Archive for » 2010 «

Thursday, July 15th, 2010 | Author: Arif Haliman

Ide peluang usaha ini saya dapatkan sewaktu beberapa hari kemarin mengantar istri periksa kandungan insyaAllah anak kami yang ke 2. Sebelumnya, bahkan sebelum istri menunjukkan tanda-tanda kehamilan, kami sudah berbicara mengenai keinginan untuk periksa kandungan, dan sekaligus nanti proses persalinan, ditangani oleh seorang dokter muslimah. Alasannya jelas: istri saya adalah seorang wanita. Mestinya, yang menangani seputar masalah kandungan dan persalinan nanti juga seorang (dokter) wanita.

Jamak diketahui, salah satu bidang kerja seorang dokter kandungan adalah ‘mengobok-obok’ seluruh bagian vital seorang wanita yang sedang mengandung dan melahirkan. Profesi dokter kandungan, meskipun pasiennya 100% adalah kaum hawa, tidak mesti harus seorang hawa. Dokter kandungan juga bisa dilakoni oleh kaum adam. Masalahnya, seperti disebutkan diatas, bidang kerjanya untuk beberapa hal hampir sama dengan yang biasa dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya.

Hanya kalau memungkinkan, yang seperti ini sebisa mungkin semestinya kita hindari. Kalau bisa kita harus mencari seorang dokter kandungan wanita untuk ‘mengobok-obok’ istri kita. Terlebih kita sebagai seorang muslim, sekali lagi hanya kalau memungkinkan, kita harus mencari seorang dokter kandungan muslimah. Bukannya apa-apa, soalnya beberapa hadist Rasulullah Saw. menyebutkan larangan bersentuhan antara seorang lelaki dan perempuan yang tidak memiliki hubungan darah, misalnya sekedar bersalaman. Nah, bersalaman saja tidak boleh, apalagi ‘mengobok-obok’ seperti yang saya maksud diatas.

Memang, unsur darurat diperbolehkan dalam agama Islam. Seperti yang kami alami dahulu ketika istri melahirkan anak pertama di Bali. Di Bali, termasuk di kota Denpasar, muslim adalah minoritas, dan kita menerima fakta itu. Waktu itu saya tidak berpikir panjang dimana sebaiknya istri melahirkan. Pokoknya melahirkan, titik. Kesempatan berpikir tidak ada karena minimnya informasi, kesibukan keseharian, dan mungkin juga kepanikan. Akhirnya, istri melahirkan di RSUD Sanglah Denpasar, ditangani oleh dokter kandungan pria, dan bukan seorang muslim.

Alhamdulillah, untuk persiapan anak ke 2 ini, kami sudah mendapat beberapa informasi mengenai dokter kandungan muslim di Bali. Khususnya di Denpasar, ada beberapa dokter kandungan muslim, walaupun memang tidak banyak. Tidak hanya itu, dokter kandungan muslimah di Denpasar juga ada. Namanya dr. Yumi. Prakteknya di sebuah apotek di Jl. Cokroaminoto Denpasar, dekat kearah terminal bus antar kota Ubung. Area ini mudah dijangkau dari arah manapun di Denpasar, dan semua orang Denpasar pasti tahu lokasi ini. Alhasil, untuk periksa segala urusan kehamilan, saya selalu mengantar istri untuk periksa kandungan di dr. Yumi.

Keberadaan seorang dokter kandungan muslimah disini patut disyukuri. Setidaknya, yang memeriksa istri kita adalah juga seorang wanita, dan terlebih lagi juga seorang muslimah. Ini adalah awal yang baik. Niatan yang baik. Sebuah niatan yang baik, apapun itu, insyaAllah bisa membawa barokah dan ketentraman.

Bagi kamu yang sedang atau akan tingal di Denpasar Bali, dan istri kamu sedang mengandung, informasi ini mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan.

Lalu, mengenai penggunaan judul yang membawa awalan kata ‘Peluang Usaha’, ini hanyalah dasar saya saja yang seorang pengusaha. Jadinya, segala bentuk peluang apapun, asal bisa menghasilkan duit, akan saya sebut peluang usaha, sekalipun peluang usaha ini ‘menyerempet’ profesi sebagai dokter :) Lagipula, dokter juga tidak menolak uang yang banyak, bukan? ;)

Ini adalah sekedar ikhtiar. Berusaha sebaik mungkin, tapi Allah Swt jugalah segala hasil akan kembali.

Wassalam,

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Tuesday, July 13th, 2010 | Author: Arif Haliman

Hari ini adalah pertama kali bagi anak saya masuk sekolah TK (Taman Kanak-Kanak). Hari ini juga dia baru pertama kalinya memakai yang namanya seragam. Bawahan biru dengan atasan putih. Warna yang senada untuk jilbab yang dipakainya. Dia terlihat cantik, seperti biasanya dengan pakaian apapun yang dia kenakan. Nama TKnya adalah TK Ya-Bunayya di daerah Pemogan, Denpasar.

Namanya Tika. Sekarang umurnya 4 tahun 3 bulan. Dan selama umur itu pula saya benar-benar bersyukur masih diberi kepercayaan oleh Allah SWT untuk tetap bisa bersama dan mendampinginya. Alhamdulillah, masih tetap diberi kesehatan untuk bisa bermain dan menatapnya sepanjang hari. Teringat beberapa anak yang belum genap seumur Tika, bahkan sudah harus kehilangan tatapan mata ayahnya, karena ayahnya sudah dipanggil Yang Maha Esa.

Ibu dan anak bersiap berangkat sekolah

Ibu dan anak bersiap berangkat sekolah

Tidak terasa yang dulu anak-anak, sekarang sudah punya anak :) Rasanya masih tidak percaya bahwa saya bisa juga punya anak ;) Bukannya apa-apa, mengingat dulu sebegitu culun dan gobloknya, kok sekarang jadi makin culun aja hehehe…Masih segar dalam ingatan saya, mengenai debut pertama saya dalam menjalani pendidikan formal, yaitu di TK. Jarak sekolah yang hanya 30 meter itu, tidak membuat saya semangat ‘45 untuk segera berangkat. Ada-ada saja alasan untuk bisa sedikit lemot dan ogah-ogahan. Kakak saya bahkan sampai harus nendang bokong saya berulangkali agar lekas berangkat. Saya yang sangat imut waktu itu, dengan bersungut-sungut mau tidak mau harus berangkat juga akhirnya. Dengan bonongen di jidat (tahu bonongen? Itu benjolan item sebesar kira-kira 2x telur puyuh penyakit khas anak kecil waktu itu), plus kaleng air minum dan kotak kue yang super besar, saya lebih mirip alien dari Neptunus yang kelaparan daripada cowok imut yang sedang berangkat ke TK.

Namun sebelumnya, pagi itu, saya sudah harus menerima berbagai macam ‘teror’ dari orang tua, terutama ibu, untuk segera bangun dan mandi pagi. Waktu itu, pukul 6 atau 7 pagi adalah masa-masa masih melungker di kasur dengan iler mengalir kemana-mana. Sudah gitu, enaknya, kadang-kadang masih dibelai juga dengan lembut. Kondisi senyaman itu sudah saya jalani selama 4 tahun, tepatnya sejak lahir ceprot dari perut ibu. Dan sebagaimana anak-anak lainnya seumuran cendol, segala gangguan sekecil apapun membawa potensi hilangnya kenyamanan.  Oleh karena itu, bisa dibayangkan bagaimana dongkolnya hati ini menerima segala macam teror, sepagi itu.

Tetapi, setelah lebih 25 tahun kemudian, teror yang sama itu jugalah yang saya layangkan ke anak saya pagi ini (Hu..hu.ampun ibu.. bapak, kenapa dulu saya kok merasa dongkol, ya?). Bahu-membahu bersama istri saya (yang lagi hamil 2 bulan), Tika yang masih tertidur pulas dengan iler masih menetes dan udel menyembul dari bali baju tidurnya, kami teror juga tanpa ampun.

