Archive for » March, 2010 «

Monday, March 22nd, 2010 | Author: Arif Haliman

Sudah 2 hari ini saya mencoba sesuatu yang baru. Yaitu, joging di Pantai Kuta pada pagi hari yang cerah, sekitar jam 6 pagi. Olahraga jalan kaki mengikuti sepanjang garis pantai, dan kembali dengan berlari-lari kecil sepanjang garis pantai itu juga. Selain kegiatan bersepeda, kegiatan jalan kaki seperti ini, dahulu sempat menjadi rutinitas pagi hari saya. Walaupun beberapa hari atau bulan terakhir sempat terhenti dengan alasan sering hujan (alasan utama adalah meneruskan tidur di pagi hari :) ).

Sebetulnya, kegiatan ini (selanjutnya kita sebut olahraga) bukanlah hal yang baru bagi saya. Yang baru kali ini adalah lokasi olahraga yang saya pilih. Biasanya saya melakukannya di lapangan Puputan Renon Denpasar. Namun, kali ini saya memilih melakukannya di Pantai Kuta. Inspirasi menjadikan pantai Kuta sebagai tempat joging saya yang baru, datang 2 hari sebelumnya.

Pagi-pagi sekali jam 07.00, saya harus mengantar mobil pesanan tamu saya ke Harris Resort Kuta. Hotel ini terletak persis di seberang pantai Kuta. Setelah membereskan urusan dengan tamu saya, saya menunggu istri untuk menjemput saya pulang. Walaupun sudah 8 tahun tinggal di Denpasar, dan hanya berjarak 15 menit naik motor untuk menuju pantai Kuta, tapi kunjungan ke pantai sepagi ini belum pernah saya lakukan :( . Oleh karena itu, menyeberanglah saya menuju pantai. Walaupun tidak ada pemandangan matahari terbit, yang namanya pantai berpasir putih tetaplah indah pemandangannya. Anginnya yang sepoi-sepoi membuat pikiran segar kembali. Saya melihat beberapa orang, berlari-lari kecil di sepanjang garis pantai, lengkap dengan sepatu olahraganya. Mereka terlihat sungguh-sungguh, dan sangat menikmati kegiatannya.

Aha! Cling.! Ini dia, nih..!

Saya ingin seperti mereka. Berolahraga di pagi hari, bukannya malah molor. Berlari-lari kecil, bukannya menambah ngorok. Menghirup udara segar untuk memulai hari dengan riang, bukannya suntuk kebanyakan tidur.

And, here I am, in the morning at the Kuta beach. Walking and running along the line coast with my blue shoes. Alone. I called that: sports.

With just few peoples - foreigners and locals altogether - who was doing the same like I did. The rest of them, just sitting on the sand, watching the sky, waves and other things that can see. Just sit and talk a little bit to their friend. But most of them, just sit and silence. Watching the beach. Anyway, still, that was a few good things to do, rather than just sleep on the bed, in the morning.

I had to promised to my self, that I must continue the activity for everyday. For the next days, at least 1 week forward, I need to consistence. On the following days, I have to ask my wife and my daughter to follow me to do this. Especially for my daughter, Tika, she must be very excited. She loves beach much!

Okay, enough with the English.. “Enterprise to Arif, back to Earth.” :)

Pokoknya, berlari di pantai di pagi hari sungguh mengasyikkan. Menyenangkan, sekaligus menyehatkan. Sensasinya berbeda kalau kita hanya melakukannya di jalanan atau di lapangan, seperti yang kerap saya lakukan sebelumnya. Berlari dengan bertumpu ke pasir halus berbeda dengan ketika bertumpu dengan tanah liat atau aspal. Hentakannya tidak kencang, dan terasa lembut. Ini membantu mengurangi tingkat tekanan kaki, sehingga bisa menghemat energi tubuh.

Oiya, saya baca di koran, kabarnya pantai Kuta belakangan ini sudah lumayan bersih dan sedap dipandang mata. Pantesan, karena dipagi hari berturut-turut itu, saya menyaksikan sekitar selusin lebih orang (umumnya para wanita) menyusuri pantai untuk memungut sampah-sampah yang berserakan disana. Para ibu-ibu ini memakai seragam putih merah, dengan tulisan Care for Bali Beaches di punggung kaos mereka lengkap dengan sponsornya. Rupanya ada yang mengorganisir. Humm..bagus juga.

