menyatroni rumah yang sedang kosong atau sedang ada penghuninya. Kalau jaman dulu berita rumah kemalingan selalu rumah tersebut dalam keadaan kosong, namun jaman sekarang rumah yang sedang ada penghuninya pun (biasanya pas penghuninya sedang bobok malam) mereka sikat!

Anyway, berikut adalah beberapa hal yang bisa mengundang para maling untuk mengintai dan kemudian menggarong isi rumah kamu:

1) Para tetangga sekitar rumah kamu tidak begitu saling kenal.
Ini adalah kehidupan khas masa kini, terutama di perkotaan yang membuat orang pedesaan geleng-geleng kepala sejuta kali. Penghuni rumah satu dengan penghuni rumah yang lain tidak begitu saling kenal. Tetangga satu dengan yang lain berego sama-sama tinggi. Mungkin disebabkan faktor ekonomi mereka yang sama-sama tinggi. Bahkan untuk sekedar melempar senyum saja sewaktu lewat didepan rumah sudah tidak mampu. Alhasil, sistem keamanan bersama tidak ada. Bisa ditebak, bahkan mungkin ada orang asing malam-malam lompat pagar masuk pekarangan rumah kita, mereka akan tetap membiarkannya! Amit-amit jabang bayi deh, moga-moga nanti bisa beli rumah gak dilingkungan yang kayak gini!

2) Rumah kamu pagarnya sangat rendah.
Lupakan sistem pagar rumah kayak di Beverly Hills. Di sono tuh, tiap rumah gak ada pagarnya. Standar pagar rumah di perkotaan Indonesia, kalau bisa sih minimal 2.5 meter. Ini untuk melindungi agar pemandangan dalam rumah tidak terlihat dengan mudah dari luar. Apalagi kalau rumah kamu berada tepat di pinggir jalan yang padat lalu lintas, dimana mulai dari gerobak, tukang sayur, tukang becak, tukang ojek, taksi dsb bisa lewat, tinggi 3 meter pagar rumah sangat disarankan.

3) Jendela rumah kamu tidak ada teralinya.
Jendela adalah jalan masuk paling favorit para maling. Favorit kedua adalah pintu dan kemudian terakhir adalah atap. Nah, karena jendela adalah yang paling rentan diserang, sangat dianjurkan untuk melengkapinya dengan teralis besi. Mereka boleh saja sukses mencongkel jendela kita, namun bakalan sudah untuk bisa menerobos teralis besinya.

4) Waspada apabila ada aktifitas pembangunan disekitar rumahmu.
Kalau didekat rumahmu sedang ada aktifitas pembangunan, entah itu pembangunan perumahan baru, pabrik atau apalah yang melibatkan banyak tukang, tidak ada salahnya untuk meningkatkan kewaspadaan. Sekedar informasi dari polisi yang kukenal, lebih dari 50% tindak kejahatan yang terjadi disekitar situ seperti rumah kemalingan, pelakunya adalah salah satu atau dua dari tukang-tukang bangunan tersebut. Alasan ini sangat masuk akal. Dengan asumsi membangun sebuah rumah perlu waktu 2 bulan, dan yang dibangun tidak hanya satu rumah, mereka bisa dengan leluasa mengamati dan mengenali kebiasaan kita setiap hari. Kapan kita berangkat kantor, kapan rumah dalam keadaan kosong, kapan pembantu pergi ke pasar, dsb. Untuk tukang bangunan yang tidur menginap di lokasi pembangunan, mereka bahkan bisa tahu jam berapa biasanya kita mulai tidur malam! Hal ini bisa dilihat dari indikasi lampu dalam rumah kita sudah padam atau belum dari gubuk mereka.

Ini saja sekedar berbagi tips agar rumah kita terhindar dari kemalingan. Kalau toh masih saja kemalingan dan ada barang yang hilang, bersyukurlah bahwa yang hilang masih sekedar barang berharga kita, bukan hilang nyawa atau hilang iman kita. Anggap saja sebagai sekedah. Siapa tahu ada zakat kita yang terlewat, atau memang sedekah kita masih selalu kurang.

NB: Memperingati 9 hari pasca rumah kontrakanku yang kemalingan..Hu..hu..Tapi memang Allah Maha Adil, sepertinya peristiwa ini akan berbalik membawa banyak kebaikan dan manfaat untuk pribadi dan bisnis keluargaku :) Semoga saja benar. Thank You Allah! Amin.