Pertama adalah menggoncang-goncangkan badannya berulangkali secara brutal. Setelah itu saya kitik-kitik kakinya. Tidak mempan dan masih melungker, saya kitik-kitik pinggangnya, more brutal. Biasanya, tahapan seperti itu sudah bisa membuatnya bereaksi: Tendangan kaki ke muka atau badan saya. Saya yang sudah hapal arah tendangannya, masih bisa ngeles, walaupun muka saya nyaris pesek, hehehe.. Beberapa waktu saya teruskan ktik-kitik pinggangnya, biasanya dia sudah mampu membuka matanya.

Pada tahapan ini, matanya biasanya sudah bisa ketap-ketip, dan bisa diajak omong. Ya sudah, lalu saya ajak bercanda yang respon selanjutnya adalah senyum-senyum. Untuk membuat senyumnya lebih mengembang, saya ingatkan bahwa kamu harus berangkat sekolah pagi ini dengan memberi gambaran sedikit suasana sekolah yang sangat menyenangkan itu. Bahwa disana nanti akan bertemu banyak teman-teman dan ibu guru. Diajari baris-berbaris. Saya ajari kalau ditanya ibu guru namanya siapa? Jawab dengan keras: “Tika!”. Kalau ditanya lagi siapa yang suka bangun pagi? Jawab dengan keras: “Tika!!”. Kalau ada lagi siapa yang sudah tidak nangisan? Jawab dengan keras: “Tika!!!”. Semua ajaran itu diserapnya dengan baik, sambil tidak lupa untuk acung tangan tinggi-tinggi sembari menjawab.

Selanjutnya dia sudah bisa gulung-gulung di kasur. Walaupun masih belum bangkit, tapi ini sudah pertanda baik. Artinya, dia sudah siap menerima teror berikutnya yang tak kalah brutal. Ujug-ujug datang sang istri tercinta, tanpa ba-bi-bu langsung menarik seprei kasur. Alhasil, tarikan itu mau tak mau membuat Tika harus bergulingan sampai ke pinggir kasur. Di posisi seperti itu, mudah bagi kita kemudian untuk bisa segera menangkapnya dan membawanya ke kamar mandi :)

Fase baru sedang dimasuki oleh anak saya. Fase baru pula kami sebagai orang tua dalam mendampingi anak masuk masa sekolah.

Selamat menikmati hari-hari sekolah, ya nak! InsyaAllah semakin bertambah cantik dan pintar.

Semoga tetap Engkau berikan pertolongan dan barokah, ya Allah..

Wassalam,

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | One Comment
Saturday, May 01st, 2010 | Author: Arif Haliman

Beli tiket pesawat terbang murah. Tiket pesawat murah. Tiket pesawat terbang murah ke Bali. Ya, ini adalah beberapa kalimat yang sering kita ajukan ke petugas ticketing pesawat terbang. Secara garis besar, orang mencari membeli tiket pesawat terbang, ada 2 hal. Pertama, mencari waktu yang tepat perihal jam keberangkatan. Kedua, mencari harga tiket termurah untuk tujuan tertentu, Bali, misalnya.

Indonesia adalah pasar yang besar. Dengan jumlah penduduk diatas 200 juta, tidak bisa dipungkiri, ini adalah pasar yang sangat besar. Sebagaimana negara lain dengan jumlah penduduk yang sangat besar - seperti Cina, India, Amerika, Brazil - Indonesia tidak bisa dipandang enteng dalam hal potensi ekonominya. Ditambah lagi dengan semakin membaiknya iklim perekonomian di dalam negeri akhir-akhir ini, kembalinya Indonesia menjadi kekuatan baru Asia, bahkan dunia, adalah sebuah keniscayaan.

Berbanding lurus dengan semakin membaiknya perekomonian di Indonesia, berbagai layanan transportasi, terutama transportasi udara, juga semakin bergairah. Kita bisa melihat, akhir-akhir ini para maskapai penerbangan di Indonesia, terutama Garuda Indonesia, Lion Air dan Mandala, berlomba-lomba menambah dan memperbarui armada mereka dengan pesawat yang jauh lebih baik. Indikasi ini semakin menunjukkan bahwa prospek dunia penerbangan Indonesia sangat menjanjikan.

Berbicara tentang pesawat terbang, seperti halnya layanan transportasi lainnya, tentu tidak lepas dari yang namanya tiket. Berbicara tiket pesawat, tentu tidak lepas dari yang namanya agen penjualan tiket. Dan, pada akhirnya, tentu tidak lepas dari yang namanya uang. Uang kita gunakan untuk membeli tiket itu lewat agen yang ada. Ya, secarik kertas ini adalah yang menentukan apakah kita bisa terbang atau tidak.

Seminar Bongkar Rahasia Sukses Bisnis Tour & Travel yang saya hadiri pada tanggal 30 April 2010 di Hotel Puri Ayu Denpasar kemarin, mengupas tuntas mengenai pertiketan (ticketing) dunia penerbangan. Seminar ini diadakan oleh MMBC (PT Medusa Multi Business Centre), yang dikomandani Pak Zulkarnaeni. Selain mengadakan seminar, tentu saja ada misi lain yang dibawa. Mereka menawarkan sistem ticketing yang mereka jalankan kepada semua peserta seminar, lewat sistem franschise (waralaba). Yang waralaba adalah apa yang mereka sebut Cabang (dengan membayar registrasi 50 juta), dan yang kemitraan biasa mereka menyebutnya Agen (dengan hanya membayar registrasi 2,5 juta).

Dilihat dari segi bisnis - kata mereka kalau kita mau lekas kaya - lebih baik menjadi Cabang. Memang lebih banyak keuntungannya kalau hanya sekedar menjadi Agen. Namun, bagusnya, duanya-duanya memberi kita akses log in langsung ke situs maskapai sehingga kita bisa berjualan tiket secara langsung! Setelah log in, kita bisa melihat semua harga tiket, lengkap dengan harga promo, kalau ada. Juga, kita bisa melihat kursi mana yang sudah kosong (reserved), dan mana yang masih tersedia (available).

Di seminar ini juga dibahas strategi mendapatkan harga promo dari maskapai. Strategi membuat pembeli tiket puas walaupun sebetulnya dia membayar ‘lebih mahal’. Menurut saya setelah mendengarkan paparan mereka, rata-rata, terutama kalau kita menjadi Cabang, dari bisnis penjualan tiket ini kita bisa mendulang Rp 50.000 / tiket. Kalau kita (atau karyawan ticketing kita lebih canggih lagi cara jualannya), pendapatannya bisa lebih tinggi lagi. Ini adalah jumlah yang lumayan, mengingat kita bisa menjalankan usaha ini 100%  online. Mau yang konvensional dengan cara membuka toko pinggir jalan juga bisa, asal siapkan dana untuk sewa tempat dan didatangi tukang pajak :)

Percaya saja kalau saya bilang dunia penerbangan Indonesia sekarang ini sangat bergairah. Cukup 2 alasan saja, ya. Pertama, saya sering pergi ke bandara Ngurah Rai Bali untuk jemput tamu Bali car rental saya. Saya tahu persis bagaimana selalu ramainya terminal kedatangan dan keberangkatan, baik di domestik maupun internasional, oleh para pengguna jasa pesawat terbang. Dari pagi sampai malam memang begitu. Ini menandakan, frekuensi penerbangan, baik domestik atau overseas terutama di Bali, memang betul-betul ramai.

Alasan kedua, tidak sekedar menyaksikan keramaian dunia penerbangan di bandara, kali ini saya melihatnya langsung dari pesawat. Bulan lalu saya pergi ke Jakarta dengan Lion Air untuk sebuah seminar. Pesawat yang saya tumpangi, baik one-way atau returnnya, penuh penumpang. Saya sangat yakin bahwa penerbangan lainnya juga pasti ramai. Di bandara Sokarno-Hatta Jakarta terlihat hilir mudik penumpang untuk penerbangan sebelum atau sesudah saya yang jeda waktunya hanya 30 - 45 menit saja itu. Jalur Denpasar - Jakarta dan Denpasar - Surabaya adalah yang tergemuk. Bayangkan, saat ini, Lion Air saja ada 8 kali penerbangan Jakarta - Denpasar pp per hari.

