Archive for » February, 2009 «

Friday, February 27th, 2009 | Author: Arif Haliman

Wah..wah..Google baru saja bikin saya terkejut. Terkejut tapi dari jenis terkejut yang menyenangkan. Hal ini berkaitan dengan pencairan cek Google Adsense yang makin mudah dan nyaman. Prosesnya secepat kilat (*halah*) dan tanpa ada biaya yang dibebankan kepada kita. Tentunya ini adalah berita yang menggembirakan bagi para Adsenser.

Baru saja beberapa hari yang lalu saya menulis di blog ini bahwa perjuangan para Adsenser makin berat karena biaya mencairkan cek Google Adsense di Citibank naik berlipat-lipat, dan syarat mencairkan lebih ribet karena nama di KTP harus sama persis dengan nama yang tercantum di account Google kita. Namun sejak dikeluarkannya opsi oleh Google bahwa terhitung sejak akhir Januari 2009 kita bisa menerima pembayaran melalui Western Union, segala sesuatunya yang sempat ribet berangsur menjadi normal. Kata orang bule hassle free :)

Hari ini saya telah mencairkan 2 cek Google Adsense secara bersamaan. Kok bisa? Begini ceritanya. Cek kesatu adalah cek yang issued tanggal 24 Desember 2008. Waktu itu masih memakai opsi Standard Check Delivery yang perlu menunggu 1 bulan cek dikirim dari Amerika sono dan sampai dirumah kita, kemudian perlu menunggu selama 1 bulan lagi untuk cek bisa cair setelah kita serahkan di bank (saya biasanya menggunakan jasa Citibank di Denpasar). Jadi saudara-saudara, total waktunya adalah 2 bulan! Weleh-weleh..Dan begitulah, tanggal 23 Februari kemarin mbak dari Citibank nelpon saya kalau ceknya bisa diambil besok di kantor CItibank.

Besok paginya pas saya siap-siap berangkan untuk ambil uangnya di Citibank, disinilah surprise yang saya alami : Ternyata saya sudah dijadwalkan lagi oleh Google untuk menerima cek yang kedua karena pada bulan ini balance saya sudah melewati USD 100, dan dibayarkan melalui Western Union! Wah, saya baru ingat bahwa saya sudah melakukan update tipe pembayaran menggunakan WE beberapa hari setelah ada pengumuman bahwa penerimaan pembayaran bisa melalui WE. Jadinya pas tanggal 24 Februari 2009 (hari ini) sudah melebihi USD 100 lagi, pembayaran itu issued tadi pagi. Setelah mencatar MTCN (Money Transfer Control No.) sebanyak 10 digit, jadilah saya pergi ke kantor pos untuk mengambil uangnya. Hehe..syukur alhamdulillah dapet USD 144.77 atau dapet sekitar Rp 1.690.000 :)

Setelah itu saya meluncur ke Citibank untuk ambil uang cek kesatu. Untuk cek ini nilainya lebih kecil yaitu USD 132.50 atau pas dirupiahkan dapet Rp 1.560.000. Jadinya total hari ini saya dapat Rp 3.250.000.

Menerima pembayaran Google Adsense dengan WE sangatlah praktis. Kita tidak perlu menunggu waktu 2 bulan untuk bisa terima uangnya. Dengan WE seketika itu juga uang Google Adsense bisa langsung kita terima.

Saya sebenarnya tidaklah asing dengan WE. Karena saya juga kerap menerima pembayaran lewat WE oleh para pembeli busana muslim saya terutama dari luar negeri. Hanya kali ini saya terima pembayaran dari Google lewat WE, tetap saja itu kejutan buat saya. Mungkin nanti kalau sudah beberapa kali lagi sudah tidak terkejut lagi :)

Jadi kesimpulannya, ikut Google Adsense sekarang semakin mudah, terutama dalam hal menerima pembayaran. Saya bukanlah Adsenser sejati yang memasang niat sejal awal cari duit lewat situ. Saya bisa menerima uang dari Google Adsense karena saya hanya ’sambil lalu’ memasang Adsense di website-website saya. Tidak serius. Niat saya hanyalah agar robotnya Google (Googlebot) sering-sering mengunjungi website saya karena memang propertinya dia ada diwebsite saya. Perkara nanti orang sengaja atau tidak sengaja melakukan klik di Adsense saya, itu saya anggap hanya bonus. Dan perkara ternyata tiap rata-rata 2 bulan sekali saya terima minimal USD 100 dari Google, itu saya anggap Allah SWT memang selalu sayang saya ;)

