Alangkah Lucunya Negeri Ini by Deddy Mizwar

Menonton film terbaru Deddy Mizwar, Alangkah Lucunya Negeri Ini, betul-betul membuat minggu malam saya bersama keluarga menjadi bermutu. Bersama istri dan anak saya, bertiga kami mendapat hiburan berupa film yang sangat bermanfaat. Film ini adalah film khas garapan Deddy Mizwar: religius, jenaka, bercerita tentang keseharian kita, dan yang terpenting yaitu, mampu membuat kita untuk berpikir.

Film ini bisa membawa pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Bahkan, untuk anak saya yang berusia 4,5 tahun, film ini juga bisa memberinya pelajaran. Yaitu, dengan menirukan salah satu adegan yang mengajarkan menulis huruf, membaca doa-doa, dan sebagainya. Putri sulung kami ini sedang dalam masa-masa keemasan untuk gemar meniru atau belajar dari siapa saja 🙂

Film Alangkah Lucunya Negeri Ini yang baru rilis Juli 2010 lalu, jauh meninggalkan film dan (apalagi) sinetron produk dalam negeri yang kebanyakan beredar di tanah air. Cerita-cerita khas Indonesia seperti perhantuan, eksploitasi wanita secara vulgar, kekerasan, kekonyolan kosong dan isi cerita yang seringnya diatas langit, tidak bakal kita temukan disini. Jadinya, film ini layak untuk SEGERA kita tonton. Dibintangi oleh Reza Rahadian dan Deddy Mizwar sendiri, serta didukung oleh banyak bintang lainnya, saya katakan lagi, LAYAK UNTUK SEGERA DITONTON.

Film ini bercerita mengenai kehidupan sekumpulan para pencopet cilik yang jelas sarat resiko. Salah satu trio warga kampung yang walaupun berstatus sarjana namun lama menganggur, demi melihat salah satu aksi mereka, menjadi mampu berpikir untuk bagaimana bisa mengubah kehidupan para pencopet cilik itu kearah yang tentunya lebih baik. Trio itu masing-masing mempunyai posisi yang sebetulnya sangat mumpuni: seorang Sarjana Manajemen, Sarjana Pendidikan, dan Ustadzah. Jadilah mereka menjadi guru bagi semua pencopet cilik itu. Satu orang ahli mengatur kehidupan mereka, seorang lagi memberi pendidikan layaknya sekolah, dan orang terakhir memberi pendidikan agama.

Saya berpendapat, menonton film ini mampu membuat orang mulia yang selama ini sudah bisa berbuat banyak membantu orang lain (misalnya, pengusaha dengan jumlah karyawan sangat banyak) menjadi berpikir bahwa ternyata usaha baiknya selama ini masih saja terasa kurang. Juga bisa membuat orang berpikir yang selama ini dirinya bermanfaat hanya untuk segelintir orang, menjadi termotivasi untuk bagaimana caranya supaya bisa menjadi membawa untuk banyak orang lagi. Pun bagi orang yang selama ini sama sekali tidak membawa manfaat untuk orang lain, menjadi tergelitik supaya dirinya bisa segera menjadi bermanfaat untuk orang lain. Ingat apa sabda Rasulullah Muhammad SAW: “Orang yang baik adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.”.

Banyak hal yang harus dipikirkan sehabis menonton film ini. Tidak hanya untuk dipikirkan, namun untuk dicarikan jalan keluarnya, atau mungkin juga fatwanya. Deddy Mizwar begitu begitu cerdas mengemas film ini, sehingga batas antara surga dan neraka menjadi tipis. Misalnya, konflik batin yang dialami bintang utama, apakah tetap meneruskan profesi barunya yang mengurus pendapatan anak-anak dari hasil mencopet, untuk dialokasikan kepada sektor perdagangan kecil-kecilan yang berpotensi menjadi pengusaha. Atau, meninggalkan anak-anak itu karena terbentur oleh kenyataan bahwa bagaimanapun juga, itu adalah hasil mencopet, yang jelas hukumnya HARAM.

Namun, melihat berbagai hal yang ditampilkan dalam film itu, sepertinya vonis haram akan langsung membuat anak-anak itu menjadi mati. Ya mati profesinya, mati masa depannya, mati harapannya, atau mati nyawanya. Artinya, kalau boleh saya simpulkan, masalah halal-haram, haruslah diterapkan secara bijaksana dengan memperhatikan kondisi dan situasi yang ada.

Sekali lagi, terima kasih saya ucapkan kepada Bang Deddy. Anda (seperti yang sudah-sudah lewat karya Anda) selalu bisa melihat celah, atau niche, pasar perfilman nasional dengan baik. Jadinya, Anda selalu tampil beda dibanding para pelaku film yang lain, yang tampaknya sulit sekali untuk diajak bertobat dari memproduksi film-film sampah yang membodohi warga negara Indonesia 🙁

Ayo, segera tonton film ini, ya!

Arif Haliman – Owner Busana Muslim Bali

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)