Mari kita berhitung sedikit tentang keuntungan. Rp 50.000 per tiket. Kalau sehari kita bisa menjual 10 tiket saja, untung kita Rp 500.000. Kalau dikalikan 30 hari, hasil yang didapat adalah Rp 500.000 x 30 = Rp 15.000.000. Bagaimana, masuk akal? Asumsi keuntungan diatas adalah dengan hanya 1 karyawan saja. Ingat, bagian ticketing ini bisa dikerjakan siapa saja. Lulusan SD, SMP, atau SMA bisa kita terima. Bahkan, tidak pernah sekolah pun bisa. Asalkan, dia mengetahui bagaimana cara menggerakkan cecurut, dan mengerti sedikit internet. Bagaimana kalau kita punya 3 karyawan ticketing yang semuanya canggih dalam berjualan tiket? Ya, tak usah muluk-muluk dikalikan tiga. Cukup kali 2 saja: Rp 15.000.000 x 2 = Rp 30.000.000. Itulah keuntungan kita dari berjualan tiket pesawat terbang!

Bali dikunjungi oleh banyak sekali wisatawan. Asumsinya silakan dirujuk pada 2 alasan saya diatas. 10 tiket sehari mestinya bukanlah jumlah yang berat. Jumlah penumpang per hari rata dari Lion Air 1.600 penumpang. Ini didapar dari 8x penerbangan x 200 jumlah penumpang per pesawat (eh, berapa sih jumlah penumpang yang bisa diangkut 1 pesawat?). Ingat, ini adalah per hari per jalur per maskapai (DPS - JKT, Lion Air). Silakan dikalikan lagi untuk beda jalur, beda maskapai, dsb.

Saya sangat tertarik untuk ikutan di bisnis ini. Lingkungan saya sudah siap untuk mendukungnya. Saya punya beberapa website mengenai sewa mobil Bali dan hotel di Bali. Dari situ saja saya sudah siap ‘menyisipkan’ ticketing ini diantara halaman-halaman web saya, untuk berjualan. Juga, saya dan para kru rental mobil saya juga sering bertemu langsung dengan penyewa mobil kita, yang tentunya peluang untuk menjual tiket sangat terbuka.

Tetapi, investasi ini maybe next time saja ;) Saat ini, ‘menahan’ uang sebanyak-banyaknya untuk sebuah rumah impian nang ciamik tahun depan, insyaAllah, adalah termasuk investasi juga :)

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Thursday, April 29th, 2010 | Author: Arif Haliman

Saya sedang banyak hutang. Eits, tunggu dulu, bukan hutang uang, tapi hutang membaca. Hutang membaca? Iya, hutang membaca. Maksud saya, di rumah sedang menunggu saya 5 buah judul buku baru yang kesemuanya masih belum saya khatamkan. Ini adalah hal yang mengherankan. Sebelumnya, belum pernah saya sampai berhutang membaca sebanyak ini. Paling banter biasanya hanya 2 buah judul buku. Kalau sekarang sudah sampai hitungan 5, berarti ada yang menjadi penyebab utama.

Saya gemar sekali membaca buku. Oleh karena itu, dalam setiap kesempatan putar-putar kota Denpasar - Bali bersama istri dan anak, saya selalu menyempatkan diri untuk masuk ke toko buku. Kalau dibuatkan semacam visiting list atau daftar kunjungan kalau saya sedang ada acara keluar rumah, toko buku ada di urutan ketiga. Sebelumnya yaitu masjid, lalu airport,  kemudian tempat makan :) Khusus untuk tempat makan (tidak peduli kelas warteg hingga lalapan lele, atau kelas KFC hingga Papa Ron’s Pizza), sebisa mungkin tidak terlalu sering. Lebih menyehatkan makan di rumah saja daripada nongkrong ditempat makan kayak gitu. Suer!

Sekedar informasi, di Denpasar terdapat toko buku besar seperti Gramedia, Gunung Agung dan Toga Mas. Gramedia disini ada 2 buah, satu di Duta Plaza Denpasar, dan satunya lagi di Bali Galeria Kuta, lebih kurang 5 menit perjalanan mobil ke arah Airport Ngurah Rai Bali. Kalau ingin melihat koleksi buku yang lebih komplet, Gramedia Bali Galeria Kuta adalah pilihannya.

Untuk toko buku Gunung Agung, di Denpasar juga ada 2 buah. Satu di pertokoan LIBI Plaza Denpasar, dan satunya lagi di Mall Bali Ramayana. Untuk toko buku Toga Mas, hanya ada satu buah di daerah sekitaran Jl. Hayam Wuruk Denpasar. Untuk kamu yang hobi diskon dan berstatus mahasiswa, lebih baik datang ke toko buku ini. Program diskonnya berjalan secara kontinu, dan ini yang menjadi daya tarik mereka, disamping sampul gratis buku yang kita beli.

Kembali ke topik, selidik punya selidik, ternyata penyumbang terbesar menumpuknya hutang membaca buku, karena adanya hiburan baru di rumah saya. Seperti saya tulis disini, kegiatan baru ini lumayan menyita waktu saya untuk membaca buku. Mohon maklum, seperti hal baru lainnya, tentunya ini akan mencuri perhatian kita. Rutinitas kita akan sedikit berjalan berbeda. Dan tergantung dari seberapa lama perhatian kita akan tercuri oleh hal baru tadi, biasanya kehidupan normal akan berangsur-angsur pulih ;)

Televisi berlangganan seperti ini sungguh mengasyikkan. Selain membaca buku, saya juga hobi nonton film. Dalam periode waktu tertentu, saya biasanya selalu menyewa film-film mutakhir di Zinemax atau Video Ezy. Nah, berbicara tentang adanya Indovision di rumah, yang tentunya lengkap dengan saluran film-film HBO (Home Box Office), bisa dibayangkan apa jadinya. Ya, alokasi waktu membaca saya (biasanya siang hari sebelum tidur siang dan malam hari sebelum tidur malam), berubah menjadi alokasi waktu untuk mononton film ;)

Bahan bacaan di rumah bagi saya adalah kewajiban. Tidak enak rasanya kalau tidak ada buku yang bisa dibaca. Rutinitas keseharian seakan ada yang hilang kalau tidak ada acara baca buku. Alhamdulillah, hobi ini banyak membawa kebaikan. Saya mulai menyukainya sejak di bangku sekolah dasar. Pada waktu itu, bacaan yang mendominasi adalah komik-komik seperti Doraemon, Dragon Ballz, Trio Detektif, Empat Sekawan, Lucky Luke, Tin Tin, Smurf, dan sebangsanya. Dan, hobi membaca ini jugalah penyebab saya sudah harus berkacamata sejak kelas 2 SMP.

Kebiasaan membaca akhirnya membuat saya gemar menulis. Pada usia sekolah dasar, satu dua cerita pendek (cerpen) saya pernah dimuat di majalah mingguan anak-anak Mentari Putera Harapan (kayaknya sudah almarhum). Begitu juga untuk kolom humor. Saya rajin mengirimkan humor ke majalah itu via kartu pos. Kalau cerpen, harus diketik pakai mesin ketik dan dimasukkan kedalam amplop. Honor yang diterima seingat saya sungguh lumayan: Rp 20.000 per cerpen, dan Rp 2.000 per humor.

Di majalah Mentari, ada satu tokoh Hamindalid Si Penyihir Jenaka yang sangat saya sukai. Semua anak yang membaca majalah ini pasti menyukai dia. Ketenarannya waktu itu, mungkin hanya bisa disejajarkan dengan tokoh Bobo, atau Paman Gembul di majalah Bobo Sahabat Anak (Majalah Bobo masih eksis sampai sekarang).

