Ya saudara-saudara, saya ingin bermetamorfosis untuk naik ’status’ berubah dari penjual busana muslim menjadi produsen busana muslim. Mengapa kok ingin menjadi produsen busana muslim? Apa ada yang salah dengan tetap menjadi penjual busana muslim? Apa sudah punya model dan tukang jahitnya? Terus apakah lebih menguntungkan menjadi produsen daripada penjual? Bagaimana dengan model pemasarannya?
Itu adalah berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk dalam diri ini, dan juga pertanyaan dari istri saya. Kesemua pertanyaan-pertanyaan diatas dan beberapa pertanyaan lainnya sangat erat kaitannya dengan bisa tidaknya saya memulai impian saya ini. Jadi, saya tidak ingin bermimpi tinggi dulu bahwa saya akan berhasil dalam arti merek produk saya nanti disukai pasar atau tidak, namun sementara ini saya membatasi mimpi saya dengan apakah saya bisa memulainya ?
Bagi saya, pertanyaan ‘apakah saya bisa memulainya‘ adalah kata penentu. Saya adalah orang yang simpel. Saya suka kesederhanaan, tidak bertele-tele dan tidak canggih-canggih. Dalam bisnis, dan juga dalam hal apapun, saya paling malas kalau diminta (apalagi disuruh) untuk memikirkan sesuatu yang berat-berat. Bagi saya hal itu malah akan mematikan kreativitas sehingga menjadi berat untuk bahkan sekedar memulainya. Seperti misalnya beberapa pertanyaan diatas: Dimana mencari tukang jahitnya, dimana mencari bahannya, berapa harga jualnya nanti, segmen pasar mana yang mau dibidik, dsb.
Sekali lagi saya ingin yang simpel. Sederhana. Oleh karena itu sebelum direpotkan untuk menjawab berbagai pertanyaan diatas, saya ingin menguji diri saya dulu dengan pertanyaan mendasar ini: Apakah saya bisa memulainya?
Segala sesuatu itu perlu permulaan. Perlu trigger atau pemicu untuk kemudian hasil picuan itu bisa kita kendalikan nantinya. Mirip dengan orang bikin patung tanah liat dari pot yang berputar. Jangan bermimpi bongkahan tanah liat itu akan menjadi sebuah bentuk patung yang diinginkan apabila pot tersebut tidak pernah berputar. Apabila pot itu sudah diputar, mulailah tangan terampil itu membentuknya, memolesnya, menghaluskannya, bahkan kalau perlu menambah atau membuang sebagian tanah liat agar bentuk terindah yang diinginkan bisa tercapai.
Nah, saya ingin yang seperti itu. Yang penting adalah pemicu. Bagi saya, pemicu itu adalah kegiatan untuk sekedar memulai impian saya ini. Untuk sekedar memulai, saya sudah punya beberapa rencana yang simpel.
Oleh karena saya ingin menjadi produsen busana muslim yang berbahan dasar kaos, maka saya akan mendatangi atau tepatnya mencari tahu dulu dimana saya bisa bertemu dengan para penjahit yang ada di sekitaran Denpasar ini. Saya punya beberapa kenalan yang sepertinya bisa menunjukkan dimana saya bisa menemui para penjahit ini. Dengan membawa beberapa contoh baju busana muslim berbahan dasar kaos dari merek-merek yang sudah beredar duluan, saya sekaligus ingin menguji para penjahit ini apakah memang bisa menjahit seperti baju-baju kaos yang ada di website baju muslim saya.
Entah mengapa kalau langkah memulai saya yang hanya seperti saya sebutkan diatas sudah terlaksana, rasanya impian saya untuk menjadi produsen busana muslim sudah tercapai. Saya sudah bisa merasa sukses. Apakah tidak pusing dengan urusan modal? Nggak tuh. Walaupun memang belum ada alokasi untuk itu, saya yakin kalau hanya masalah modal akan luntur dengan sendirinya. Kamu akan sulit untuk percaya hal ini, kalau belum pernah menjalankan bisnis. Sumpah! Tapi sekali kamu pernah menjalankan bisnis, maka kamu akan percaya bahwa yang namanya modal (materi) itu bukanlah yang utama.
Apa alasan lain saya ingin menjadi produsen dan tidak menjadi penjual? Well, yang ini sepertinya agak personal. Saya seringnya menerima keluh kesah istri yang sering mengeluh sulitnya mendapatkan baju merek A itu karena kita bukan agen besar, sulitnya pemilik merek B yang sulit dihubungi entah kenapa. Beragam keluh kesah itu bermuara ke penjual seperti saya dan istri ini. Muaranya adalah kecapekan. Gimana gak capek pembeli kita berulang kali tanya barang yang diinginkan dengan beberapa diantaranya sangat ngotot tidak mau tahu, namun apa daya kita sebagai penjual belum juga mendapat barangnya. Jadinya dalam kondisi seperti ini, yang ada hanyalah capek.
Oleh karena itu, mindset sedang saya rubah, untuk mewujudkan mimpi menjadi produsen busana muslim (yang mungkin) pertama dari Bali. Why not?