Seindah-indahnya pantai berpasir putih, kalau disana terlihat tumpukan sampah, entah itu sampah dari laut, atau sampah yang dibuang oleh pengunjung pantai, keindahan itu akan lenyap begitu saja. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita semua untuk ikut menjaga kebersihan pantai. Para berandalan pantai yang membuang sampah seenaknya itu, enaknya ditimpuk saja ramai-ramai biar kapok. Tidak malah membantu kebersihan pantai, tapi malah membuatnya semakin kotor.

Okay guys, lets back to the healthy body, and mind!

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | Leave a Comment
Monday, March 15th, 2010 | Author: Arif Haliman

Kalau saja saya tidak ‘mengenal’ Sony AK sebelumnya, mungkin saya tidak akan tergelitik untuk menulis judul ini. Hanya karena Sony AK - lewat website http://www.sony-ak.com - pernah menjadi rujukan online saya dalam mencari informasi seputar web programming, maka terciptalah tulisan ini. Saya hanya tidak bisa diam saja tanpa suara, demi mendengar konflik konyol yang dipicu oleh Sony Corp Japan, menggugat nama domain yang dipergunakan oleh Sony Arianto Kurniawan (sony-ak.com) itu karena berpotensi membuat nama Sony Corp Japan menjadi tercemar.

Sony Corp, raksasa elektronik dari negeri Sakura itu, sepertinya akan bernasib sama dengan RS Omni International Tangerang, yang kemarin berseteru melawan Prita Mulyasari, perihal tentang curhat onlinenya mengenai buruknya pelayanan kesehatan yang dialaminya disana. Rumah sakit internasional itu wajahnya sudah babak belur, bopeng-bopeng, dihadapan mayoritas rakyat Indonesia. Sikap arogannya yang dengan segampang itu langsung memidanakan mantan pasiennya, tanpa terlebih dahulu usaha musyawarah atau negosiasi, dipandang buruk oleh sebagian besar masyarakat.

Kesalahan itu kembali diulang oleh perusahaan internasional lain. Sony Corp dengan gobloknya berkoar menyuruh Sony AK, dengan menyodorkan 2 opsi yang sama-sama sulit diterima: Masuk penjara atau hapus domain sony-ak.com. Walah!

Dengan alasan domain yang digunakan sony-ak.com menggunakan ‘merek Sony’, maka somasi dilayangkan ke Sony AK. Ini sangat menggelikan. Seketika itu juga demi mendengar berita ini, sekelebat terpikir ternyata memang di Jepang masih saja ada orang goblok :) Atau, sepintar-pintarnya orang, masih saja kadang-kadang kumat gobloknya. Pak Nukman Luthfie, seorang Online Strategist yang saya pernah berfoto berdua dengannya, demi mendengar berita ini pasti akan geregetan juga dengan tindakan yang diambil Sony Corp ini.

Dengan alasan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI), semua nama berbau Sony dilarang. Seakan-akan, HAKI itu lebih tinggi kedudukannya dari Hak Orang Tua Memberi Nama Untuk Anaknya (HOTMNuA). Sony Corp berdiri tahun 1946, tahun dimana internet belum lahir. Domain sony-ak.com didaftarkan tahun 2003. Namun, hal itu mestinya tidak bisa berarti bahwa semua nama (domain) yang bersinggungan dengan nama sony menjadi semua milik Sony Corp.

Terlebih, lihat dulu konten situs sony-ak. Sama sekali jauh dari hal mengenai elektronik, apalagi menyinggung merek Sony Corp. Situs sony-ak.com hanya melulu berisi seputar internet, seperti PHP programming, social media, netwotking, hardware dan software komputer.

Saya adalah salah seorang saksi eksitensi situs itu sejak dari awal. Tahun 2003 adalah tahun dimana saya baru belajar web programming, khususnya PHP. Bisa dibilang saat itu saya bisa disebut programmer ecek-ecek, ingusan atau kemarin sore. Seperti layaknya anak kemarin sore yang jam terbangnya belum tinggi, jam terbang saya harus ditinggikan. Caranya dengan banyak berlatih mengerjakan beragam aplikasi web based. Dan, pada jaman itu, sony-ak.com adalah salah satu tempat ‘nongkrong’ favorit saya untuk menambah ilmu.

Disana banyak tersedia tips, tutorial dan how to seputar pemrograman komputer. Situs itu sangat membantu saya dalam belajar. Terlebih waktu itu masih menggunakan bahasa Indonesia. Sekarang sony-ak tampil dalam bahasa Inggris. ‘Guru online’ saya itu rupanya semakin maju saja.