Jaman saya SD, belum ada teknologi digital secanggih sekarang ini. Kalaupun ada, pasti hanya segelintir orang yang sudah menikmatinya. Komputer saya belum punya, apalagi flash disk! Kalau ada, mungkin cerpen saya di majalah itu masih ada di komputer atau flash disk saya hiks.. :( Hu..hu..hu..jadi rindu masa kecil.. ;)

Sekarang ini, sedang menunggu judul 5 buah buku yang harus segera dituntaskan:

1) One-way Ticket To Heaven : 5 Rahasia Meraih Sukses Sejati di Dunia dan Akhirat by Ateng Kusnadi

2) Strategi Sukses Para CEO Dunia by BusinessWeek

3) Aku Beriman, Maka Aku Bertanya by Prof. Jeffrey Lang

4) 50 Great Business Ideas from Indonesia by M. Ma’ruf

5) Lupus ABG: Suster Ngepoot! by Hilman dan Boim Lebon.

Ayo, hajar !

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Thursday, April 22nd, 2010 | Author: Arif Haliman

Bukan, ini bukan iklan saya untuk Indovision. Kebetulan saja, salah satu subyek tulisan saya kali ini adalah Indovision. Hal ini menyangkut pengalaman saya dalam memasang televisi satelit berbayar, baru-baru ini. Selain Indovision, sebetulnya ada pilihan perusahaan sejenis yang ada di Denpasar, misalnya Telkomvision. Bahkan saya terlebih dahulu mendatangi kantor Telkomvision daripada Indovision. Tapi, last minute, pilihan saya akhirnya jatuh kepada Indovision, Bukan Yang Lain :)

Dengan menonton beberapa siaran yang ada di Indovision, saya betul-betul bisa bernostalgia. Flash back sekitar 15 - 20 tahun yang lalu, dimana di Indonesia, kemunculan televisi-televisi swasta mulai bermunculan. Diawali oleh RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), diikuti SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia), dan kemudian banyak menuyusul stasiun televisi swasta lainnya. Pada waktu itu, saya sangat menyukai acara yang namanya komedi situasi (sitkom) dan serial asal Amerika. Semuanya pakai bahasa Inggris, yang tentu saja ada teksnya dalam bahasa Indonesia.

Waktu itu, menonton acara seperti yang saya sebut tadi, sungguh memberi hiburan tersendiri bagi semua orang, termasuk saya yang masih usia culun, duduk di sekolah dasar. Selesai menonton, saya biasanya langsung menghambur keluar rumah untuk bertemu konco-konco. Dibeberapa kesempatan lain bertemu teman-teman sebaya, baik disekolah ataupun bermain dirumah, salah satu obrolan hangat adalah membicarakan acara televisi tadi.

Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana saya bisa anteng di ruang tamu rumah, didepan televisi keluarga bermerek NEC 14 inch, yang seringkali gambarnya goyang-goyang tidak karuan. Saya sangat menyukai The Cosby Show dengan bintang utama Bill Cosby yang melegenda itu. Intro atau pembukaan acara itu yang semua orang pasti menyukainya, dengan seluruh pemain joget diiringi saksopon, ala musik jazz.  Ada Who’s The Boss yang dibintangi oleh Tony Danza si orang Itali itu, dengan gayanya yang khas. Tidak ketinggalan Taxi yang berseting di sebuah pangkalan taksi, duet Tony Danza yang masih sangat belia waktu itu, dengan Danny De Vitto, pemeran Penguin di Batman Return.

Menonton kembali sitkom-sitkom jadul diatas sekarang ini, sungguh masih bisa membuat tergelak. Ternyata kelucuan mereka masih saja relevan sampai sekarang. Dulu sewaktu masih kanak-kanak, saya pasti ngakak demi mendengar lelucon mereka. Dan sekarang, saat sudah punya anak, saya masih bisa juga ngakak dengan lelucon yang sama. Sungguh hebat mereka. Bahkan ngakaknya jadi jauh lebih asyik, karena saya ngakak didepan SHARP Aquos, televisi layar lebar 32 inch yang lembut itu (dan gambarnya tidak goyang-goyang lagi ;) ).

Masih ingat MacGyver? Ya, si jagoan yang tampan, karismatik dan selalu terampil dalam hal-hal teknis disetiap aksi serialnya, bisa ditonton juga di Indovision. Saya sebetulnya sangat ngebet untuk bisa menonton serial Knight Rider, dengan Michael Knight (diperankan David Hasselholf) si pengemudi mobil pintar bernama Kit. Kit ini mobil yang luar biasa pintar, soalnya dia bisa nyetir kemudinya sendiri :) Saya belum tahu apakah serial ini bisa ditonton disini atau nggak.

Untuk kamu yang sedang berusaha membersihkan otakmu dari tayangan-tayangan sampah khas segala macam sinetron Indonesia berikut infotainmentnya, saya merekomendasikan kamu untuk melakukan upgrade ke televisi berbayar seperti ini. Walaupun memang televisi Indonesia masih bisa ditonton disini, tapi setidaknya ada banyak pilihan tontonan. Kalau saluran televisimu hanya bisa menayangkan saluran televisi Indonesia, maka bisa dipastikan yang ada di otakmu juga hanya sampah. Bagaimana bukan sampah, kalau tiap saat tontonan yang menyergap kita hanya cerita aneh khas sinetron, berita menyebalkan dan memalukan para politisi kita, serta berita Saiful Jamil dan Krisdayanti yang doyan gonta-ganti pasangan!

Saya pribadi, sangat membatasi apa-apa yang masuk ke otak saya. Terutama dari tayangan televisi Indonesia itu, yang kebanyakan betul-betul membuat tolol para pemirsanya. Istri dan anak saya juga tidak luput dari wejangan saya untuk tidak menonton acara seperti ini. Otak dan pikiran saya terlalu berharga untuk disia-siakan demi menonton acara-acara model begitu.

Akan lebih baik kalau kita kita sempatkan menonton ceramah agama yang ada di televisi. Akan lebih baik kalau kita luangkan waktu untuk menonton kehidupan satwa liar di hutan dan satwa bawah laut yang hebat-hebat itu. Atau, menambah ilmu pengetahuan kita dengan menonton acara mengenai eksplorasi tempat-tempat menarik di seluruh belahan dunia. Atau, refreshing untuk menonton acara olahraga.

Dan, tidak lupa, setidaknya untuk saya, sekedar mengalihkan rutinitas dengan menonton beberapa film home box office yang ada di Indovision. Untuk ini, saya tidak pernah ketinggalan. Hehe, soalnya saya juga hobi meminjam film di Video Ezy di Denpasar ;)

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | Tags:  | 4 Comments
Sunday, April 18th, 2010 | Author: Arif Haliman

Sangatlah menarik menjadi bagian dari sebuah kehidupan pasar. Disini, salah satunya, kita bisa belajar mengenai berbagai macam usaha yang dijalankan seseorang, lengkap dengan segala romantikanya. Tidak hanya itu, di pasar, peluang kita untuk lebih memahami dan merasakan kehidupan akan semakin terasah. Banyak sekali yang bisa diamati dan dijadikan bahan renungan.

Entah itu mengenai bisnis, komunikasi antar manusia, pemahaman sifat seseorang, sampai dengan gotong royong. Di pasar, seakan kita bisa senantiasa mengucap syukur kepada Allah SWT, apapun dan bagaimanapun kondisi kita sekarang ini.

Seperti telah saya beritakan, saya mempunyai usaha mandi bola di Denpasar. Mandi bola kelas pasar, atau pinggir jalan. Bukan usaha mandi bola yang jamak terdapat di sebuah mall, atau supermarket. Salah satu misi saya membuka usaha ini adalah, saya ingin mengetahui bagaimana sih rasanya mempunyai bisnis konvensional, atau bisnis offline, seperti yang kebanyakan dilakukan orang. Sebelumnya, bisnis yang saya jalankan selalu bersinggunggan dengan dunia online, salah satu contohnya adalah Bali car rental online.

