Archive for the Category » Motivasi «

Saturday, January 02nd, 2010 | Author: Arif Haliman

Melewati tahun 2009 kemarin, rasa syukur tiada terkira saya panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan barokah yang selalu diberikan kepada saya dan keluarga. Tahun 2009 kemarin bisa kami lewati dengan baik. Sangat baik, malah. Baik dari sisi keluarga maupun bisnis. Terutama yang berkaitan dengan bisnis, seperti halnya para pelaku usaha lainnya, tutup tahun berarti melakukan hitungan-hitungan bisnis, seperti apakah tahun 2009 kemarin semakin untung ataukah buntung, dan apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghadapi tahun 2010.

Sekali lagi, saya bersyukur bahwa tahun 2009 kemarin saya melewatinya dengan sangat baik. Bisnis rental car Bali saya yang telah berjalan secara penuh dan profesional dalam 3 tahun terakhir ini, syukur alhamdulillah sudah tembus Rp 1 milyar per tahun 2009 kemarin (kotor). Tepatnya adalah Rp 1,1 milyar. Dari tahun ke tahun alhamdulillah pendapatan kotor ini selalu meningkat. Saya memulai bisnis ini secara penuh dan profesional sejak awal tahun 2007.

Dengan pendapatan sebesar ini, saya masih saja suka terkejut-kejut. Bukannya apa-apa, hare gene, dimana wabah berbisnis via internet sudah semakin marak dan lumrah dilakukan oleh banyak orang, mestinya tidak perlu terkejut sebuah website bisa menghasilkan pendapatan sebesar itu. Maksudnya, sekali lagi, hal ini sudah biasa. Namun, begitulah, internet dan web pages (baik teori maupun praktek) yang sudah menjadi keseharian saya sejak masih dibangku kuliah, tetap saja mampu membuat saya terkagum-kagum, dan terkaget-kaget. Saya bisa menjadi orang yang begitu menghargai dan menjiwai adanya teknologi ini. Dan mungkin orang lain tidaklah sedalam ini bisa merasakan, sekaligus mengambil keuntungan dengan adanya internet :)

Mungkin pengambarannya mirip seorang pelukis kelas wahid. Dalam menilai sebuah obyek lukisan, dia bisa begitu menghayati, mendalami, mengapresiasi sekaligus memberikan komentar terhadap lukisan itu. Dia tumpahkan seluruh isi hatinya dalam sebuah uneg-uneg yang mungkin hanya dia sendiri (dan orang-orang seperti dirinya) yang bisa memahami. Pokoknya diatas langit. Orang awam? Buru-buru bisa mengerti, mungkin malah menganggap sang pelukis sudah gila, alias tidak waras. Begitulah..

Dibisnis ini, saya murni hanya di sewa mobil Bali. Maksudnya, saya tidak melakukan bisnis sampingan yang biasa menyertai bidang bisnis ini. Seperti melayani jasa penginapan atau hotel, jasa aktivitas seperti water sports, cruise, bungi jumping, dan sebagainya itu. Hal ini memang saya sengaja. Saya tidak ingin terlalu bias dan menjadi tidak fokus dengan bisnis utama. Lagipula, perhatian dan stamina saya harus juga terbagi untuk bidang bisnis saya yang lain yang insyaAllah juga semakin berkembang baik, yaitu Busana muslim.

Untuk bisa menghasilkan pendapatan sebesar itu per tahun, jangan dibayangkan saya melakukannya seperti orang kebanyakan. Saya melakukannya tidak terlalu serius, namun juga tidak membuatnya enteng. Saya menjalankan bisnis ini dengan cukup santai, riang, dan mungkin tanpa beban. Mungkin juga karena itu tadi, saya bisa menghayati dan menyenangi teknologi ini. Jadinya semuanya serba menyenangkan.

Berikut penggambaran singkatnya kalau diwujudkan dalam bentuk pertanyaan:

Q: Apa saya perlu kantor?
A: Tidak. Rumah kontrakan (insyaAllah bisa segera beli rumah sendiri ;) ) yang saya tempati ini adalah kantor saya. Tamu saya tidak perlu menemui saya di ‘kantor’ saya untuk urusan rental mobil. Kita bisa langsung bertemu di hotel atau bandara. Lantas, apakah perlu sebuah ruangan khusus nyama ber AC? Hehe, saya hanya menempati sebuah sudut ruangan rumah saya ini, dengan meja komputer disitu yang setelah saya ukur, dimensinya adalah: 80cm X 50 Cm).

Q: Apa saya harus menerapkan kerja jam 8 pagi selesai jam 5 sore?
A: Hehe..Tidak. Jam kerjanya seenak udel saya sendiri. Bahkan lokasi kerja juga seenak udel saya sendiri. Asalkan internet tetap ON, henpon tetap ON, my business can be done anytime, anywhere :)

Q: Apakah karyawan saya, misalnya ada 5 orang?
A: Wa ka kak…Kagak! Untuk bisnis Bali car rental saya ini, saya tidak punya karyawan. Bener? Bener! Saya sorangan wae (seorang diri) saja. Mulai mendisain situs, mempopulerkannya ke search engine, kemudian jawab email order, terima telpon, kirim sms, bahkan sampai menemui beberapa tamu, itusaya lakukan sendiri, tanpa karyawan sama sekali.

Q: Apakah saya bayar pajak tinggi?
A: Ehem..ini juga tidak. Berbisnis di internet, ini kalau dibilang ‘enak’, pastilah akan terhindar dari yang namanya pajak hehe. Jadinya uang bayar pajak bisa dialokasikan untuk mengembangkan usaha. Tapi, biarpun tidak pernah bayar pajak, tapi zakat berikut infak dan sedekah jalan terus lho.. :) Pasti! Bahkan saya merasa yakin, bahwa rutinitas inilah yang disertai syukur kepada tuhan membuat bisnis saya tetap terjaga. Tapi, kesannya kok seperti tidak cinta tanah air dan bangsa? Maafkan saya, memang sementara ini hanya mampu mewujudkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa, dengan kemampuan sekedar menarik dana / devisa dari luar negeri masuk ke Indonesia sejumlah tersebut diatas lewat para turis. Semoga saja ini juga bisa dibilang cinta tanah air dan bangsa.

Akhirnya, dengan semangat berbagi pengalaman untuk membuka mata bagi yang belum TAKE ACTION semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi. Ayo, segeralah berbenah. Begitu banyak peluang bisnis (ONLINE atau OFFLINE) yang begitu menjanjikan berseliweran didepan mata.

Tidak usah sedih dengan perilaku para politikus kotor dan koruptor busuk di negeri ini, mereka akan segera lenyap. Tidak usah marah dengan berbagai sinetron yang cengeng dan meracuni, mereka akan segera ditinggalkan. Tak usah gundah dengan kemiskinan negara tercinta ini, kondisi ini akan segera berubah.

Pokoknya terus bekerja dengan baik. Mari kita bangun Indonesia tercinta, lewat jalan kita masing-masing, salah satunya adalah dengan menjadi usahawan yang jujur, unggul dan berguna bagi sesama! Semoga barokah dan rahmat Allah SWT senantiasa mengiringi hidup kita dan keluarga kita untuk tahun-tahun berikutnya. Selamanya. Amin.

Sunday, August 16th, 2009 | Author: Arif Haliman

Besok adalah ulang tahun negara Republik Indonesia tercinta. Ulang tahun yang ke 64 di tahun 2009 ini. Ulang tahun yang apabila disamakan dengan umur rata-rata manusia sekarang, usia ini sudah sangatlah renta. Sebuah usia yang semestinya sudah sangat arif bijaksana didalam menyikapi semua hal yang menerpa kehidupannya.

Sebagai warga negara Indonesia, saya sejujurnya harus mengakui bahwa saya belumlah menjadi warga negara yang baik, terutama status saya sebagai penuduk kota Denpasar ini. Satu saja contohnya adalah saya belumlah taat dalam membayar pajak. Motor bebek saya masih bernomor polisi ‘S’ (Mojokerto), dan bukannya ‘DK’ (Denpasar). Jadinya hasil pajak motor tersebut belum masuk di kas kota Denpasar.

Sebagai pelaku bisnis online sewa mobil di Bali dan penjualan baju muslim, saya juga hampir-hampir tidak pernah sepeser pun dalam membayar pajak. Dan mungkin juga masih ada beberapa contoh buruk yang lain, yang memberi saya rapor merah dalam rangka menjadi warga negara yang baik.

Sekedar catatan, khusus untuk bisnis online yang saya jalankan, saya kok memang tidak melihat adanya celah bagi saya untuk membayar pajak. Maaf lho ya, tolong saya dikoreksi karena saya masih minim informasi mengenai pajak ini :)

Karena online, saya memang tidak perlu menyewa / membuka toko di pinggir jalan. Karena berpartner dengan rekan lain yang sudah mempunyai usaha yang resmi terdaftar, saya tidak perlu lagi mendaftar ijin usaha baru. Karena saya sudah membayar zakat 2,5% dari setiap pendapatan saya, maka saya tidak perlu membayar pajak (ops, maaf kalau ada yang kurang berkenan dengan statemen terakhir saya :) ).

Dikaitkan dengan kegiatan bisnis (online) saya, sebagai warga kota Denpasar pada khususnya, dan sebagai warga negara Indonesia pada umumnya, setidaknya saya masih bersyukur bahwa saya tidaklah terlalu buruk untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan kota Denpasar ini. Saya inginnya berbuat banyak untuk kota dimana saya tinggal. Semacam give and take lah, masak saya tidak pernah memberi sama sekali padahal saya sudah menerima banyak sekali. Apa kata dunia???

Untuk kegiatan bisnis penjualan baju muslim online yang saya geluti, diskala lokal kota Denpasar, setidaknya saya sudah ikut meramaikan lalu lintas jasa kurir / kargo baik untuk tujuan domestik maupun luar negeri. Sekedar informasi, saya dan istri hampir tiap hari harus pergi ke Tiki dan Kantor Pos untuk mengirim paket ke pelanggan-pelanggan kami di seluruh Indonesia, dan kawasan ASEAN. Sementara untuk skala nasional, saya tentunya sudah ikut meramaikan kegiatan perdagangan garmen atau tekstil di Indonesia (yang memang sudah sangat produktif) berikut dengan segala pernak-perniknya. Istri saya hampir tiap hari melakukan order barang ke pusat (seringnya di Jakarta, Bandung dan Surabaya) untuk dikirim ketempat kami di Denpasar, dan kemudian kami kirimkan lagi ke para pelanggan.

Untuk kegiatan bisnis rental car Bali saya, bisa dikatakan sedikit banyak saya sudah ikut menggairahkan dunia pariwisata di Bali, khususnya dibidang transportasi. Secara tidak langsung saya ikut meramaikan bisnis penjualan mobil, baik baru atau bekas, melalui dealer atau showroom. Secara langsung saya bisa berbahagia bisa memberi pekerjaan kepada beberapa rekan-rekan yang berprofesi sebagai driver untuk mengantar tamu-tamu saya berlibur di Bali.

