Archive for » April, 2010 «

Thursday, April 29th, 2010 | Author: Arif Haliman

Saya sedang banyak hutang. Eits, tunggu dulu, bukan hutang uang, tapi hutang membaca. Hutang membaca? Iya, hutang membaca. Maksud saya, di rumah sedang menunggu saya 5 buah judul buku baru yang kesemuanya masih belum saya khatamkan. Ini adalah hal yang mengherankan. Sebelumnya, belum pernah saya sampai berhutang membaca sebanyak ini. Paling banter biasanya hanya 2 buah judul buku. Kalau sekarang sudah sampai hitungan 5, berarti ada yang menjadi penyebab utama.

Saya gemar sekali membaca buku. Oleh karena itu, dalam setiap kesempatan putar-putar kota Denpasar - Bali bersama istri dan anak, saya selalu menyempatkan diri untuk masuk ke toko buku. Kalau dibuatkan semacam visiting list atau daftar kunjungan kalau saya sedang ada acara keluar rumah, toko buku ada di urutan ketiga. Sebelumnya yaitu masjid, lalu airport,  kemudian tempat makan :) Khusus untuk tempat makan (tidak peduli kelas warteg hingga lalapan lele, atau kelas KFC hingga Papa Ron’s Pizza), sebisa mungkin tidak terlalu sering. Lebih menyehatkan makan di rumah saja daripada nongkrong ditempat makan kayak gitu. Suer!

Sekedar informasi, di Denpasar terdapat toko buku besar seperti Gramedia, Gunung Agung dan Toga Mas. Gramedia disini ada 2 buah, satu di Duta Plaza Denpasar, dan satunya lagi di Bali Galeria Kuta, lebih kurang 5 menit perjalanan mobil ke arah Airport Ngurah Rai Bali. Kalau ingin melihat koleksi buku yang lebih komplet, Gramedia Bali Galeria Kuta adalah pilihannya.

Untuk toko buku Gunung Agung, di Denpasar juga ada 2 buah. Satu di pertokoan LIBI Plaza Denpasar, dan satunya lagi di Mall Bali Ramayana. Untuk toko buku Toga Mas, hanya ada satu buah di daerah sekitaran Jl. Hayam Wuruk Denpasar. Untuk kamu yang hobi diskon dan berstatus mahasiswa, lebih baik datang ke toko buku ini. Program diskonnya berjalan secara kontinu, dan ini yang menjadi daya tarik mereka, disamping sampul gratis buku yang kita beli.

Kembali ke topik, selidik punya selidik, ternyata penyumbang terbesar menumpuknya hutang membaca buku, karena adanya hiburan baru di rumah saya. Seperti saya tulis disini, kegiatan baru ini lumayan menyita waktu saya untuk membaca buku. Mohon maklum, seperti hal baru lainnya, tentunya ini akan mencuri perhatian kita. Rutinitas kita akan sedikit berjalan berbeda. Dan tergantung dari seberapa lama perhatian kita akan tercuri oleh hal baru tadi, biasanya kehidupan normal akan berangsur-angsur pulih ;)

Televisi berlangganan seperti ini sungguh mengasyikkan. Selain membaca buku, saya juga hobi nonton film. Dalam periode waktu tertentu, saya biasanya selalu menyewa film-film mutakhir di Zinemax atau Video Ezy. Nah, berbicara tentang adanya Indovision di rumah, yang tentunya lengkap dengan saluran film-film HBO (Home Box Office), bisa dibayangkan apa jadinya. Ya, alokasi waktu membaca saya (biasanya siang hari sebelum tidur siang dan malam hari sebelum tidur malam), berubah menjadi alokasi waktu untuk mononton film ;)

Bahan bacaan di rumah bagi saya adalah kewajiban. Tidak enak rasanya kalau tidak ada buku yang bisa dibaca. Rutinitas keseharian seakan ada yang hilang kalau tidak ada acara baca buku. Alhamdulillah, hobi ini banyak membawa kebaikan. Saya mulai menyukainya sejak di bangku sekolah dasar. Pada waktu itu, bacaan yang mendominasi adalah komik-komik seperti Doraemon, Dragon Ballz, Trio Detektif, Empat Sekawan, Lucky Luke, Tin Tin, Smurf, dan sebangsanya. Dan, hobi membaca ini jugalah penyebab saya sudah harus berkacamata sejak kelas 2 SMP.

Kebiasaan membaca akhirnya membuat saya gemar menulis. Pada usia sekolah dasar, satu dua cerita pendek (cerpen) saya pernah dimuat di majalah mingguan anak-anak Mentari Putera Harapan (kayaknya sudah almarhum). Begitu juga untuk kolom humor. Saya rajin mengirimkan humor ke majalah itu via kartu pos. Kalau cerpen, harus diketik pakai mesin ketik dan dimasukkan kedalam amplop. Honor yang diterima seingat saya sungguh lumayan: Rp 20.000 per cerpen, dan Rp 2.000 per humor.