Bagi kebanyakan orang, bisnis online seperti ini masih dirasa ‘diatas langit’. Sulit dimengerti, dan kadang dianggap mengada-ada. Bila bertemu saya, orang-orang konvensional seperti ini buru-buru langsung menanyakan dimana kantornya, dan produksi barangnya dimana. Tidak ditanya dulu usaha apa yang saya jalankan. Pokoknya, dipikiran mereka, bisnis itu melulu pastilah ada barang dan kantor.

Saya jawab, kantor tidak ada, juga tidak ada barang. Dan saya juga seringnya hanya nongkrong dirumah. Kalau pas dunianya orang itu sempit, tak jarang dia sudah keburu malas berbicara dengan saya, dengan berpikir saya pasti seorang alien. Hare gene dapat uang dari nongkrong..??

Dipikirnya saya nggedabrus (omong doang). Saya selalu kerepotan menghadapi orang tipe begini. Biasanya, saya langsung ngeloyor pergi juga. No reken. Karena, kalau saya lanjutkan omongan bahwa saya Alhamdulillah bisa menghasilkan devisa lebih dari 1 Milyar per tahun untuk negara, saya bisa celaka. Dikiranya saya pasti mbahnya alien ;) Kalau sudah begitu, saya akan diburu untuk dimusnahkan, hehe..

Kembali kesoal pasar, ini mirip miniatur kehidupan. Tadi saya bilang, bahwa kita akan selalu bisa mengucap syukur. Ada tetangga kanan kiri saya yang betul-betul menggantungkan hidupnya pada usaha yang dijalankannya. Sehingga, apabila dagangannya sepi, mungkin gundah hatinya. Kalau mandi bola saya sedang sepi? Saya tidak begitu resah, karena saya tidak menggantungkan hidup saya disini. Kalau warung sebelah masih menyisakan nasi dan lauk pauk yang banyak sebelum tutup, tentunya menjadi risau. Kalau saya, tidak ada yang perlu saya risaukan: bola-bola imut saya tidak akan ‘basi’ buat esok hari.

Juga, hati saya tidaklah ‘panas’ apabila ada orang masuk ke toko X, sementara toko X itu menjual dagangan yang sama dengan toko saya. Apalagi, orang tadi jadi membeli sesuatu di toko X tadi. ‘Panas’ mungkin akan semakin memanas. Hal yang seperti ini tidaklah masuk hitungan saya, karena alhamdulillah usaha mandi bola saya ini, adalah satu-satunya yang ada.

Malam hari ketika tutup, tetangga lain mungkin masih sibuk menghitung uang untuk kulakan besok pagi. Apakah cukup uang buat kulakan? Saya, tidak ada kata kulakan. Begitu dapat uang sepanjang hari itu, uang itu anteng ngendon di brankas :) Kalau tetangga-tetangga lain harus menjaga toko mereka sepanjang hari, dari pagi sampai malam, saya tidak harus seperti itu. Saya cukup buka pagi sampai siang. Lalu tutup untuk bobok siang. Dan buka lagi sore sampai malam. Bahkan, alhamdulillah, saya sudah kebelet mencari karyawan untuk jaga toko saya pada waktu sore-malam hari. Inginnya sekaligus pagi-siang juga. Tapi, itu tidak saya lakukan dulu. Soalnya, saya perlu toko ini dipagi hari, sekaligus sebagai ‘kantor online’ saya :) Makanya, saya selalu bawa laptop sembari jaga toko. Bayangkan: Kerja di ‘kantor’ itu sembari dapat uang dari ruang ‘kantor’ saya untuk anak-anak bisa mandi bola? DOUBLE INCOME! LUAR BIASA!!

Masih banyak contoh peristiwa lain yang bisa mengingatkan saya untuk selalu bersyukur. Diantara semuanya, mungkin yang membuat saya paling bersyukur adalah: Anak saya tidak perlu harus menjalani kehidupan pasar.

Betul, diantara tetangga-tetangga saya ada yang harus membawa serta anak-anak mereka ke pasar. Itu dilakukan karena tidak mungkin meninggalkan mereka di rumah sendirian. Jadilah anak-anak itu diajak hidup disana. Konsekuensi seorang anak dengan banyak bergaul di pasar, pastilah bisa ditebak: Kualitas kehidupan mereka juga hanya akan sekelas pasar. Gambaran tentang pasar adalah kumuh, tidak menarik, terbelakang, dan biasa-biasa saja alias tidak ada hebat-hebatnya. Mereka bergaul dengan anak-anak lingkungan pasar yang kadang tidak jelas. Kadang juga ada yang kasar, dan sukar untuk dibilangi. Mereka nyaris tanpa pendidikan. Bisa dipastikan, peluang kualitas kehidupan anak-anak model begini, bisa ditebak: Sangat suram. Kita tidak menginginkan, Indonesia yang sangat berharga ini akan diwarisi oleh calon generasi penerus pembangun bangsa tanpa pendidikan berkualitas.

Beberapa anak kerap saya lihat bermain saja terus disini, tanpa saya pernah tahu siapa bapaknya. Minimal menjemput mereka untuk pulang saja, itu tidak pernah saya lihat. Mereka bermain diantara dinginnya malam tanpa atap, yang tentu rentan dengan resiko kesehatan.

Ah, kalau sudah begini, malu saya sama Allah SWT. Kerap kali saya masih mengeluh dan merasa capek, padahal saya sudah diberi kenikmatan yang masih banyak orang lain belum merasakannya. Ah, malu kalau masih saja sering lupa bahwa udara ini masih gratis untuk dihirup.

Malu kalau masih harus langsung memotong setiap pendapatan dengan hanya 2,5% untuk zakat atau infaq atau sedekah. Mestinya harus lebih dibesarkan bilangannya. Bertambah malulah kalau memotongnya dari sisa-sisa, setelah dikurangi semua keperluan kita. Sudah begini banyak yang diberi, tapi masih saja pelit.

Aduh, malu juga kalau masih memakai istilah ‘memotong’. Mestinya pakai istilah ‘investasi’. Cocok untuk saya yang seorang pengusaha. Bukankah Allah SWT sudah berfirman, “La in syakartum, la azidannakum.” Kalau kamu bersyukur (lewat banyak berzakat, infaq, sedekah, dsb), maka akan Aku tambah nikmat Ku (bisnis membesar, keluarga sehat dan rukun, dsb).

Ah, malu ya Allah..Ayo, diperbaiki, dah!

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | 2 Comments
Saturday, April 17th, 2010 | Author: Arif Haliman

Seperti yang telah saya tuliskan, ada begitu banyak insight baru yang bisa diambil dari ajang Pesta Wirausaha 2010 yang dihelat di Balai Kartini Jakarta, 10-11 April yang lalu. Dari sekian banyak pandangan yang masuk itu, ada yang begitu menarik dari celetukan yang dilontarkan Bob Sadino, dengan gaya khasnya. Pria yang akrab disapa Om Bob itu bilang (lebih tepatnya nyeletuk) : “Saya kurang setuju dengan istilah UKM (Usaha Kecil & Menengah). Kalau bisa, K dan M nya diganti dengan B dan M. Sehingga menjadi UBM (Usaha Bakal Meledak).”

Hehe, tidak terkecuali saya, semua peserta yang hadir menjadi ger-geran. Pasti semua berpikir, kok bisa-bisanya dia melontarkan celetukan itu. Tidak menunggu lama, dia langsung mengutarakan alasannya: “Saya kuatir, dengan selalu menggunakan kata itu (kecil menengah), pengusaha kita selamanya tidak bisa menjadi besar. Oleh karena itu, mari kita gunakan kata Bakal Meledak, agar usaha yang baru kita rintis bisa segera meledak menjadi besar.”

