Archive for » February, 2010 «

Saturday, February 27th, 2010 | Author: Arif Haliman

Majalah SWA edisi terbaru (No. 04/XXVI/18 Feb-3Mar 2010) menurunkan artikel utama yang sangat menarik. Kolom Sajian Utama yang menjadi andalan disetiap edisinya kali ini membahas mengenai Digitalpreneur. Digitalpreneur adalah sebutan untuk pemilik usaha atau pemilik ide yang berkecimpung dalam dunia usaha berbasis 100% teknologi informasi. Digitalpreneur - seiring dengan maraknya kehidupan berinternet di Indonesia - memang sedang mewabah akhir-akhir ini. Untuk pengertian yang lebih sederhana, saya lebih suka menyebutnya Netpreneur. Dan saya, sebagai salah satu netpreneurs di Indonesia, merasa antusias untuk mengetahui sepak terjang mereka.

Ternyata, mereka yang berkecimpung dibisnis ini benar-benar luar biasa. Melebihi perkiraan saya selama ini. Bisa dikatakan, model bisnis (berikut produk bisnis) yang mereka usung sangat inspriratif. Selintas, kita menjadi lupa bahwa ini adalah Indonesia, dan bukan Amerika. Bahwa mereka ini adalah orang-orang Indonesia asli, dan bukan alien luar negeri. Seakan baru terbangun, pikiran saya tiba-tiba menyeruak ke permukaan, sadar bahwa karya teknologi informasi yang diusung anak negeri ini berpotensi akan (dan malah beberapa sudah) berkelas internasional!

Seperti sudah diketahui, banyak provider jasa internet yang berlomba menawarkan paket internet murah. Alhasil, kunjungan ke situs-situs yang bertebaran di internet semakin terbuka lebar. Ditunjang dengan kemunculan fenomenal Facebook, Twitter dan situs jejaring sosial lainnya, seakan usaha warnet yang dulu sempat saya perkirakan akan kembang-kempis, ternyata keliru. Umumnya, usaha warnet sekarang ini tetap eksis dan tampaknya bakalan tetap berjaya.

Tahu Kaskus.us ? Ini adalah situs komunitas asli bikinan anak negeri. Saat ini anggotanya lebih dari 1,3 juta orang! Dengan sekitar 50 buah perusahaan yang mengiklankan diri disana, bisa dibayangkan berapa penghasilan Andrew Darwin cs, yang memulai membangun situs ini dari sekedar hobi. Terilhami dari ini, lahir juga situs Koprol.com, yang menggabungan semua fungsi yang ada di Facebook, Twitter dan Plurk. Ada juga FUPEI (Friends Uniting Program Especially Indonesian), situs pertemanan asli Indonesia. Anggotanya bertambah sekitar 300 orang per hari. Tidak lupa kita sebut juga Beoscope, replikasi sejenis YouTube, namun karya asli Indonesia.

Disamping itu, perkembangan gadget juga luar biasa. Berbanding lurus dengan tingkat penggunanya yang juga semakin meningkat. BlackBerry, iPhone, dan smartphones lain yang semakin friendly terhubung ke internet adalah bukti konkret yang semakin memuluskan langkah pelaku bisnis industri berbasis online. Berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh situs berbasis komunitas atau pertemanan dengan bekerjasama dengan vendor smartphones, turut menambah kesemarakan bisnis ini. Sekedar mengingatkan, pengguna Facebook di Indonesia menempati urutan kedua pertumbuhan tercepat setelah Amerika.

Beragam aplikasi bikinan anak negeri mulai bertebaran. Aplikasi XL Mall adalah toko maya untuk pelanggan BlackBerry besutan Kemal Arsjad. Melalui XL Mall, pelanggan bisa membeli berbagai aplikasi seperti RBT, wallpaper, dsb. Dengan lisensi langsung dari RIM (Research in Motion), pemilik BlackBerry, Kemal mendapat kepercayaan penuh untuk mengembangkan aplikasi ini.