Pesan yang ingin saya sampaikan disini adalah mengajak kita semua untuk sejenak saja merenung. Bahwa besok adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 64. Pada tahun 2009 ini usia negara Indonesia sedang menuju masa pendewasaan setelah melalui berbagai peristiwa yang luar biasa sebelumnya. Sebagai warga negara yang baik, hendaknya kita berusaha untuk selalu memberi kontribusi nyata kepada pembangunan negara ini untuk menuju sebuah negara yang insyaAllah semakin Religius, Mandiri & Bermartabat.

Merdeka!

Wednesday, July 15th, 2009 | Author: Arif Haliman

Tidak bisa disembunyikan lagi betapa memang masyarakat kita sekarang ini sedang stres semua. Rakyat Indonesia sedang sakit, dan sakit stres ini sedang berada dipuncaknya saat-saat sekarang. Entah sampai kapan penyakit khas orang kota ini (tapi kabarnya orang desa pun juga tak luput juga ya?) menemukan obatnya dan kemudian bisa segera reda. Kalau tidak juga segera reda, saya kuatir bangsa Indonesia akan semakin redup sinarnya dan kemudian hilang sama sekali.

Stres bisa menjadi sangat berbahaya. Walaupun jenis penyakit ini tidak mematikan secara langsung layaknya penyakit yang sedang ngetren yaitu flu babi, namun efeknya lebih menyakitkan. Efek mematikannya dilakukan secara halus, sistematis perlahan-lahan, namun pasti. Kata mematikan disini tidak melulu dalam artian mati nyawa, namun juga bisa diartikan mungkin mati kreativitas, mati semangat, mati perekonomian, dsb.

Malangnya di negara Indonesia tercinta ini, orang yang sedang dilanda stres, justru menjadi bulan-bulanan beberapa orang yang kebetulan mempunyai kemampuan berpikir lebih. Orang model gini begitu teganya menjadikan para laskar stres itu sebagai obyek keuntungan yang biasanya dalam bentuk materi. Saya hanya ingin mengatakan mengenai begitu maraknya iklan ramal-meramal via SMS, khususnya di televisi.

Pelototi saja iklan-iklan mereka disana. Terutama yang mengandalkan strategi pendaftaran melalui SMS. Mulai nenek-nenek nggak takut neraka macam Mama Lorek, lelaki gombal awut-awutan model Ki Joko Bodo Sekali, dan oknum ustadz bersorban peramal jodoh. Dan masih banyak lagi kayak Deddy Karburator dan Tomy Rapel. Dengan entengnya mereka katakan bisa menentukan kesuksesan karir, jodoh ataupun peruntungan kita. Gedubrarrrkkk!! Tobat neeekk..tobat maaass….Yang bisa menentukan segalanya itu hanya Allah SWT! Bukan lewat dagelan komat-kamit mulut dan kibasan ngawur tangan sampeyan..

Para stresser ini mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa keuntungan para produser iklan dan bintang iklannya itu begitu meraksasa. Meraup keuntungan lewat napas ngos-ngosan para laskar stres yang kagak tahu ape-ape. Dengan ongkos SMS premium rata-rata 2.000 rupiah, kalau yang terjaring adalah 10.000, sudah berapa duit tuh? Lha kalau lebih dari 10.000 peserta ?? Ya lebih besar lagi duitnya. Apakah mungkin? Ya 100% mungkin bro! Pakai ilmu probalilitas model apa aja ya masuk aja. Ini adalah negara Indonesia dengan jumlah penduduk yang minta ampun besarnya. Mulai dari anak SD sampai kakek-nenek semua menenteng henpon. Dan asyiknya, bagi para produser ini, kebanyakan memang rada-rada bodoh sehingga gampang dikibulin untuk ikutan acara kayak gini. Ditambah masyarakat kita sedang stres dengan kondisi negara ini, acara ngibulnya menjadi semakin gampang. Banyak orang yang putus asa, sih!

Orang-orang kayak gini memang sudah kebablasan. Kalau asalnya memang asal ngomong, tukang sulap, mentalis, ilusionis, atau mungkin memang asli penyihir, ya sudah dibuat sekedar pertunjukkan, atau disimpan sajalah untuk diri sendiri, minimal kalangan internal. Jangan kemudian ‘mengembangkan diri’ dengan ngawurnya mengatakan mampu menentukan atau menerawang bagaimana hidup kita kelak.

Semoga saja kita semua masih diberi kewarasan berpikir untuk ignore saja kepada model penumpukan kekayaan secara ngawur oleh oknum-oknum penghibur ini. Semoga saja Allah SWT masih menguatkan akal sehat kita untuk tidak percaya kepada mereka. Hanya orang-orang stres yang tidak mempunyai rencana dalam hidupnya saja yang pasti akan segera mendaftar menjadi pasien mereka. Hanya mereka yang gampang putus asa saja yang gampang mengamini mereka.

Memang kondisi negara kita sedang awut-awutan, entah kapan fajar cerah akan kembali ke langit Indonesia. Tidak juga elit politik, namun juga masyarakat bawah sama saja berantakannya. Namun, dalam jiwa pribadi masing-masing, hendaknya akal sehat dan semangat bekerja jangan pernah padam. Hanya usaha cerdas dan ketakwaan kita kepada Tuhan sajalah yang mampu menyelamatkan dan menjaga kita. Menjadi mandiri dan percaya dirilah atas kemampuan masing-masing! Karena salah satu cara untuk mengangkat kembali martabat bangsa ini adalah dengan menjadi orang yang mandiri. Menjadikan tangan kita diatas, dan tidak tangan yang dibawah.

Sekali lagi, Mandiri dan Percaya diri sendiri, Bro! Dan tentu jangan lupa selalu berdoa kepada yang Di Atas!