Di majalah Mentari, ada satu tokoh Hamindalid Si Penyihir Jenaka yang sangat saya sukai. Semua anak yang membaca majalah ini pasti menyukai dia. Ketenarannya waktu itu, mungkin hanya bisa disejajarkan dengan tokoh Bobo, atau Paman Gembul di majalah Bobo Sahabat Anak (Majalah Bobo masih eksis sampai sekarang).

Jaman saya SD, belum ada teknologi digital secanggih sekarang ini. Kalaupun ada, pasti hanya segelintir orang yang sudah menikmatinya. Komputer saya belum punya, apalagi flash disk! Kalau ada, mungkin cerpen saya di majalah itu masih ada di komputer atau flash disk saya hiks.. :( Hu..hu..hu..jadi rindu masa kecil.. ;)

Sekarang ini, sedang menunggu judul 5 buah buku yang harus segera dituntaskan:

1) One-way Ticket To Heaven : 5 Rahasia Meraih Sukses Sejati di Dunia dan Akhirat by Ateng Kusnadi

2) Strategi Sukses Para CEO Dunia by BusinessWeek

3) Aku Beriman, Maka Aku Bertanya by Prof. Jeffrey Lang

4) 50 Great Business Ideas from Indonesia by M. Ma’ruf

5) Lupus ABG: Suster Ngepoot! by Hilman dan Boim Lebon.

Ayo, hajar !

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Thursday, April 22nd, 2010 | Author: Arif Haliman

Bukan, ini bukan iklan saya untuk Indovision. Kebetulan saja, salah satu subyek tulisan saya kali ini adalah Indovision. Hal ini menyangkut pengalaman saya dalam memasang televisi satelit berbayar, baru-baru ini. Selain Indovision, sebetulnya ada pilihan perusahaan sejenis yang ada di Denpasar, misalnya Telkomvision. Bahkan saya terlebih dahulu mendatangi kantor Telkomvision daripada Indovision. Tapi, last minute, pilihan saya akhirnya jatuh kepada Indovision, Bukan Yang Lain :)

Dengan menonton beberapa siaran yang ada di Indovision, saya betul-betul bisa bernostalgia. Flash back sekitar 15 - 20 tahun yang lalu, dimana di Indonesia, kemunculan televisi-televisi swasta mulai bermunculan. Diawali oleh RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), diikuti SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia), dan kemudian banyak menuyusul stasiun televisi swasta lainnya. Pada waktu itu, saya sangat menyukai acara yang namanya komedi situasi (sitkom) dan serial asal Amerika. Semuanya pakai bahasa Inggris, yang tentu saja ada teksnya dalam bahasa Indonesia.

Waktu itu, menonton acara seperti yang saya sebut tadi, sungguh memberi hiburan tersendiri bagi semua orang, termasuk saya yang masih usia culun, duduk di sekolah dasar. Selesai menonton, saya biasanya langsung menghambur keluar rumah untuk bertemu konco-konco. Dibeberapa kesempatan lain bertemu teman-teman sebaya, baik disekolah ataupun bermain dirumah, salah satu obrolan hangat adalah membicarakan acara televisi tadi.

Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana saya bisa anteng di ruang tamu rumah, didepan televisi keluarga bermerek NEC 14 inch, yang seringkali gambarnya goyang-goyang tidak karuan. Saya sangat menyukai The Cosby Show dengan bintang utama Bill Cosby yang melegenda itu. Intro atau pembukaan acara itu yang semua orang pasti menyukainya, dengan seluruh pemain joget diiringi saksopon, ala musik jazz.  Ada Who’s The Boss yang dibintangi oleh Tony Danza si orang Itali itu, dengan gayanya yang khas. Tidak ketinggalan Taxi yang berseting di sebuah pangkalan taksi, duet Tony Danza yang masih sangat belia waktu itu, dengan Danny De Vitto, pemeran Penguin di Batman Return.

Menonton kembali sitkom-sitkom jadul diatas sekarang ini, sungguh masih bisa membuat tergelak. Ternyata kelucuan mereka masih saja relevan sampai sekarang. Dulu sewaktu masih kanak-kanak, saya pasti ngakak demi mendengar lelucon mereka. Dan sekarang, saat sudah punya anak, saya masih bisa juga ngakak dengan lelucon yang sama. Sungguh hebat mereka. Bahkan ngakaknya jadi jauh lebih asyik, karena saya ngakak didepan SHARP Aquos, televisi layar lebar 32 inch yang lembut itu (dan gambarnya tidak goyang-goyang lagi ;) ).

Masih ingat MacGyver? Ya, si jagoan yang tampan, karismatik dan selalu terampil dalam hal-hal teknis disetiap aksi serialnya, bisa ditonton juga di Indovision. Saya sebetulnya sangat ngebet untuk bisa menonton serial Knight Rider, dengan Michael Knight (diperankan David Hasselholf) si pengemudi mobil pintar bernama Kit. Kit ini mobil yang luar biasa pintar, soalnya dia bisa nyetir kemudinya sendiri :) Saya belum tahu apakah serial ini bisa ditonton disini atau nggak.

