Serba-Serbi Ayam Serama (Ayam Penghilang Stress)

Bermula dari keinginan mempunyai ‘alarm otomatis’ yang bisa membangunkan pada subuh hari, maka belilah saya sepasang ayam serama. Sepasang ayam serama berusia (kata penjualnya, sih..) umur 3 bulan. Sebenarnya, rencana sebelumnya maunya beli ayam jago atau ayam bangkok, soalnya suara kokoknya terkenal cetar membahana. Namun, rencana itu buyar demi ketika sampai di toko penjual ayam, kepincut oleh penampilan ayam serama di salah satu kandang. Penampilannya imut, kecil, mungil dan lucu mirip ayam kate. Dan akhirnya, beli deh ayam serama, bukannya ayam bangkok 🙂

Ayam serama jantan dan betina

Ayam serama dalam kandang

Tapi setidaknya, pembelian ayam yang melenceng dari misi semula ini, masih memenuhi tujuan awal saya membeli ayam, yaitu kesemsem dengan suaranya.

Ketika ayam berkokok di pagi hari, harapan saya si ayam bisa menjadi alarm tambahan bagi keluarga saya. Alarm otomatis, selain alarm henpon milik saya dan istri. Apalagi, sebentar lagi puasa ramadhan akan tiba. Menciptakan alarm tambahan untuk membangunkan sahur lewat suara kokok ayam bisa menambah jaminan kita tidak bangun kesiangan, yang akhirnya sahur terlewat. Lemes, deh…

Dan alhamdulillah, ayam serama jantan saya ini, walaupun usianya masih seuprit (3,5 bulan), tapi sudah mulai berkokok saban pagi dan sore, walaupun suaranya masih cempreng hehe…

SEKILAS TENTANG AYAM SERAMA

Ayam Serama diyakini berasal dari Malaysia, negara jiran kita itu. Dan bisa sampai di Indonesia, atau negara-negara lainnya, salah satunya karena mereka menggemari keunikan ayam serama ini.

Keunikan ayam serama, yang terutama yaitu mendapat julukan Ayam Sombong. Mengapa? Karena meskipun badannya kecil, tetapi kerap membusungkan dadanya. Ayam serama dewasa, sudah jamak kalau berdiri dan berjalan-jalan, tak lupa membusungkan dadanya. Posisi dadanya bisa lebih tinggi dari kepalanya, itu berarti dadanya membusung. Pongah. Kecil kok pongah? Ya itulah mengapa serama disebut ayam sombong!

Keunikan lain adalah tubuhnya yang super kecil. Kalau kamu mengira bahwa ayam kate yang berasal dari Jepang itu adalah ayam terkecil di dunia, maka anggapanmu salah. Ayam serama ternyata adalah ayam terkecil di dunia, bukan ayam kate. Selintas, antara ayam kate dan ayam serama sama. Tapi kalau dilihat secara lebih awas, mereka jelas berbeda. Salah satu perbedaannya ya itu tadi, ukuran tubuh dan kesombongannya hehe…

Ayam Serama termasuk dalam kategori ayam hias. Itu karena disamping bentuknya yang mungil dan unik, juga karena bulu-bulunya yang indah menyala.

Kalau dirawat dengan sangat baik, ayam serama bisa tampil lebih indah lagi. Misalnya rutin memandikannya setiap hari, rutin menjemur di bawah sinar matahari dan seleksi makanannya sangat ketat, maka itu ayam bisa tampil lebih bagus.

Ayam serama juga bisa dilombakan, atau diikutkan kontes. Yang dinilai dari kontes ayam serama adalah keindahan bulu, perilaku sombongnya dan suara kokokannya (bagi ayam serama jantan).

Kalau ayam serama betina hampir tak pernah dilombakan, karena memang kalah dari si jantan. Secara bulu, kesombongan dan apalagi suara, sang betina hampir selalu kalah dengan si jantan. Satu-satunya keunggulan serama betina adalah doi bisa bertelur dan menghasilkan keturunan 🙂

HARGA ANAKAN DAN DEWASA

Anakan ayam serama yang saya beli ini seharga Rp 150.000 sepasang. Kalau lebih kecil lagi, yang anakan, tentu bisa lebih murah. Kalau cuman beli satu, harganya Rp 100.000. Ya sudah, kasihan karena tanpa pasangan, saya beli sepasang deh. Rencana semula hanya beli pejantan saya, perlu suara kokokannya untuk membangunkan di waktu sahur..

Kalau harga serama kualitas kontes, sudah pasti masuk di bilangan jutaan, bahkan puluhan juta. Tolong untuk diingat, pokoknya hewan apapun, apakah ayam, burung atau ikan, kalau sudah kualitas kontes, pastilah harganya mahal.

Jadi, harga sudah pasti berbeda ya, antara ayam untuk kontes dan ayam piaraan biasa.

SPESIFIKASI KANDANG

Kandang ayam serama sangatlah simpel. Tak perlu terlalu ruwet dan canggih. Apalagi hanya untuk sekedar hewan piaraan. Tiga hari pertama sejak saya beli, ayam serama piaraan saya cukup saya taruh di bekas kandang anak kucing piaraan saya. Setelah itu saya pindah di kandang kayu berteralis kawat.

Kandang ayam yang baik, yang penting adalah sirkulasi udaranya bagus. Lalu usahakan tempat sekitar kandang tidak terlalu lembab. Sekedar informasi, ayam, terutama ayam anakan sangat rentan oleh virus pembawa bibit penyakit. Lingkungan kandang yang terlalu lembab adalah tempat favorit para koloni virus yang membawa penyakit untuk ayam kita.

Jadi lingkungan kandang harus sangat diperhatikan. Tak jarang, ayam yang tapi pagi masih gagah perkasa, menjelang sore terlihat lesu dan malamnya diam tertunduk; mati.

So, semakin luas kandang ayam hias, tentunya akan semakin baik. Ini untuk menghindari stres ayam kita. Kalau ayam terlalu terkekang dan lalu stres, besar kemungkinan ayam gampang mati. Kalaupun tetap hidup, mereka sulit tumbuh besar dan sehat.

PAKAN

Pakannya standar, karena saya memeliharnya memang bukan untuk kontes atau lomba. Piaranya hanya untuk mengisi waktu luang. Pakan ayam serama gampang di beli di toko penjual hewan-hewan terdekat di kotamu. Bilang aja untuk pakan ayam, penjual akan langsung tahu dan sigap melayani.

Juga bisa dikasih makan berupa jagung. Baik yang sudah diolah menjadi kecil-kecil, atau yang masih dalam jagung lonjoran.

Saya biasanya nitip ke istri saya untuk membelikan jagung di mas tukang sayur yang lewat. Masih dalam bentuk lonjoran, jagung itu langsung saya masukkan ke dalam kandang, dan mulai deh kedua pasang serama jantan betina itu mematuk-matuk jagung itu dengan riang gembira 🙂

Save

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)