Cara Paling Mudah Memahami Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional

Caranya termudahnya yaitu melalui kata Akad. Dari kata Akad ini, nanti akan sampai pembahasan tulisan ini yaitu bagaimana sih, cara termudah untuk bisa memahami perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional? Juga, apa saja persamaan antara keduanya ini, yaitu Syariah atau Konvensional? Oiya, sebelum lanjut, salah satu arti singkat dari kata Akad adalah janji, atau ikatan.

Perbedaan pinjam di bank syariah dan konvensionalKata Akad lazimnya sering terdengar ketika kita melakukan aktifitas pendanaan (baca: berhutang) di sebuah lembaga kreditor, misalnya bank Syariah. Atau, ketika hendak melangsungkan pernikahan. Atau, ketika hendak melakukan aktifitas jual-beli.

Nah, khusus dalam hal perhutangan, bagi yang awam, masih banyak yg bingung dan akhirnya membuat persamaan bahwa meminjam uang di bank syariah dan konvensional tak ada bedanya.

Seperti sama-sama ada jaminan, ada survei, ada ‘bunga’, dll.

Memang sekilas sama. Tapi aslinya beda jauh. Yang satu sesuai syariat, satunya lagi jatuh maksiat, yaitu riba.

Kalau masih sulit membedakan antara syariat dan maksiat, contoh lugasnya seperti ini…Tapi sebelumnya mohon maaf, apabila dirasa sedikit 17 tahun keatas.

Ini mengenai berhubungan badan 🙂

Cerita pertama yaitu ada seorang pria hidung belang hendak meniduri seorang wanita tuna susila. Maka akadnya adalah janjian bertemu di sebuah tempat, masuk kamar hotel, dan setelah selesai selipkan sejumlah uang yang telah disepakati di bawah bantal. Yang seperti ini sudah jelas Haram (konvensional).

Cerita kedua, tentang seorang pria siap menikah, lalu dia mendatangi wali calon mempelai wanita (ayahnya), dan melamarnya. Kalau lamaran diterima, proses berikutnya menentukan tanggal ijab qabul, jumlah/jenis mahar, tempat resepsi, dsb. Hingga tibalah malam pertama, dan keduanya masuk kamar pengantin. Ini sudah jelas; Halal (syariah).

Keduanya sama-sama ada aktifitas masuk kamar, ada ‘pembayaran’, ada ronde 1-3, ada deg-degan, ada capek-capek berkeringat tapi enak hehe.., dll.

Selintas sama, tetapi jelas berbeda. Yang pertama salah, yang kedua benar.

Tapi sebetulnya, ada yang lebih penting dari itu. Yaitu daripada terpaku di tataran syariah atau konvennya, mending bersibuk diri di tataran maha penting satu tingkat diatasnya.

Yaitu, gimana caranya agar terhindar dari hutang.

Kamu kan tahu, siapa yang terbebas dari hutang, kehormatan diri dan keluarganya akan senantias terjaga.

Pendanaan berbasis syariah banyak disinggung dalam agama. Namun, bahasan tentang agar terbebas dari hutang, juga tak kalah banyaknya.

Yang jelas, kalau kita berhutang, peluang tersangkut riba adalah 50:50. Antar pinjam di bank syariah atau bank konvensional. Tapi kalau kita bebas hutang (mandiri dalam hal keuangan), sudah pasti 100% bebas riba.

Karena kalau sudah terbebas dari hutang, insyaAllah dalam hal pendanaan (baik produktif maupun konsumtif), sudah otomatis syariah. Lha wong, duit sendiri, kok..

Hasilnya insyaAllah akan membuat tenang dan berkah.

Semoga Allah SWT memudahkan pemahaman dan kesadaran kita semua, akan pentingnya syariat. Aamiin.

Arif Haliman

http://www.muslimbusana.com – Toko Busana Muslim Online di Bali

Busana Muslim Berkualitas

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)