Untuk kamu yang sedang berusaha membersihkan otakmu dari tayangan-tayangan sampah khas segala macam sinetron Indonesia berikut infotainmentnya, saya merekomendasikan kamu untuk melakukan upgrade ke televisi berbayar seperti ini. Walaupun memang televisi Indonesia masih bisa ditonton disini, tapi setidaknya ada banyak pilihan tontonan. Kalau saluran televisimu hanya bisa menayangkan saluran televisi Indonesia, maka bisa dipastikan yang ada di otakmu juga hanya sampah. Bagaimana bukan sampah, kalau tiap saat tontonan yang menyergap kita hanya cerita aneh khas sinetron, berita menyebalkan dan memalukan para politisi kita, serta berita Saiful Jamil dan Krisdayanti yang doyan gonta-ganti pasangan!

Saya pribadi, sangat membatasi apa-apa yang masuk ke otak saya. Terutama dari tayangan televisi Indonesia itu, yang kebanyakan betul-betul membuat tolol para pemirsanya. Istri dan anak saya juga tidak luput dari wejangan saya untuk tidak menonton acara seperti ini. Otak dan pikiran saya terlalu berharga untuk disia-siakan demi menonton acara-acara model begitu.

Akan lebih baik kalau kita kita sempatkan menonton ceramah agama yang ada di televisi. Akan lebih baik kalau kita luangkan waktu untuk menonton kehidupan satwa liar di hutan dan satwa bawah laut yang hebat-hebat itu. Atau, menambah ilmu pengetahuan kita dengan menonton acara mengenai eksplorasi tempat-tempat menarik di seluruh belahan dunia. Atau, refreshing untuk menonton acara olahraga.

Dan, tidak lupa, setidaknya untuk saya, sekedar mengalihkan rutinitas dengan menonton beberapa film home box office yang ada di Indovision. Untuk ini, saya tidak pernah ketinggalan. Hehe, soalnya saya juga hobi meminjam film di Video Ezy di Denpasar ;)

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | Tags:  | 4 Comments
Sunday, April 18th, 2010 | Author: Arif Haliman

Sangatlah menarik menjadi bagian dari sebuah kehidupan pasar. Disini, salah satunya, kita bisa belajar mengenai berbagai macam usaha yang dijalankan seseorang, lengkap dengan segala romantikanya. Tidak hanya itu, di pasar, peluang kita untuk lebih memahami dan merasakan kehidupan akan semakin terasah. Banyak sekali yang bisa diamati dan dijadikan bahan renungan.

Entah itu mengenai bisnis, komunikasi antar manusia, pemahaman sifat seseorang, sampai dengan gotong royong. Di pasar, seakan kita bisa senantiasa mengucap syukur kepada Allah SWT, apapun dan bagaimanapun kondisi kita sekarang ini.

Seperti telah saya beritakan, saya mempunyai usaha mandi bola di Denpasar. Mandi bola kelas pasar, atau pinggir jalan. Bukan usaha mandi bola yang jamak terdapat di sebuah mall, atau supermarket. Salah satu misi saya membuka usaha ini adalah, saya ingin mengetahui bagaimana sih rasanya mempunyai bisnis konvensional, atau bisnis offline, seperti yang kebanyakan dilakukan orang. Sebelumnya, bisnis yang saya jalankan selalu bersinggunggan dengan dunia online, salah satu contohnya adalah Bali car rental online.

Bagi kebanyakan orang, bisnis online seperti ini masih dirasa ‘diatas langit’. Sulit dimengerti, dan kadang dianggap mengada-ada. Bila bertemu saya, orang-orang konvensional seperti ini buru-buru langsung menanyakan dimana kantornya, dan produksi barangnya dimana. Tidak ditanya dulu usaha apa yang saya jalankan. Pokoknya, dipikiran mereka, bisnis itu melulu pastilah ada barang dan kantor.

Saya jawab, kantor tidak ada, juga tidak ada barang. Dan saya juga seringnya hanya nongkrong dirumah. Kalau pas dunianya orang itu sempit, tak jarang dia sudah keburu malas berbicara dengan saya, dengan berpikir saya pasti seorang alien. Hare gene dapat uang dari nongkrong..??

Dipikirnya saya nggedabrus (omong doang). Saya selalu kerepotan menghadapi orang tipe begini. Biasanya, saya langsung ngeloyor pergi juga. No reken. Karena, kalau saya lanjutkan omongan bahwa saya Alhamdulillah bisa menghasilkan devisa lebih dari 1 Milyar per tahun untuk negara, saya bisa celaka. Dikiranya saya pasti mbahnya alien ;) Kalau sudah begitu, saya akan diburu untuk dimusnahkan, hehe..

Kembali kesoal pasar, ini mirip miniatur kehidupan. Tadi saya bilang, bahwa kita akan selalu bisa mengucap syukur. Ada tetangga kanan kiri saya yang betul-betul menggantungkan hidupnya pada usaha yang dijalankannya. Sehingga, apabila dagangannya sepi, mungkin gundah hatinya. Kalau mandi bola saya sedang sepi? Saya tidak begitu resah, karena saya tidak menggantungkan hidup saya disini. Kalau warung sebelah masih menyisakan nasi dan lauk pauk yang banyak sebelum tutup, tentunya menjadi risau. Kalau saya, tidak ada yang perlu saya risaukan: bola-bola imut saya tidak akan ‘basi’ buat esok hari.

Juga, hati saya tidaklah ‘panas’ apabila ada orang masuk ke toko X, sementara toko X itu menjual dagangan yang sama dengan toko saya. Apalagi, orang tadi jadi membeli sesuatu di toko X tadi. ‘Panas’ mungkin akan semakin memanas. Hal yang seperti ini tidaklah masuk hitungan saya, karena alhamdulillah usaha mandi bola saya ini, adalah satu-satunya yang ada.

Malam hari ketika tutup, tetangga lain mungkin masih sibuk menghitung uang untuk kulakan besok pagi. Apakah cukup uang buat kulakan? Saya, tidak ada kata kulakan. Begitu dapat uang sepanjang hari itu, uang itu anteng ngendon di brankas :) Kalau tetangga-tetangga lain harus menjaga toko mereka sepanjang hari, dari pagi sampai malam, saya tidak harus seperti itu. Saya cukup buka pagi sampai siang. Lalu tutup untuk bobok siang. Dan buka lagi sore sampai malam. Bahkan, alhamdulillah, saya sudah kebelet mencari karyawan untuk jaga toko saya pada waktu sore-malam hari. Inginnya sekaligus pagi-siang juga. Tapi, itu tidak saya lakukan dulu. Soalnya, saya perlu toko ini dipagi hari, sekaligus sebagai ‘kantor online’ saya :) Makanya, saya selalu bawa laptop sembari jaga toko. Bayangkan: Kerja di ‘kantor’ itu sembari dapat uang dari ruang ‘kantor’ saya untuk anak-anak bisa mandi bola? DOUBLE INCOME! LUAR BIASA!!

Masih banyak contoh peristiwa lain yang bisa mengingatkan saya untuk selalu bersyukur. Diantara semuanya, mungkin yang membuat saya paling bersyukur adalah: Anak saya tidak perlu harus menjalani kehidupan pasar.

Betul, diantara tetangga-tetangga saya ada yang harus membawa serta anak-anak mereka ke pasar. Itu dilakukan karena tidak mungkin meninggalkan mereka di rumah sendirian. Jadilah anak-anak itu diajak hidup disana. Konsekuensi seorang anak dengan banyak bergaul di pasar, pastilah bisa ditebak: Kualitas kehidupan mereka juga hanya akan sekelas pasar. Gambaran tentang pasar adalah kumuh, tidak menarik, terbelakang, dan biasa-biasa saja alias tidak ada hebat-hebatnya. Mereka bergaul dengan anak-anak lingkungan pasar yang kadang tidak jelas. Kadang juga ada yang kasar, dan sukar untuk dibilangi. Mereka nyaris tanpa pendidikan. Bisa dipastikan, peluang kualitas kehidupan anak-anak model begini, bisa ditebak: Sangat suram. Kita tidak menginginkan, Indonesia yang sangat berharga ini akan diwarisi oleh calon generasi penerus pembangun bangsa tanpa pendidikan berkualitas.

Beberapa anak kerap saya lihat bermain saja terus disini, tanpa saya pernah tahu siapa bapaknya. Minimal menjemput mereka untuk pulang saja, itu tidak pernah saya lihat. Mereka bermain diantara dinginnya malam tanpa atap, yang tentu rentan dengan resiko kesehatan.

Ah, kalau sudah begini, malu saya sama Allah SWT. Kerap kali saya masih mengeluh dan merasa capek, padahal saya sudah diberi kenikmatan yang masih banyak orang lain belum merasakannya. Ah, malu kalau masih saja sering lupa bahwa udara ini masih gratis untuk dihirup.

Malu kalau masih harus langsung memotong setiap pendapatan dengan hanya 2,5% untuk zakat atau infaq atau sedekah. Mestinya harus lebih dibesarkan bilangannya. Bertambah malulah kalau memotongnya dari sisa-sisa, setelah dikurangi semua keperluan kita. Sudah begini banyak yang diberi, tapi masih saja pelit.

Aduh, malu juga kalau masih memakai istilah ‘memotong’. Mestinya pakai istilah ‘investasi’. Cocok untuk saya yang seorang pengusaha. Bukankah Allah SWT sudah berfirman, “La in syakartum, la azidannakum.” Kalau kamu bersyukur (lewat banyak berzakat, infaq, sedekah, dsb), maka akan Aku tambah nikmat Ku (bisnis membesar, keluarga sehat dan rukun, dsb).

Ah, malu ya Allah..Ayo, diperbaiki, dah!