Aplikasi-aplikasi lain juga banyak. Sebut saja yang berkenaan dengan SMS reminder, SMS banking, dsb, yang kesemuanya itu berhubungan langsung secara realtime. Tidak ketinggalan juga game dan animasi. Nusantara Online adalah salah satunya. Presiden SBY bahkan merasa perlu untuk menyebut nama ini dalam sebuah kesempatan. Lalu ada juga Kendro Hendra dengan bendeta InTouch. Orang ini sudah terkenal tidak hanya didalam negeri, namun juga diluar negeri. Ketenarannya berkat keberhasilannya menciptakan sebuah device yang dibenamkan di Nokia Communicator. Device ini digunakan oleh Nokia untuk semua jajaran Communicatornya diseluruh dunia, dan itu adalah karya orang Indonesia.

Masih banyak lagi sebetulnya yang bisa diungkapkan mengenai sepak terjang pelaku netpreneurs. Apakah yang masih kelas ecek-ecek atau yang sudah high end. Bagi saya, lepas dari kelas teri atau kakap, pesan utamanya adalah seberapa tinggi pengaruh mereka kepada saya. Minimal, saya harus mendapat semangat mereka. Bahwa jalan yang saya pilih untuk terus menggeluti bisnis online (seperti penjualan busana muslim dan Car rental Bali) benar-benar terus bermasa depan cerah.

Mereka sudah membuktikannya. Saya juga sudah membuktikannya. Kamu juga mau ikut bergabung?

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | Tags: ,  | Leave a Comment
Wednesday, February 17th, 2010 | Author: Arif Haliman

Apakah memang begitu sulit mempertahankan pelanggan loyal? Relatif. Namun, kalau pertanyaan ini diajukan ke tukang jahit baju dan tukang label baju langganan saya, jawabannya adalah: Iya, memang sulit! Setidaknya, ini kalau pelanggan loyal mereka tersebut adalah saya. Ini berkaitan dengan kekecewaan saya yang mendalam kepada kinerja mereka baru-baru ini. Kepada repeat customer (pelanggan loyal) saja mereka bisa melakukan ini, apalagi kepada pelanggan baru?

Tapi, seperti halnya berbagai pengalaman bisnis lain yang saya alami, apakah itu menyenangkan atau menjengkelkan, saya selalu menerimanya dengan senyum-senyum saja. Jengkel dan dongkol, itu pasti. Tapi biasanya hanya sebentar. Saya menganggapnya sebagai vitamin untuk saya agar semakin kuat dan tahan banting. Menurut saya, justru dengan mengalami kejadian yang tidak mengenakkan itu kita akan banyak mendapatkan pengalaman, dan benar-benar akan semakin terasah dalam menjalankan sebuah usaha.

Kejadian tidak menyenangkan yang baru saja saya alami itu adalah, penjahit sontoloyo ini tidak bisa menepati waktu penyelesaian. Kalau alasannya masuk akal mungkin saya masih bisa terima. Tapi, alasan yang diajukan sungguh menggelikan. Dan itu mereka lakukan pada saat otak saya sedang peak season, alias banyak pikiran. Saya pada dasarnya adalah orang yang gak banyak omong, dan enak diajak kerjasama. Saya biasanya ‘ape kate loe’, tapi tentunya tetap ada modifikasi dari saya. Dalam hal ini, kalau saya minta selesai dalam 7 hari, tapi penjahit menyanggupi 10 hari, saya OK. 15 hari pun saya fine, sebagai tindakan antisipasi ‘expect the un-expected’ yang memang kerap muncul secara ajaib dalam dunia bisnis.

Tapi, kalau ternyata itu kemudian selesai dalam 20 hari, saya menjadi sangat tidak nyaman. Dan parahnya, waktu 20 hari itu hanya selesai 25%nya saja! Secara ajaib, setali tiga uang, penjahit label baju saya juga sama saja. Malah setingkat lebih parah. Setelah waktu 3 minggu yang dijanjikan, doi bilang : “Maaf pak, contoh label yang dibawa bapak kemarin hilang, jadinya belum saya kerjakan sama sekali.” Gubrak kuadrat! Dobel sontoloyo!! Astaghfirullah..istighfar..istighfar..Bagaimana bisa dua penjahit yang sama sekali tidak pernah berhubungan ini berkomplot serempak merongrong saya ? :)

Sekali lagi saya orangnya tidak banyak omong. Ape kate loe. Protes dengan banyak omong disertai omelan bukanlah gaya saya. Saya pakai cara lain yang menurut saya lebih elegan. Yaitu, diam saja, sambil bersumpah gak akan balik lagi! Apalagi naga-naganya bakalan gak ada kompensasi atas kerugian yang saya alami. Ya sudah, tanpa banyak ba bi bu, perhatian segera saya alihkan untuk segera mencari penjahit baju dan penjahit label baju baru.