Buat apa easy money Rp 3.250.000 ini rencananya? Well, saya baru saja beli Toyota Avanza baru , dan mempermanisnya dengan beragam aksesoris mobil mungkin keputusan yang tepat. Oh, lupa, istri minta dibelikan semacam lemari atau rak pajangan untuk display produk busana muslim kami dirumah. Hem, setelah juga untuk buat bayar pajak tahunan minggu depan untuk mobil yang lama, kayaknya insyaAllah masih cukup uangnya :)

Category: Pribadi  | Tags: , , ,  | 4 Comments
Wednesday, February 25th, 2009 | Author: Arif Haliman

Alhamdulillah bertambah lagi 1 unit mobil Toyota Avanza di garasi rumahku. Siang tadi setelah penantian panjang selama 4 bulan sejak indent Oktober 2008, mobil ini saya ambil di dealer Agung AutoMall Denpasar. Sekarang dengan 2 armada Toyota Avanza milikku sendiri ditambah dengan puluhan mobil sejenis dari supplierku, sepertinya kami akan bertambah siap menghadapi tahun 2009 ini dalam bisnis Bali car rental. Namun untuk momen Lebaran atau tahun baru, dengan memperhatikan pengalaman tahun-tahun sebelumnya dimana jumlah pelanggan teramat sangat banyak, sepertinya jumlah puluhan armada mobil kami masih juga belum mencukupi :)

Anyway, yang menarik dari lika-liku mendapatkan mobil Toyota Avanza baru adalah proses indentnya yang lumayan lama. Seperti yang telah diketahui bahwa mobil Toyota Avanza adalah merek mobil paling fenomenal dilihat terutama dilihat dari segi penjualan. Mungkin ini adalah satu-satunya merek mobil saat ini yang dijual di Indonesia dengan masa indent yang paling lama. Bayangkan: Saya indent mobil ini sejak Oktober 2008, dan baru hari ini saya bisa menerimanya. Sebetulnya saya juga bisa dibilang agak beruntung mendapatkan di bulan Februari 2009 ini, karena kalau tidak dibantu oleh supplier saya, bisa-bisa mobil tersebut baru akan sampai ketangan saya pada bulan April 2009!

Mengapa saya bisa mendapatkan Avanza ini lebih awal dari yang sudah ditentukan yaitu April 2009? Pertama adalah karena sekarang sedang terjadi krisis finansial global. Krisis global ini membawa dampak turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika dan yen Jepang. Akibatnya apa? Jelas bahwa harga suku cadang mobil buatan Jepang ini menjadi melonjak tajam. Kalau harga suku cadang melonjak tajam otomatis harga unit mobil juga ikutan naik. Nah, dalam kondisi harga mobil naik inilah akhirnya banyak para pengindent yang membatalkan untuk membeli mobil. Jadinya antrian saya yang seharusnya April 2009 menjadi naik di sekitaran Maret 2009.

Apakah saya lega? Mestinya iya, namun ternyata belum. Hal ini karena pihak dealer yaitu Agung AutoMall Denpasar sudah membuat pengumuman bahwa semua pengindent yang akan menerima mobil pada bulan Maret 2009 akan mendapat harga baru, yaitu sekitar Rp 152 juta! Walah, piye ini..Lha wong saya pas indent dulu dapat harga tidak mengikat masih berkisar Rp 137 juta.

Akhirnya supplier saya yang memang kebetulan pada bulan Oktober 2008 kemarin membeli mobil sebanyak 11 unit (termasuk mobil saya), meminta semacam dispensasi ke pihak AutoMall bahwa kalau bisa pihak kami, karena beli dalam jumlah banyak, diusahakan untuk mendapatkan mobil di bulan Februari tahun ini. Nah, singkat cerita, syukur alhamdulillah kok ternyata permohonan ini dikabulkan dan voila!, ke sebelas mobil kami dah ditangan bulan ini :)

Dengan harga OTR (on the road) untuk New Avanza Type G Rp 147.700.000, karena beli banyak, kami dapat diskon lagi sehingga per unit hanya bayar Rp 142.200.000 plus bensin gratis full tank!

Yeap, semangat..semangat..! Tahun 2009 ini semoga semakin lancar dan mudah urusan untuk bisnis sewa mobil di Bali. Amin.

Tuesday, February 03rd, 2009 | Author: Arif Haliman

Seringkah kita menarik napas panjang, dan sembari menahan udara kehidupan itu di rongga dada, senyum lebar tersembul dimulut menandakan kita sangat bersyukur atas segala nikmat kasih sayang tuhan yang begitu besar. Semakin sering kita melakukan hal itu maka ucapkanlah syukur Alhamdulillah karena kita masih ingat bahwa Allah Swt senantiasa sayang dan menjaga kita. Ingatlah bahwa begitu banyak manusia yang seringkali lupa bahwa segala sesuatu yang telah diraihnya menafikkan sama sekali peran tuhan dalam kehidupannya.

Detik ini, dimanapun kita sedang berada di sebuah titik status sosial kita, kekayaan kita, kondisi keluarga kita, kualitas ibadah kita dan lain sebagainya, hendaknya selalu dijadikan pelajaran dan musahabah untuk diambil pelajaran dan hikmahnya. Nikmati dan syukuri segala hasil pencapaian itu terlepas dari apakah itu sudah sesuai dengan tujuan kita atau belum. Karena dengan menikmati dan mensyukurinya sepenuh hati maka hakekatnya tujuan itu sudah teraih. Ingatlah bahwa terutama bukan hasil yang akan membuat hati menjadi puas, namun proses yang menyertainya.

Seringkali saya flash back atau melakukan kilas balik perjalanan hidup ini dengan merenung dan berusaha mengambil pelajarannya. Bagi saya kegiatan seperti sangat mengasyikkan dan banyak pelajaran yang bisa diambil.

Salah satu hal favorit saya untuk di flash back adalah mengenai persepsi atau pandangan yang dihubungkan dengan kemandirian. Persepsi yang saya maksudkan disini adalah bagaimana cara kita memandang sesuatu dari sudut pandang kita dan orang lain. Contoh sederhana dan merupakan awal saya bermain persepsi bisa saya awali dari kehidupan saya jaman sekolah menengah tingkat pertama (SMP). Pada tahun itu pas saya masih di SMP, seperti mungkin layaknya jaman sekarang, marak terjadi apa yang disebut uang sogok. Seorang murid yang mestinya tidak mungkin masuk sekolah favorit karena nilainya letoy, ternyata bisa masuk juga. Bukan sulap bukan sihir, asumsi paling masuk akal adalah memang uang yang berbicara disini.

Nah, kebetulan teman satu komplek ada yang melakukan praktek kayak gini. Nilai kelulusan SD ancur-ancuran, namun bisa masuk SMP favorit. Sementara teman lain yang juga satu komplek secara nilai akademis dan kemampuan otak lebih mumpuni, justru harus masuk SMP yang sedang-sedang saja.

Yang saya renungkan adalah: Enak mana sih, sekolah di SMP favorit pakai jalur hitam, dengan sekolah di SMP biasa aja tapi jalur putih? Pas saya tanya langsung kepada keduanya, si jalur hitam dengan bangganya jawab No problem! Dan si jalur putih juga jawab No Problem! Nah, bagi saya dengan jawaban seperti ini yang diberikan, saat ini saya sering tersenyum, kalau itu dihubungkan dengan kemandirian, tentu si jalur putih jauh akan lebih mandiri, dalam segalanya. Dan memang itu dibuktikan puluhan tahun kemudian ketika kita sudah sama-sama dewasa, dan jadi orang. Tidak akan saya sampaikan disini bagaimana perjalanan hidup teman-teman tersebut, namun kamu semua bisa menebaknya :) .