Benar kata orang, ilmu semakin diajarkan, pemilik ilmu tidak akan pernah kehilangan ilmunya, tapi malah semakin bertambah.

Sebagai sesama blogger Indonesia, mari kita dukung Sony AK dari terkaman perusahaan internasional ini. Tentunya dengan cara yang sopan dan elegan. Jauhi dukungan bersifat anarkis dan emosional, namun lebih mengedepankan argumentasi berkepala dingin.

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | Tags: ,  | Leave a Comment
Friday, March 12th, 2010 | Author: Arif Haliman

Kamu punya hutang? Kalau iya, segeralah mencari segala cara untuk segera bisa melunasinya. Berhutang dalam bentuk uang kepada seseorang, entah kecil atau besar, semestinya akan menjadi semacam duri dalam tubuh. Sangat mengganggu. Sangat tidak nyaman. Orang yang berhutang - selama hati nuraninya masih bekerja dengan baik - semestinya harus sekuat tenaga mengembalikan hutang itu dengan baik. Pengertian baik disini adalah: tepat waktu dan tepat jumlah.

Tulisan saya kali ini, terinspirasi oleh kejadian baru-baru ini. Syahdan, (*halah, kayak dongeng*) saya ditelpon oleh seorang teman baik. Dia mengutarakan maksud untuk meminjam uang kepada saya. Karena dia a good friend dan saya menaruh kepercayaan kepadanya bahwa dia akan mampu mengembalikannya dengan baik, saya sama sekali tidak keberatan dan segera menyanggupinya.

Sembari saya menyerahkan uang pinjaman itu, dia berkata bahwa insyaAllah 2 bulan lagi uangnya akan dikembalikan. Saya jawab, santai saja, bro.

Sekedar diketahui, kuantitas kami dalam keep intouch sebagai teman, masuk dalam kategori lumayan. Keluarga kami masing-masing bisa dibilang sering saling bersilaturahim. Entah itu sekedar lewat sms atau telpon, berkunjung langsung kerumah, atau janjian ketemu ditempat makan untuk makan-makan.

Mirip dongeng, hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu berlalu. Bulan demi bulan berlalu. Tidak terasa dua sobekan lembar kalender sudah memenuhi bak sampah. Selama gajian 2x atau lebih itu, kami bahkan tidak pernah lagi berkomunikasi. Terlebih, janji yang dulu sempat terucap menguap begitu saja, entah apa penyebabnya. Yang paling membuat saya masygul, down hearted, dan tiba-tiba saja tersentak kaget: Selama itu pula saya telah kehilangan seorang teman baik!

MasyaAllah, sungguh luar biasa dampak (negatif) dari berhutang. Dalam kasus saya, hal ini bisa memutuskan tali silaturahim kami. Saya sadar, teman saya itu bukannya tidak mau mengembalikan uang pinjamannya. Saya tahu wataknya. Dia sangat ingin segera mengembalikannya, tapi apa daya kemampuan belum ada.

Terjadi dilema disini. Dia malu menghubungi saya karena belum mampu membayar hutangnya, dan saya juga serba salah, mau menghubungi dia untuk maksud silaturahim seperti biasanya, tapi kuatir dipersepsikan mau menagih hutang. Dan itu akan membuatnya makin susah dan tidak nyaman. Saya tidak ingin itu terjadi.

Repot. Saya pusing. Dan saya yakin dia pusing 2x: Pertama karena sementara memutuskan tali silaturahmi kami, kedua memikirkan cara bagaimana bisa segera mengembalikan hutangnya.

Kata-kata bijak (meskipun saya sama sekali bukan orang bijak) yang ingin saya sampaikan disini adalah: Hati-hati berhutang kepada teman. Karena, apabila ternyata sulit untuk mengembalikan, kamu tidak saja terancam kehilangan uangmu, tetapi juga temanmu!

Kiranya akan baik apabila saya mengingatkan diri sendiri dan juga kamu sekalian, mengenai bahaya dan efek negatif berhutang. Saya mengambilnya dari beberapa hadits Rasulullah SAW:

1) “Kurangkanlah dirimu daripada melakukan dosa, maka akan mudahlah bagimu ketika hendak mati. Kurangkanlah daripada berhutang niscaya kamu akan hidup bebas

2) “Sesungguhnya, sebesar-besar dosa di sisi Allah ketika seorang hamba itu berjumpa dengan Allah nanti selepas dosa besar lain ialah, seseorang lelaki yang berjumpa dengan Allah di hari Hisab dengan mempunyai hutang yang belum dibayarkan.