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | 2 Comments
Saturday, April 17th, 2010 | Author: Arif Haliman

Seperti yang telah saya tuliskan, ada begitu banyak insight baru yang bisa diambil dari ajang Pesta Wirausaha 2010 yang dihelat di Balai Kartini Jakarta, 10-11 April yang lalu. Dari sekian banyak pandangan yang masuk itu, ada yang begitu menarik dari celetukan yang dilontarkan Bob Sadino, dengan gaya khasnya. Pria yang akrab disapa Om Bob itu bilang (lebih tepatnya nyeletuk) : “Saya kurang setuju dengan istilah UKM (Usaha Kecil & Menengah). Kalau bisa, K dan M nya diganti dengan B dan M. Sehingga menjadi UBM (Usaha Bakal Meledak).”

Hehe, tidak terkecuali saya, semua peserta yang hadir menjadi ger-geran. Pasti semua berpikir, kok bisa-bisanya dia melontarkan celetukan itu. Tidak menunggu lama, dia langsung mengutarakan alasannya: “Saya kuatir, dengan selalu menggunakan kata itu (kecil menengah), pengusaha kita selamanya tidak bisa menjadi besar. Oleh karena itu, mari kita gunakan kata Bakal Meledak, agar usaha yang baru kita rintis bisa segera meledak menjadi besar.”

Terus terang, sejak awal dia tampil berduet dengan Naomi Susan diacara itu, praktis saya hanya memdengarkan omongan Naomi Susan. Yang dibicarakan Naomi sangat menarik semua peserta, termasuk saya. Menurut saya pribadi, saat itu tidak ada sama sekali yang enak didengar dari Bob Sadino. Dengan gaya slengekannya, dia lebih banyak bertindak sebagai moderator, sementara Naomi Susan yang lebih aktif. Tapi, diakhir acara, dengan melontarkan ide seperti itu, seketika saya langsung mengapresiasi perkataannya.

Seperti diketahui, Bob Sadino adalah pengusaha besar. Dedikasinya dalam membangun  negara lewat jalan menjadi pengusaha sukses sangatlah mulia. Sudah banyak yang terinspirasi olehnya untuk mengikuti jejak kesuksesan menjadi pengusaha besar. Dia bisa disejajarkan dengan Ciputra atau Chaerul Tanjung, yang begitu getol menginspirasi dan mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih aktif dalam partisipasi membangun Indonesia menjadi negara besar dan disegani, lewat jalur menjadi pengusaha sukses.

Saya pikir-pikir, betul juga apa yang Bob lontarkan. Optimis - dalam segala hal - adalah harga mati. Istilah kecil menengah seperti itu akan menjerat dan mengecilkan kita. Walaupun hanya sekedar istilah, tapi kalau itu diucapkan secara terus menerus, tanpa sadar itu akan menjadi justifikasi, atau pembenaran. Yang namanya pembenaran, logikanya, entah salah atau benar, ya pasti harus benar. Dengan kata lain, entah bisnis kita berpotensi menjadi besar atau tetap kecil, predikat ‘kecil menengah’ itu akan terus melekat pada diri kita. Kalau itu sudah terbentuk dalam alam bawah sadar kita, bisa dipastikan kita akan selalu minder dalam menjalankan bisnis kita.

Saya paham konsep The Law of Attraction yang baru beberapa tahun ini dilontarkan Rhonda Byrne. Saya juga mengerti konsep Quantum Ikhlas yang diusung oleh Erbe Sentanu beberapa tahun yang lalu juga. Itu sejalan dengan firman Allah SWT, mungkin sejak segala sesuatu (termasuk manusia) bahkan belum tercipta, yaitu : “Aku (Allah) menurut sangkaan hamba-Ku saja”.

Maksudnya, Allah SWT pasti akan memberikan apapun yang kita inginkan (baik lewat doa, niat, keinginan, pola pikir, mindset, dsb). Tidak ada doa yang tertolak. Semua dikabulkan. Yang diingat, semua keinginan itu pasti dikabulkan, tidak peduli itu berakibat Negatif atau Positif. Saya berulangkali sudah mengalami hal-hal ‘ajaib’ sebagai akibat dari hasil berpikir yang saya bentuk, tidak hanya dalam dunia bisnis yang saya tekuni, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari lainnya.

Dihubungkan dengan kata ‘kecil menengah’ yang kita usung dalam keseharian bisnis kita, dengan asumsi bahwa Allah SWT pasti akan mengabulkan pola pikir kita bahwa bisnis kita akan senantiasa kecil dan menengah (Negatif), ya pastilah bisnis tidak akan pernah menjadi besar (Positif). Kita hanya akan berkutat diomzet jutaan rupiah per bulan, misalnya, dan tidak bisa beranjak kepuluhan juta. Sulit bagi kita untuk bisa meraih omzet ratusan juta, dan berharap semakin berkembang ke kelas beromzet miliaran, bahkan triliunan, dengan tetap mengusung konsep ‘kecil menengah’. Lewat konsep ‘bakal meledak’, para pengusaha kecil akan terbentuk pola pikir bahwa bisnisnya akan segera meledak, mencapai omzet ratusan juta, misalnya, untuk kemudian meledak ke omzet miliaran atau triliunan.

