Tetangga sebelah toko saya, yang baru saja buka 1 minggu setelah launching usaha mandi bolaku, secara mengejutkan tiba-tiba harus menutup usahanya. Dihitung-hitung, tidak lebih dari 3 minggu sejak tetangga toko saya itu membuka usaha warung masakan pedasnya, dan kemudian harus tumbang. Saya bisa merasakan kepedihan itu. Harus diakui, sebuah usaha atau bisnis menemui kegagalan itu adalah keniscayaan. Namun, saya bisa merasakan, kalau kegagalan itu datangnya secara tiba-tiba (hanya 3 minggu sejak launching), memang terasa menyesakkan.
Terlepas dari kegagalannya itu, saya secara pribadi harus mengacungkan dua jempol untuknya. Dalam obrolan disela-sela menjaga masing-masing toko kami, dia bilang bahwa baru saja resign atau mengundurkan diri dari tempat kerjanya, dan debut pertamanya setelah hengkang dari zona nyamannya itu dia lantas membuka warung masakan pedas yang berlokasi tepat disebelah toko saya. Hobinya memasak dia salurkan dengan membuka sebuah warung makan. Dengan dibantu oleh satu orang pemasak lagi, terwujudlah keinginannya yang katanya sudah lama ingin dia wujudkan.
Alasan yang dikemukakan ketika hengkang dari tempat kerjanya adalah sudah bosan luar biasa. Rutinitas dan kepastian yang dijalaninya hari demi hari, sejatinya akan mematikan kreativitasnya. Alasan yang sama juga saya lontarkan lebih dari 3 tahun yang lalu, ketika saya memutuskan hengkang dari tempat kerja saya. Dulunya, tempat kerja tetangga toko saya ini zona nyamannya memang nyaman. Dia bekerja di Intercontinental Resort Jimbaran, sebuah hotel bintang 5 di Bali, yang membawahi beberapa orang yang khusus menangani para tamu Japanese mereka.
Dilihat dari jabatan dan penghasilan, jelas dia sangat berkecukupan. Kalau mau terus berkarir di hotel itu, nampaknya status sosial masyarakat yang disandangnya akan cukup membuatnya disegani. Zona nyaman yang mengitarinya akan cukup membuatnya betul-betul nyaman. Gaji besar dan kedudukan tinggi lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia.
Namun, seorang yang memiliki jiwi bisnis atau enterpreneur didalam hatinya, gaji besar dan jabatan tinggi bukanlah impian akhirnya. Impian akhir sekaligus terbesarnya adalah memiliki usaha sendiri. Dengan memiliki usaha sendiri, kreativitas seseorang tidak akan terbendung oleh aturan-aturan tempat kerja mereka. Dengan memiliki usaha sendiri, seseorang akan jauh lebih mandiri dan tangguh. Lebih terbuka dalam menerima kritik atau masukan. Dan yang lebih penting, nasib ini ditentukan oleh diri sendiri, bukan oleh bos dimana dia bekerja.
Simpati saya tunjukkan ke tetangga saya itu, dengan banyak memberikan kata-kata penyemangat ketika sedang beres-beres membawa pulang kembali perlengkapan warungnya. Sambil berjanji kepadanya bahwa saya akan main kerumahnya kapan-kapan. Kelihatannya dia bisa menjaga emosinya. Raut mukanya terlihat biasa sewaktu terakhir kali berpisah dengan saya. Namun, saya yakin, kepedihannya yang tak terlihat pasti sempat muncul dalam hatinya
Kepedihannya itu adalah wajar. Jangankan menutup sebuah usaha yang sudah dirintisnya, usaha yang sedang mengalami hari-hari sepi dimana pendapatan merosot saja, pasti mengalami kepedihan, entah sedikit atau banyak. Sebetulnya, terlebih disaat sepi seperti inilah, kesempatan menerapkan kreativitas kita yang luar biasa sebagai anugerah default dari Yang Maha Kuasa, untuk membuat terobosan-terobosan baru, yang membuat keadaan sedang sulit menjadi lebih baik.
Justru disinilah seninya orang berwiraswasta. Jatuh bangun adalah hal biasa. Yang luar biasa adalah ketika jatuh dia bisa bangkit lagi untuk mengambil keberhasilannya, dan ketika bangun dia memberi manfaat sekaligus inspirasi untuk banyak orang lain.
Bangkit lagi kawan! Tidak ada namanya kegagalan. Yang ada hanyalah keberhasilan yang tertunda.
Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali
