Archive for » March, 2009 «

Saturday, March 21st, 2009 | Author: Arif Haliman

Ya saudara-saudara, saya ingin bermetamorfosis untuk naik ’status’ berubah dari penjual busana muslim menjadi produsen busana muslim. Mengapa kok ingin menjadi produsen busana muslim? Apa ada yang salah dengan tetap menjadi penjual busana muslim? Apa sudah punya model dan tukang jahitnya? Terus apakah lebih menguntungkan menjadi produsen daripada penjual? Bagaimana dengan model pemasarannya?

Itu adalah berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk dalam diri ini, dan juga pertanyaan dari istri saya. Kesemua pertanyaan-pertanyaan diatas dan beberapa pertanyaan lainnya sangat erat kaitannya dengan bisa tidaknya saya memulai impian saya ini. Jadi, saya tidak ingin bermimpi tinggi dulu bahwa saya akan berhasil dalam arti merek produk saya nanti disukai pasar atau tidak, namun sementara ini saya membatasi mimpi saya dengan apakah saya bisa memulainya ?

Bagi saya, pertanyaan ‘apakah saya bisa memulainya‘ adalah kata penentu. Saya adalah orang yang simpel. Saya suka kesederhanaan, tidak bertele-tele dan tidak canggih-canggih. Dalam bisnis, dan juga dalam hal apapun, saya paling malas kalau diminta (apalagi disuruh) untuk memikirkan sesuatu yang berat-berat. Bagi saya hal itu malah akan mematikan kreativitas sehingga  menjadi berat untuk bahkan sekedar memulainya. Seperti misalnya beberapa pertanyaan diatas: Dimana mencari tukang jahitnya, dimana mencari bahannya, berapa harga jualnya nanti, segmen pasar mana yang mau dibidik, dsb.

Sekali lagi saya ingin yang simpel. Sederhana. Oleh karena itu sebelum direpotkan untuk menjawab berbagai pertanyaan diatas, saya ingin menguji diri saya dulu dengan pertanyaan mendasar ini: Apakah saya bisa memulainya?

Segala sesuatu itu perlu permulaan. Perlu trigger atau pemicu untuk kemudian hasil picuan itu bisa kita kendalikan nantinya. Mirip dengan orang bikin patung tanah liat dari pot yang berputar. Jangan bermimpi bongkahan tanah liat itu akan menjadi sebuah bentuk patung yang diinginkan apabila pot tersebut tidak pernah berputar. Apabila pot itu sudah diputar, mulailah tangan terampil itu membentuknya, memolesnya, menghaluskannya, bahkan kalau perlu menambah atau membuang sebagian tanah liat agar bentuk terindah yang diinginkan bisa tercapai.

Nah, saya ingin yang seperti itu. Yang penting adalah pemicu. Bagi saya, pemicu itu adalah kegiatan untuk sekedar memulai impian saya ini. Untuk sekedar memulai, saya sudah punya beberapa rencana yang simpel.

Oleh karena saya ingin menjadi produsen busana muslim yang berbahan dasar kaos, maka saya akan mendatangi atau tepatnya mencari tahu dulu dimana saya bisa bertemu dengan para penjahit yang ada di sekitaran Denpasar ini. Saya punya beberapa kenalan yang sepertinya bisa menunjukkan dimana saya bisa menemui para penjahit ini. Dengan membawa beberapa contoh baju busana muslim berbahan dasar kaos dari merek-merek yang sudah beredar duluan, saya sekaligus ingin menguji para penjahit ini apakah memang bisa menjahit seperti baju-baju kaos yang ada di website baju muslim saya.

Entah mengapa kalau langkah memulai saya yang hanya seperti saya sebutkan diatas sudah terlaksana, rasanya impian saya untuk menjadi produsen busana muslim sudah tercapai. Saya sudah bisa merasa sukses. Apakah tidak pusing dengan urusan modal? Nggak tuh. Walaupun memang belum ada alokasi untuk itu, saya yakin kalau hanya masalah modal akan luntur dengan sendirinya. Kamu akan sulit untuk percaya hal ini, kalau belum pernah menjalankan bisnis. Sumpah! Tapi sekali kamu pernah menjalankan bisnis, maka kamu akan percaya bahwa yang namanya modal (materi) itu bukanlah yang utama.

