Archive for » July, 2010 «

Thursday, July 15th, 2010 | Author: Arif Haliman

Ide peluang usaha ini saya dapatkan sewaktu beberapa hari kemarin mengantar istri periksa kandungan insyaAllah anak kami yang ke 2. Sebelumnya, bahkan sebelum istri menunjukkan tanda-tanda kehamilan, kami sudah berbicara mengenai keinginan untuk periksa kandungan, dan sekaligus nanti proses persalinan, ditangani oleh seorang dokter muslimah. Alasannya jelas: istri saya adalah seorang wanita. Mestinya, yang menangani seputar masalah kandungan dan persalinan nanti juga seorang (dokter) wanita.

Jamak diketahui, salah satu bidang kerja seorang dokter kandungan adalah ‘mengobok-obok’ seluruh bagian vital seorang wanita yang sedang mengandung dan melahirkan. Profesi dokter kandungan, meskipun pasiennya 100% adalah kaum hawa, tidak mesti harus seorang hawa. Dokter kandungan juga bisa dilakoni oleh kaum adam. Masalahnya, seperti disebutkan diatas, bidang kerjanya untuk beberapa hal hampir sama dengan yang biasa dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya.

Hanya kalau memungkinkan, yang seperti ini sebisa mungkin semestinya kita hindari. Kalau bisa kita harus mencari seorang dokter kandungan wanita untuk ‘mengobok-obok’ istri kita. Terlebih kita sebagai seorang muslim, sekali lagi hanya kalau memungkinkan, kita harus mencari seorang dokter kandungan muslimah. Bukannya apa-apa, soalnya beberapa hadist Rasulullah Saw. menyebutkan larangan bersentuhan antara seorang lelaki dan perempuan yang tidak memiliki hubungan darah, misalnya sekedar bersalaman. Nah, bersalaman saja tidak boleh, apalagi ‘mengobok-obok’ seperti yang saya maksud diatas.

Memang, unsur darurat diperbolehkan dalam agama Islam. Seperti yang kami alami dahulu ketika istri melahirkan anak pertama di Bali. Di Bali, termasuk di kota Denpasar, muslim adalah minoritas, dan kita menerima fakta itu. Waktu itu saya tidak berpikir panjang dimana sebaiknya istri melahirkan. Pokoknya melahirkan, titik. Kesempatan berpikir tidak ada karena minimnya informasi, kesibukan keseharian, dan mungkin juga kepanikan. Akhirnya, istri melahirkan di RSUD Sanglah Denpasar, ditangani oleh dokter kandungan pria, dan bukan seorang muslim.

Alhamdulillah, untuk persiapan anak ke 2 ini, kami sudah mendapat beberapa informasi mengenai dokter kandungan muslim di Bali. Khususnya di Denpasar, ada beberapa dokter kandungan muslim, walaupun memang tidak banyak. Tidak hanya itu, dokter kandungan muslimah di Denpasar juga ada. Namanya dr. Yumi. Prakteknya di sebuah apotek di Jl. Cokroaminoto Denpasar, dekat kearah terminal bus antar kota Ubung. Area ini mudah dijangkau dari arah manapun di Denpasar, dan semua orang Denpasar pasti tahu lokasi ini. Alhasil, untuk periksa segala urusan kehamilan, saya selalu mengantar istri untuk periksa kandungan di dr. Yumi.

Keberadaan seorang dokter kandungan muslimah disini patut disyukuri. Setidaknya, yang memeriksa istri kita adalah juga seorang wanita, dan terlebih lagi juga seorang muslimah. Ini adalah awal yang baik. Niatan yang baik. Sebuah niatan yang baik, apapun itu, insyaAllah bisa membawa barokah dan ketentraman.

Bagi kamu yang sedang atau akan tingal di Denpasar Bali, dan istri kamu sedang mengandung, informasi ini mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan.

Lalu, mengenai penggunaan judul yang membawa awalan kata ‘Peluang Usaha’, ini hanyalah dasar saya saja yang seorang pengusaha. Jadinya, segala bentuk peluang apapun, asal bisa menghasilkan duit, akan saya sebut peluang usaha, sekalipun peluang usaha ini ‘menyerempet’ profesi sebagai dokter :) Lagipula, dokter juga tidak menolak uang yang banyak, bukan? ;)

Ini adalah sekedar ikhtiar. Berusaha sebaik mungkin, tapi Allah Swt jugalah segala hasil akan kembali.

Wassalam,

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Tuesday, July 13th, 2010 | Author: Arif Haliman

Hari ini adalah pertama kali bagi anak saya masuk sekolah TK (Taman Kanak-Kanak). Hari ini juga dia baru pertama kalinya memakai yang namanya seragam. Bawahan biru dengan atasan putih. Warna yang senada untuk jilbab yang dipakainya. Dia terlihat cantik, seperti biasanya dengan pakaian apapun yang dia kenakan. Nama TKnya adalah TK Ya-Bunayya di daerah Pemogan, Denpasar.

Namanya Tika. Sekarang umurnya 4 tahun 3 bulan. Dan selama umur itu pula saya benar-benar bersyukur masih diberi kepercayaan oleh Allah SWT untuk tetap bisa bersama dan mendampinginya. Alhamdulillah, masih tetap diberi kesehatan untuk bisa bermain dan menatapnya sepanjang hari. Teringat beberapa anak yang belum genap seumur Tika, bahkan sudah harus kehilangan tatapan mata ayahnya, karena ayahnya sudah dipanggil Yang Maha Esa.