Category: Opini, Pribadi  | Tags:  | Leave a Comment
Sunday, April 19th, 2009 | Author: Arif Haliman

Mana diantara dua aktifitas online, yaitu Facebook dan ngeblog,  yang menjadi favorit kamu? Saya yakin bahwa jawaban saudara-saudara sekalian akan berbeda. Yang satu bilang Facebook, yang lainnya lagi memilih ngeblog. Atau malah dua-duanya yang menjadi favorit. Apapun pilihan kamu, dengan sesuatu yang menjadi latar belakang dan berbagai motivasi, kedua aktifitas online tersebut sama-sama punya banyak pendukung, terlebih dengan semakin maraknya situs komunitas sosial online dan kebebasan berpendapat di internet. Lantas, mana pilihan utama saya?

Ngeblog!.

Ya, bagi saya pribadi, menulis di blog akan membawa pesan dan kesan yang lebih mendalam terutama untuk saya sendiri sebagai penulisnya. Dengan ngeblog, saya bisa lebih mendokumentasikan dan menuangkan segala yang menjadi uneg-uneg saya, apakah itu dalam bentuk ide, opini, pengalaman, motivasi, dsb sehingga bisa lebih greget.

Saya bukanlah anti situs jejaring sosial online (online social community) seperti Facebook dan lainnya. Saya punya account di Facebook. Ditengah hiruk pikuknya Facebook, beberapa kali saya sempatkan untuk menuliskan pesan singkat disana. Mungkin juga sudah sifat khas dari sebuah situs komunitas, ruang yang tersedia tidaklah ‘luas’. Sehingga yang saya rasakan disana adalah apa yang saya suarakan tidak bisa ‘dalam’. Berbeda dengan menulis di blog, saya bisa lebih ‘dalam’ dalam mengeluarkan semua uneg-uneg seperti diatas.

Lepas dari semua itu, saya berpendapat bahwa bermain Facebook dan blog asalnya berangkat dari yang namanya latar belakang dan motivasi. Mau tahu apa latar belakang dan motivasi saya dalam menulis blog?

Latar Belakang:
Saya aslinya adalah seorang web programmer yang kemudian bermetamorfosis menjadi seorang web-based business owner. Mengapa kok bermetamorfosis seperti itu? Tidak lain tidak bukan karena saya melihat bahwa prospek kedepan yang dihubungkan dengan penerimaan materi dan tingkat kepuasan, sepertinya akan lebih maknyus kalau memiliki bisnis sendiri (bisnis apa saja), dan bukannya terus-terusan menjadi karyawan dengan spesialisasi programmer komputer (web). Maka dalam hal ini saya memutuskan untuk memiliki usaha sendiri dengan media internet, yang tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya SEO (search engine optimization).

Seperti umum sudah diketahui bahwa kalau kamu menyandarkan bisnis atau usahamu di internet, maka mutlak bagimu untuk tampil menjadi nomor satu di mesin pencari (search engine) seperti Google dan Yahoo untuk bidang bisnis yang kamu tekuni. Mengapa kok harus mesin pencari? Karena survei membuktikan bahwa peluang terbesar orang menemukan website kamu ya dari search engine itu tadi. Hal inilah yang kemudian memunculkan motivasi saya untuk menulis blog.

Motivasi:
Salah satu usaha (dari sekian banyak usaha) untuk bisa tampil di halaman pertama hasil pencarian mesin pencari adalah content. Ya, bagi saya isi atau content, adalah hal pertama dan utama. Maksudnya, kualitas sebuah website itu ditentukan dari oke tidaknya isi dari halaman-halaman yang ada dari website itu. Jika Content is the King, maka Link Back is the Queen.

Oleh karena itu saya termotivasi untuk berusaha selalu menciptakan content yang original dan fresh dengan banyak-banyak menulis. Dari hasil tulisan tersebut diantara kalimat-kalimat yang ada saya selalu ada link back yang kalau diklik akan menuju ke beberapa website yang menjadi website bisnis utama saya seperti Bali car rental dan Busana Muslim.

Itu saja latar belakang dan motivasi saya menulis blog. Sederhana. Minimnya komentar dalam tulisan saya bukanlah persoalan. Menulis di blog itu semudah melempar kata-kata singkat di Facebook. Yang menjadikannya sulit adalah tatkala pikiran ini macet tidak tahu ingin menulis apa :) .

Facebook? Tetap saja dia menarik dan asyik dengan beberapa alasan tertentu.

Ngeblog? Merujuk latar belakang dan motivasi saya diatas, sepertinya masih tetap menjadi opsi pertama saya :)

Saturday, April 11th, 2009 | Author: Arif Haliman

Saya adalah penggemar lumayan berat buku komik. Entah itu komik bergambar kayak Crayon Sin Chan atau komik melulu teks kayak Sherlock Holmes. Waktu saya masih sekolah dasar di kota Mojokerto tercinta, saya sudah menamatkan membaca komik Trio Detektif besutan Alfred Hitchcoc atau Liima Sekawan karya Enid Blyton yang terkenal dan legendaris itu.