Apakah itu mustahil? Sama sekali tidak. Kata orang TDA, Start Action and Miracle Happen. Mulailah segera beraksi memulai usaha sekecil apapun itu, dan rasakan berbagai keajaiban disana. Itu benar. Hanya yang telah berprakteklah yang merasakan keajaiban-keajaiban itu, termasuk saya.

Di acara yang sama, satu lagi yang menarik saya adalah perkatan Agus Pramono, pemilik franchise Ayam Goreng Mas Mono yang terkenal itu. Dia berpendapat, kalau omzet bisnis kita, misalnya, 500 juta, bilang saja setengah milyar. Nilainya sih tetap sama, tapi ‘rasanya’ beda. Jutaan itu berbeda dengan Milyaran. Maka, kalau mulut dan pikiran kita selalu menggaungkan “Milyar!”, dan tidak “Juta!”, maka alam bawah sadar kita akan memprosesnya, dan keinginan kita untuk selalu beromzet miliaran pasti akan dikabulkan Allah SWT.

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Monday, April 12th, 2010 | Author: Arif Haliman

Usai sudah perhelatan akbar Milad TDA IV komunitas Tangan Di Atas (TDA) 10-11 April 2010 kemarin yang dibungkus dengan tema Pesta Wirausaha 2010 - FIGHT GROW WIN ini. Usai sudah acara sharing ilmu berbisnis yang ditularkan oleh para nara sumber-nara sumber hebat diatas panggung. Usai sudah acara yang juga menampilkan para member-member TDA yang juga tak kalah hebatnya dalam memberi insprirasi dan dorongan semangat baru untuk meraih Go Triple (pendapatan lipat tiga) setahun mendatang ini.

Saya mengucap syukur tiada terkira kepada Allah SWT atas segala kemudahan dan kelancaran urusan yang diberikan kepada saya selama mengikuti acara ini. Semuanya berjalan sesuai rencana. Tidak ada satupun masalah yang menghampiri. Dan segala ilmu dan semangat berbisnis yang dibagikan selama 2 hari kemarin itu insyaAllah juga akan mampu membawa kebaikan bagi perjalanan bisnis saya kedepannya. Amin.

Hari pertama acara (10 Apr) dibuka dengan dipandu oleh artis dan penyanyi Astrid Hadi. Saya acungkan 2 jempol untuk cewek ini. Terlihat sekali kecerdasannya. Segala joke, spontanitas dan sikap panggungnya betul-betul sempurna. Panggung bisa ‘hidup’ dengan dipandu MC macam dia. Barisan lebih dari 1200 penonton pun juga dibuatnya menjadi aktif mengikuti permintaannya, seperti memperkenalkan diri, meneriakkan yel-yel, atau menimpali teriakan beberapa peserta. Berduet dengan artis Denny Chandra yang juga tak kalah kocak, jadilah panggung acara Milad TDA kemarin benar-benar makin hidup.

Bersama Rony Yuzirman - Founder TDA

Bersama Rony Yuzirman - Founder TDA

Selesai bercuap-cuap, MC mempersilakan berturut-turut Founder TDA Rony Yuzirman, Presiden TDA Iin Rusyamsi dan Penasehat TDA Haji Allay untuk tampil keatas panggung. Setelah itu Menteri Koperasi dan UKM, yang diwakili oleh salah satu Deputinya. Saya tidak begitu perhatian dengan orang yang disebut terakhir ini. Berbicaranya tidak ‘meledak’, dan yang dibicarakannya soal klasik: seputar undang-undang dari Departemen Koperasi, lalu pemberdayaan UKM beserta langkah-langkah yang diambil. Saya tidak begitu ambil peduli. Biasanya hanya manis terucap, tapi minim realisasi dalam bentuk aksi nyata.

Nara sumber kedua adalah Eri Sudewo, mantan Direktur Dompet Dhuafa Republika, dan kolumnis tetap harian tersebut. Pak Eri ini terkenal dengan passion nya untuk pengentasan kemiskinan dan kebodohan di Indonesia. Kerja konkretnya disalurkan lewat berbagai badan-badan seperti Dompet Dhuafa yang didirikannya, serta aktif menulis mengenai perberdayaan manusia Indonesia, dan kritikan (masukan) kepada pemerintah untuk akselerasi pembangunan di negeri ini. Pembawaannya kalem namun mantap. Penuh optimisme dan ketegasan.

Jeda makan siang, tampil Sandiaga S. Uno. Masih muda dan tampan (dibawah 40 tahun), enerjik dan sangat bersemangat. Dia berkibar lewat bendera Saratoga Capital, induk perusahaannya yang juga mengelola beberapa perusahaan dibawahnya. Jabatannya antara lain HIPMI Pusat dan Kadin. Tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Orang ini sungguh sangat inspiratif dan pemberi semangat ulung. Kalau orang ini berbicara, gak peduli seberapa kebeletnya kamu hendak ke toilet, tahan dulu dan dengarkan dia. Sayang kalau omongannya dilewatkan begitu saja.