Terus terang, sejak awal dia tampil berduet dengan Naomi Susan diacara itu, praktis saya hanya memdengarkan omongan Naomi Susan. Yang dibicarakan Naomi sangat menarik semua peserta, termasuk saya. Menurut saya pribadi, saat itu tidak ada sama sekali yang enak didengar dari Bob Sadino. Dengan gaya slengekannya, dia lebih banyak bertindak sebagai moderator, sementara Naomi Susan yang lebih aktif. Tapi, diakhir acara, dengan melontarkan ide seperti itu, seketika saya langsung mengapresiasi perkataannya.

Seperti diketahui, Bob Sadino adalah pengusaha besar. Dedikasinya dalam membangun  negara lewat jalan menjadi pengusaha sukses sangatlah mulia. Sudah banyak yang terinspirasi olehnya untuk mengikuti jejak kesuksesan menjadi pengusaha besar. Dia bisa disejajarkan dengan Ciputra atau Chaerul Tanjung, yang begitu getol menginspirasi dan mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih aktif dalam partisipasi membangun Indonesia menjadi negara besar dan disegani, lewat jalur menjadi pengusaha sukses.

Saya pikir-pikir, betul juga apa yang Bob lontarkan. Optimis - dalam segala hal - adalah harga mati. Istilah kecil menengah seperti itu akan menjerat dan mengecilkan kita. Walaupun hanya sekedar istilah, tapi kalau itu diucapkan secara terus menerus, tanpa sadar itu akan menjadi justifikasi, atau pembenaran. Yang namanya pembenaran, logikanya, entah salah atau benar, ya pasti harus benar. Dengan kata lain, entah bisnis kita berpotensi menjadi besar atau tetap kecil, predikat ‘kecil menengah’ itu akan terus melekat pada diri kita. Kalau itu sudah terbentuk dalam alam bawah sadar kita, bisa dipastikan kita akan selalu minder dalam menjalankan bisnis kita.

Saya paham konsep The Law of Attraction yang baru beberapa tahun ini dilontarkan Rhonda Byrne. Saya juga mengerti konsep Quantum Ikhlas yang diusung oleh Erbe Sentanu beberapa tahun yang lalu juga. Itu sejalan dengan firman Allah SWT, mungkin sejak segala sesuatu (termasuk manusia) bahkan belum tercipta, yaitu : “Aku (Allah) menurut sangkaan hamba-Ku saja”.

Maksudnya, Allah SWT pasti akan memberikan apapun yang kita inginkan (baik lewat doa, niat, keinginan, pola pikir, mindset, dsb). Tidak ada doa yang tertolak. Semua dikabulkan. Yang diingat, semua keinginan itu pasti dikabulkan, tidak peduli itu berakibat Negatif atau Positif. Saya berulangkali sudah mengalami hal-hal ‘ajaib’ sebagai akibat dari hasil berpikir yang saya bentuk, tidak hanya dalam dunia bisnis yang saya tekuni, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari lainnya.

Dihubungkan dengan kata ‘kecil menengah’ yang kita usung dalam keseharian bisnis kita, dengan asumsi bahwa Allah SWT pasti akan mengabulkan pola pikir kita bahwa bisnis kita akan senantiasa kecil dan menengah (Negatif), ya pastilah bisnis tidak akan pernah menjadi besar (Positif). Kita hanya akan berkutat diomzet jutaan rupiah per bulan, misalnya, dan tidak bisa beranjak kepuluhan juta. Sulit bagi kita untuk bisa meraih omzet ratusan juta, dan berharap semakin berkembang ke kelas beromzet miliaran, bahkan triliunan, dengan tetap mengusung konsep ‘kecil menengah’. Lewat konsep ‘bakal meledak’, para pengusaha kecil akan terbentuk pola pikir bahwa bisnisnya akan segera meledak, mencapai omzet ratusan juta, misalnya, untuk kemudian meledak ke omzet miliaran atau triliunan.

Apakah itu mustahil? Sama sekali tidak. Kata orang TDA, Start Action and Miracle Happen. Mulailah segera beraksi memulai usaha sekecil apapun itu, dan rasakan berbagai keajaiban disana. Itu benar. Hanya yang telah berprakteklah yang merasakan keajaiban-keajaiban itu, termasuk saya.

Di acara yang sama, satu lagi yang menarik saya adalah perkatan Agus Pramono, pemilik franchise Ayam Goreng Mas Mono yang terkenal itu. Dia berpendapat, kalau omzet bisnis kita, misalnya, 500 juta, bilang saja setengah milyar. Nilainya sih tetap sama, tapi ‘rasanya’ beda. Jutaan itu berbeda dengan Milyaran. Maka, kalau mulut dan pikiran kita selalu menggaungkan “Milyar!”, dan tidak “Juta!”, maka alam bawah sadar kita akan memprosesnya, dan keinginan kita untuk selalu beromzet miliaran pasti akan dikabulkan Allah SWT.

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Monday, April 12th, 2010 | Author: Arif Haliman

Usai sudah perhelatan akbar Milad TDA IV komunitas Tangan Di Atas (TDA) 10-11 April 2010 kemarin yang dibungkus dengan tema Pesta Wirausaha 2010 - FIGHT GROW WIN ini. Usai sudah acara sharing ilmu berbisnis yang ditularkan oleh para nara sumber-nara sumber hebat diatas panggung. Usai sudah acara yang juga menampilkan para member-member TDA yang juga tak kalah hebatnya dalam memberi insprirasi dan dorongan semangat baru untuk meraih Go Triple (pendapatan lipat tiga) setahun mendatang ini.

Saya mengucap syukur tiada terkira kepada Allah SWT atas segala kemudahan dan kelancaran urusan yang diberikan kepada saya selama mengikuti acara ini. Semuanya berjalan sesuai rencana. Tidak ada satupun masalah yang menghampiri. Dan segala ilmu dan semangat berbisnis yang dibagikan selama 2 hari kemarin itu insyaAllah juga akan mampu membawa kebaikan bagi perjalanan bisnis saya kedepannya. Amin.

Hari pertama acara (10 Apr) dibuka dengan dipandu oleh artis dan penyanyi Astrid Hadi. Saya acungkan 2 jempol untuk cewek ini. Terlihat sekali kecerdasannya. Segala joke, spontanitas dan sikap panggungnya betul-betul sempurna. Panggung bisa ‘hidup’ dengan dipandu MC macam dia. Barisan lebih dari 1200 penonton pun juga dibuatnya menjadi aktif mengikuti permintaannya, seperti memperkenalkan diri, meneriakkan yel-yel, atau menimpali teriakan beberapa peserta. Berduet dengan artis Denny Chandra yang juga tak kalah kocak, jadilah panggung acara Milad TDA kemarin benar-benar makin hidup.

Bersama Rony Yuzirman - Founder TDA

Bersama Rony Yuzirman - Founder TDA

Selesai bercuap-cuap, MC mempersilakan berturut-turut Founder TDA Rony Yuzirman, Presiden TDA Iin Rusyamsi dan Penasehat TDA Haji Allay untuk tampil keatas panggung. Setelah itu Menteri Koperasi dan UKM, yang diwakili oleh salah satu Deputinya. Saya tidak begitu perhatian dengan orang yang disebut terakhir ini. Berbicaranya tidak ‘meledak’, dan yang dibicarakannya soal klasik: seputar undang-undang dari Departemen Koperasi, lalu pemberdayaan UKM beserta langkah-langkah yang diambil. Saya tidak begitu ambil peduli. Biasanya hanya manis terucap, tapi minim realisasi dalam bentuk aksi nyata.

Nara sumber kedua adalah Eri Sudewo, mantan Direktur Dompet Dhuafa Republika, dan kolumnis tetap harian tersebut. Pak Eri ini terkenal dengan passion nya untuk pengentasan kemiskinan dan kebodohan di Indonesia. Kerja konkretnya disalurkan lewat berbagai badan-badan seperti Dompet Dhuafa yang didirikannya, serta aktif menulis mengenai perberdayaan manusia Indonesia, dan kritikan (masukan) kepada pemerintah untuk akselerasi pembangunan di negeri ini. Pembawaannya kalem namun mantap. Penuh optimisme dan ketegasan.