Ibu dan anak bersiap berangkat sekolah

Ibu dan anak bersiap berangkat sekolah

Tidak terasa yang dulu anak-anak, sekarang sudah punya anak :) Rasanya masih tidak percaya bahwa saya bisa juga punya anak ;) Bukannya apa-apa, mengingat dulu sebegitu culun dan gobloknya, kok sekarang jadi makin culun aja hehehe…Masih segar dalam ingatan saya, mengenai debut pertama saya dalam menjalani pendidikan formal, yaitu di TK. Jarak sekolah yang hanya 30 meter itu, tidak membuat saya semangat ‘45 untuk segera berangkat. Ada-ada saja alasan untuk bisa sedikit lemot dan ogah-ogahan. Kakak saya bahkan sampai harus nendang bokong saya berulangkali agar lekas berangkat. Saya yang sangat imut waktu itu, dengan bersungut-sungut mau tidak mau harus berangkat juga akhirnya. Dengan bonongen di jidat (tahu bonongen? Itu benjolan item sebesar kira-kira 2x telur puyuh penyakit khas anak kecil waktu itu), plus kaleng air minum dan kotak kue yang super besar, saya lebih mirip alien dari Neptunus yang kelaparan daripada cowok imut yang sedang berangkat ke TK.

Namun sebelumnya, pagi itu, saya sudah harus menerima berbagai macam ‘teror’ dari orang tua, terutama ibu, untuk segera bangun dan mandi pagi. Waktu itu, pukul 6 atau 7 pagi adalah masa-masa masih melungker di kasur dengan iler mengalir kemana-mana. Sudah gitu, enaknya, kadang-kadang masih dibelai juga dengan lembut. Kondisi senyaman itu sudah saya jalani selama 4 tahun, tepatnya sejak lahir ceprot dari perut ibu. Dan sebagaimana anak-anak lainnya seumuran cendol, segala gangguan sekecil apapun membawa potensi hilangnya kenyamanan.  Oleh karena itu, bisa dibayangkan bagaimana dongkolnya hati ini menerima segala macam teror, sepagi itu.

Tetapi, setelah lebih 25 tahun kemudian, teror yang sama itu jugalah yang saya layangkan ke anak saya pagi ini (Hu..hu.ampun ibu.. bapak, kenapa dulu saya kok merasa dongkol, ya?). Bahu-membahu bersama istri saya (yang lagi hamil 2 bulan), Tika yang masih tertidur pulas dengan iler masih menetes dan udel menyembul dari bali baju tidurnya, kami teror juga tanpa ampun.

Pertama adalah menggoncang-goncangkan badannya berulangkali secara brutal. Setelah itu saya kitik-kitik kakinya. Tidak mempan dan masih melungker, saya kitik-kitik pinggangnya, more brutal. Biasanya, tahapan seperti itu sudah bisa membuatnya bereaksi: Tendangan kaki ke muka atau badan saya. Saya yang sudah hapal arah tendangannya, masih bisa ngeles, walaupun muka saya nyaris pesek, hehehe.. Beberapa waktu saya teruskan ktik-kitik pinggangnya, biasanya dia sudah mampu membuka matanya.

Pada tahapan ini, matanya biasanya sudah bisa ketap-ketip, dan bisa diajak omong. Ya sudah, lalu saya ajak bercanda yang respon selanjutnya adalah senyum-senyum. Untuk membuat senyumnya lebih mengembang, saya ingatkan bahwa kamu harus berangkat sekolah pagi ini dengan memberi gambaran sedikit suasana sekolah yang sangat menyenangkan itu. Bahwa disana nanti akan bertemu banyak teman-teman dan ibu guru. Diajari baris-berbaris. Saya ajari kalau ditanya ibu guru namanya siapa? Jawab dengan keras: “Tika!”. Kalau ditanya lagi siapa yang suka bangun pagi? Jawab dengan keras: “Tika!!”. Kalau ada lagi siapa yang sudah tidak nangisan? Jawab dengan keras: “Tika!!!”. Semua ajaran itu diserapnya dengan baik, sambil tidak lupa untuk acung tangan tinggi-tinggi sembari menjawab.

Selanjutnya dia sudah bisa gulung-gulung di kasur. Walaupun masih belum bangkit, tapi ini sudah pertanda baik. Artinya, dia sudah siap menerima teror berikutnya yang tak kalah brutal. Ujug-ujug datang sang istri tercinta, tanpa ba-bi-bu langsung menarik seprei kasur. Alhasil, tarikan itu mau tak mau membuat Tika harus bergulingan sampai ke pinggir kasur. Di posisi seperti itu, mudah bagi kita kemudian untuk bisa segera menangkapnya dan membawanya ke kamar mandi :)

Fase baru sedang dimasuki oleh anak saya. Fase baru pula kami sebagai orang tua dalam mendampingi anak masuk masa sekolah.

Selamat menikmati hari-hari sekolah, ya nak! InsyaAllah semakin bertambah cantik dan pintar.

Semoga tetap Engkau berikan pertolongan dan barokah, ya Allah..

Wassalam,

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | One Comment
eXTReMe Tracker