Apa alasan lain saya ingin menjadi produsen dan tidak menjadi penjual? Well, yang ini sepertinya agak personal. Saya seringnya menerima keluh kesah istri yang sering mengeluh sulitnya mendapatkan baju merek A itu karena kita bukan agen besar, sulitnya pemilik merek B yang sulit dihubungi entah kenapa. Beragam keluh kesah itu bermuara ke penjual seperti saya dan istri ini. Muaranya adalah kecapekan. Gimana gak capek pembeli kita berulang kali tanya barang yang diinginkan dengan beberapa diantaranya sangat ngotot tidak mau tahu, namun apa daya kita sebagai penjual belum juga mendapat barangnya. Jadinya dalam kondisi seperti ini, yang ada hanyalah capek.

Oleh karena itu, mindset sedang saya rubah, untuk mewujudkan mimpi menjadi produsen busana muslim (yang mungkin) pertama dari Bali. Why not?

Wednesday, March 11th, 2009 | Author: Arif Haliman

Tadi malam sekitar sekitar pukul 21.00 WITA saya tidak sengaja menonton televisi. Dibilang tidak sengaja karena saya memang jarang menonton acara di televisi. Mungkin hanya sekitar 15-30 menit selepas maghrib, karena biasanya makan malam sambil nyalakan televisi. Namun tadi saya (bersama istri) sempat-sempatkan untuk memelototi sebuah acara di TV One yaitu Debat Publik dengan tema, kalau tidak salah, Penerapan Ekonomi Syariah. Acara ini sudah berjalan beberapa menit dan saya hanya mengikuti debat yang dilakukan oleh 2 kontestan terkahir. Saya tidak tahu nama kontestan masing-masing, namun kontestan terakhir dari kubu pro penerapan ekonomi syariah Islam adalah Muhammad Syafii Antonio.

Saya memang sudah lama sangat tertarik, atau kalau tidak dibilang kagum kepada sosok manusia langka Indonesia ini. Pakar segala macam bentuk ilmu ekonomi dunia terutama ekonomi syariah Islam ini sangat piawai dalam memaparkan pengetahuannya. Gaya dan intonasi suaranya yang sangat tenang disertai senyum namun mendalam dalam pemaparan membuat lawan bicaranya yang kontra ekonomi syariah itu seperti kehilangan kemampuan menyanggahnya. Usahanya dalam menyakinkan pentingnya ekonomi syariah sebagai alternatif dari solusi ekonomi kapitalis yang sekarang ini sedang sekarat di berbagai belahan dunia sangatlah komplet. Tidak hanya dari sisi pengalaman dan pengamatan mendetil bahwa diluar negeri seperti Inggris, Jerman, Perancis bahkan Amerika sendiri mulai membuka pintu lebar-lebar untuk masuknya ekonomi syariah, juga dari sisi religi. Beliau bahkan sempat menyitir salah satu ayat dari Bible yang kurang lebih menyatakan bahwa Bible sendiri juga sangat membenci yang namanya riba (mengambil keuntungan sangat berlebih dari yang seharusnya).

Umum sudah diketahui bahwa orang Kristen di Indonesia mati-matian berusaha membendung adanya perundang-undangan yang membawa label Islam. Diantaranya adalah wacana diundangkannya sistem perekonomian Islam di Indonesia. Mereka bersikeras mengapa harus membawa-bawa jargon syariah yang notabene Islam? Mereka orang-orang Kristen itu sebetulnya sangatlah takut apabila memang gelombang penerapan hukum-hukum yang membawa unsur Islam dilibatkan dalam hukum negara. Saya pribadi bisa saja balik bertanya: Lha, mengapa harus takut?

Kapitalisme yang sangat digembar-gemborkan barat (Kristen dan Yahudi) sekarang ini sedang sekarat. Lihat saja Amerika. Siapa yang menyangka bahwa bumerang itu sekarang sudah balik mengenai wajahnya sendiri. Dengan keserakahan dan kerakusan sistem kapitalis, Amerika sebagai lokomotif kapitalis sekarang sedang dihadapkan pada sebuah kondisi sedang bergejolak. Berbagai krisis sedang melanda disana mulai dari krisis keuangan, moral, lapangan pekerjaan sampai pendidikan, dsb.

Sebaliknya kita sedang menyaksikan bahwa ekonomi syariah tetap tegar tidak terpengaruh oleh krisis finansial global dunia saat ini. Ini dibuktikan dengan tetap eksisnya pendanaan keuangan di bank-bank syariah yang stabil, bahkan meningkat baik di Indonesia maupun luar negeri yang berbendara syariah seperti di Timur Tengah.

Saya pribadi sudah lama sangat tertarik dengan sistem ekonomi syariah. Saya tidak ingin hanya membatasinya hanya dipermasalahan bunga atau ribanya, tetapi lebih dari itu. Namun lepas dari masih adanya beberapa suara miring yang mengatakan bahwa semua bank syariah yang ada di Indonesia masih belum sepenuhnya murni syariah, namun dengan bergabung menjadi nasabah mereka kiranya adalah sebuah langkah yang tepat. Dengan logika sederhana, kalau mau menghindari praktek riba, ya mestinya jangan bergabung dengan sebuah bank konvensional namun dengan sebuah bank syariah. Dalam hal ini saya telah menjadi nasabah Bank Muamalat.

Ibu saya juga saya sarankan memindahkan rekeningnya ke Mandiri Syariah dari sebelumnya di salah satu bank konvensional. Setidaknya ini adalah langkah awal saya untuk mendukung penerapan ekonomi syariah.

Namun jujur untuk beberapa hal saya masih bergabung dengan bank konvensional, bahkan beberapa pendanaan masih saya pergunakan dari mereka. Tapi dalam hati ini selalu bertekat bahwa kedepannya akan semakin menjadi murni syariah, terlebih lagi setelah melihat penampilan Pak Syafii Antonio di televisi tadi.

Lalu apakah bakal sama sekali tanpa kekurangan? Seperti dibilang Pak Syafii, ya tidak dong. Bagaimanapun juga ini adalah produk baru. Sebagai salah satu partisipan, kita semua sebagai orang muslim harus ikut menyukseskannya. Kita berpartisipasi menyosialisasikannya dengan baik, dan mendukungnya dengan sepenuh hati. Faktanya adalah begitu banyak para non-muslim terutama etnis Cina yang menanamkan uangnya di berbagai bank syariah, lha kenapa kita yang jelas-jelas muslim tidak melakukannya?

InsyaAllah barokah atas semua amal usaha Pak Muhammad Syafii Antonio dalam kiprahnya mengawal dan membangun ekonomi syariah Islam di Indonesia tercinta ini..Amin.

Thursday, March 05th, 2009 | Author: Arif Haliman

Salah satu dari sekian banyak enaknya berbisnis busana muslim online adalah, seperti bisnis-bisnis yang bersifat online lainnya, yaitu tidak perlu tempat secara fisik untuk memajang barang dagangan kita sedemikian rupa untuk menarik minat pembeli. Barang dagangan tinggal dipasang saja di halaman-halaman website kita dan pembeli tinggal memilih langsung disana. Tapi bagaimana kalau bisnis busana muslim digarap secara offline?

Well, saya pribadi terus terang kurang atau belum berpengalaman mengenai hal ini. Disamping memang niat sejak awal ingin berjualan busana muslim hanya lewat media internet dan tidak buka toko dipinggir jalan atau dirumah, juga karena sebetulnya saya tidak begitu jago dalam hal bargaining atau tawar menawar dalam hal perdagangan. Jadi bisa kamu bayangkan, model orang kayak saya ini pastilah kurang cocok bila harus membuka sebuah usaha yang memerlukan kegiatan face to face atau bertatap muka langsung dengan pembeli.

Namun bukan berarti karena saya bersama istri berjualan hanya secara online terus tidak ada yang datang secara langsung mendatangi toko kami (eh, rumah kontrakan ding, bukan toko ;) ) di Denpasar Bali. Tidak, tidak seperti itu. Tetap saja ada satu dua orang yang langsung datang kerumah untuk berbelanja. Darimana mereka bisa tahu kami? Karena kami sebelumnya belum perah menyebarkan brosur di Denpasar, dan tidak  pernah memasang iklan dimanapun sebelumnya, maka besar kemungkinan bahwa mereka tahunya langsung dari internet. Dan mereka membenarkan sewaktu saya tanyakan darimana mereka bisa tahu kami. Umumnya para pembeli yang langsung datang kerumah adalah mereka yang tinggal di Denpasar juga. Jadinya gampang saja untuk menemukan tempat kami.

Nah, berawal dari adanya satu dua pembeli yang langsung datang kerumah, kami punya ide bagaimana kalau sekalian mencetak brosur dan dibagi-bagikan disekitar kota Denpasar? Saya yang awalnya kurang begitu berkenan akhirnya jadi juga mewujudkan hal itu soalnya brosur yang bikin bukan saya, tapi istri saya. Jadinya saya tidak perlu repot-repot he he.. ;)

Perlu diketahui bahwa niatan awal saya berjualan busana muslim online ini sangatlah sederhana. Yaitu bagaimana caranya agar istri tetap bekerja, namun tidak perlu kerja diluar, atau ikut orang. Ya akhirnya jadilah website busana muslim ini. Dalam perkembangannya syukur alhamdulillah, kalau diukur dengan tingkat kesibukan dan pendapatan ibu-ibu lainnya yang bekerja diluaran, istri bisa dibilang tidak kalah dengan mereka, bahkan mungkin lebih :)

Kembali ke brosur diatas, ya begitulah, setelah brosur jadi, kita sebar-sebarkanlah brosur sederhana itu kesana kemari. Karena kita gemar berjamaah dimasjid, seringnya kita selipkan brosur itu di kaca depan mobil para jamaah :) Rencananya juga akan kita titipkan di warung-warung langganan kita. Beberapa warung sudah kita ajak omong, ada yang sukses mau, ada yang gatot (gagal total) :) . Kita happy saja melakukannya. Tidak ada target atau paksaan.

Hasilnya bagaimana? Tidak hanya dari segi finansial, namun lebih dari itu adalah silaturahmi yang terjalin diantara kami. Kami jadi banyak bertambah kenalan yang kadang-kadang bikin kaget juga, misalnya ketemunya di halaman masjid, eh ternyata dia rumahnya dibelakang rumah saya. Padahal sebelumnya tidak kenal sama sekali. Dan juga bertemu dengan banyak muslim dan muslimah lainnya dengan latar belakang pekerjaan dan daerah asal. Jadi banyak tahu informasi yang berkembang di kota Denpasar dan kota lain sekitar, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan keislaman. Bahkan ada juga yang datang jauh-jauh dari Baturiti. Tahu Baturiti? Itu adalah daerah sekitar kawasan pariwisata terkenal di Pulau Bali, yaitu Bedugul. Suami istri ini begitu hebat dan bersemangatnya, hingga bisa-bisa seminggu 2 kali datang ke Denpasar untuk mengambil baju ditempat kami. Padahal jarak yang harus ditempuh adalah 1.5 jam perjalanan naik motor. Juga tidak ketinggalan bisa bersilaturahmi dengan para muslimah-muslimah cantik di Telkomsel Denpasar :)

Hemm, berbisnis untuk tujuan menjadi kaya? Think once again..Berbisnis untuk tujuan agar urusan selalu diberi mudah dan lancar olehNya lewat jalur silaturahmi could be another great choice!