Category: Motivasi, Opini  | Tags: ,  | One Comment
Saturday, March 21st, 2009 | Author: Arif Haliman

Ya saudara-saudara, saya ingin bermetamorfosis untuk naik ’status’ berubah dari penjual busana muslim menjadi produsen busana muslim. Mengapa kok ingin menjadi produsen busana muslim? Apa ada yang salah dengan tetap menjadi penjual busana muslim? Apa sudah punya model dan tukang jahitnya? Terus apakah lebih menguntungkan menjadi produsen daripada penjual? Bagaimana dengan model pemasarannya?

Itu adalah berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk dalam diri ini, dan juga pertanyaan dari istri saya. Kesemua pertanyaan-pertanyaan diatas dan beberapa pertanyaan lainnya sangat erat kaitannya dengan bisa tidaknya saya memulai impian saya ini. Jadi, saya tidak ingin bermimpi tinggi dulu bahwa saya akan berhasil dalam arti merek produk saya nanti disukai pasar atau tidak, namun sementara ini saya membatasi mimpi saya dengan apakah saya bisa memulainya ?

Bagi saya, pertanyaan ‘apakah saya bisa memulainya‘ adalah kata penentu. Saya adalah orang yang simpel. Saya suka kesederhanaan, tidak bertele-tele dan tidak canggih-canggih. Dalam bisnis, dan juga dalam hal apapun, saya paling malas kalau diminta (apalagi disuruh) untuk memikirkan sesuatu yang berat-berat. Bagi saya hal itu malah akan mematikan kreativitas sehingga  menjadi berat untuk bahkan sekedar memulainya. Seperti misalnya beberapa pertanyaan diatas: Dimana mencari tukang jahitnya, dimana mencari bahannya, berapa harga jualnya nanti, segmen pasar mana yang mau dibidik, dsb.

Sekali lagi saya ingin yang simpel. Sederhana. Oleh karena itu sebelum direpotkan untuk menjawab berbagai pertanyaan diatas, saya ingin menguji diri saya dulu dengan pertanyaan mendasar ini: Apakah saya bisa memulainya?

Segala sesuatu itu perlu permulaan. Perlu trigger atau pemicu untuk kemudian hasil picuan itu bisa kita kendalikan nantinya. Mirip dengan orang bikin patung tanah liat dari pot yang berputar. Jangan bermimpi bongkahan tanah liat itu akan menjadi sebuah bentuk patung yang diinginkan apabila pot tersebut tidak pernah berputar. Apabila pot itu sudah diputar, mulailah tangan terampil itu membentuknya, memolesnya, menghaluskannya, bahkan kalau perlu menambah atau membuang sebagian tanah liat agar bentuk terindah yang diinginkan bisa tercapai.

Nah, saya ingin yang seperti itu. Yang penting adalah pemicu. Bagi saya, pemicu itu adalah kegiatan untuk sekedar memulai impian saya ini. Untuk sekedar memulai, saya sudah punya beberapa rencana yang simpel.

Oleh karena saya ingin menjadi produsen busana muslim yang berbahan dasar kaos, maka saya akan mendatangi atau tepatnya mencari tahu dulu dimana saya bisa bertemu dengan para penjahit yang ada di sekitaran Denpasar ini. Saya punya beberapa kenalan yang sepertinya bisa menunjukkan dimana saya bisa menemui para penjahit ini. Dengan membawa beberapa contoh baju busana muslim berbahan dasar kaos dari merek-merek yang sudah beredar duluan, saya sekaligus ingin menguji para penjahit ini apakah memang bisa menjahit seperti baju-baju kaos yang ada di website baju muslim saya.

Entah mengapa kalau langkah memulai saya yang hanya seperti saya sebutkan diatas sudah terlaksana, rasanya impian saya untuk menjadi produsen busana muslim sudah tercapai. Saya sudah bisa merasa sukses. Apakah tidak pusing dengan urusan modal? Nggak tuh. Walaupun memang belum ada alokasi untuk itu, saya yakin kalau hanya masalah modal akan luntur dengan sendirinya. Kamu akan sulit untuk percaya hal ini, kalau belum pernah menjalankan bisnis. Sumpah! Tapi sekali kamu pernah menjalankan bisnis, maka kamu akan percaya bahwa yang namanya modal (materi) itu bukanlah yang utama.

Apa alasan lain saya ingin menjadi produsen dan tidak menjadi penjual? Well, yang ini sepertinya agak personal. Saya seringnya menerima keluh kesah istri yang sering mengeluh sulitnya mendapatkan baju merek A itu karena kita bukan agen besar, sulitnya pemilik merek B yang sulit dihubungi entah kenapa. Beragam keluh kesah itu bermuara ke penjual seperti saya dan istri ini. Muaranya adalah kecapekan. Gimana gak capek pembeli kita berulang kali tanya barang yang diinginkan dengan beberapa diantaranya sangat ngotot tidak mau tahu, namun apa daya kita sebagai penjual belum juga mendapat barangnya. Jadinya dalam kondisi seperti ini, yang ada hanyalah capek.

Oleh karena itu, mindset sedang saya rubah, untuk mewujudkan mimpi menjadi produsen busana muslim (yang mungkin) pertama dari Bali. Why not?

Tuesday, February 03rd, 2009 | Author: Arif Haliman

Seringkah kita menarik napas panjang, dan sembari menahan udara kehidupan itu di rongga dada, senyum lebar tersembul dimulut menandakan kita sangat bersyukur atas segala nikmat kasih sayang tuhan yang begitu besar. Semakin sering kita melakukan hal itu maka ucapkanlah syukur Alhamdulillah karena kita masih ingat bahwa Allah Swt senantiasa sayang dan menjaga kita. Ingatlah bahwa begitu banyak manusia yang seringkali lupa bahwa segala sesuatu yang telah diraihnya menafikkan sama sekali peran tuhan dalam kehidupannya.

