Awal Kecintaanku Kepada Komputer

Saya bersyukur sekali diberi kesempatan Allah SWT untuk diberi bidang pekerjaan berkisar pada komputer. Tidak ada alasan khusus. Hanya saja saya merasa cocok, bahagia dan senang bekerja dengan memakai teknologi komputer. Lagipula bidang komputer dan internet yang saya geluti sekarang ini adalah tulang punggung keluarga saya dalam hal kebutuhan ekonomi. Saya mendapatkan uang melalui media internet dengan menjalankan beberapa bisnis diantaranya adalah sewa mobil di Bali.

Yang membuat saya lebih bersyukur lagi, komputer dan internet yang menjadi keseharian saya adalah kesesuaian dari jalur pendidikan kuliah jurusan komputer yang dulu saya tempuh yaitu Manajemen Informatika. Artinya, saya tidak salah pilih jurusan.

Walaupun saat ini saya sudah tidak lagi berprofesi sebagai seorang web programmer, namun setidaknya saya sudah sempat 5 tahun melakoni profesi itu 🙂 .

Umum sudah diketahui bahwa banyak sekali orang-orang yang sekarang bekerja tidak sesuai dengan background atau latar belakang pendidikannya. Seorang pria berprofesi sebagai sales asuransi atau teller bank misalnya, namun dulunya adalah mahasiswa teknik mesin. Seorang wanita berprofesi sebagai pramugari atau bagian ticketing, namun dulunya seoarang mahasiswi akuntansi. Gak nyambung. Kata saya orang ini salah pilih jurusan.

Apakah itu kemudian menjadi masalah? Tentu saja tidak. Namun bagi seorang idealis, kondisi seperti itu bisa dibilang waste of time atau buang waktu. Ngapain juga susah-susah belajar ilmu permesinan 4 atau bahkan 6 tahun, namun kemudian bukannya menjadi seorang engineer, malah menjadi agen asuransi, misalnya. Apa hubungannya coba? Tapi, okay, itu bukan masalah yang prinsip. Saya setuju.

Bagaimanapun juga tetaplah bersyukur jadi apapun kamu saat ini. Tetap bersyukur walaupun bidang kerja sekarang berbeda dengan studi kamu dulu. Bagi yang sekarang bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan, lebih lebihlah kamu menyukurinya.

Omong-omong, saya ingat betul bahwa sejak awal saya memang menunjukkan ketertarikan kepada dunia komputer. Setidaknya ada 2 sinyalemen utama (ngomongnya kayak pakar aja) yang menunjukkan hal itu:

1) Gemar menulis bahasa pemrograman komputer
Waktu itu tahun 1996 dan saya masih kelas 2 SMA. Saya yakin tidak banyak anak seumuran segitu waktu itu yang suka bahasa pemrograman komputer. Tapi saya minta ampun sukanya. Dengan berbekal komputer AMD 486 pemberian kakak saya, jadilah saya maniak bahasa pemrograman (programming language). Eit, bukan, saya bukan seorang programmer komputer waktu itu. Saya tidak menulis sendiri source code itu. Saya hanya menyalinnya atau menulis ulang dari Tabloid Komputek (Komputer dan Teknologi) yang waktu itu gemar sekali menyuguhkan program-program komputer dalam bahasa Pascal di edisi mingguan mereka.

Ada keasyikan tersendiri ‘menggauli’ Pascal dan kemudian meng-compile-nya. Setelah eksekusi program berhasil, maka yang tampak dilayar komputer adalah hasil dari program tersebut, biasanya berupa game sederhana, aneka tebakan, musik sederhana, dsb. Kalau eksekusi tidak berhasil? Terpaksalah harus merunut satu-persatu kode sumber yang tadi saya ketik, seperti apakah ada kesalahan ketik perintah, misalnya.

2) Jual gitar milik saya dan beli CD-ROM
Sebagai anak remaja waktu itu, tentu saja saya suka musik. Ditambah lagi teman-teman satu komplek yang banyak jago main gitar, jadilah saya juga kepingin kayak mereka. Gitar yang saya beli waktu itu termasuk yang terbaik diantara milik teman-teman. Merk Yamaha seri C330. Walaupun kemampuan bermain gitar saya selalu jauh dibawah kemampuan teman-teman, bukan berarti gitar saya ikutan kalah kelas sama punya mereka hehe 🙂 .

Namun bukannya terus berlatih mempelajari ilmu pergitaran agar minimal selevel dengan Ian Antono (wa kak kak..), sebuah manuver tajam saya lakukan. Tajam sekali manuver itu. Saya jual itu gitar, dan saya belikan sebuah CD-ROM! Bahkan teman-teman saya sampai shock waktu itu 😉 .

Eh, tahu CD-ROM kan? Ya, itu sebuah drive komputer berfungsi untuk membaca sebuah ruang simpan dalam bentuk compact disc. Saya memerlukan sekali alat ini. Soalnya komputer saya waktu itu tidak ada CD-ROM-nya 🙁 . Jadinya kalau perlu meng-install software komputer baru, saya sangat kesulitan dan tidak nyaman. Pinjem-pinjem melulu! Akhirnya, ya sudah: gitar kugadai, CD-ROM kudapat 🙂 .

Well, itulah sedikit ‘kecelakaan-kecelakaan’ kecil saya toempo doeloe mengenai awal-awal kecintaan kepada komputer. Sedikit berbagi pengalaman dengan kalian. Yah, gak heran sudah dewasa sekarang kesenangannya ya tetap saja kayak dulu: K-O-M-P-U-T-E-R.

Save

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)