Acara dilanjutkan kembali dengan penampilan duet Naomi Susan dan Bob Sadino. Naomi Susan ini sepak terjang bisnisnya sangat luar biasa. Wanita yang kuat. Baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Sebelum menikah, dia sudah mempunyai beberapa perusahaan yang sangat menjanjikan sepak terjangnya. Kegiatan bisnisnya sangat membumi, dalam arti beberapa diantaranya ada yang kelas ecek-ecek, semacam dagang nasi bungkus dan kuliner pinggir jalan macam lalapan lele, namun ternyata hasilnya sungguh luar biasa. Saya terus terang mendapat insight baru mengenai bagaimana bisnis ecek-ecek ini bisa menghasilkan pendapatan yang begitu besar.

Om Bob - begitu Bob Sadino akrab dipanggil - tampil dengan kekhasannya: kemeja lecek putih lengan pendek, dengan celana biru pendek diatas lutut. Tidak banyak yang dia sampaikan. Sepertinya dia malam itu lebih tepat disebut sebagai moderator antara Naomi Susan dengan para peserta dalam sesi tanya jawab. Gayanya yang slengekan membuatnya tidak banyak omong. Tapi, semua orang sudah tahu banyak sepak terjangnya yang hebat dalam dunia bisnis.

Nara sumber berikutnya adalah Purdie Entrepreneur Chandra. Pengusaha ‘Gila’ ini betul-betul bisa menguasai panggung. Saya juga sudah pernah menghadiri seminarnya di Bali beberapa bulan yang lalu. Seperti halnya seminarnya di Bali, semua peserta di Balai Kartini Jakarta ini menjadi begitu antusias lewat pembawaannya yang sangat santai, penuh guyon namun sangat berisi dan memberi inspirasi. Keberanian dan kenekatan (oleh sebab itu disebut Pengusaha Gila) adalah trade mark yang melekat padanya. Seperti halnya Eri Sudewo, Sandiaga S. Uno dan Naomi Susan, bos lembaga pendidikan Primagama ini layak untuk didengarkan bicaranya.

Nara sumber terakhir adalah Susi Pujiastuti. Pemilik (katanya diharapkan hanya beberapa bulan lagi) 60 pesawat komuter ini juga sangat inspriratif. Banyak berbagi mengenai jatuh bangun dalam mengembangkan cikal bakal bisnis ikan laut segar yang dikelolanya hingga berkembang ke bisnis lainnya.

Hari pertama ditutup oleh entertainment berupa pertunjukan musik oleh The Dance Company dan Ussy Sulistyowati. Kali ini MC dipandu oleh Kiwil duet dengan Vega Ngatini. Kiwil masih bolehlah dibilang sukses membawakan panggung, namun Vega (apalagi dibandingkan dengan Astrid Hadi), dalam hal ini, masih belum menunjukkan kecerdasannya.

Hari pertama, para pembicaranya betul-betul berisi, alias daging semua. Tidak rugi rasanya duduk berjam-jam mendengarkan mereka berbicara mengenai seputar tips dan semangat bisnis untuk para member TDA.

Hari kedua, 11 April, tampil pembicara lain. Pembicara pertama adalah Nukman Luthfie. Paparannya sudah saya dengarkan juga di Malang untuk acara Milad 2 TDA Ngalam tahun kemarin. Berbicara mengenai seputar bisnis online, lengkap dengan online style yang data-data terbaru yang mendukung pentingnya kita untuk memasuki bisnis online.

Pembicara berikutnya adalah Chaerul Tanjung. Orang yang luar biasa. Etos kerjanya sangat tinggi. Tidak saja mengagungkan kerja cerdas, tapi juga kerja keras, plus tambahan satu lagi: sistem cerdas. Dari tangannyalah lahir Bank Mega yang tercatat sebagai satu-satunya bank swasta nasional yang masih dimiliki putra asli Indonesia. Lahir juga TransTV dan Trans7. Lewar berbagai penuturannya, lulusan FKG UI ini betul-betul orang yang mencintai negaranya.

Pembicara terakhir adalah Erbe Sentanu, pendiri KataHati Institute. Saya memiliki 2 seri bukunya. Pengusung Quantum Ikhlas ini tampil bersahaja, dan berbicara dengan baik seputar keahliannya, yaitu mengenai keikhlasan. Dihubungkan dengan semangat kewirausahaan yang diusung dalam acara ini, rasanya sangat klop paparan yang Pak Erbe sampaikan.

Diantara penampilan para pembicara tersebut, ada berbagai acara, misalnya doorprize, wisuda para TDB menjadi TDA, wawancara dengan para peserta yang berhasil meraih Go Triple (pendapatan berlipat tiga dalam setahun terakhir), dan didapuk untuk menyampaikan kiat-kiatnya.