Detik ini, dimanapun kita sedang berada di sebuah titik status sosial kita, kekayaan kita, kondisi keluarga kita, kualitas ibadah kita dan lain sebagainya, hendaknya selalu dijadikan pelajaran dan musahabah untuk diambil pelajaran dan hikmahnya. Nikmati dan syukuri segala hasil pencapaian itu terlepas dari apakah itu sudah sesuai dengan tujuan kita atau belum. Karena dengan menikmati dan mensyukurinya sepenuh hati maka hakekatnya tujuan itu sudah teraih. Ingatlah bahwa terutama bukan hasil yang akan membuat hati menjadi puas, namun proses yang menyertainya.

Seringkali saya flash back atau melakukan kilas balik perjalanan hidup ini dengan merenung dan berusaha mengambil pelajarannya. Bagi saya kegiatan seperti sangat mengasyikkan dan banyak pelajaran yang bisa diambil.

Salah satu hal favorit saya untuk di flash back adalah mengenai persepsi atau pandangan yang dihubungkan dengan kemandirian. Persepsi yang saya maksudkan disini adalah bagaimana cara kita memandang sesuatu dari sudut pandang kita dan orang lain. Contoh sederhana dan merupakan awal saya bermain persepsi bisa saya awali dari kehidupan saya jaman sekolah menengah tingkat pertama (SMP). Pada tahun itu pas saya masih di SMP, seperti mungkin layaknya jaman sekarang, marak terjadi apa yang disebut uang sogok. Seorang murid yang mestinya tidak mungkin masuk sekolah favorit karena nilainya letoy, ternyata bisa masuk juga. Bukan sulap bukan sihir, asumsi paling masuk akal adalah memang uang yang berbicara disini.

Nah, kebetulan teman satu komplek ada yang melakukan praktek kayak gini. Nilai kelulusan SD ancur-ancuran, namun bisa masuk SMP favorit. Sementara teman lain yang juga satu komplek secara nilai akademis dan kemampuan otak lebih mumpuni, justru harus masuk SMP yang sedang-sedang saja.

Yang saya renungkan adalah: Enak mana sih, sekolah di SMP favorit pakai jalur hitam, dengan sekolah di SMP biasa aja tapi jalur putih? Pas saya tanya langsung kepada keduanya, si jalur hitam dengan bangganya jawab No problem! Dan si jalur putih juga jawab No Problem! Nah, bagi saya dengan jawaban seperti ini yang diberikan, saat ini saya sering tersenyum, kalau itu dihubungkan dengan kemandirian, tentu si jalur putih jauh akan lebih mandiri, dalam segalanya. Dan memang itu dibuktikan puluhan tahun kemudian ketika kita sudah sama-sama dewasa, dan jadi orang. Tidak akan saya sampaikan disini bagaimana perjalanan hidup teman-teman tersebut, namun kamu semua bisa menebaknya :) .

Permasalahan atau kejadian seperti ini mungkin adalah hal sepele. Namun buat saya hal sepele seperti ini selalu berkelebatan di kepala setiap waktu, yang membuat saya menjadi memikirkannya. Hal sepele seperti ini juga yang ternyata pada akhirnya, membuat saya detik ini dalam hal mencari nafkah, dari seorang web programmer menjadi orang yang mandiri sebagai wirausahawan dan tidak lagi menjadi karyawan.

Waktu saya masih di perguruan tinggi hal ini masih jadi pikiran saya. Saya saat itu disamping berstatus sebagai mahasiswa jurusan Manajemen Informatika di sebuah PTN di Malang, juga seorang instruktur software komputer di sebuah LBB di kota yang sama. Pekerjaan ini adalah profesional, dalam arti 8 jam per hari dan bergaji bulanan. Nah, seperti umumnya mahasiswa + pekerja, biasanya nilai kuliah menjadi ancur-ancuran karena memang sering TA (titip absen :) ). Ada teman yang 100% murni mahasiswa: pagi siang sore malam kuliah melulu kerjanya. Dan memang nilainya paling top. Persepsi saya kali ini adalah: Enak mana sih, menjadi mahasiswa dengan nilai tertinggi, atau menjadi mahasiswa dengan nilai biasa (perlu diketahui, nilai akademik saya pas kuliah sangat tidak biasa, alias jeblok) namun dengan pengalaman kerja dan penguasaan materi kuliah yaitu berbagai software komputer diatas rata-rata para mahasiswa murni itu?

Waktu saya sudah lulus kuliah dan masuk dunia kerja, masih segar dalam ingatan saya dahulu dari omong-omongan kecil dengan teman satu kos di Denpasar. Teman saya ini begitu bangga dengan pekerjaannya di sebuah bank pemerintah yang bonafit dengan penampilan parlente. Dia nampak sangat antusias bercerita mengenai ritme kerja, suasana kantor, kawan sekantor dan fasilitas yang bisa digunakannya. Perlu untuk diketahui, teman kos saya ini tidak sedang sombong. Saya tahu persis dia tidak sedang menyombongkan diri. Dia hanya sedang antusias dan gembira mendapatkan waktu dan kesempatan untuk bercerita kepada saya tentang keadaannya. Dan itu saya rasa sangat wajar. Saya hanya bisa mangut-mangut dan sesekali menimpalinya untuk menunjukkan kalau saya perhatian dengan ceritanya.