3) “Semua dosa-dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutangnya.” (Riwayat Bukhari, Tarmizi, An-Nasai’ dan Ibn. Majah)

Riwayat yang lain, Rasulullah SAW bahkan enggan menyalati orang mati yang masih punya tanggunggan hutang.

OK, cukup segini dulu haditsnya. Kalau saya teruskan, kita semua (yang berhutang) akan muntah demi mengetahui kengerian-kengerian yang timbul akibat hutang :)

Hati-hati ya, mari menjaga diri kita dan keluarga kita dari berhutang yang berpotensi menimbulkan masalah.

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | Tags:  | 4 Comments
Wednesday, March 10th, 2010 | Author: Arif Haliman

Tetangga sebelah toko saya, yang baru saja buka 1 minggu setelah launching usaha mandi bolaku, secara mengejutkan tiba-tiba harus menutup usahanya. Dihitung-hitung, tidak lebih dari 3 minggu sejak tetangga toko saya itu membuka usaha warung masakan pedasnya, dan kemudian harus tumbang. Saya bisa merasakan kepedihan itu. Harus diakui, sebuah usaha atau bisnis menemui kegagalan itu adalah keniscayaan. Namun, saya bisa merasakan, kalau kegagalan itu datangnya secara tiba-tiba (hanya 3 minggu sejak launching), memang terasa menyesakkan.

Terlepas dari kegagalannya itu, saya secara pribadi harus mengacungkan dua jempol untuknya. Dalam obrolan disela-sela menjaga masing-masing toko kami, dia bilang bahwa baru saja resign atau mengundurkan diri dari tempat kerjanya, dan debut pertamanya setelah hengkang dari zona nyamannya itu dia lantas membuka warung masakan pedas yang berlokasi tepat disebelah toko saya. Hobinya memasak dia salurkan dengan membuka sebuah warung makan. Dengan dibantu oleh satu orang pemasak lagi, terwujudlah keinginannya yang katanya sudah lama ingin dia wujudkan.

Alasan yang dikemukakan ketika hengkang dari tempat kerjanya adalah sudah bosan luar biasa. Rutinitas dan kepastian yang dijalaninya hari demi hari, sejatinya akan mematikan kreativitasnya. Alasan yang sama juga saya lontarkan lebih dari 3 tahun yang lalu, ketika saya memutuskan hengkang dari tempat kerja saya. Dulunya, tempat kerja tetangga toko saya ini zona nyamannya memang nyaman. Dia bekerja di Intercontinental Resort Jimbaran, sebuah hotel bintang 5 di Bali, yang membawahi beberapa orang yang khusus menangani para tamu Japanese mereka.

Dilihat dari jabatan dan penghasilan, jelas dia sangat berkecukupan. Kalau mau terus berkarir di hotel itu, nampaknya status sosial masyarakat yang disandangnya akan cukup membuatnya disegani. Zona nyaman yang mengitarinya akan cukup membuatnya betul-betul nyaman. Gaji besar dan kedudukan tinggi lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia.

Namun, seorang yang memiliki jiwi bisnis atau enterpreneur didalam hatinya, gaji besar dan jabatan tinggi bukanlah impian akhirnya. Impian akhir sekaligus terbesarnya adalah memiliki usaha sendiri. Dengan memiliki usaha sendiri, kreativitas seseorang tidak akan terbendung oleh aturan-aturan tempat kerja mereka. Dengan memiliki usaha sendiri, seseorang akan jauh lebih mandiri dan tangguh. Lebih terbuka dalam menerima kritik atau masukan. Dan yang lebih penting, nasib ini ditentukan oleh diri sendiri, bukan oleh bos dimana dia bekerja.

Simpati saya tunjukkan ke tetangga saya itu, dengan banyak memberikan kata-kata penyemangat ketika sedang beres-beres membawa pulang kembali perlengkapan warungnya. Sambil berjanji kepadanya bahwa saya akan main kerumahnya kapan-kapan. Kelihatannya dia bisa menjaga emosinya. Raut mukanya terlihat biasa sewaktu terakhir kali berpisah dengan saya. Namun, saya yakin, kepedihannya yang tak terlihat pasti sempat muncul dalam hatinya

Kepedihannya itu adalah wajar. Jangankan menutup sebuah usaha yang sudah dirintisnya, usaha yang sedang mengalami hari-hari sepi dimana pendapatan merosot saja, pasti mengalami kepedihan, entah sedikit atau banyak. Sebetulnya, terlebih disaat sepi seperti inilah, kesempatan menerapkan kreativitas kita yang luar biasa sebagai anugerah default dari Yang Maha Kuasa, untuk membuat terobosan-terobosan baru, yang membuat keadaan sedang sulit menjadi lebih baik.