Saya tersenyum geli. Sebab, malam 2 hari sebelumnya saya membeli buku berjudul Loyal for Life: Cara Membuat Puas Pelanggang yang Kecewa dalam 60 Detik karangan John Tschohl. Saya lega secepatnya telah mempraktekkan ilmu ini. Besok sorenya, ada kejadian salah satu pelanggan sewa mobil Bali saya kehilangan kunci mobil sewaktu dia sun bathing atau mandi matahari (berjemur) di pantai Kuta. Dia lalu menelpon saya dan bilang kecewa karena kuncinya hilang dan dia harus lekas pergi. Kecewanya bukan kepada saya selaku pemilik mobil, tapi kepada dirinya sendiri. Tahu situasinya demikian, saya berusaha untuk membuatnya puas kembali. Saya segera menyanggupi (kurang dari 60 detik) untuk saat ini juga meluncur ke Pantai Kuta dengan membawa kunci serep. Saya dan tamu saya sama-sama puas.

Nah, yang terjadi dengan kedua penjahit ini kebalikan dari apa yang saya baca dari buku tersebut. Alih-alih merayu saya agar tidak gondok, mereka seakan dengan enteng melepaskan saya. Sudah tidak ada kompensasi buat saya, tapi hanya berusaha membuat saya menjadi puas kembali dalam waktu 1- 3 minggu lagi, baju dan label akan siap semua.

Ini sudah sangat telat. Ibarat ilalang yang sudah meninggi yang telat dicabut, ini sama telatnya membuat saya terpuaskan kembali.

Selamat! Anda berdua baru saja kehilangan pelanggan potensial kayak saya. Cukup sudah kerjasama ini berakhir sampai sini.

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | Tags:  | Leave a Comment
Monday, February 15th, 2010 | Author: Arif Haliman

Well, pada akhirnya saya harus realistis. Realistis bahwa sebuah keinginan besar saya harus dipendam dulu. Keinginan atau cita-cita yang menurut saya sangat bombastis itu harus di reset. Keinginan yang tidak kebanyakan orang bisa gampang mewujudkannya itu, harus saya masukkan kotak dulu. Disimpan rapat, dan kuncinya - kalau perlu - harus orang lain yang menyimpannya tanpa saya tahu dimana disembunyikan. Ini demi agar saya tidak tergoda untuk kembali memikirkan keinginan itu, dan tetap fokus dengan keadaan sekarang.

Keinginan besar itu adalah: Bisa bekerja remotely full time di Jawa, tapi bisnis tetap berada di Bali. Apakah itu mungkin? 100 % mungkin! Yang membuatnya mungkin adalah karena bisnis saya murni 100% berbasis online. Salah satu keunikan dari usaha berbasis online adalah, biasanya masalah tempat dan waktu bisa diabaikan. Kita bisa melakukan kegiatan bisnis dimana dan kapan saja. Asalkan koneksi internet tetap tersambung, uang insyaAllah tetap bisa mengalir masuk :)

Pernah, Lebaran tahun 2007 kemarin, saya sampai 1 bulan pulang kampung meninggalkan Bali, dan bermukim (baca: menumpang di rumah ortu dan mertua) di Mojokerto, Jawa Timur. Pertanyaannya, apakah dalam 1 bulan itu saya tidak bekerja? Salah. Saya tetap bisa bekerja, dan tetap bisa menghasilkan uang. Layaknya usaha berbasis online lainnya, usaha car rental Bali saya tidaklah perlu ditunggui sehari semalam seperti toko di pinggir jalan. Usaha jenis online hanya mengandalkan komunikasi lewat email, chat dan henpon. Asalkan kita tetap bisa online dan ada sinyal telpon, bisnis tetap jalan. Jadi, untuk hal ini tidak menjadi masalah.

Bagaimana dengan usaha penjualan busana muslim saya? Terus terang, untuk yang ini ada beberapa kendala, tidak melulu mudah dikerjakan secara remote, salah satu contoh kendalanya adalah terbentur masalah lokasi. Seperti diketahui, beberapa produsen baju muslim tertentu, seperti SIK Clothing, mensyaratkan ketentuan proteksi wilayah. Sehingga mau tidak mau, istri saya sebagai distributor wilayah Bali, harus tetap berdomisili di Bali, kalau tidak ingin keanggotaan kita dicabut.