Jeda makan siang, tampil Sandiaga S. Uno. Masih muda dan tampan (dibawah 40 tahun), enerjik dan sangat bersemangat. Dia berkibar lewat bendera Saratoga Capital, induk perusahaannya yang juga mengelola beberapa perusahaan dibawahnya. Jabatannya antara lain HIPMI Pusat dan Kadin. Tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Orang ini sungguh sangat inspiratif dan pemberi semangat ulung. Kalau orang ini berbicara, gak peduli seberapa kebeletnya kamu hendak ke toilet, tahan dulu dan dengarkan dia. Sayang kalau omongannya dilewatkan begitu saja.

Acara dilanjutkan kembali dengan penampilan duet Naomi Susan dan Bob Sadino. Naomi Susan ini sepak terjang bisnisnya sangat luar biasa. Wanita yang kuat. Baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Sebelum menikah, dia sudah mempunyai beberapa perusahaan yang sangat menjanjikan sepak terjangnya. Kegiatan bisnisnya sangat membumi, dalam arti beberapa diantaranya ada yang kelas ecek-ecek, semacam dagang nasi bungkus dan kuliner pinggir jalan macam lalapan lele, namun ternyata hasilnya sungguh luar biasa. Saya terus terang mendapat insight baru mengenai bagaimana bisnis ecek-ecek ini bisa menghasilkan pendapatan yang begitu besar.

Om Bob - begitu Bob Sadino akrab dipanggil - tampil dengan kekhasannya: kemeja lecek putih lengan pendek, dengan celana biru pendek diatas lutut. Tidak banyak yang dia sampaikan. Sepertinya dia malam itu lebih tepat disebut sebagai moderator antara Naomi Susan dengan para peserta dalam sesi tanya jawab. Gayanya yang slengekan membuatnya tidak banyak omong. Tapi, semua orang sudah tahu banyak sepak terjangnya yang hebat dalam dunia bisnis.

Nara sumber berikutnya adalah Purdie Entrepreneur Chandra. Pengusaha ‘Gila’ ini betul-betul bisa menguasai panggung. Saya juga sudah pernah menghadiri seminarnya di Bali beberapa bulan yang lalu. Seperti halnya seminarnya di Bali, semua peserta di Balai Kartini Jakarta ini menjadi begitu antusias lewat pembawaannya yang sangat santai, penuh guyon namun sangat berisi dan memberi inspirasi. Keberanian dan kenekatan (oleh sebab itu disebut Pengusaha Gila) adalah trade mark yang melekat padanya. Seperti halnya Eri Sudewo, Sandiaga S. Uno dan Naomi Susan, bos lembaga pendidikan Primagama ini layak untuk didengarkan bicaranya.

Nara sumber terakhir adalah Susi Pujiastuti. Pemilik (katanya diharapkan hanya beberapa bulan lagi) 60 pesawat komuter ini juga sangat inspriratif. Banyak berbagi mengenai jatuh bangun dalam mengembangkan cikal bakal bisnis ikan laut segar yang dikelolanya hingga berkembang ke bisnis lainnya.

Hari pertama ditutup oleh entertainment berupa pertunjukan musik oleh The Dance Company dan Ussy Sulistyowati. Kali ini MC dipandu oleh Kiwil duet dengan Vega Ngatini. Kiwil masih bolehlah dibilang sukses membawakan panggung, namun Vega (apalagi dibandingkan dengan Astrid Hadi), dalam hal ini, masih belum menunjukkan kecerdasannya.

Hari pertama, para pembicaranya betul-betul berisi, alias daging semua. Tidak rugi rasanya duduk berjam-jam mendengarkan mereka berbicara mengenai seputar tips dan semangat bisnis untuk para member TDA.

Hari kedua, 11 April, tampil pembicara lain. Pembicara pertama adalah Nukman Luthfie. Paparannya sudah saya dengarkan juga di Malang untuk acara Milad 2 TDA Ngalam tahun kemarin. Berbicara mengenai seputar bisnis online, lengkap dengan online style yang data-data terbaru yang mendukung pentingnya kita untuk memasuki bisnis online.

Pembicara berikutnya adalah Chaerul Tanjung. Orang yang luar biasa. Etos kerjanya sangat tinggi. Tidak saja mengagungkan kerja cerdas, tapi juga kerja keras, plus tambahan satu lagi: sistem cerdas. Dari tangannyalah lahir Bank Mega yang tercatat sebagai satu-satunya bank swasta nasional yang masih dimiliki putra asli Indonesia. Lahir juga TransTV dan Trans7. Lewar berbagai penuturannya, lulusan FKG UI ini betul-betul orang yang mencintai negaranya.

Pembicara terakhir adalah Erbe Sentanu, pendiri KataHati Institute. Saya memiliki 2 seri bukunya. Pengusung Quantum Ikhlas ini tampil bersahaja, dan berbicara dengan baik seputar keahliannya, yaitu mengenai keikhlasan. Dihubungkan dengan semangat kewirausahaan yang diusung dalam acara ini, rasanya sangat klop paparan yang Pak Erbe sampaikan.

Diantara penampilan para pembicara tersebut, ada berbagai acara, misalnya doorprize, wisuda para TDB menjadi TDA, wawancara dengan para peserta yang berhasil meraih Go Triple (pendapatan berlipat tiga dalam setahun terakhir), dan didapuk untuk menyampaikan kiat-kiatnya.

Dengan menghadiri Milad TDA ini, koleksi pembicara top yang bisa saya dengarkan secara langsung semakin bertambah. Seharusnya, ada satu lagi pembicara top yang diundang, karena dia memiliki hubungan dengan founder TDA. Pembicara yang saya maksud adalah Tung Desem Waringin. Namun, dia tidak hadir. Saya membayangkan, seandainya dia juga bisa tampil, pastilah acara ini akan menjadi sempurna. Tiba-tiba, entah sedang mendengarkan Pak Erbe berbicara mengenai keikhlasan atau ada hal lain, tiba-tiba saja panitia membagikan selebaran mengenai akan diadakannya seminar Tung Desem Waringin pertengahan bulan depan di Jakarta. Aha, saya insyaAllah mungkin akan balik lagi ke Jakarta, kalau begitu :)

Begitulah sedikit tulisan saya mengenai 2 hari acara Milad IV TDA tahun 2010 ini. Tulisan ini saya bikin di lounge bandara Soekarno Hatta Jakarta, sambil menunggu pesawat saya berangkat beberapa jam lagi. Terima kasih banyak buat Heppy dan Irfani. Tumpangan dan penginepannya bisa diandalkan untuk kunjungan berikutnya, broder! Hehe ;)

Semoga bisa membawa semua insprirasi bagi siapa saja untuk ikut menyongsong kebangkitan ekonomi Indonesia, sebagai seorang pengusaha yang Funtastic, Hidup Sukses dan Mulia! Amin.

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Friday, April 09th, 2010 | Author: Arif Haliman

Besok InsyaAllah saya akan berangkat ke Jakarta untuk sebuah acara. Setahun yang lalu saya juga telah berangkat ke Malang untuk acara yang sama. Waktu itu di Malang acaranya bertajuk Milad II TDA Ngalam (Tangandiatas.com) - Festival Enterpreneur Malang 2009 Membangun Visi Menembus Imajinasi. Jadi itu adalah acara ulang tahun TDA cabang Malang. Namun, kali ini, yang akan punya gawe adalah TDA Jakarta (Pusat). Dan tahun 2010 ini, tepatnya tanggal 10-11 April, akan dihelat sebuah acara serupa di Jakarta dengan mengambil tema Fight, Grow, Win dalam rangka menyambut Milad TDA IV. Dan saya merasa harus menghadirinya.