Permasalahan atau kejadian seperti ini mungkin adalah hal sepele. Namun buat saya hal sepele seperti ini selalu berkelebatan di kepala setiap waktu, yang membuat saya menjadi memikirkannya. Hal sepele seperti ini juga yang ternyata pada akhirnya, membuat saya detik ini dalam hal mencari nafkah, dari seorang web programmer menjadi orang yang mandiri sebagai wirausahawan dan tidak lagi menjadi karyawan.

Waktu saya masih di perguruan tinggi hal ini masih jadi pikiran saya. Saya saat itu disamping berstatus sebagai mahasiswa jurusan Manajemen Informatika di sebuah PTN di Malang, juga seorang instruktur software komputer di sebuah LBB di kota yang sama. Pekerjaan ini adalah profesional, dalam arti 8 jam per hari dan bergaji bulanan. Nah, seperti umumnya mahasiswa + pekerja, biasanya nilai kuliah menjadi ancur-ancuran karena memang sering TA (titip absen :) ). Ada teman yang 100% murni mahasiswa: pagi siang sore malam kuliah melulu kerjanya. Dan memang nilainya paling top. Persepsi saya kali ini adalah: Enak mana sih, menjadi mahasiswa dengan nilai tertinggi, atau menjadi mahasiswa dengan nilai biasa (perlu diketahui, nilai akademik saya pas kuliah sangat tidak biasa, alias jeblok) namun dengan pengalaman kerja dan penguasaan materi kuliah yaitu berbagai software komputer diatas rata-rata para mahasiswa murni itu?

Waktu saya sudah lulus kuliah dan masuk dunia kerja, masih segar dalam ingatan saya dahulu dari omong-omongan kecil dengan teman satu kos di Denpasar. Teman saya ini begitu bangga dengan pekerjaannya di sebuah bank pemerintah yang bonafit dengan penampilan parlente. Dia nampak sangat antusias bercerita mengenai ritme kerja, suasana kantor, kawan sekantor dan fasilitas yang bisa digunakannya. Perlu untuk diketahui, teman kos saya ini tidak sedang sombong. Saya tahu persis dia tidak sedang menyombongkan diri. Dia hanya sedang antusias dan gembira mendapatkan waktu dan kesempatan untuk bercerita kepada saya tentang keadaannya. Dan itu saya rasa sangat wajar. Saya hanya bisa mangut-mangut dan sesekali menimpalinya untuk menunjukkan kalau saya perhatian dengan ceritanya.

Nah, berikutnya adalah seperti biasanya pikiran saya kembali bermain persepsi: Enak mana sih, kerja di bank dengan kesan wah dan fasilitas komplit, dengan kita punya usaha sendiri dengan fasilitas dan omzet secukupnya?

Pertanyaan itu terus saja bergelayut dihati beberapa waktu selanjutnya. Perlu diketahui, sejak saat itu selalu saya benamkan dalam hati bahwa atas pertanyaan itu saya memilih jawaban yang kedua. Status saya yang saat itu masih menjadi karyawan (seorang web programmer di sebuah perusahaan milik bule) tidak menyurutkan keinginan saya untuk bisa mewujudkan jawaban yang kedua diatas.

Terbersit pikiran sangat mustahil saya bisa mewujudkannya. Justifikasi umum seperti tidak ada bakat dan tampang usahawan (emangnya tampang usahawan bisa ditentukan ??), keluarga mayoritas adalah karyawan, sudah enak jadi karyawan senantisa mengganggu. Namun memang betul jalan hidup seseorang tidak ada yang bisa memperkirakan, apalagi menentukan. Yang terjadi pada pada saya saat ini adalah, saya memang bekerja dirumah saja, dengan sebuah kamar kecil berukuran 4 x 3 meter. Saya memang tidak dikelilingi dengan berbagai fasilitas dan omzet yang sangat wah, namun setidaknya sebagai usahawan saya memiliki kemandirian dan kemerdekaan untuk menggodok dan menjalankan ide-ide saya dengan leluasa. Menjadi karyawan? Well, I have been there. And you may believe or not, it is not always easy to show and execute your ideas at anytime, and place.

Jadi, sudah sangat bersyukur dan menikmati apapun dan dimanapun posisi kamu sekarang? YAHHHHHH..!! Kalau saya, insyaAllah sudah!

Category: Motivasi, Opini  | Tags:  | One Comment
eXTReMe Tracker