Tidak banyak anak usia SD waktu itu (apalagi anak sekarang) yang bisa menuntaskan membaca serial komik tersebut. Bayangkan, seri judulnya berjumlah lebih dari puluhan, bung! Kalau untuk membaca cerita detektif seperti diatas yang isinya teks melulu saja saya sudah khatam, jangan ditanya deh mengenai komik bergambar serial Tintin, Asterix & Obelix, Smurf, Johan & Pirlouit, dan sebagainya :) .

Di usia awal tiga puluhan ini saya masih saja suka membaca komik. Walaupun sudah beristri dan beranak, kalau masuk toko buku semacam Gramedia dan Gunung Agung, biasanya selalu terselip satu atau dua komik di tas belanja. Komik-komik masa kini terutama yang dari Jepang itu sangat memikat. Kung Fu Boy, Dragon Ballz, Doraemon, Crayon Sin Chan adalah salah satu dari sekian judul komik kesukaan saya. Kalau komik lokal saya masih ngefan berat sama Lupus, Lupus Kecil, Olga karya Hilman cs dan beberapa cerita fiksi dari kelompok FLP (Forum Lingkat Pena).

Mungkin itu juga yang menjelaskan kenapa saya sudah harus memakai kacamata sejak kelas 2 SMP. Sapaan ‘Profesor’ kerap dilontarkan teman-teman semasa itu disekolah. Saya masih ingat betapa sangat tersiksanya kalau pas duduk dibangku belakang dan sama sekali tidak bisa melihat apa yang dituliskan guru di papan. Juga sangat tidak nyamannya pas olahraga, terutama olahraga basket, seringkali meleset masukin bolanya ke keranjang :( . Kenapa gak pakai kacamata saja? Malu bo ;) . Tapi lama-lama sekitar selang satu tahun kemudian rasa malu pakai kacamata itu hilang dengan sendirinya. Mungkin merasa tambah cakep ya ;) .

Kalau pas lagi baca komik, tingkah polah saya bisa kayak ikan lele yang bergulung-gulung (emang lele bisa gulung-gulung ??). Menit ini posisi duduk manis dikursi, menit berikut ngesot dikursi, berikutnya baring dilantai, lalu tengkurap, dan biasanya posisi berikut adalah posisi wajib maniak buku: Baca sambil tidur buku diangkat keatas! Posisi wajib yang sangat-tidak-disarankan-karena-membahayakan-mata ini kerap saya lakukan walaupun ibu saya sudah berulangkali teriak mengingatkan.

Saya merasa yakin bahwa posisi membaca kayak begini ini yang bikin mata saya KO dan harus dibantu pakai kacamata. Ada juga posisi lain yang tidak kalah buruknya, yaitu menonton acara TV dengan posisi tiduran. Ampun…Sumpah yang kayak gini jangan diteruskan, dijamin pasti langsung rabun jauh hehe :) .

Kalau pas lagi membaca, saya bisa bela-belain untuk terus melek. Membaca novel seperti The Da Vinci Code karya Dan Brown yang sudah difilmkan dengan movie star Tom Hanks, saya bisa menamatkannya dalam waktu hanya semalam. Seperti tidak kuasa untuk menutup buku itu karena thrilernya di setiap bab selalu mampu menggoda hati dan pikiran untuk terus membacanya.

Pada intinya membaca memang menjadi kegiatan yang mengasyikkan bagi saya. Syukur alhamdulillah almarhum bapak saya dulu suka langganan koran jadinya secara gak sengaja saya jadi suka bolak-balik halaman koran itu untuk dibaca. Oleh karena itu, saya bisa kasih saran, pas anak kamu sudah ada yang mulai masuk usia sekolah dasar, berlanggananlah koran atau pokoknya bacaan apapun yang mendidik, agar anak-anak kamu selalu dekat dengan bahan bacaan dan menggemarinya.

Bangsa barat menjadi sedemikian majunya juga karena budaya membaca mereka sangat tinggi. Inginkah bangsa kita juga bisa seperti itu? Namun ingat jangan kena kejadian buku ilang kayak gini :( .

Ayo jadikan kegiatan membaca tidak hanya sekedar hobi, namun juga gaya hidup!

Category: Opini, Pribadi  | Tags: , ,  | One Comment
Thursday, March 05th, 2009 | Author: Arif Haliman

Salah satu dari sekian banyak enaknya berbisnis busana muslim online adalah, seperti bisnis-bisnis yang bersifat online lainnya, yaitu tidak perlu tempat secara fisik untuk memajang barang dagangan kita sedemikian rupa untuk menarik minat pembeli. Barang dagangan tinggal dipasang saja di halaman-halaman website kita dan pembeli tinggal memilih langsung disana. Tapi bagaimana kalau bisnis busana muslim digarap secara offline?