Nah, berikutnya adalah seperti biasanya pikiran saya kembali bermain persepsi: Enak mana sih, kerja di bank dengan kesan wah dan fasilitas komplit, dengan kita punya usaha sendiri dengan fasilitas dan omzet secukupnya?

Pertanyaan itu terus saja bergelayut dihati beberapa waktu selanjutnya. Perlu diketahui, sejak saat itu selalu saya benamkan dalam hati bahwa atas pertanyaan itu saya memilih jawaban yang kedua. Status saya yang saat itu masih menjadi karyawan (seorang web programmer di sebuah perusahaan milik bule) tidak menyurutkan keinginan saya untuk bisa mewujudkan jawaban yang kedua diatas.

Terbersit pikiran sangat mustahil saya bisa mewujudkannya. Justifikasi umum seperti tidak ada bakat dan tampang usahawan (emangnya tampang usahawan bisa ditentukan ??), keluarga mayoritas adalah karyawan, sudah enak jadi karyawan senantisa mengganggu. Namun memang betul jalan hidup seseorang tidak ada yang bisa memperkirakan, apalagi menentukan. Yang terjadi pada pada saya saat ini adalah, saya memang bekerja dirumah saja, dengan sebuah kamar kecil berukuran 4 x 3 meter. Saya memang tidak dikelilingi dengan berbagai fasilitas dan omzet yang sangat wah, namun setidaknya sebagai usahawan saya memiliki kemandirian dan kemerdekaan untuk menggodok dan menjalankan ide-ide saya dengan leluasa. Menjadi karyawan? Well, I have been there. And you may believe or not, it is not always easy to show and execute your ideas at anytime, and place.

Jadi, sudah sangat bersyukur dan menikmati apapun dan dimanapun posisi kamu sekarang? YAHHHHHH..!! Kalau saya, insyaAllah sudah!

Category: Motivasi, Opini  | Tags:  | One Comment
Tuesday, December 23rd, 2008 | Author: Arif Haliman

Minggu ini tepatnya tanggal 27 Desember 2008 akan ada seminar Andrie Wongso di Bali. Seminarnya kali ini mengambil judul Tomorrow Will Be Better ‘09 (Esok Penuh Harapan). Tiket peserta seharga Rp 275.000 sudah saya beli hari ini di toko buku Gramedia Denpasar.

Seminar motivasi seperti ini insyaAllah akan menjadi seminar pertama yang akan saya hadiri. Sebelumnya tidak sekalipun hati saya tergerak untuk menghadiri sebuah seminar motivasi. Biasanya hanya seminar di kampus atau launching software pas dulu masih kerja sama orang. Itupun sudah lebih dari 2 tahun yang lalu ;). Nah, kali ini mumpung pembicaranya sekelas Andrie Wongso yang berjuluk Motivator No. 1 Indonesia dan diadakan di Bali, yeah, sikat aja bleh..

Saat ini saya memang sedang gandrung-gandrungnya untuk lebih mengerti dan menghayati bisnis atau usaha. Jadinya acara ini mugkin tepat buat saya. Setidaknya saya akan mengetahui bagaimana sih seorang Andrie Wongso dalam menyampaikan motivasinya. Disana nanti pastinya juga akan berkumpul para peserta yang bertujuan mencari ilmu untuk bagaimana tetap bersemangat dan fokus dengan apapun bidang kerja dan bisnis yang sedang dijalaninya.

Tahun 2009 mendatang ada beberapa rencana besar yang insyaAllah diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk mewujudkannya. Juga ditahun 2009 tampaknya krisis finansial global yang ramai diberitakan akan tetap mewarnai perjalanan tahun itu. Namun apapun bentuk hambatan di tahun depan ini, bisnis harus tetap berjalan dengan penuh keyakinan dan optimisme yang tinggi. Oleh karena itu, mungkin seminar motivasi nasional ini bisa memberi semacam focus guidance terhadap bisnis saya.

Seminar Nasional Andrie Wongso di Bali pada tanggal 27 Desember 2008 akan mengambil tempat di Aston Hotel Denpasar Jl. Gatot Subroto. Special Performance Ebiet G. Ade seorang penyanyi yang nampaknya akan menjadi legenda pada masa yang akan datang. Sesuai dengan judulnya Tomorrow Will Be Better ‘09 yang sesuai dengan harapan-harapan besar saya di tahun 2009 ini, saya tidak sabar untuk segera menghadirinya. Saya akan coba ceritakan lagi nanti mengenai jalannya seminar nanti.

Or, will I see you guys there?

Category: Bali, Motivasi, Pribadi  | Tags: ,  | 4 Comments
Monday, December 08th, 2008 | Author: Arif Haliman

Datang lagi hari raya bagi kaum muslim yaitu Idul Adha 1429 H atau bertepatan dengan 2008 M. Buat saya hari raya yang juga dikenal dengan nama hari raya Kurban atau hari raya Haji kali ini agak terasa istimewa soalnya bertepatan dengan baru saja pindahan rumah 5 hari sebelumnya di kontrakan baru daerah Pemogan. Jadinya agar lebih praktis, saya yang Alhamdulillah kembali diberi kemampuan Allah untuk berkurban, kambing kurban saya serahkan ke pondok Hidayatullah dekat tempat tinggal saya. Sebelumnya kambing kurban saya serahkan ke sebuah pondok yang ada di Kampung Islam Kepaon Denpasar.

Selain itu ini adalah pertama kalinya setelah sejak tiga tahun menikah, bisa berhari raya Kurban di Bali komplit bersama istri dan anak. Kita melaksanakan shalat Idul Adha di Masjid Agung Sudirman, salah satu masjid di Bali yang masuk kategori berjamaah besar.