Dengan menghadiri Milad TDA ini, koleksi pembicara top yang bisa saya dengarkan secara langsung semakin bertambah. Seharusnya, ada satu lagi pembicara top yang diundang, karena dia memiliki hubungan dengan founder TDA. Pembicara yang saya maksud adalah Tung Desem Waringin. Namun, dia tidak hadir. Saya membayangkan, seandainya dia juga bisa tampil, pastilah acara ini akan menjadi sempurna. Tiba-tiba, entah sedang mendengarkan Pak Erbe berbicara mengenai keikhlasan atau ada hal lain, tiba-tiba saja panitia membagikan selebaran mengenai akan diadakannya seminar Tung Desem Waringin pertengahan bulan depan di Jakarta. Aha, saya insyaAllah mungkin akan balik lagi ke Jakarta, kalau begitu :)

Begitulah sedikit tulisan saya mengenai 2 hari acara Milad IV TDA tahun 2010 ini. Tulisan ini saya bikin di lounge bandara Soekarno Hatta Jakarta, sambil menunggu pesawat saya berangkat beberapa jam lagi. Terima kasih banyak buat Heppy dan Irfani. Tumpangan dan penginepannya bisa diandalkan untuk kunjungan berikutnya, broder! Hehe ;)

Semoga bisa membawa semua insprirasi bagi siapa saja untuk ikut menyongsong kebangkitan ekonomi Indonesia, sebagai seorang pengusaha yang Funtastic, Hidup Sukses dan Mulia! Amin.

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Friday, April 09th, 2010 | Author: Arif Haliman

Besok InsyaAllah saya akan berangkat ke Jakarta untuk sebuah acara. Setahun yang lalu saya juga telah berangkat ke Malang untuk acara yang sama. Waktu itu di Malang acaranya bertajuk Milad II TDA Ngalam (Tangandiatas.com) - Festival Enterpreneur Malang 2009 Membangun Visi Menembus Imajinasi. Jadi itu adalah acara ulang tahun TDA cabang Malang. Namun, kali ini, yang akan punya gawe adalah TDA Jakarta (Pusat). Dan tahun 2010 ini, tepatnya tanggal 10-11 April, akan dihelat sebuah acara serupa di Jakarta dengan mengambil tema Fight, Grow, Win dalam rangka menyambut Milad TDA IV. Dan saya merasa harus menghadirinya.

Tidak peduli kunjungan terakhir ke ibukota adalah tahun 1997 silam, untuk acara perpisahan SMA. Gak peduli gak ada teman seperjalanan dan bisa dipastikan tak kenal seorangpun peserta di Jakarta nanti. Tidak menjadi pusing harga tiket pesawat yang luar biasa mahal (berangkatnya aja kena 760rb pakai Lion Air, serba mahal barengan Kongress III PDIP di Bali). Tidak begitu kuatir nantinya bisa bermalam dimana. Sejujurnya, daripada menginap di hotel, saya ingin menginap saja dirumah seorang kenalan. Saya ingin merasakan Jakarta itu seperti apa sih :) Jarang-jarang ada kesempatan bepergian ke ibukota. Kalau nginep di hotel, itu standar. Tapi bermalam dirumah kenalan bisa get the feeling Jakarta dimalam hari sekaligus silaturahmi.

Pokoknya, saya harus Get the Feeling! Merasakan langsung getaran semangat yang dibawa oleh para peserta itu, dan pesan-pesan yang disampaikan dalam acara itu. Melakukan tepuk tangan panjang bersama seluruh peserta. Melakukan silaturahmi antar wirausahawan tangguh yang tergabung dalam komunitas bisnis luar biasa ini, Tangandiatas.com. Bersama-sama menebalkan tekad disertai doa dan niat baik untuk bisa membawa kebaikan, dan menjadi insprirasi bagi semua orang, lewat jalan menjadi seorang wirausahawan sukses.

Begitulah, banyak sekali harapan yang ingin saya peroleh untuk menghadiri acara ini. Memperoleh pengalaman dan mungkin banyak tips serta dorongan semangat yang semakin besar untuk terus mengembangkan bisnis yang saya geluti, adalah misi utama saya kali ini. Disana pasti bertebaran para pelaku bisnis yang betu-betul handal, sarat pengalaman, penuh motivasi dan pasti mau berbagi. Selain itu, ini akan menjadi sebuah acara bertema seputar seminar motivasi terbesar yang pernah saya ikuti. Menurut daftar peserta, acara ini akan dihadiri lebih dari 1000 peserta. Seperti saya, sebagian besar dari mereka adalah seorang usahawan. Walaupun sepertinya juga masih ada yang berstatus karyawan, namun keinginan untuk segera beralih menjadi 100% usahawan sedemikian besar. Acara seperti ini tentunya sangat tepat bagi akselerasi keinginan mereka.

Sebenarnya acara ini tidak hanya sekedar seminar, namun juga ada expo, silaturahmi, live entertainment, bisnis matching antar peserta, games, dan beragam seabreg aktivitas lain. Acaranya sangat padat, dimulai jam 7 pagi hingga jam 9 malam. Saya merasa sangat sayang untuk melewatkan kesemua acara itu. Saya akan mencoba untuk all out disana nanti.

Oleh karena itu, sungguh tepat tema yang diambil kali ini, yaitu Pesta Wirausaha 2010 - FIGHT, GROW, WIN!

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | Tags: ,  | Leave a Comment
eXTReMe Tracker