Justru disinilah seninya orang berwiraswasta. Jatuh bangun adalah hal biasa. Yang luar biasa adalah ketika jatuh dia bisa bangkit lagi untuk mengambil keberhasilannya, dan ketika bangun dia memberi manfaat sekaligus inspirasi untuk banyak orang lain.

Bangkit lagi kawan! Tidak ada namanya kegagalan. Yang ada hanyalah keberhasilan yang tertunda.

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | Tags: ,  | Leave a Comment
Wednesday, March 03rd, 2010 | Author: Arif Haliman

Coming Up! Setelah tengok kiri tengok kanan, akhirnya saya bersama istri memutuskan untuk menjadi Agen Resmi Ukhti wilayah Bali. Apakah Ukhti? Ini adalah merek baju dari bahan kaos untuk muslimah, remaja dan anak-anak. Produknya bisa dilihat di halaman Ukhti Busana Muslim. Ukhti sejenis dengan SIK Clothing dimana saya juga telah menjadi Distributor resminya untuk wilayah Bali. Lantas, mengapa sebelum bergabung bersama Ukhti harus tengok kiri tengok kanan? Yah, sederhananya, tengok kiri adalah melihat potensi pasar, dan tengok kanan adalah berdoa kepada Allah SWT :)

Potensi pasar, dalam arti kesempatan saya untuk bisa berhasil memasarkan merek Ukhti, insyaAllah terbuka lebar. Kompetisi untuk merebut hati calon pembeli Ukhti mungkin memang akan seketat dengan menarik pembeli SIK Clothing (Sedayu Ikhlas Kreasi). SIK memang muncul lebih dulu daripada Ukhti, mungkin itu sebagai faktor utama mengapa kelihatannya SIK masih menjadi primadona kaos muslimah dibanding dengan Ukthi, dimata para pembeli.

Namun, yang membuat potensi pasar Ukhti insyaAllah akan besar bagi saya adalah, dibanding dengan SIK, saya pribadi berpendapat Ukhti lebih bagus dalam disain. Meskipun sebagai pendatang belakangan, namun bisa dibilang Ukhti tampil lebih fresh dan variatif. Ukhti dalam memasarkan kaos muslimahnya, tidak hanya menyasar pemakai dewasa seperti yang dilakukan SIK, namun juga anak-anak.

Selain itu, new comer, asalkan bagus dan menarik, biasanya akan langsung bisa menarik perhatian calon pembeli. Mereka biasanya memang memerlukan sesuatu yang baru, sebagai alternatif dari produk-produk yang sudah ada. Dan yang paling penting, sesuatu yang baru juga bisa membuat penjualnya (yaitu saya) juga mendapat suntikan semangat baru :) Yang namanya bekerja, dalam hal ini jualan kaos, kalau sudah niat dan bersemangat, biasanya berbagai kemudahan dan kelancaran akan didapat. Law of Attraction kata Rhonda Byrne lewat The Secret nya. Hukum Ketertarikan kata orang Indonesia, atau above off all, “Aku menurut sangkaan hamba Ku”, firman Allah SWT.

Jadi, sederhananya, saya tinggal merasa dan berpikir bahwa usaha saya memasarkan Ukhti busana muslim akan berhasil, dan insyaAllah memang keberhasilan itu akan nyata adanya. Thoughts influence chance.

Terakhir, yang membuat lega, waktu yang diperlukan untuk menjadi Agen Resmi kaos muslimah Ukhti ini,  cairnya persetujuan sangatlah cepat: 1 jam saja! Mungkin ini tandanya jodoh :) Dibandingkan sewaktu melamar ke SIK untuk menjadi Distributor wilayah Bali, waktu yang diperlukan berdarah-darah: satu setengah tahun!

Penambahan merek baru di website http://www.muslimbusana.com milik saya ini akan semakin menambah kesemarakan produk baju muslim yang kami tawarkan. Keuntungan bagi pembeli adalah, adanya tambahan alternatif busana muslim yang bisa mereka pilih. Khusus untuk kategori kaos muslimah, dengan adanya penambahan Ukti busana muslim, total akan ada 4 merek produk kaos muslimah, setelah Sik Clothing Qirani dan Osmoes.

InsyaAllah bisa membawa tambahan semangat dan keberkahan baru. Amin.

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

eXTReMe Tracker