Omong-omong, apakah kamu juga mampu berkurban tahun ini? Ditengah situasi krisis global dunia yang dipicu oleh Amerika dan membawa imbas sangat parah di Eropa sedangkan Indonesia juga kena getahnya, rasa-rasanya ingin berkurban kali ini terasa berat. Apalagi demi mengetahui nilai tukar rupiah yang bertengger di level 12.000 membuat situasi bertambah mengkhawatirkan. Segala bentuk pengeluaran harus benar-benar diseleksi dengan ketat karena harga segala kebutuhan merangkak naik. Namun apakah kita benar-benar telah berhemat dan selektif dalam berbelanja?

Berkurban adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat besar nilainya. Kemuliaannya sangat tinggi karena membawa pesan kepedulian dan simpati terhadap sesama yang kurang mampu. Kalau tahun ini misalnya kita tidak mampu berkurban, coba dipikirkan kembali apakah benar-benar tidak mampu?

Salah satu contoh kecil adalah sebagai berikut. Taruhlah kita adalah seorang perokok. Perokok berat. Perokok berat yang perhari mampu menghabiskan 1 bungkus rokok. Anggap harga 1 bungkus rokok Rp 5.000. Dalam satu bulan kita telah membakar uang Rp 5.000 x 30 hari = Rp 150.000. Dalam satu tahun artinya kita telah membakar uang Rp 150.000 x 12 bulan = Rp 1.800.000

Nah, baru tersadarkah kamu dengan contoh kecil ini kalau misalnya kamu bilang tidak mampu berkurban yang katakanlah harga kambing setahun ini Rp 1.000.000, sedangkan kamu merokok setahun bisa habis Rp 1.800.000, apakah kamu masih bersikeras tidak mampu ?

Dengan kamu menghabiskan Rp 1.800.000 untuk merokok sendiri, atau menghabiskan Rp 1.000.000 untuk berkurban seekor kambing, mana yang lebih bernilai dan mulia? Semua sudah tahu jawabnya. Nah, mulai sekarang tanamkan dipikiran masing-masing bahwa berkurban di hari raya Idul Adha tidaklah seberat yang dibayangkan, Kalau kita mau introspeksi ternyata masih banyak pos-pos pengeluaran yang bisa kita tekan dalam satu tahun, dan dialihkan untuk berkurban kambing misalnya.

Selain berhenti atau mengurangi merokok, mungkin kamu bisa mengurangi jadwal makan diluar dengan menggantinya lebih sering makan dirumah. Juga bisa mengurangi berlangganan koran atau majalah dan hanya cukup akses internet atau nonton tv. Mungkin juga bisa mengurangi jumlah baju yang kita beli per bulan atau per tahun, dsb.

Semoga tulisan ini bisa membawa pencerahan, dan insyaAllah kemudahan untuk mampu berkurban pada tahun mendatang akan semakin mudah.

Category: Islam, Motivasi  | Tags: ,  | Leave a Comment
Sunday, November 30th, 2008 | Author: Arif Haliman

Merokok? Bagi sebagian orang ini adalah kebutuhan. Bagi sebagian yang lain adalah gaya hidup. Bagi saya? Suer, kalaulah beli sebungkus rokok, tuh rokok akan habis dalam waktu 3 bulan kedepan. Artinya apa? Suangat juarang sekali saya merokok. Hehe..kasihan para produsen rokok punya pelanggan kayak saya.

Untuk kamu yang tidak merokok, saya ucapkan Selamat! Jaman sekarang ini kalau ada yang tidak merokok maka pasti hebatlah dia. Ingatlah saudara-saudara, setiap waktu dan tempat kita selalu dikepung oleh yang namanya (promosi) rokok. Lewat iklan di televisi, internet, koran dsb. Sekeliling kita baik di kantor, warung atau di jalanan selalu terlihat pemandangan orang merokok. Seorang perokok lewat iklan-iklan yang ditampilkan adalah orang yang sehat, tegas, macho dan petualang. Kesan yang pokoknya ciamik dah. Nah, dengan segala kepungan edan ini dan kamu masih bisa tidak merokok? GREAT!

Sebetulnya kalau pake logika goblok-goblokan saja semua sudah tahu. Kalau para atlit adalah ukuran orang yang sehat, lalu apakah ada atlit yang gemar merokok? Apalagi sampai habis 1 atau 2 bungkus per hari! Pun kalau toh masih ada atlit yang nekat merokok tuh atlit pastinya goblok, gak pernah cetak rekor atau atlit gadungan hehe :)

Masih ingat tentang demo pendukung rokok beberapa waktu lalu yang memprotes fatwa MUI bahwa merokok itu haram? Walaupun saya pribadi lebih condong mengatakan bahwa merokok itu hukumnya Makruh, namun saya bisa memaklumi sikap MUI yang langsung mengatakan bahwa rokok itu haram. Beberapa hal yang membuat kita geregetan terhadap orang merokok adalah:

1. Mengandung nikotin yang menyebabkan kecanduan
Sudah ngerti kan bahaya orang kecanduan? Yang namanya kecanduan, apakah kecanduan ganja, main internet, main cewek atau judi, selalu saja membuat orang berbuat nekat.

2. Membakar uang
Lha, uang kok dibakar! Orang yang berbuat kayak gitu mestinya sudah edan. Terutama kalau perokok adalah pas orang miskin, terus mau diberi makan apa anak dan istrinya?

3. Membodohi masyarakat
Yang ada dipikiran para pendukung merokok adalah, kalau rokok semakin dilarang, maka yang terjadi adalah:

1. Tenaga kerja di pabrik rokok semakin berkurang.
2. Petani tembakau semakin merugi.

Selalu hal-hal seperti ini yang didengungkan. Tidakkah juga dipikir bahwa dengan semakin dibebaskannya orang merokok, kelompok lain yang mengalami kerugian lebih besar yang tampak di depan mata adalah:

1. Para tukang becak, kuli bangunan, supir angkot, dsb.
2. Para pegawai rendahan (negeri / swasta).

Dari penjelasan singkat ini saja silakan diambil perbandingan. Lebih banyak mana jumlah buruh rokok + petani tembakau dengan para wong cilik (supir, kuli, tukang, pengangguran) + pegawai rendahan negeri / swasta? Dengan mengambil sampel untuk Indonesia, terlebih lagi dunia, tentunya jauh lebih banyak jumlah kelompok kedua. Lantas mengapa pemerintah terkesan lebih suka ‘menyelamatkan’ kelompok pertama yang notabene jauh lebih sedikit? Bisa ditebak muara akhirnya adalah besarnya sektor penerimaan pajak dari cukai rokok dan tembakau. Itu saja sebetulnya. Hanya kearifan dan nurani pemerintah diharapkan lebih terbuka dalam menyikapi hal ini. Bahwa faktor kemanusiaan harus lebih utama dari sekedar faktor pajak.

Singkatnya, sebisa mungkin Stop Merokok dah! Kalau sudah kebablasan, kelakuan ini sama jeleknya kayak kalau kamu menggunakan kartu kredit .

Ingin lebih tahu mengenai dukungan bagaimana berhenti merorok? Link berikut mungkin bisa menjadi awal yang baik: http://www.stopmerokok.com

Category: Motivasi, Opini  | Tags:  | Comments off
Saturday, November 29th, 2008 | Author: Arif Haliman

Menjadi mandiri tidak bekerja ikut orang seperti sekarang ini sungguh tidak kebayang sebelumnya. Seperti layaknya mahasiswa standar yang mempunyai jalan pikiran yang juga standar, saya berpikir standar bagaimana caranya setelah lulus nanti bisa dapat pekerjaan yang ‘enak’. Enak disini agak sulit juga didefinisikan, apakah gaji yang ok, bidang kerja yang sesuai atau kerja deket rumah :)

Lulus dari Universitas Brawijaya Malang jurusan Manajemen Informatika, saya yang memang alhamdulillah tidak pernah menjadi penggangguran, langsung terbang ke Bali setelah 1 minggu diwisuda. Sebelum itu sudah bekerja fulltime jadi instruktur software komputer diantaranya HTML, Dreamweaver, PHP dan MySQL di LBB Alpine Malang selama 1,5 tahun, dan resign 1 minggu sebelum wisuda. Jeda 2 minggu ngganggur saya sempet-sempetkan ngajar privat di Mojokerto tercinta :)

Begitu tiba di Bali dan setelah wawancara langsung diterima kerja jadi web designer di sebuah biro tur dan travel online di Denpasar. Gak bertahan lama hanya 3 bulan langsung cabut dan dapet kerja di perusahaan web hosting di Kuta sebagai web programmer. Di perusahaan yang dimiliki oleh bule Selandia Baru inilah pengalaman dan mental saya betul-betul terasah, dan betul-betul mengerti tidak hanya sisi bidang pekerjaan saya seputar programming, namun juga sisi bisnis dan menjalin hubungan dengan klien. Saya bisa mengerti dua dunia yang sangat berbeda ini karena dua hal diatas sekaligus saya yang manghandle. Kamu mungkin sudah mengerti bahwa programmer biasa menyendiri duduk manis depan komputer, sedangkan perihal bisnis dan menjalin hubungan dengan klien lebih bersifat riset dan pemasaran. Walaupun ritme dan bidang garapan yang sepertinya tumpang tindih, namun membawa kegunaan yang sangat bermanfaat.

Begitulah singkat cerita karena berpengalaman dalam banyak hal termasuk didalamnya melakukan SEO (search engine optimization) dan sangat paham dampaknya apabila website kita menjadi nomor satu di Google atau Yahoo, lama kelamaan jadi berpikir. Mikirnya sederhana namun inspriratif: Daripada membuatkan website bisnis untuk orang lain (klien) dan kemudian bisa menjadi nomor satu di search engine, mengapa tidak membuat website bisnis untuk diri sendiri?

Kalau website itu milik klien dan jadi nomor satu di search engine dan karenanya peluang tercipta transaksi sangat besar, maka bisa ditebak seluruh uang hasil transaksi tadi dinikmati 100% oleh pemilik website. Kita sebagai developer website tidak satu sen pun mendapatkannya. Kita hanya mendapatkan uang hanya pada saat kita sudah dan sedang mendisain websitenya, atau harga untuk membuat website itu. Nah, sekarang coba bayangkan apabila website itu milik kita sendiri. Berapapun nilai transaksi yang tercipta maka 100% uang tersebut menjadi milik kita! Asyik bukan? Dan dari pemikiran sederhana seperti diatas inilah akhirnya tercipta website bisnis pertama saya Bali car rental yang menandai era baru saya sebagai business owner (usahawan) dan meninggalkan status pegawai (karyawan).

Jadi, beranikah kamu beralih dari karyawan menjadi usahawan? Harus! Begitu banyak bidang bisnis yang masih bisa digarap. Tidak harus online offline pun bisa. Mulailah sekarang juga. Bantu negara Indonesia tercinta ini dengan salah satunya menjadi usahawan handal yang mandiri.

InsyaAllah selalu diberi kemudahan dan kelancaran urusan. Amin.

Category: Motivasi, Pribadi  | Tags: ,  | 4 Comments
eXTReMe Tracker