Terakhir, yang paling menyurutkan langkah saya untuk membesut cita-cita itu adalah, adanya usaha mandi bola yang baru saja saya dirikan. Ini adalah mainan saya terbaru. Review singkatnya bisa dilihat disini. Nih usaha betul-betul 100% offline, yang sebagaimana kebanyakan bisnis offline lainnya, masalah tempat dan waktu adalah hal utama. Artinya, usaha ini menuntut kehadiran fisik saya. Setidaknya, insyaAllah sampai setidaknya usaha ini sudah bisa berjalan stabil, seiring bergulirnya waktu.

Omong-omong, darimana saya bisa mendapatkan ide untuk mewujudkan cara hidup seperti yang saya inginkan itu? Inspirasi utamanya datang dari mantan bos saya. Saya dulu sempat bekerja di sebuah perusahaan semacam web hosting di Kuta. Itu berkisar antara tahun 2003-2007 (4 tahun). Pemilik bisnis ini adalah seorang bule dari Selandia Baru. Saya sangat akrab dengan bos saya ini. Untuk segala urusan mengenai aktivitas seluruh website perusahaan dan klien, hampir semuanya diserahkan kesaya. Termasuk juga apabila ada pertemuan (meeting) dengan klien yang hampir rata-rata semuanya juga bule, saya pasti ikut terlibat didalamnya.

Nah, bos saya ini punya kehidupan lumayan unik. Seringnya dia tinggal di 4 negara, yaitu Jepang, USA (Hawaii), Australia dan Indonesia (Bali). Ini tak lepas dari jabatannya sebagai Managing Director di sebuah perusahaan telekomunikasi internasional asal Amerika. Jabatan Managing Director ini semacam ketuanya para Manager. Jadi semua manager harus melapor kepadanya. Dan itu yang membuatnya harus sering-sering keliling dunia untuk memantau semuanya. Dari semua bule yang pernah saya hadapi, saya harus akui, bule ini adalah bule terbaik yang saya kenal.

Di Bali, secara pribadi dia sekalian mendirikan perusahaan web hosting yang didalamnya saya sebagai IT Programmernya. Diluar negeri sana pula, kabarnya dia juga punya bisnis ‘kecil-kecilan’ lainnya. Selama 4 tahun itu pula saya amati, nih orang kok bisa-bisanya hidup keliling dunia tapi perusahaannya bisa tetap bisa berjalan di Bali, tanpa adanya pengawasan secara fisik oleh pemiliknya. Bisnis jalan, pemiliknya juga bisa jalan-jalan. Luar biasa, bukan? Dan ajaibnya, sekarang pun, setelah 3 tahun saya telah hengkang dari sana untuk menjalankan bisnis sendiri, tuh perusahaan masih juga berjalan, dan sekarang malah sudah berlari, artinya semakin maju.

Dari pengalaman inilah saya berkesimpulan secara sederhana, pemilik usaha (seorang bule) yang berada diluar Indonesia saja masih bisa menjalankan bisnisnya yang berada di Bali, apalagi kalau pemiliknya asli orang Indonesia kayak saya, dan berada di pulau Jawa! Semestinya lebih gampang lagi!!

Untuk menggambarkan memang mudah, untuk mencapai Bali, hanya diperlukan 30 menit penerbangan dari Surabaya.

Namun, saya sadar sekali, walaupun keinginan saya tersebut harus tertunda dulu, saya yakin ini adalah bagian dari skenarion yang Diatas. Saya hanya harus bisa menyukurinya dan menjalaninya dengan fokus penuh. Apapun yang terjadi, semuanya wajib disyukuri. Bisa jadi saya memang belum siap untuk itu. Pasti ada hikmah yang diberikan kepada saya.

Mundur dulu selangkah, untuk kemudian melompat lebih jauh. Atau malah, saya sudah maju selangkah lagi, untuk kemudian melompat lebih jauh lagi?? Amin!