Well, saya pribadi terus terang kurang atau belum berpengalaman mengenai hal ini. Disamping memang niat sejak awal ingin berjualan busana muslim hanya lewat media internet dan tidak buka toko dipinggir jalan atau dirumah, juga karena sebetulnya saya tidak begitu jago dalam hal bargaining atau tawar menawar dalam hal perdagangan. Jadi bisa kamu bayangkan, model orang kayak saya ini pastilah kurang cocok bila harus membuka sebuah usaha yang memerlukan kegiatan face to face atau bertatap muka langsung dengan pembeli.

Namun bukan berarti karena saya bersama istri berjualan hanya secara online terus tidak ada yang datang secara langsung mendatangi toko kami (eh, rumah kontrakan ding, bukan toko ;) ) di Denpasar Bali. Tidak, tidak seperti itu. Tetap saja ada satu dua orang yang langsung datang kerumah untuk berbelanja. Darimana mereka bisa tahu kami? Karena kami sebelumnya belum perah menyebarkan brosur di Denpasar, dan tidak  pernah memasang iklan dimanapun sebelumnya, maka besar kemungkinan bahwa mereka tahunya langsung dari internet. Dan mereka membenarkan sewaktu saya tanyakan darimana mereka bisa tahu kami. Umumnya para pembeli yang langsung datang kerumah adalah mereka yang tinggal di Denpasar juga. Jadinya gampang saja untuk menemukan tempat kami.

Nah, berawal dari adanya satu dua pembeli yang langsung datang kerumah, kami punya ide bagaimana kalau sekalian mencetak brosur dan dibagi-bagikan disekitar kota Denpasar? Saya yang awalnya kurang begitu berkenan akhirnya jadi juga mewujudkan hal itu soalnya brosur yang bikin bukan saya, tapi istri saya. Jadinya saya tidak perlu repot-repot he he.. ;)

Perlu diketahui bahwa niatan awal saya berjualan busana muslim online ini sangatlah sederhana. Yaitu bagaimana caranya agar istri tetap bekerja, namun tidak perlu kerja diluar, atau ikut orang. Ya akhirnya jadilah website busana muslim ini. Dalam perkembangannya syukur alhamdulillah, kalau diukur dengan tingkat kesibukan dan pendapatan ibu-ibu lainnya yang bekerja diluaran, istri bisa dibilang tidak kalah dengan mereka, bahkan mungkin lebih :)

Kembali ke brosur diatas, ya begitulah, setelah brosur jadi, kita sebar-sebarkanlah brosur sederhana itu kesana kemari. Karena kita gemar berjamaah dimasjid, seringnya kita selipkan brosur itu di kaca depan mobil para jamaah :) Rencananya juga akan kita titipkan di warung-warung langganan kita. Beberapa warung sudah kita ajak omong, ada yang sukses mau, ada yang gatot (gagal total) :) . Kita happy saja melakukannya. Tidak ada target atau paksaan.

Hasilnya bagaimana? Tidak hanya dari segi finansial, namun lebih dari itu adalah silaturahmi yang terjalin diantara kami. Kami jadi banyak bertambah kenalan yang kadang-kadang bikin kaget juga, misalnya ketemunya di halaman masjid, eh ternyata dia rumahnya dibelakang rumah saya. Padahal sebelumnya tidak kenal sama sekali. Dan juga bertemu dengan banyak muslim dan muslimah lainnya dengan latar belakang pekerjaan dan daerah asal. Jadi banyak tahu informasi yang berkembang di kota Denpasar dan kota lain sekitar, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan keislaman. Bahkan ada juga yang datang jauh-jauh dari Baturiti. Tahu Baturiti? Itu adalah daerah sekitar kawasan pariwisata terkenal di Pulau Bali, yaitu Bedugul. Suami istri ini begitu hebat dan bersemangatnya, hingga bisa-bisa seminggu 2 kali datang ke Denpasar untuk mengambil baju ditempat kami. Padahal jarak yang harus ditempuh adalah 1.5 jam perjalanan naik motor. Juga tidak ketinggalan bisa bersilaturahmi dengan para muslimah-muslimah cantik di Telkomsel Denpasar :)

Hemm, berbisnis untuk tujuan menjadi kaya? Think once again..Berbisnis untuk tujuan agar urusan selalu diberi mudah dan lancar olehNya lewat jalur silaturahmi could be another great choice!

Category: Opini, Pribadi  | Tags: , ,  | One Comment
eXTReMe Tracker