Category: Opini, Pribadi  | Tags: , ,  | One Comment
Tuesday, March 03rd, 2009 | Author: Arif Haliman

Tidak terasa sudah tepat 1 bulan berlalu sejak saya mulai melakukan revamp atau perombakan di situs BaliOmeng.com. Perombakannya sih di bagian disain atau template website, namun di database contents atau isi database yang memuat produk-produk kerajinan tas Bali. Produk-produk tas keluaran tahun 2007-2008 tentunya sudah banyak yang tidak diproduksi sehingga akan mubadzir kalau saya tetap nekat memasangnya online untuk dijual. Dan tentunya penyegaran produk tas dengan memasang hanya tas-tas yang masih diproduksi adalah keharusan. Itu sebabnya ditulisan dahulu mengenai angan-angan berikut rencana saya untuk mengaktifkan kembali situs BaliOmeng.com agar bisa berproduksi kembali, nampaknya sudah menemukan jalan terangnya di bulan pertama ini.

Situs BaliOmeng.com adalah situs dari Bali yang khusus menjual produk tas Bali yang umumnya sering kita jumpai di pasar seni Sukawati Bali. Kalau kamu pernah berlibur ke Pulau Bali, bisa dipastikan bahwa pasar seni Sukawati adalah satu rute yang akan kamu kunjungi bersama rombongan. Kenapa begitu? Ya karena di pasar seni inilah kamu bisa berbelanja dengan harga sangat murah, dengan sistem tawar-menawar. Artinya apabila misalnya untuk produk bed cover  penjual bilang harganya 100rb, kamu bisa menawarnya mungkin sampai setengah harganya. Khusus untuk produk tas, produk ini menjadi salah satu favorit yang menjadi hot item di pasar seni ini. Artinya para pengunjung pasar seni ini yang umumnya wisatawan lokal tidak lupa untuk membeli tas Bali yang ada disana. Terutama para cewek, hayo ngaku sajalah :)

Harga yang ditawarkan memang sangat murah. Dan begitu pula apabila kamu membelinya lewat situs BaliOmeng.com. Dijamin dengan kamu datang langsung membeli di Sukawati Bali atau di Erlangga Bali, atau membelinya lewat situs ini harga adalah sama. Bahkan untuk beberapa produk jelas lebih murah.

Mengapa begitu? Karena BaliOmeng mendapat ‘harga kontrak’. Maksudnya adalah harga pabrik karena untuk dijual kembali. Jadinya harga tidak lebih mahal dengan membeli langsung ke Sukawati. Lagipula memangnya kamu mau apabila tempat tinggalmu di Pontianak sana terus kepingin tas Bali, kemudian datang ke Sukawati buat beli tas ? ;) Ya jelas nggak lah. Solusinya ya beli tas itu lewat BaliOmeng.com secara online.

Nah, analisa saya untuk 1 bulan pertama ini, insyaAllah sambutan rakyat Indonesia (*weleh*) sambutannya sangat baik. Terbukti meski baru seumur jagung, syukur alhamdulillah penghasilan kotor website ini hampir sama dengan penghasilan Google Adsense saya periode Desember dan Februari kemarin :) .

Untuk meningkatkan penjualan di bulan Maret ini dan juga bulan-bulan berikutnya, ada beberapa kiat yang bisa saya lakukan untuk lebih mendongkraknya lagi. Diantaranya adalah membuat katalog offline (bisa dari Word adalah file PDF) yang nantinya dikirim via pos kepada calon pembeli yang memintanya. Permintaan katalog offline ini banyak saya terima lewat email. Harus diakui beberapa pembeli akan lebih merasa nyaman apabila dia meneliti barang yang akan di beli secara offline terlebih dahulu. Mungkin dengan begini mereka bisa mendiskusikannya bersama teman atau keluarga sebelum membeli produk tas yang menjadi incarannya.

Sepertinya memang harus segera membuat katalog ini sehingga bisa langsung didistribusikan kepada calong pembeli yang memintanya.

OK dude, sampai jumpa di update analisa produk tas Bali berikutnya..

Category: Bali, Bisnis  | Tags: , ,  | Leave a Comment
eXTReMe Tracker