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | Tags:  | Leave a Comment
Saturday, February 13th, 2010 | Author: Arif Haliman

Dari sekian banyak jenis pekerjaan di masyarakat, berdagang (wiraswasta, atau memiliki usaha sendiri) adalah salah satu profesi yang sangat diapresiasi dalam Islam. Dengan berdagang atau berwiraswasta, insyaAllah diri kita akan menjadi mulia. Tentunya dengan catatan bahwa usaha atau bisnis yang kita jalankan itu bernilai ibadah, mengharap ridho Allah SWT semata. Dengan menjadi seorang pemilik usaha dan bukan karyawan, kita bisa membuka lapangan pekerjaan baru di masyarakat. Hal ini menjadikan kita kuat tidak hanya (insyaAllah) dari sisi ide dan finansial, namun juga kemandirian. Rasulullah sendiri pernah menjadi seorang pedagang di jamannya.

Sebuah hadits shahih berujar, muslim yang kuat lebih disukai daripada muslim yang lemah.

Seorang pemilik usaha akan dituntut untuk terus berinovasi dalam memajukan bisnisnya. Ini menjadikan akal pikirannya akan senantiasa fresh karena terus bermunculan ide-ide baru. Yang menarik, pelaksanaan ide-ide itu bisa diwujudkan sesuka kita, tanpa ada yang merintangi atau membatasi. Jauh daripada itu, kegairahan serta semangat yang meluap-luap itu seringnya akan berhasil diwujudkannya dalam hidup keseharian dalam bentuk aksi dan karya nyata, karena keyakinannya sangat tinggi.

Seseorang yang sedang dirasuki semangat wirausaha yang super tinggi, rasa percaya dirinya sangat besar, serta tahan banting dan cemooh. Apalagi hanya sekedar gunjingan kanan kiri, rasanya yang seperti itu bakalan lewat. Anjing mengonggong kafilah berlalu.

Ada sebuah hadits yang menjadi pelecut semangat bagi seseorang untuk segera beralih dari seorang karyawan menjadi usahawan: 9 dari 10 pintu rejeki adalah berdagang. Coba bayangkan, luar biasa bukan? Walaupun sebagian ulama menganggap kedudukan hadits ini tidak begitu kuat, namun setidaknya pesan moral yang dikandungnya sangatlah tinggi.

Berdagang disini bisa berarti berdagang apa saja. Berdagang barang, jasa, ide, dan sebagainya. Yang jelas, penekanan utamanya adalah kita sendiri yang memegang kelangsungan hidup usaha itu, alias sebagai pemilik (owner). Dengan menjadi pemilik sebuah usaha, maka kita bisa dikatakan telah membantu negara dengan salah satu contohnya membantu membuka lapangan kerja. Kita bisa memperkerjakan mereka dan menggajinya. Bukanlah ini adalah hal mulia? Tangan diatas (memberi gaji) selalu lebih baik daripada tangan dibawah (menerima gaji).

Oleh karena itu, dilihat dari derajat kemuliaan, bisa jadi seorang tukang bakso kemuliaannya lebih tinggi dari seorang menejer perusahaan, misalnya. Apa pasal? Tukang bakso itu bisa menggaji karyawannya tiap bulan (misal, tukang cuci piringnya), sementara menejer itu hanya mampu menerima gaji tiap bulan. Karenanya penting bagi kita untuk senantiasa jangan gede rumongso (GR), bahwa bekerja di sebuah gedung jangkung mewah yang senantias ber air-conditioning sebagai karyawan berdasi. Tetaplah rendah hati dan jangan sombong. Karena bisa jadi, lewat ilustrasi contoh diatas, pedagang asongan di pintu pagar gedung kantor Anda jauh lebih mulia.

Hanya saja, hadits diatas janganlah dianggap sebagai harga mati bahwa berdagang adalah yang terbaik. Ingat, ada hadits ‘pembanding’ Rasulullah yang mengatakan “Kalau sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahli, maka tunggulah kehancurannya.”.

Menjalankan sebuah bisnis (misalnya baju muslim, sewa mobil di Bali atau usaha mandi bola) memerlukan keahlian tersendiri. Memerlukan kesabaran, kompetensi serta keberanian dalam menanggung resiko.