Tidak peduli kunjungan terakhir ke ibukota adalah tahun 1997 silam, untuk acara perpisahan SMA. Gak peduli gak ada teman seperjalanan dan bisa dipastikan tak kenal seorangpun peserta di Jakarta nanti. Tidak menjadi pusing harga tiket pesawat yang luar biasa mahal (berangkatnya aja kena 760rb pakai Lion Air, serba mahal barengan Kongress III PDIP di Bali). Tidak begitu kuatir nantinya bisa bermalam dimana. Sejujurnya, daripada menginap di hotel, saya ingin menginap saja dirumah seorang kenalan. Saya ingin merasakan Jakarta itu seperti apa sih :) Jarang-jarang ada kesempatan bepergian ke ibukota. Kalau nginep di hotel, itu standar. Tapi bermalam dirumah kenalan bisa get the feeling Jakarta dimalam hari sekaligus silaturahmi.

Pokoknya, saya harus Get the Feeling! Merasakan langsung getaran semangat yang dibawa oleh para peserta itu, dan pesan-pesan yang disampaikan dalam acara itu. Melakukan tepuk tangan panjang bersama seluruh peserta. Melakukan silaturahmi antar wirausahawan tangguh yang tergabung dalam komunitas bisnis luar biasa ini, Tangandiatas.com. Bersama-sama menebalkan tekad disertai doa dan niat baik untuk bisa membawa kebaikan, dan menjadi insprirasi bagi semua orang, lewat jalan menjadi seorang wirausahawan sukses.

Begitulah, banyak sekali harapan yang ingin saya peroleh untuk menghadiri acara ini. Memperoleh pengalaman dan mungkin banyak tips serta dorongan semangat yang semakin besar untuk terus mengembangkan bisnis yang saya geluti, adalah misi utama saya kali ini. Disana pasti bertebaran para pelaku bisnis yang betu-betul handal, sarat pengalaman, penuh motivasi dan pasti mau berbagi. Selain itu, ini akan menjadi sebuah acara bertema seputar seminar motivasi terbesar yang pernah saya ikuti. Menurut daftar peserta, acara ini akan dihadiri lebih dari 1000 peserta. Seperti saya, sebagian besar dari mereka adalah seorang usahawan. Walaupun sepertinya juga masih ada yang berstatus karyawan, namun keinginan untuk segera beralih menjadi 100% usahawan sedemikian besar. Acara seperti ini tentunya sangat tepat bagi akselerasi keinginan mereka.

Sebenarnya acara ini tidak hanya sekedar seminar, namun juga ada expo, silaturahmi, live entertainment, bisnis matching antar peserta, games, dan beragam seabreg aktivitas lain. Acaranya sangat padat, dimulai jam 7 pagi hingga jam 9 malam. Saya merasa sangat sayang untuk melewatkan kesemua acara itu. Saya akan mencoba untuk all out disana nanti.

Oleh karena itu, sungguh tepat tema yang diambil kali ini, yaitu Pesta Wirausaha 2010 - FIGHT, GROW, WIN!

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | Tags: ,  | Leave a Comment
Monday, March 22nd, 2010 | Author: Arif Haliman

Sudah 2 hari ini saya mencoba sesuatu yang baru. Yaitu, joging di Pantai Kuta pada pagi hari yang cerah, sekitar jam 6 pagi. Olahraga jalan kaki mengikuti sepanjang garis pantai, dan kembali dengan berlari-lari kecil sepanjang garis pantai itu juga. Selain kegiatan bersepeda, kegiatan jalan kaki seperti ini, dahulu sempat menjadi rutinitas pagi hari saya. Walaupun beberapa hari atau bulan terakhir sempat terhenti dengan alasan sering hujan (alasan utama adalah meneruskan tidur di pagi hari :) ).

Sebetulnya, kegiatan ini (selanjutnya kita sebut olahraga) bukanlah hal yang baru bagi saya. Yang baru kali ini adalah lokasi olahraga yang saya pilih. Biasanya saya melakukannya di lapangan Puputan Renon Denpasar. Namun, kali ini saya memilih melakukannya di Pantai Kuta. Inspirasi menjadikan pantai Kuta sebagai tempat joging saya yang baru, datang 2 hari sebelumnya.

Pagi-pagi sekali jam 07.00, saya harus mengantar mobil pesanan tamu saya ke Harris Resort Kuta. Hotel ini terletak persis di seberang pantai Kuta. Setelah membereskan urusan dengan tamu saya, saya menunggu istri untuk menjemput saya pulang. Walaupun sudah 8 tahun tinggal di Denpasar, dan hanya berjarak 15 menit naik motor untuk menuju pantai Kuta, tapi kunjungan ke pantai sepagi ini belum pernah saya lakukan :( . Oleh karena itu, menyeberanglah saya menuju pantai. Walaupun tidak ada pemandangan matahari terbit, yang namanya pantai berpasir putih tetaplah indah pemandangannya. Anginnya yang sepoi-sepoi membuat pikiran segar kembali. Saya melihat beberapa orang, berlari-lari kecil di sepanjang garis pantai, lengkap dengan sepatu olahraganya. Mereka terlihat sungguh-sungguh, dan sangat menikmati kegiatannya.

Aha! Cling.! Ini dia, nih..!

Saya ingin seperti mereka. Berolahraga di pagi hari, bukannya malah molor. Berlari-lari kecil, bukannya menambah ngorok. Menghirup udara segar untuk memulai hari dengan riang, bukannya suntuk kebanyakan tidur.

And, here I am, in the morning at the Kuta beach. Walking and running along the line coast with my blue shoes. Alone. I called that: sports.

With just few peoples - foreigners and locals altogether - who was doing the same like I did. The rest of them, just sitting on the sand, watching the sky, waves and other things that can see. Just sit and talk a little bit to their friend. But most of them, just sit and silence. Watching the beach. Anyway, still, that was a few good things to do, rather than just sleep on the bed, in the morning.

I had to promised to my self, that I must continue the activity for everyday. For the next days, at least 1 week forward, I need to consistence. On the following days, I have to ask my wife and my daughter to follow me to do this. Especially for my daughter, Tika, she must be very excited. She loves beach much!

Okay, enough with the English.. “Enterprise to Arif, back to Earth.” :)

Pokoknya, berlari di pantai di pagi hari sungguh mengasyikkan. Menyenangkan, sekaligus menyehatkan. Sensasinya berbeda kalau kita hanya melakukannya di jalanan atau di lapangan, seperti yang kerap saya lakukan sebelumnya. Berlari dengan bertumpu ke pasir halus berbeda dengan ketika bertumpu dengan tanah liat atau aspal. Hentakannya tidak kencang, dan terasa lembut. Ini membantu mengurangi tingkat tekanan kaki, sehingga bisa menghemat energi tubuh.

Oiya, saya baca di koran, kabarnya pantai Kuta belakangan ini sudah lumayan bersih dan sedap dipandang mata. Pantesan, karena dipagi hari berturut-turut itu, saya menyaksikan sekitar selusin lebih orang (umumnya para wanita) menyusuri pantai untuk memungut sampah-sampah yang berserakan disana. Para ibu-ibu ini memakai seragam putih merah, dengan tulisan Care for Bali Beaches di punggung kaos mereka lengkap dengan sponsornya. Rupanya ada yang mengorganisir. Humm..bagus juga.

Seindah-indahnya pantai berpasir putih, kalau disana terlihat tumpukan sampah, entah itu sampah dari laut, atau sampah yang dibuang oleh pengunjung pantai, keindahan itu akan lenyap begitu saja. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita semua untuk ikut menjaga kebersihan pantai. Para berandalan pantai yang membuang sampah seenaknya itu, enaknya ditimpuk saja ramai-ramai biar kapok. Tidak malah membantu kebersihan pantai, tapi malah membuatnya semakin kotor.

Okay guys, lets back to the healthy body, and mind!

Arif Haliman - Owner Busana Muslim Bali

Category: Pribadi  | Leave a Comment
eXTReMe Tracker