Seorang karyawan yang kurang sabar dalam memupuk kekayaan materi, tidak bisa dipaksa untuk menjadi pengusaha yang ulet. Pikirannya biasanya sangat cetek (dangkal) : jadi karyawan saja biar akhir bulan nanti langsung dapat gaji. Seorang pengusaha tidak bisa berpikir seperti itu. Pikiran seorang pengusaha jauh melampaui hitungan hari atau bulan. Hitungannya sudah tahunan, dan kadang malah tidak berujung. Raksasa rokok Sampoerna misalnya, boleh jadi pendirinya sudah meninggal dunia, tapi penerusnya tetap berhasil menjaga pemikiran empunya sehingga usahanya masih terus bercokol hingga sekarang.

Demikian juga mengenai kompetensi. Tidak semua orang bisa segera menjadi ahli, misalnya, dalam hal menawarkan sesuatu. Jika perdagangan identik dengan menawarkan sesuatu (offering), seorang yang berlatar belakang pekerjaan di belakang meja (akuntan, kasir, teller, dsb) kadangkala sangat sulit disuruh menawarkan sebuah produk. Jangan memaksa seseorang untuk menangani sebuah urusan, kalau dia sekiranya memang tidak atau belum ahli menanganinya.

Keberanian? Menjadi usahawan sudah pasti butuh keberanian. Keberanian menanggung rugi, menjadi melarat, dimaki orang, diremehkan dan dicemooh orang, adalah bagian dari resiko keseharian seorang pemilik usaha. Di Indonesia masih banyak warganya yang penakut. Dengan indikasi sangat sedikit yang berprofesi sebagai usahawan dan cukup merasa nyaman menjadi karyawan.

Oleh karena itu, kita harus bijaksana. Menjadi usahawan bukanlah keharusan. Menjadi usahawan adalah pilihan. Namun, ini adalah sebuah pilihan yang memang betul-betul sangat dianjurkan untuk dipilih. Sebuah pilihan yang insyaAllah apabila kita kuat mewujudkannya, maka kemuliaan jauh lebih tinggi yang akan kita raih.

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Bisnis, Islam, Opini  | Tags:  | Leave a Comment
Saturday, February 06th, 2010 | Author: Arif Haliman

Saya baru saja punya bisnis baru. Bisnis ini jauh dari hiruk pikuk bisnis berbasis online dengan teknik SEO, SERP, Google, Yahoo, Analytics, Page Ranking, dsb yang menyertainya, dimana selama ini saya telah dan sedang menggelutinya untuk bisnis baju muslim dan sewa mobil di Bali saya. Bisnis baru ini ramai dengan hiruk pikuk seliweran kendaraan bermotor, jeritan anak kecil, pendaran sinar matahari dan sedikit cipratan air hujan ketika sedang deras-derasnya. Bisnis apa gerangan yang sedang saya lakoni? MANDI BOLA.

Ya, sudah (alhamdulillah) 10 hari ini saya bersama istri buka usaha baru berbasis offline. Nama yang saya usung adalah Arena Bermain Mandi Bola Kidz Ballz. Sengaja memakai huruf ‘Z’ dan bukan ‘S’ karena saya dulunya (dan mungkin masih) adalah penggemar komik Dragon Ballz ;) Lokasinya berada dipinggir jalan dekat tempat tinggal saya di Denpasar, daerah Pemogan, tepatnya di pasar senggol. Menurut saya, kawasan pasar senggol seperti ini adalah contoh tempat yang ideal untuk membuka usaha dalam bentuk toko dipinggir jalan. Tidak saja pasar senggol, daerah ini juga terdapat juga beberapa minimarket, warung makan, warung internet, konter pulsa, pedagang martabak, pedagang mainan anak-anak, dsb. Pokoknya, kawasan ini sangatlah ramai.

Para bapak, ibu, dan anak-anak mereka seakan berkumpul jadi satu ditempat ini dengan berbagai keperluannya. Belum lagi dengan hilir mudik lalu lintas kendaraan di sepanjang jalan, lengkaplah sudah kawasan ini menyandang predikat pasar senggol plus plus :) Dari sekian banyak jenis manusia yang beredar disini setiap harinya, para calon pelanggan potensial saya adalah dari jenis anak-anak yang imut itu.

Lantas, apakah dengan kondisi kawasan seperti diatas, usaha mandi bola saya profitnya meledak? Hehehe..ternyata kagak! Atau, agar terdengar tetap optimis, belum! Bagaimanapun, tetaplah alhamdulillah. Ternyata, dari target minimal 30 anak per hari yang main disini, ternyata setelah di rata-rata hanya 12 anak saja. Dari sekian banyak kekurangan yang ada ditempat mandi bola ini, kekurangan terbesarnya adalah display kurang menarik.

Saya bersama istri mengambil kesimpulan seperti itu setelah saya mengambil gambar (menjepret) tempat ini dari berbagai sudut. Sudut-sudut yang dimaksud adalah, sudut pintu masuk toko, sudut tempat parkir, sudut seberang jalan dan sudut pintu keluar minimarket Karunia Dewata. Terutama dilihat dari sudut pintu keluar Karunia Dewata yang menjadi target paling potensial saya, image tempat mandi bola saya terlihat seperti gabungan gudang kosong dan anak pengemis tidur didalamnya. Sepi, kurang greget, dan tidak gemerlap.

Selain itu, para pengendara bermotor yang lalu lalang didepan toko saya, jarang yang berkesempatan untuk menengok ketempat saya. Sebabnya, karena tidak ada sign dipinggir jalan. Diawal-awal ini, saya agak kesulitan untuk memasang sign disana, terutama karena lahannya sudah sulit. Mudah-mudahan kedepannya akan lebih mudah. Untunglah, saya menyadari adanya berbagai kekurangan ini. Jadi langkah selanjutnya untuk perbaikan sudah ada didalam kepala. Tinggal dieksekusi.

Saya bukanlah orang yang berkesenian. Membuat display yang ciamik bukanlah bakat dan keahlian saya. Namun, setidaknya, dengan tekad menjulang tinggi ke angkasa sana, mau tak mau saya harus tetap mempelajarinya dan menjadi sedikit lebih ahli. Saya berkeinginan untuk memasang neon box diatas spanduk mandi bola saya. Selain itu juga neon box lagi didalam ruangan dengan berbagai macam tulisan yang menarik. Saya juga akan menurunkan sedikit posisi gambar kartun Donald Bebek, Dora, Spiderman dan konco-konconya ini dari tembok. Memutar posisi kolam bola dan slurutannya (perosotan ?) Harapannya, bahkan dari kejauhan seberang jalan, mata anak-anak yang imut itu akan langsung menangkap pesan yang coba saya lontarkan dari tempat ini: Ayo, bermain bola disini ya? Asyik lho..Hore! Begitulah.

Kalau ilmu Marketing Mix datang dengan 4P-nya, above of all, kayaknya Promotion adalah kekurangan saya. Saya merasa Place (pasar senggol Pemogan), Price (3500 rupiah per anak) dan Product (satu-satunya di Denpasar untuk mandi bola kelas pinggir jalan) sudah sangatlah sempurna. Namun, terkendala dengan pembagian waktu yang luar biasa sejak dari pengadaan perlengkapan mandi bola, dekorasi ruangan, mengatur para tukang, sampai urusan tetek bengek kayak pembuatan karcis masuk, saya malah melupakan yang namanya Promotion ini. Promosi yang saya maksud disini adalah seperti pembuatan brosur kemudian menempelkannya di pinggir-pinggir jalan. Saya baru menyadari pentingnya hal ini setelah bisnis ini jalan beberapa hari.

Tapi, saya semakin menyadari, sebetulnya 4P itu masih bisa kita koreksi. Ada lagi satu P yang tidak kalah pentingnya, yaitu Pray. Dengan doa, hati dan pikiran kita menjadi tenang. Kalau ramai, kita bersyukur dan tidak jumawa. Kalau sepi, juga tetap bersyukur dan tidak putus asa. Kita semua harus segera menghubungi Mr. Maslow, agar 4P diganti menjadi 5P :)

Saat ini, sepi atau ramai, saya menikmati menjalankan usaha ini. InsyaAllah semoga hari-hari kedepan tetap diberi ketetapan oleh Allah SWT untuk terus menikmatinya. Bisnis konvensional seperti ini, yang membuka stand toko dipinggir jalan, adalah betul-betul hal yang baru buat saya. Perlu strategi dan pendekatan baru. Saya tinggalkan dulu konsep SEO dan SERP yang menyertai keseharian dalam bisnis online saya.

Untuk berhasil di bisnis ini, wajah dengan senyuman lebar sampai mendekati kuping adalah lebih utama.

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Bisnis  | Tags: ,  | 8 Comments
eXTReMe Tracker